الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

SISI DALAM DIRI MANUSIA

Manusia adalah makhluk yang unik bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain, seperti: hewan,tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Keunikannya terletak dari sisi unsur penciptaannya, yang terdiri dari dua
unsur pokok; unsur rohani dan jasmani. Unsur rohani terdiri dari: elemen roh, akal, kalbu dan nafsu. Sedangkan unsur jasmani terdiri dari: kepala, badan, dan seluruh anggota tubuhnya.
Eksistensinya yang unik ini sangat menarik dimata manusia itu sendiri. Manusia mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia makhluk baik atau jahat, berakhlak atau tidak, bermoral atau bejat, apakah ia terdidik atau makhluk bodoh. Ternyata sampai saat ini masih belum terjawab secara pasti. Karena realitasnya ada manusia yang berhasil mengendalikan “sisi dalam” dirinya yaitu menguasai hawa nafsunya, mengoptimalkan akalnya, menjernihkan hatinya dan memperhalus akhlaknya, sehingga ia menjadi manusia yang menemukan jati dirinya, berakhlak, bermoral dan dekat dengan Tuhannya”. Sebaliknya, ada manusia yang memperturutkan dan dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga tidak mampu mengoptimalkan fungsi akalnya, penglihatannya dan pendengarannya dan menjadi manusia yang terpuruk, terhina, bodoh, sesat, bahkan lebih rendah derajatnya dari
hewan dan makhluk lain. (Surah al-A‘rāf/7: 179). Hal ini terjadi karena tidak mampu mengenali, memahami, mengarahkan, mendidik dan memfungsikan “sisi dalam” atau “unsur rohani” yang ada dalam dirinya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, bab ini akan menjawab pertanyaan seputar “sisi dalam” diri manusia. Apa itu fitrah,roh ( jiwa ), akal, kalbu dan nafsu? Asal-usul ciptaannya, dari mana? fungsinya apa saja dan bagaimana cara mengoptimalkan peranannya dalam pendidikan ? Agar dapat melahirkan manusia terdidik, terpelajar, cerdas, berakhlak, bermoral dan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, bermanfaat bagi dirinya,kerabat, lingkungan, masyarakat, agama, negara dan bangsanya.
Oleh sebab itu, paragraf berikut ini berusaha mengungkap konsep fitrah, roh, akal, kalbu dan nafsu melalui sisi pandang tafsir maudhū‘ī
A. Fitrah
Fitrah dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 20 kali.Masing-masing ayat yang memuat term fitrah memiliki bentuk,kategori, subjek, objek, aspek dan makna tersendiri.
Kata fitrah (al-fithrah) merupakan bentuk mashdar dari kata fathara. Dengan segala perubahan bentuknya, ia terulang dalam Al-Qur'an sebanyak 20 kali yang tersebar di dalam 17 surah.
Surah yang memuatnya adalah: al-An‘ām/6: 14, 79, ar-Rūm/30:30 (dua kali), asy-Syūrā/42: 5, 11, Hūd/11: 51,Yūsuf/12: 101,Ibrāhīm/14: 10, al-Isrā’/17: 51, Maryam/19: 90, Thāhā/20: 72,al-Anbiyā’/21: 56, Fāthir/35: 1, Yāsīn/36: 22, az-Zumar/39: 46,az-Zukhruf/43: 27, al-Mulk/67: 3, dan al-Muzzammil/73: 18,al-Infithār/82: 1.
Subjek fitrah, tidak lain adalah Allah subhānahū wa ta‘ālā,karena hanya Dia Zat al-Fāthir (pencipta). Al-Fāthir adalah Zat Maha Pencipta pada penciptaan dari permulaan, yaitu sejak awal tanpa ada contohnya.
Sedangkan objek fitrah adalah:
  1. Khusus manusia (an-nās), seperti di dalam tujuh ayat (enam Surah), yaitu: Surah Hūd/11: 51, ar-Rūm/30: 30 (dua kali),Yāsīn: 22, az-Zukhruf/43: 27, Thāhā/20: 72, dan al-Isrā’/17:51.
  2. Langit-bumi (samāwāt wal-ard), seperti di dalam delapan ayat (tujuh Surah), yaitu; Surah al-An‘ām/6: 14, 79 al-Anbiyā/21, asy-Syurā/42: 11, Ibrāhīm/14: 10, Fāthir/35: 1, Yūsuf/12: 101, dan az-Zumar/40: 46.
  3. Langit saja (samāwāt), seperti di dalam lima ayat (lima Surah), yaitu: Surah Maryam/19: 90, asy-Syūrā/42: 5, al-Infithār/82: 1, al-Mulk/78: 3, dan al-Muzzammil/73: 18.
Dengan kategori ini, konsep fitrah dapat dikaitkan dengan semua penciptaan alam, baik alam makro (langit dan bumi) maupun alam mikro (manusia).
Dari sisi maknanya fitrah dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu: (1) asy-syaqq (pecah/belah) yang ditujukan pada objek langit belaka, seperti pada Surah Maryam/19: 90, asy-Syūrā/42: 5, al-Infithār/82: 1, al-Mulk/78: 3, dan al-Muzzammil /73: 18. (2) al-khilqah (penciptaan) yang ditujukan pada objek manusia, seperti dalam Surah Hūd/11: 51, ar-Rūm/30: 30 (dua
kali), Yāsīn/35: 22, az-Zukhruf/43: 27, Thāhā/20: 72, dan al-Isrā’/17: 51. Dan pada objek langit-bumi, seperti dalam Surah al-An‘ām/6: 14, 79, al-Anbiyā’/21: 56, asy-Syūrā/42: 11,Ibrāhīm/14: 10, Fāthir/35: 1, Yūsuf/12: 101, dan az-Zumar/39:46.
Objek kata fitrah tersebut menunjukan kepada tiga kategori, yaitu:
a. Manusia secara umum, seperti pada Surah ar-Rūm/30: 30:
imageMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam);(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (ar-Rūm/30: 30)
Objek manusia secara umum ini disebabkan oleh kondisi ayat yang bersifat diskriptif, yaitu sekedar menggambarkan konsep manusia secara umum tanpa dikaitkan dengan aktivitasnya.
Konsep manusia di sini dikolerasikan dengan konsep agama hanīf (Islam). Artinya, setiap penggambaran konsep manusia tidak boleh dilepaskan dari konsep agama hanīf, sebab di alam Arwah roh manusia telah meyakini dan menyatakan adanya agama hanīf itu.
b. Kata ganti (dhamīr) orang pertama, baik dalam bentuk tunggal seperti pada Surah Hūd/11: 15, Yāsīn/36: 22, az-Zukhruf/34: 27, maupun dalam bentuk jamak seperti Surah Thāhā/20: 72:
imageMereka (para pesihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. (Thāhā/20: 72)
Objek fitrah ini telah dikaitkan dengan konsep diri pribadi,sehingga perbuatannya telah nampak teraktualisasi melalui “al-‘ibādah”. Konsep diri pribadi yang dicerminkan dari term fitrah selalu berkonotasi baik, sebab hakekat diri manusia selalu diasumsikan baik dan ia berkecenderungan menuju ke arah kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu maka objek ayat ini dikolerasikan dengan aktifitas dakwah dan ibadah, sebab keduanya bukan berada di dalam dunia ide melainkan sudah berada di dunia empirik yang menyangkut perbuatan nyata manusia. Seperti dalam hadis nabi:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاه يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ  -رواه البخاري ومسلم عن ابي هريرة
“Bahwa setiap bayi yang baru lahir dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abū Hurairah )1c. Kata ganti orang kedua jamak, seperti Surah al-Isrā’/17: 51:
imageAtau menjadi makhluk yang besar (yang tidak mungkin hidup kembali) menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pertama kali.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata, “Kapan (Kiamat) itu (akan terjadi)?” Katakanlah,
“Barang kali waktunya sudah dekat”. (al-Isrā’/17: 51)
Objek ini terkait dengan konsep diri orang lain. Konsep tentang pribadi orang lain tidak hanya bersumber dari faktor internal manusia, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Karena pengaruh luar maka aktualitsasi fitrah tidak lagi mencerminkan waktu atau natur aslinya, sehingga ayat ini dikolerasikan (munāsabah) dengan objek orang-orang musyrik.
B. Makna Istilah
Mengutip pendapat Ibnu Asyūr, M. Quraish Shihab berpendapat bahwa; “Fitrah adalah suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang khusus untuk jenis manusia adalah apa yang diciptakan Allah padanya yang berkaitan dengan jasad dan akal (rūh).”2
Dari definisi tersebut, nampak bahwa fitrah memiliki ruang lingkup yang luas. Fitrah mencakup totalitas apa yang ada di dalam alam dan manusia. Fitrah yang berada di dalam manusia merupakan subtansi yang memiliki organisasi konstitusi yang dikendalikan oleh sistem tertentu. Sistem yang dimaksud terstruktur dari komponen jasad dan roh. Masing-masing komponen ini memiliki sifat dasar, watak, dan cara kerja sendiri. Semua komponen itu bersifat potensial yang diciptakan oleh Allah sejak awal penciptaannya. Aktualitas fitrah menimbulkan tingkah laku manusia yang disebut dengan “kepribadian”.Kepribadian inilah yang menjadi ciri unik manusia.3Dari kutipan di atas dapat dipahami, bahwa apabila fitrah dikaitkan dengan konsep pendidikan dan pemberdayaan SDM,bahwa manusia dalam penciptaannya memang suci, bersih dan mempunyai berbagai macam potensi, yang baik maupun buruk, tergantung lingkungan yang mengitari dan mempengaruhinya.
Disisi lain, manusia mempunyai sifat, watak dan kepribadian yang unik yang dimiliki setiap orang. Dari potensi kepribadian ini yang perlu dididik, diarahkan, dikembangkan dan dibentuk, sehingga potensi yang dimiliki itu dapat berfungsi dan berperan lebih optimal mampu melahirkan dan mencetak manusia yang pintar, cerdas, kreatif, kritis, berakhlak dan bermoral serta bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa dan negaranya.
C. Roh
Roh dikenal dalam berbagai bahasa: sprit (Ingg), geist (Ger), esprit (Franc), espiritu (Spanyol), spirito (Italia), geest (Dutch), duch (Polandia), spirit (Romawi), rooh (Urdu), atama (India), jing-shén, xin-ling (China), jeongsin (Korea), رُ وْحٌ (Arab).
Dalam Al-Qur'an ataupun hadis Nabi tidak ada penjelasan mengenai roh secara jelas dan kongkret, sebab roh termasuk hal gaib, sehingga penjelasannya juga serba misteri. Bahkan menurut dalam Al-Qur'an, manusia tidak akan mengetahui hakekat roh ini, sebab roh adalah urusan Tuhan, Surah al-Isrā’/17: 85:
imageDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah,“Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isrā’/17: 85)
Pada ayat tersebut para mufasir berbeda pendapat.Sebagian ada yang memberi arti “Roh itu ciptaan Tuhan-ku”, sebab kata amr dapat berarti ciptaan. Pemaknaan ini didasarkan atas asbābun-nuzūl ayat tersebut. Seorang Yahudi di Medinah menanyakan pada Nabi, “Bagaimana mungkin manusia dimasukkan ke api neraka, padahal ia diciptakan dari roh Allah?”
lalu turunlah ayat tersebut dan menjelaskan bahwa maksud dari “ruh-Ku” itu adalah roh ciptaan-Ku. Ada juga yang mengartikan bahwa roh itu “makhluk” Allah. Ada juga yang mengartikan roh itu “nūr” Allah. Ada juga yang mengartikan “Al-Qur'an itu adalah urusan Tuhan-ku.”, sebab nama lain Al-Quran adalah al-ruh sebagaimana dalam asy-Syūrā/42: 52. Ada juga yang mengartikan “Roh itu adalah urusan Tuhan-ku”, sebab ia merupakan misteri Ilahi. Perbedaan pendapat ini menjadikan para ilmuwan (termasuk psikolog) berani mengungkap hakekat roh, kendatipun konklusinya belum mewakili, tetapi paling tidak berguna untuk disiplinnya masing-masing.4
Menurut Ibnu Sīnā, roh adalah kesempurnaan awal jisim manusia yang tinggi yang memiliki kehidupan dengan daya.5
Sedang bagi al-Farābī, roh berasal dari alam perintah (amr) yang mempunyai sifat berbeda dengan  jasad. Hal itu dikarenakan ia dari Allah, kendatipun ia tidak sama dengan zat-Nya.6 Sedang menurut al-Ghazālī, roh ini merupakan sifat lathīfah (sesuatu yang halus) yang bersifat rohani ia dapat berfikir, mengingat, mengetahui,dan sebagainya. Ia juga sebagai penggerak bagi keberadaan jasad manusia. Sifatnya gaib.7Kata roh dalam Al-Qur'an, diulang sebanyak 20 kali tersebar di 21 Surah antara lain: Ali ‘Imrān/4: 171, Yūsuf/12: 87,al-Hijr/15: 29, an-Nahl/16: 2, al-Isrā’/17: 85 (dalam surah ini,dua kali kata roh diulang dalam ayat yang sama), Maryam/19:17, al-Anbiyā’/21: 91, as-Sajdah/32: 9, Shād/38: 72, Ghāfir/40:15, asy-Syūrā/42: 52, al-Mujādalah/58: 22, at-Tahrīm/66: 12,al-Ma‘ārij/70: 4, an-Nabā’/78: 38, al-Qadr/97: 4.
Dari jumlah tersebut dapat diklasifikasikan dalam empat kategori substansi roh, yaitu:pemberian roh kehidupan, wahyu/Al-Quran, malaikat Jibril dan pertolongan. Dari empat kategori ini, mempergunakan sembilan kata kerja (fi‘il), kata yas’alūnaka; berarti substansi roh, Auhainā berarti wahyu/Al-Quran, sedang kata nafakha, ayyad, nazala, ta‘ruju, yaqūmu dan alqāhā, semuanya berarti malaikat Jibril. Seperti tergambar dalam tabel berikut ini:
Tabel Kata Rūh dalam Al-Quran
No
Struktur Kata
Korelasi Kata Sebelumnya
Tempat
Makna
Ket
1
بِرُوْحِ الْقُدُسِ
أَيَّدْنَاهُ
al-Baqarah/2 :87,252 Malaikat Jibril 3x
2
بِرُوْحٍ مِنْهُ
أَيَّدَهُمْ
al-Mujadalah/58:22 Pertolongan 1x
3
أَلرُّوْحُ مِنْ أَمْرِهِ
يُنَزِّلُ
an-Nahl/16:2;
Ghafir/40:15
Malaikat Jibril 2x
4
أَلرُّوْحُ
تَنَزَّلُ
al-Qadr/97:4 Malaikat Jibril 1x
5
مِنْ رُوْحِهِ
نَفَخَ
as-Sajdah/32:9 Diberi roh kehidupan 1x
6
مِنْ رُوْحِيْ
نَفَخْتُ
al-Hijr/14:29;
Shad/38:72
Diberi roh kehidupan 2x
7
مِنْ رُوْحِنَا
نَفَخْنَا
al-Anbiya’/21:91 Diberi roh kehidupan 1x
8
رُوْحٌ مِنْهُ
أَلْقَاهَا
an-Nisa’/4:171 Malaikat Jibril 2x
9
أَلرُّوْحُ
يَسْئَلُوْنَكَ
al-Isra’/17:85;58 Esensi Roh 1x
10
أَلرُّوْحُ
يَقُوْمُ
an-Naba’/87:38 Malaikat Jibril 1x
11
أَلرُّوْحُ الْأَمِيْنِ
نَزَّلَ
asy-Syu’ara /26:193 Malaikat Jibril 1x
12
أَلرُّوْحُ إِلَيْهِ
تَعْرُجُ
al-Ma’arij/70:4 Malaikat/Jibril 1x
13
رُوْحًا
أَوْحَيْنَا
asy-Syura/42:52 Wahyu/Alquran 1x
14
رُوْحَنَا
أَرْسَلْنَا
Maryam/19:17 Malaikat Jibril 1x
15
رُوْحَنَا
نَفَخْنَا
at-Tahrim/66:12 Diberi roh kehidupan 1x
Dari tabel tersebut di atas tergambar 4 makna dari kata roh itu sendiri, antara lain:
  1. Pemberian roh kehidupan dari Allah kepada manusia,termasuk Nabi Adam dan Nabi Isa seperti dalam (Surah al-Hijr/15: 29, Maryam/19: 17, as-Sajdah/32: 9, Shād/38: 72,al-Anbiyā’/21: 91, at-Tahrim/66: 12)
  2. Al-Qur'an/Wahyu (Surah Ghāfir/40: 15, asy- Syūrā/42: 52)
  3. Malaikat Jibril (Surah an-Nahl/16: 2, Asy-Syu‘arā’/26: 193,al-Ma‘ārij/70: 4, Maryam 19: 17, an-Nabā’/78: 38 dan al-Qadr/97: 4)
  4. Pertolongan, terdapat dalam (Surah al-Mujādalah/58: 22)
Sedangkan roh menurut para ilmuwan Muslim belum ditemukan kesepakatan dalam menentukan ciri-cirinya. Pendapat mereka dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
  1. Roh merupakan jisim yang berbeda dengan jisim jasmani.
    al-Kindi menyebut roh sebagai jauhar basīth, yakni subtansi sederhana dan kesempurnaan pertama bagi jisim alami yang memiliki kehidupan secara potensial. Atau kesempurnaan jisim alami yang organis yang menerima kehidupan. Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab ar-Rūh-nya menyebut roh sebagai jauhar basīth. Ia merupakan jisim yang bersifat rohani yang hakekatnya berbeda dengan jisim yang dapat diindra. roh menjalar keseluruh tubuh manusia yang menjadikan kehidupan, gerak, merasa, dan berkehendak.8 Sementara Abū Hasan al-Asy‘āri yang didukung muridnya al-Baqillāni meragukan keruhanian roh, sebab roh adalah ‘arao (sifat yang baru datang). Jika badan hancur roh pun ikut lenyap.9
  2. Roh merupakan subtansi yang bersifat rūhani dan tak satu pun cirinya bersifat jasmani. Ibnu Sinā, Ibnu Maskawaih,Ibnu Thufail, Ibnu Bajja, dan Imam Haramain sepakat bahwa roh itu adalah jauhar rūhani (subtansi yang bersifat rohani).roh itu tidak tersusun dari materi, sebab ia abstrak dan dapat menangkap beberapa bentuk secara sekaligus. Penangkapan bentuk kedua tidak akan menghilangkan bentuk pertama.Penciptaannya secara sekaligus (daf‘atan wāhidah), dalam arti tidak mengikuti proses seperti proses penciptaan biologis. Ia bukan gabungan dari beberapa unsur, walaupun ia memiliki beberapa daya. Ia tidak hancur dengan kehancuran badan bahkan ia ada sebelum badan ada.10 Al-Ghazāli menyatakan bahwa roh merupakan al-qudrah al-Ilāhi (daya ketuhanan),yang tercipta dari alam perintah (‘amr) bukan alam penciptaan,sehingga sifatnya bukan jasadi.11
  3. Roh merupakan kesatuan jiwa dan badan. Hal itu dikemukakan oleh az-Zamakhsyāri, al-Qurthūbi dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.12
Dari Beberapa pendapat tersebut dapat dipahami bahwa roh itu memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama sebagai jisim halus, dan kemungkinan kedua sebagai subtansi rohani. Kedua kemungkinan ini sebenarnya dapat dibenarkan,sebab masing-masing para ahli memandang dari sudut yang berlainan. Roh sebagai subtansi rohani adalah roh yang berasal dari alam amr yang sedikitpun tidak terkait dengan aspek jasmani. Sedangkan roh sebagai jisim halus adalah roh yang sudah menyatu dengan badan manusia di alam khalq. Ketika roh telah menyatu dengan badan maka ia terikat oleh hukum-hukum jasmani, sehingga ia memilki dua natur, yaitu jasmaniah dan rohaniah. Roh dalam pemahaman yang kedua inilah yang dimaksud dalam pembahasan ini.13
Roh memiliki sifat multi dimensi yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Roh dapat keluar masuk ke dalam tubuh manusia,roh hidup sebelum tubuh manusia ada (Iblis yang terstruktur dari hawa nafsu dan tidak memiliki struktur akal telah mengalami kesalahan dalam mempersepsi diri manusia). Iblis hanya melihat manusia dari sudut jasadiah yang tercipta dari tanah, dan tidak melihat dari sudut rohaniah yang tercipta dari alam amr Allah. Dari sudut jasmani, tanah bisa saja lebih buruk dari api, sehingga iblis menduga bahwa dirinya lebih mulia daripada manusia. Seperti dalam Surah al-A‘rāf/7: 12 disebutkan:
image(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api,sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. (al-A‘rāf/7: 12)
Namun, dari sudut rohani, jiwa manusia lebih kompleks daripada jiwa iblis, sehingga lebih mulia darinya. Bahkan Allah subhānahū wa ta‘ālā memuliakan manusia dan menjadikan ia khalifah di atas bumi ini. Dalam Surah al-Baqarah/2: 30 Allah berfirman:
imageDan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30)
Khalifah pada ayat tersebut dimaksudkan, yaitu pengganti,pemimpin atau penguasa.14 Kematian tubuh bukan berarti kematian roh. Roh masuk pada tubuh manusia ketika tubuh siap menerimanya. Menurut hadis Nabi, bahwa kesiapan itu ketika manusia berusia empat bulan dalam kandungan.15 Pada saat ini roh berubah nama menjadi an-nafs. Firman Allah subhanahū wa ta‘ala:
imageDan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman),“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”Mereka menjawab,“Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidakmengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (al-A‘raf/7: 172)
Roh merupakan subtansi psikologis manusia yang menjadi esensi keberadaannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Roh yang menjadi pembeda antara esensi manusia dengan esensi makhluk lain. Selain itu, roh tercipta sebelum jasad manusia ada. roh bersifat kekal, walaupun kekalnya bukan seperti kekalnya Penciptanya. Dalam masalah kekekalan roh ini, para ulama berbeda pendapat. Pertama, semua yang ada di alam ini bisa rusak, termasuk roh, kecuali Allah subhanahū wa ta‘ala.
Allah telah memberi dua kematian pada manusia, yaitu kematian jasad dan kematian roh (al-Qashash/28: 88, Ghāfir/40: 11);dan kedua, roh tidak mati. Ia diciptakan untuk kekal. Kematian bukan pada roh tetapi pada nafs dan badan. Kematian badan disebabkan oleh ajalnya telah sampai, dan kematian nafs disebabkan oleh badan terpisah dari roh. Apabila roh mati maka manusia tidak akan mengalami kenikmatan dan kesengsaraan.16D. Kalbu
Kalbu, hati, jantung dalam berbagai bahasa: heart (Ingg),herz (Germ), Coeur (Franc), Corazon (Spanyol), cuore(Italia), hart (Dutch), serce (Polandia), inimă (Rom), dil (Urdu), hrēday (India),xin (China), maeum (Korea),  قَلْبُ (Arab). Kalbu dengan segala bentuk (tunggal, dua maupun jamak) diungkap dalam Al-Qur'an sebanyak 132 kali dalam 126 surah.17 Jumlah ini tidak termasuk kata kerjanya (fi‘il) dan juga tidak termasuk sinonimnya, seperti fu'ād, shadr, dan sebagainya.
Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan makna alqalb.Sebagian ada yang mengasumsikan sebagai materi organik,sedang sebagian yang lain menyebutkannya sebagai sistem kognisi (jihāz indrākī ma‘rifī) yang berdaya emosi (asy-syu‘ūr).18
Al-Ghazālī secara tegas melihat kalbu dari dua aspek, yaitu kalbu jasmani dan kalbu ruhani. Kalbu jasmani adalah daging sanubari yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Sedangkan kalbu rohani adalah sesuatu yang bersifat halus (lathāīf), rabbānī, dan rohani yang berhubungan dengan kalbu jasmani. Bagian ini merupakan esensi manusia.19
Pemaknaan dua aspek tersebut wajar, sebab kalbu merupakan bagian dari fitrah nafsani. Setiap fitrah nafsani memiliki komponen fisik dan psikis. Komponen pisik tercermin di dalam kalbu jasmani, sedang komponen psikis tercermin di dalam kalbu rohani. Kalbu jasmani merupakan jantung (heart) yang menjadi pusat jasmani manusia. Ia berfungsi sebagai pusat peredaran dan pengaturan darah. Apabila fungsi ini berhenti maka ajal (batas) kehidupan manusia habis dan terjadilah apa yang disebut dengan kematian. Kalbu jasmani tidak hanya dimiliki manusia, tetapi dimiliki oleh semua makhluk bernyawa seperti binatang. Kendatipun jantung bersifat fisik, namun berkaitan erat dengan kondisi psikilogisnya. Apabila kondisi psikologis seseorang normal maka ia berdenyut atau berdetak secara teratur, namun apabila kondisi psikologisnya terlalu senang atau terlalu resah maka frekuensi denyutnya lebih cepat atau bahkan lebih lambat dari batas kenormalan.20Al-Ghazālī berpendapat bahwa kalbu memiliki insting yang disebut dengan an-nūr al-ilāhī (cahaya ketuhanan) dan albashīrah al-bāthinah (matabatin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan.21 Demikian juga, az-Zamakhsyārī menegaskan bahwa kalbu itu diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah asalnya dan kecenderungan menerima kebenaran dari-Nya.22 Dari sisi ini, maka kalbu rohani merupakan bagian esensi dari fitrah nafsani. Kalbu ini berfungsi sebagai pemandu, pengontrol, dan pengendali semua tingkah laku manusia. Apabila kalbu ini berfungsi secara normal maka kehidupan manusia menjadi baik dan sesuai dengan fitrah aslinya, sebab kalbu ini memiliki natur ilāhiyyah atau rabbāniyyah. Natur ilāhiyyah merupakan natur supra kesadaran manusia, yang dipancarkan dari Tuhan. Dengan natur ini maka manusia tidak sekedar mengenal lingkungan pisik dan sosialnya, melainkan juga mampu mengenal lingkungan spritual, ketuhanan, dan keagamaan. Oleh karena natur inilah, maka kalbu disebut juga fithrah ilāhiyyah atau fithrah rabbāniyyah-nūrāniyyah.
Fungsi kalbu tersebut tidak selamanya teraktualisasi menjadi tingkah laku yang baik. Baik-buruknya sangat tergantung pada pilihan manusia sendiri. Sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ . رواه البخاري عن نعمان بن بشير
Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging.Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu. (Riwayat al-Bukhārī dari Nu‘mān bin Basyīr)23
Pembahasan mengenai kalbu lebih banyak dibahas oleh para sufi. Bagi para sufi, kalbu adalah sesuatu yang bersifat halus dan rabbānī yang mampu mencapai hakekat sesuatu.
Kalbu mampu memperoleh pengetahuan (al-ma‘rifah) melalui daya citra rasa (adz-Dzauqiyyah). Kalbu akan memperoleh puncak pengetahuan apabila manusia telah mensucikan dirinya dan menghasilkan ilham (bisikan suci dari Allah subhānahū wa ta‘ālā) dan kasyf (terbukanya dinding yang menghalangi kalbu).24
Menurut al-Imām al-Qusyairī, pengetahuan qalbiyyah jauh lebih luas daripada pengetahuan ‘aqliyyah. Akal tidak mampu memperoleh pengetahuan yang sebenarnya mengenai Tuhan, sedangkan kalbu dapat mengetahui hakekat semua yang ada.25
Kaum sufi sering menyebut kalbu dengan nama-nama berikut: (1) baitul-Hikmah, yaitu kalbu yang menang dan menghasilkan keikhlasan; (2) baitul-muqaddas, yaitu kalbu lahir yang berhubungan dengan orang lain; (3) baitul-muharram, yaitu kalbu manusia yang sempurna yang khusus diperuntukkkan untuk mengenal dan mencintai Allah dan diharamkan selain-Nya; (4)baitul-‘izzāh, yaitu kalbu yang sampai pada tingkah al-jamā‘ ketika seseorang dalam kondisi al-fanā’ (menghilangkan sifat-sifat buruk dan pengaruh-pengaruh kejisiman) menuju kepada Allah; dan (5) al-āfāq al-mubīn, yaitu puncak tingkatan terdiri dari kalbu manusia.26
Al-Ghazālī berpendapat bahwa kalbu diciptakan untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan kalbu sangat tergantung pada makrifat kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā.
Makrifat pada Allah sangat tergantung pada perenungan terhadap ciptaan-Nya. Pengetahuan tentang ciptaan Allah hanya dapat diperoleh melalui bantuan indra.27 Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa indra harus bersumber dari kalbu. Tanpa kalbu maka indra manusia tidak akan memperoleh daya persepsi,terutama persepsi spiritual. Daya persepsi manusia akan terwujud apabila terjadi interelasi antara daya-daya qalbiyyah dengan daya-daya indra. Hewan memiliki daya indra, namun inderanya tidak mampu mempersepsikan sesuatu, sebab ia tidak memiliki daya kalbu.28
Kalbu secara psikologis memiliki daya-daya emosi (alinfi‘ālī),29 yang menimbulkan daya rasa (asy-syu‘ūr).30 Sementara ath-Thabātabā’ī menyebut dalam tafsirnya bahwa fungsi kalbu selain itu, ia berdaya kognisi.31
Kalbu dengan segala bentuk (tunggal, dua maupun jamak) diungkap dalam Al-Qur'an sebanyak 132 kali dalam 126 surah.32 Jumlah ini tidak termasuk kata kerjanya (fi‘il) dan juga tidak termasuk sinonimnya, seperti fu’ād, shadr, dan sebagainya.
Fungsinya kalbu dalam Al-Qur'an seperti dalam kategori berikut ini:
a. Fungsi hati yang menimbulkan daya rasa
  1. Tenang (thuma’nīnah) al-Baqarah/2: 260, al-Anfāl/8: 10,11,Yūnus/11: 120, Yūsuf/12: 28, al-Kahf/18: 14, al-Furqān/25: 32, al-Qashash/28: 10 dan al-Fath/48: 4 dan 18.
  2. Jinak (‘ulf), al-Baqarah/2: 103, al-Anfāl/8: 63, at-Taubah/9: 60, Ali ‘Imrān/3: 159, az-Zumar/39: 23.
  3. Santun dan penuh kasih sayang (ra’fah wa rahmah), Ali ‘Imrān/3: 159, dan al-Hadīd/57:27.
  4. Lapang dada, (al-Insyirah) al-Baqarah/2: 25, al-An‘ām/6:125, az-Zumar/39: 22-23 dan al-Insyirāh/94: 1.
  5. Khusyu (al-khusyμ‘), al-Hadīd /57: 16.
  6. Taqwa, al-Hajj/22: 32, dan al-Hujurāt/49: 3.
  7. Sehat, asy-Syu‘arā’/26: 89, ash-Shaffāt/37: 84.
  8. Kesuciannya, al-Mā’idah/5: 41, al-Ahzāb/33: 53.
  9. Merasa takut (al-Khauf) Ali ‘Imrān/3: 151, al-Anfāl/8: 2, 12,al-Hajj/22: 35, al-Mu’minūn/23: 60, al-Qashash/28: 10, as-Sajdah/32: 10, 26, Ghāfir/40: 18, al-Hasyr/59: 2 dan 13.
  10. Mendapat hidayah, at-Taghābun/64: 11.
  11. Sentralnya itikad (markazul-i‘tiqādī = al-Imān): al-Mā’idah/5:41, an-Nahl/16: 22, 54, 106, az-Zumar/39; 45, al-Hujurāt/49: 7-14, al-Mujādalah/58: 22.
  12. Hati kaitannya dengan akal: al-Hajj/22: 46.
  13. Hati kaitannya dengan ilmu: al-Baqarah/2: 97, at-Taubah/9: 93, an-Nahl/16: 78, asy-Syu‘arā’/26: 192, 195, al-‘Ankabūt/ 29: 49, ar-Rūm/30: 59, dan Muhammad/47: 24.
  14. Hati kaitannya dengan pemahaman: al-A‘rāf/7: 87, 127 dan 197, al-Isrā’/17: 46, al-Kahf/18: 57, al-Munāfiqūn/63: 3.
  15. Hati kaitannya dengan kasb: al-Baqarah/2: 225, al-Muthaffifīn/83: 14.
  16. Hati kaitannya dengan tanggung jawab: al-Baqarah/2:225, 283, al-Isrā’/17: 36, dan al-Ahzāb/33: 5.
  17. Hati kaitannya dengan karakter: al-Baqarah/2: 7, 88, al-An‘ām/6: 46, 113, al-A‘rāf/7: 100-101, at-Taubah/9: 14,87, 93, Yūnus/10: 57 dan 74, an-Nahl/16; 108, al-Isrā’/17:46, al-Kahf/18;57, al-Hajj/22: 46, al-Mu’minūn/23: 63, ar-Rūm/30: 59, Ghāfir/40: 35, 80, asy-Syūra/42: 24, al-Jāsiyah/45: 23, Muhammad/47: 16, 24, Qāf/50: 33 dan 37,an-Najm/53: 11-12, al-Hasyr/59: 9, al-Munāfiqūn/63: 3,dan al-Muthaffifīn/83: 14. Qāf/50: 33, 37.33
b. Hati dan Sifat-sifat negatif
  1. Hati kaitannya dengan ragu-ragu: at-Taubah/9: 45, 110
  2. Hati dan sifat kasar (galīzh): Ali-‘Imrān/3: 159.
  3. Hati kaitannya dengan penyelewengan (az-zaig): Ali ‘Imrān /3: 7
  4. Hati dan kaitannya dengan kesempitan hati (adh-Dhayyiq): an-Nisā’/4: 90, al-An‘ām/6: 125, Al-A‘rāf/7: 2, Yūnus/10, 88,Hūd/11: 12, al-Hijr/15: 97, asy-Syu‘arā’ 26: 12-13 dan az-Zumar/39: 45.
  5. Hati kaitannya dengan kekerasan hati (al-qaswah): al-Baqarah /2: 74, an-Nisā’/4; 56, al-Mā’idah/5: 13, al-An‘ām/6: 43, al-Hajj/22: 53, az-Zumar/39: 22, Ghāfir /40: 35, dan al-Hadīd/57: 16.
  6. Hati kaitannya dengan penyakit hati (amrādhul-qulūb): al-Baqarah/2:10, al-Mā’idah/5: 52, al-Anfāl/8: 49, al-Anbiyā’/21: 3, an-Nūr/24; 50, as-Sajdah/32: 53, al-Ahzāb/33: 12 dan 60, Muhammad/47: 20, al-Mudatstsir/74: 31.
  7. Hati dan lupa (al-ghaflah) :al-Kahf/18: 28
  8. Hati dan kecurangan: al-A‘rāf/7: 43, al-Hijr/15: 47 dan al-Hasyr/59: 10.
  9. Hati dan kemunafikan: al-Baqarah/2: 8-10, 294, Ali ‘Imrān/3: 167, al-Mā’idah/5: 41, at-Taubah/9: 8, 64, 75,76, 77 dan al-Fath/48: 11.
  10. Hati dan perpecahan (at-tanāfur) al-Hasyr/59: 14.
  11. Hati dan Sū’uzhzhan: al-Fath/48: 12.
  12. Hati kaitannya dengan kufur (al-Kufr): al-Baqarah/2:93, an-Nahl/16: 106 dan al-Fath/48: 26.34
Selain fungsi-fungsi disebutkan di atas, kalbu juga berfungsi sebagai penengah antara akal dan nafsu. Ketika akal dan nafsu bertentangan, maka hati nurani akan bertindak sebagai penilai, sekaligus juga sebagai pengambil keputusan. Hati nurani secara fitrah akan menyuarakan kebenaran. Ketika manusia berbohong, maka hati nurani akan menentang. Tapi suara hati nurani juga sangat bergantung kepada dua hal:
Pertama, Bagaimana hati nurani dipelihara dan dibesarkan”.Manusia yang senatiasa menuruti hawa (nafsu syaithāniyyah),maka suara hati nuraninya akan dikuasai oleh setan. Adapun manusia yang dalam hidupnya senatiasa menaati perintah Allah (nafsu rubūbiyah), maka hati nuraninya akan menyuarakan kebenaran.
Kedua, yang menentukan hati nurani adalah mana diantara tiga unsur ini (akal, nafsu dan hati nurani) yang dominan;maka dialah yang akan memutuskan dan menguasai diri manusia. Untuk itulah seharusnya manusia memelihara hati nurani secara benar dan senantiasa menenangkan hati nurani ketika menyuarakan kebenaran. Hati nurani seperti inilah yang akan senatiasa menyuarakan kebenaran sesuai fitrah dan kehendak Allah subhānahū wa ta‘ālā.35 Hati nuranilah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadisnya, ketika ia ditanya seorang sahabat yang bernama Wābishah tentang kebaikan dan dosa, beliau bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِوَابِصَةَ :" جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ؟" قَالَ قُلْتُ : نعَمْ، وَقَالَ :فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ فَضَرَبَ بِهَا صَدْرَهُ وَقَالَ إِسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، إِسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ - ثَلاَثاً - ا لْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إ لَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وأَفْتَوْكَ ". (رواه أحمد عن وابصة بن معبد
Seorang Sahabat bernama Wābishah bin Ma‘bad al-Asadi, Sesungguhnya Rasulullah berkata kepada Wābishah, kamu bertanya tentang kebaikan dan kejahatan atau dosa. Wābishah menjawab: Ya, Maka Nabi menjawab sambil merapatkan jari-jari tangannya dan meletakkan di atas dadanya bersabda; “Tanya jiwamu sendiri, Tanya pada hatinuranimu Hai Wābishah ! diulang sebanyak 3 kali. Kebaikan itu ialah yang mententeramkan diri dan tenang pulalah perasaan hatimu. Sedangkan dosa dan kejahatan, ialah apa yang meresahkan hati, menimbulkan sifat ragu-ragu dalam dada, meskipun orang lain memberimu pendapat dan mereka membenarkanmu”. (Riwayat Ahmad dari Wābishah bin Ma‘bad)
E. Akal
Kata akal dari berbagai bahasa; trick (Ingg), truc (Franc),truco (Spanyol), trucco (Italia), kurstgreep (Dutch), sztuczka (Polandia), tadbeer, daol, chaal (Urdu), gui-ji (China), gyeryak (Korea), عَقْلٌ (Arab). Kata al-‘Aql dengan derivasinya dalam Al-Quran terulang sebanyak 89 kali, yang tersebar di berbagai Surah.
Menurut al-Bassām Kata ‘aql jika dirangkaikan dengan kata sebelumnya mempunyai arti, antara lain:
1. Akal tercela, jika tidak digunakan secara optimal
imageMengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)?Tidakkah kamu mengerti? (al-Baqarah/2: 44)
2. Akal digunakan untuk tadabur ayat-ayat kauniyyah,
imageDia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu,dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (an-Nahl/16: 12)
3. Akal kaitannya dengan Sopan santun
imageSesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (al-Hujurāt/49: 4)
4. Akal dan penglihatan
imageDan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An‘ām/6: 110)
5. Akal dan pendengaran
imageDan di antara mereka ada yang mendengarkan engkau (Muhammad).Tetapi apakah engkau dapat menjadikan orang yang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti? (Yūnus/10: 42)
Yastami‘ūna dimaksudkan: Artinya mereka terlihat memperhatikan apa yang dibaca oleh Rasulullah dan apa yang diajarkannya, padahal hati mereka tidak menerimanya.
6. Akal dan pengetahuan
imageDan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu. (al-‘Ankabūt/29: 43)
7. Akal dan hati
imageMaka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal)mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22: 46)
8. Akal dan ucapan
imageSesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti. (al-Anfāl/8: 22)
9. Akal dan kesatuan
imageMereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti. (al-Hasyr/59: 14)
10. Akal dan taqwa
imageDan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau.Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? (al-An‘ām/6: 32)
Secara etimologi, akal memiliki arti al-imsāk (menahan),al-ribāth (ikatan), al-Hajr (menahan), an-nahyu (melarang), dan alman‘u (mencegah).37 Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut orang yang berakal (al-‘āqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu berinteraksi.
Akal merupakan bagian dari fitrah nafsani manusia yang memiliki dua makna:
1. Akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini lazimnya disebut dengan otak (ad-dimāgh).
2. Akal rohani, yaitu cahaya (an-nūr) nurani dan daya nafsani yang dipersiapkan dan mampu memperoleh pengetahuan (al-ma‘rifah) dan kognisi (al-mudrikāt).38Akal juga diartikan sebagai energi yang mampu memperoleh,menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan. Akal mampu menghantarkan manusia pada subtansi humanistik (dzat insāniyah).39 Atau kesehatan fitrah yang memiliki daya-dayap embeda antara hal-hal yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang membahayakan.40 Pengertian di atas dapat dipahami bahwa akal merupakan daya berpikir manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia.
Al-Ghazālī menggunakan empat pengertian pada akal, yaitu
(1) sebutan yang membedakan antara manusia dan hewan; (2)ilmu yang lahir di saat anak mencapai usia akil balig, sehingga mampu membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk; (3) ilmu yang didapat dari pengalaman, sehingga dapat dikatakan “siapa yang banyak pengalaman maka ialah orang yang berakal”;(4) kekuatan yang dapat menghentikan naluriah untuk menerawang jauh ke angkasa, mengekang dan menundukkan syahwat yang selalu menginginkan kenikmatan.41Akal merupakan lawan dari tabiat (ath-Thab‘u) dan kalbu (alqalb).
Akal mampu memperoleh pengetahuan melalui daya nalar (al-nazhar), sedang tabiat memperoleh pengetahuan melalui daya naluri atau daya alamiah (adh-Dharūriyat). Akal mampu memperoleh pengetahuan melalui daya argumentatif (al-istidlāliyyah), sedang kalbu mampu memperoleh pengetahuan melalui daya citra-rasa (adz-Dzauqiyyah). Akal juga menunjukkan subtansi berfikir, akunya pribadi, mampu berpendapat, memahami, menggambarkan,menghafal, menemukan, dan mengucapkan sesuatu.42 Karena itulah maka natur akal adalah kemanusiaan (insāniyyah), sehingga ia disebut juga fithrah insāniyyah.
Akal memiliki banyak nama. Di antara nama-nama itu adalah:
(1) al-Lubb, karena ia cerminan kesucian dan kemurniah Tuhan.Aktivitasnya adalah berzikir (mengingat keagungan Tuhan) dan berfikir (memikirkan makhluk-makhluk dan sunnah-sunnah-Nya); (Surah Ali ‘Imrān: 190-191).
(2) al-Hujjah, karena ia mampu memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan dan mampu mengaktualisasikan hal-hal yang abstrak.
(3) al-Hijr, karena ia mampu menahan diri dari melakukan sesuatu yang dilarang.
(4) an-Nuhā, karena ia menjadi puncak kecerdasan, pengetahuan dan penalaran. Ungkapan dari redaksi ini terulang dalam Surah Thāhā/20: 54, dan 128 Kecerdasan yang dimaksud disini, yaitu membaca, memperhatikan dan meneliti ayat-ayat kauniyah berupa: bumi dijadikan seperti tikar yang dihamparkan,menurunkan hujan dari langit, menumbuhkan bermacam-macam flora, mengembangbiakkan bermacam-macam fauna dan sebagian untuk digembalakan dan sebagian untuk dimakan. Ungkapan redaksi ini terurai dengan jelas dalam Surah Thāhā/20: 53 dan 54. Sedang pada ayat 128 dari Surah yang sama, yaitu kecerdasan membaca, meneliti dan menjadikan i‘tibār (pelajaran) kehidupan sejarah kemanusiaan generasi – generasi sebelum kita, dimana mereka dihancurkan dan dibinasakan, kemudian ditumbuhkan lagi generasi-generasi baru.
Puncak ini mampu menghantarkan manusia pada perbuatan yang positif yang menyelamatkan kehidupan di dunia dan di akhirat.43Nama-nama akal di atas dialamatkan pada akal rohani yang selalu berhubungan dengan kalbu manusia, namun jika ia beraktivitas sebagaimana adanya, tanpa melibatkan daya kalbu,maka ia hanya mampu berfikir secara rasional belaka, tanpa disertai berzikir atau perbuatan spiritual lainnya.
Dari sudut pandang psikologi, Akal memiliki fungsi kognisi (daya cipta). Kognisi adalah suatu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengalaman kognisi, mencakup mengamati,melihat, memperhatikan, memberikan pendapat, mengasumsikan,berimajinasi, memprediksi, berfikir, mempertimbangkan,menduga, dan menilai.44
Akal disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 49 kali.Jumlah ini tidak termasuk sinonimnya, seperti al-Lubb dan sebagainya.
Akal diuangkap hanya dalam bentuk kata kerja (fi‘il) dan satu pun tidak disebutkan dalam bentuk kata benda (isim). Hal ini menujukkan bahwa akal bukanlah satu subtansi (jauhar) yang bereksistensi, melainkan aktivitas subtansi tertentu.Komponen nafsani yang mampu berakal adalah kalbu.
Firman Allah subhānahū wa ta‘ālā:
imageMaka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal)mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22 : 46)
Berdasarkan ayat tersebut, para mufasir berbeda pendapat sebagaimana yang diulas oleh al-Ghazālī 45 dan Wahbah az-Zuhailī 46. Sebagian ada yang berpendapat bahwa kalbulah yang berakal, sedang sebagian yang lain menyebutnya “otak” (addimāgh) yang berakal. Alasan yang mendasari kelompok pertama adalah (1) akal sering disebut dengan nama kalbu (Surah al-Hajj/22: 46, al-A‘rāf/7: 179, dan Qāf/50: 37); (2) tempat kebodohan dan lupa adalah kalbu, dengan begitu kalbu merupakan tempat berakal dan pemahaman (Surah al-Baqarah/2: 7, 10, an-Nisā’/4: 155, at-Taubah/9: 64, al-Fath/48: 11, al-Muthaffifīn /83: 14, Muhammad/47: 29, dan al-Hajj/22: 46); (3) apabila manusia berfikir secara berlebihan maka kalbunya terasa sesak dan jenuh, sehingga ia seperti terkena penyakit; (4) kalbu merupakan organ yang pertama dan terakhir ada, sehingga ia bersinonim dengan akal.
Bagi kelompok kedua beralasan (1) otak merupakan sistem pengingat manusia. Ia mampu menggerakan dan menentukan pilihan manusia; (2) alat yang dapat dicapai daya kognisi adalah otak; (3) apabila sistem otak ini rusak maka terjadilah apa yang disebut dengan “gila”; (4) dalam bahasa sehari-hari,orang yang sedikit kecerdasannya disebut dengan “ringan otaknya”(khafīfud-dimāgh) atau “ringan kepalanya” (khafīfur-ra’s); dan (5) akal mampu mencapai puncak kemuliaan. Oleh sebab itulah maka ia menempati tempat yang mulia, yaitu berada di dalam kepala. Az-Zuhailī lebih lanjut menjelaskan bahwa pendapat yang valid adalah pendapat kedua, yakni otak yang berakal bukan kalbu. Adapun maksud dari Surah al-Hajj/22 ayat 46 tersebut adalah bahwa tradisi kebahasaan, seseorang sering menggunakan kalbu untuk menyebutkan akal, sehingga dalam Al-Qur'an menggunakan kalbu untuk berakal. Pendapat ini senada dengan pendapat Plato. Bagi Plato, jiwa rasional itu bertempat di kepala (otak) manusia, sehingga yang berpikir adalah akal dan bukan kalbu.47 Sementara itu, Ibnu Maskawaih menyatakan bahwa jiwa berakal (nāthiq) itu berkedudukan di otak manusia, jiwa syahwat berkedudukan di hati, sedang jiwa ghadhab berkedudukan di jantung.48
Al-Ghazālī berpendapat bahwa akal memiliki banyak aktivitas. Aktivitas itu adalah an-nazhar (melihat dengan memperhatikan),at-tadābur (memperhatikan secara seksama), at-ta’ammul (merenungkan), al-istibshār (melihat dengan mata batin), al-I‘tibār (menginterprestasikan), at-tafkīr (memikirkan), dan attadzakkur (mengingat)49 semua itu merupakan aktivitas akal.
Akal mampu menangkap pengetahuan melalui bantuan indra seperti mata untuk melihat dan memperhatikan. Apabila mencapai puncaknya, akal tidak lagi membutuhkan indra, sebab indra membatasi ruang lingkup pengetahuan aqliyyah. Karena itu maka pengetahuan yang di hasilkan oleh akal dibagi menjadi dua bagian; pertama, pengetahuan rasional empiris, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran akal dan hasilnya dapat diverifikasi secara inderawi, sebab perolehannya juga dengan bantuan indra; kedua, pengetahuan rasional idealis, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran akal, namun hasilnya tidak dapat diverifikasi dengan indra. Bagian pertama menghasilkan “ilmu”, sedang bagian kedua menghasilkan “filsafat”.
Dari sisi lain, manusia dianugerahi akal oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā. Dengan akal itulah manusia dapat memiliki ilmu,membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan akal pula manusia bisa unggul dalam pendidikan, belajar, mendapatkan ilmu dan menguasai teknologi. Bahkan dengan akal itulah manusia beragama, karena hanya orang yang berakal sajalah yang beragama. Sebagaimana Hadis Nabi:
دِيْنُ الْمَرْءِعَقْلُهُ وَمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ لَا دِيْنَ لَهُ . روه إبن نجارعن جابر
Agama seseorang tergantung akalnya, barang siapa yang tidak ada akalnya, maka tidak ada agama baginya. (Riwayat Ibnu Najjār dari Jābir)
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dipahami bahwa akal (fithrah insāniyah) memiliki hal-hal sebagai berikut:
  1. Daya-daya kognisi yang mampu menangkap hal-hal yang masuk akal (al-ma‘qūlāt). Daya ini menghasilkan tingkatan pengetahuan rasional.
  2. Daya-daya yang mampu menalar hal-hal yang dapat diindra dan dipikirkan, seperti daya intelejensi, apersepsi, reproduksi,imajinasi, fantasi, mengamati, menghayati, menanggapi, asosiasi,dan mengingat.
  3. Natur akal adalah insāniyyah (antroposentris) yang dapat menghantarkan manusia pada tingkat “kesadaran” dari kepribadiannya,seperti moralitas, sosialitas, dan sebagainya51.
Dalam konsep pendidikan, akal dan itelektual inilah yang perlu dikembangkan, melalui kurikulum yang bercam-macam,agar ia mampu mengembangkan potensi akalnya ke jenjang yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan menjadi manusia cerdas, pintar dan kreatif.
F. Nafsu
Kata nafsu dalam berbagai bahasa antara lain: lust (Ingg),wollust (Germ), concupiscenza (Franc=Italia), lascivia (Spanyol), lust (Dutch), cheć (Polandia), pofta (Romawi), khawhish nafsani, joosh (Urdu), yu-wang, se-yu (China), seongyok (Korea), نَفْسٌ (Arab). Al-Quran menyebut nafs, dalam bentuk kata jadian dalam bentuk mufrad nafs disebut 77 kali, dalam bentuk jamak nufus 2 kali,sedang bentuk anfus 158 kali, sedang kata tanaffasa, yatanaffasu,al-mutanāfisūn masing-masing hanya sekali.
Dalam Al-Quran, kata nafs mempunyai aneka makna antara lain:
  1. Nafs, sebagai diri seseorang. Terdapat dalam Surah Ali ‘Imrān/3: 61, Yūsuf/12: 54, adz-Dzāriyāt/51: 21.
  2. Nafs, sebagai diri Tuhan. Terdapat dalam Surah al-An‘ām/6: 12, 54
  3. Nafs, sebagai personal. Terdapat dalam Surah al-Furqān/25: 3, dan al-An‘ām/6: 130.
  4. Nafs, sebagai roh. Terdapat dalam Surah al-An‘ām/6: 93
  5. Nafs, sebagai jiwa. Terdapat dalam Surah asy-Syams/91/7,dan al-Fajr/89: 27.
  6. Nafs, sebagai totalitas manusia. Terdapat dalam Surah al-Mā’idah/5: 32 dan Surah al-Qashash/28: 19 dan 33.
  7. Nafs, sebagai sisi dalam diri manusia melahirkan tingkah laku. Terdapat dalam Surah ar-Ra‘d/13: 11 dan al-Anfāl/8:53.52 Makna yang terakhir inilah yang ada kaitannya dengan pendidikan, pengajaran dan pembentukan watak dan kepribadian manusia. Dapat dibentuk menjadi baik, atau tidak,cerdas atau bodoh, bermoral atau tidak, tergantung interaksi yang terjadi antara diri seseorang dengan lingkungan dimana mereka berada.
Dalam konteks manusia, disamping penggunaan nafs untuk menyebut totalitas manusia, banyak ayat Al-Quran yang mengisyaratkan gagasan nafs sebagai sesuatu di dalam diri manusia yang mempengaruhi perbuatannya, nafs sebagai “sisi dalam” diri manusia, sebagai lawan dari “sisi luar” diri manusia.
Ayat yang mengisyaratkan bahwa manusia mempunyai “sisi dalam” dan “sisi luar” adalah Surah ar-Ra‘d/13: 10:
imageSama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari. (ar-Ra‘d/13: 10)
Kesanggupan manusia untuk merahasiakan dan berterus terang dengan ucapannya merupakan petunjuk adanya sisi dalam dan sisi luar dari manusia. Al-Quran juga menyebut hubungan antara sisi dalam dan sisi luarnya. Jika sisi luar manusia dapat dilihat pada perbuatan lahirnya, maka sisi dalam, menurut Al-Quran berfungsi sebagai penggeraknya. Terdapat dalam Surah asy-Syams/91: 7, disana secara tegas disebut nafs sebagai jiwa. Jadi “sisi dalam” manusia adalah jiwanya.
Sekurang-kurangnya Al-Qur'an dua kali menyebut nafs sebagai “sisi dalam” yang mengandung potensi sebagai penggerak tingkah lakunya, yaitu pada Surah ar-Ra‘d/13: 11 dan al-Anfāl/8: 53:
imageBaginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (ar-Ra‘d/13: 11)
imageYang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (al-Anfāl/8: 53)
Pada Surah ar-Ra‘d/13: 11 di atas, ada dua kalimat yang menunjukan keadaan sesuatu pada kaum, yaitu kalimat mā biqaumin ( مَا بِقَوْمٍ ) dan mā bianfusihim ( مَا بِأَنْفُسِهِمْ ). Dalam kaidah bahasa Arab, huruf mā pada kalimat mā biqaumin dan mā bianfusihim mengandung arti berita ( مَاخَبَرِيَّةْ - mā khabariyyah).
Jadi mā biqaumin ( مَا بِقَوْمٍ ) artinya apa yang ada pada suatu kaum dan mā bianfusihim (  مَا بِأَنْفُسِهِمْ  ) artinya yang ada pada nafs atau “sisi dalam” mereka. Untuk melihat benang merah dari makna kedua ayatnya ini, harus dilihat dari konteks munasabah masing-masing dari ayat tersebut.
Surah ar-Ra‘d/13: 11, ayat 1-7, menyebutkan tentang kekuasaan dan kesempurnaan ilmu Allah pada sistem jagad raya.
Ayat 8-9, menyebutkan kesempurnaan pengetahuan Allah terhadap kapasitas dan proses kejadian manusia ketika masih dalam kandungan ibunya. Allah telah menetapkan kapasitas manusia satu persatu sejak dini. Sedang ayat 10, menyebutkan bahwa manusia memiliki “sisi luar” dan “sisi dalam”, sisi tampak dan sisi tidak tampak. Pada ayat 11, menegaskan komitmen Tuhan memberikan rahmat kepada manusia, yakni mengirimkan malaikat rahmat untuk selalu menyertai, mengawasi dan menjaganya. Meskipun demikian manusia tetap diberi ruang yang besar untuk menggapai apa yang diinginkan, sehingga apa yang dicapai bergantung usahanya. Jadi mā biqaumin pada Surah ar-Ra‘d/13, 11 mengisyaratkan peluang keberhasilan manusia dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Sedang pada Surah al-Anfāl/8: 53, secara lebih jelas disebutkan bahwa apa yang ada pada suatu kaum itu ialah nikmat Allah bagi manusia. Ayat sebelumnya ayat 52, dan sesudahnya 54, menceritakan pasang surut kejayaan dan keruntuhan Fir‘aun dan orang-orang sebelumnya dimana siksaan Tuhan datang disebabkan oleh perbuatan mereka mendustakan-Nya. Jadi ayat ini menjelaskan kejayaan suatu kaum bergantung kepada apa yang ada dalam nafs mereka, karena Tuhan tidak akan mencabut atau mendatangkan suatu tingkat kesejahteraan begitu saja kepada suatu kaum tanpa peran mereka, dan peran ini bersumber dari apa yang ada dalam nafs mereka.53
Dengan demikian kata mā bianfusihim, mengisyaratkan bahwa nafs itu merupakan “sisi dalam” manusia yang juga merupakan wadah bagi suatu potensi, dan sesuatu itu sangat besar peranannya bagi perbuatan manusia. Apa yang ada di dalam nafs manusia berperan besar dalam mempertahankan,menambah atau mengurangi tingkat sosial ekonomi masyarakat.
Baik Surah ar-Ra‘d maupun Surah al-Anfāl, menghubungkan apa yang ada di dalam nafs dengan perubahan. Apa yang tersembunyi dalam nafs dan dari sana lahir perbuatan akan dapat melahirkan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan manusia dimuka bumi ini. Perubahan itu adalah inti dari makna pendidikan.
Pekerjaan melakukan perubahan adalah pekerjaan yang melibatkan gagasan, perasan dan kemauan. Oleh karena itu, apa isi anfus seperti di maksud dalam term mā bianfusihim pastilah suatu potensi, atau sekurang-kurangnya di antara muatan nafs adalah potensi, yakni potensi merasa, berfikir dan berkemauan.
Dari term mā bianfusihim dapat dipahami bahwa nafs bukan alat,tetapi lebih merupakan wadah yang didalamnya terdapat aneka fasilitas. Ia merupakan ruang dalam atau rohani manusia yang sangat luas yang juga menampung aneka fasilitas, ibarat ruang besar yang berkamar-kamar, menampung seluruh aspek nafs manusia, yang disadari atau yang tidak disadari.54 Hal ini diisyaratkan dalam Surah Thāhā/20: 7:
imageDan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thāhā/20: 7)
Menurut al-Marāghi, as-sir adalah apa yang dirahasiakan seseorang kepada orang lain, sedangkan akhfā apa yang tersembunyi,adalah apa yang terlintas dalam hati, tetapi sudah tidak disadari, mungkin sama dengan apa yang ada dalam istilah ilmu jiwa dikenal dengan alam sadar.55Sedang nafs dari sisi derajatnya disebutkan dalam tiga jenis yaitu:
1. an-Nafsul-Muthma-innah ( أَلنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة )
2. an-Nafsul-Lawwāmah  ( اَلنَّفْسُ الَّلوَّامَة)
3. an-Nafsul-ammāratu bis-sū’ (أَلنَّفْسُ الْأَمَّرَةُ بِاالسُّوْءِ)
Ketiga jenis nafs tersebut merupakan tingkatan kualitas,dari yang tertinggi hingga terendah. Ayat-ayat yang secara ekplisit menyebut ketiga jenis nafs ini sebagai berikut:
Pertama, an-Nafsul-muthma’innah,
image
Wahai jiwa yang tenang!. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (al-Fajr/89: 27-30)
Kedua, an-Nafsul-lawwāmah,
imageAku bersumpah dengan hari Kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri). (al-Qiyāmah/75: 1-2)
Ketiga, an-Nafsul-ammāratu bis-sū’ /selalu menggoda berbuat negatif,
imageDan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Yūsuf/12: 53)
Ketiga jenis nafs ini berusaha memenangkan pertarungan dalam diri manusia. Apabila pertarungan ini dimenangkan oleh daya nafsu ammārah bis-sū’, maka akan membentuk kepribadian yang berperinsip mengejar kenikmatan duniawi, mengumbar nafsu-nafsu implusif dan primitif. Jika dalam pertarungan ini dimenangkan oleh nafsul-lawwāmah memfungsikan daya akal,maka akan membentuk kepribadian yang realistik dan rasionalistik.
Namun apabila pertarungan ini dimenangkan oleh nafsul-muthma’innah, maka akan melahirkan pribadi dan individu yang berprinsip yang mengejar pola kehidupan akhirat dan pengabdian kepada Allah, Disinilah letak pentingnya pendidikan untuk dapat mengatur dan menguasai nafsu-nafsu
yang berada dalam “sisi dalam” diri manusia.
Dari sisi lain, manusia dianugerahi nafsu oleh Allah.Dengan nafsu itulah manusia dapat hidup menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Dengan nafsulah manusia belajar.Dengan nafsulah manusia bekerja. Dengan nafsu manusia hidup berumah tangga. Dengan nafsulah manusia beribadah.
Nafsu tidak selamanya negatif, karena nafsupun ada yang positif. Nafsu yang dimiliki manusia dapat dikelompokan dalam tiga bagian: Pertama, Nafsu Rubūbiyyah, yaitu dorongan atau kecenderungan untuk mengenal dan mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā. Termasuk didalamnya kecenderungan untuk meniru dan menerapkan sifat-sifat Allah yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Allah bersifat Maha Pemurah dan Penyayang, kemudian manusia menerapkan kedua sifat tersebut terhadap sesama manusia dan makhluk yang lainnya. Kedua, Nafsu Insāniyyah,yakni dorongan atau kecenderungan yang bersifat manusiawi.
Contoh nafsu untuk makan, minum atau memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk juga keinginan belajar, bekerja dan berumah tangga. Ketiga, Nafsu Syaithāniyyah, adalah dorongan atau kecenderungan yang berasal dari bisikan setan. Misalnya berdusta,mencuri, menfitnah, iri, dengki dan sebagainya. Termasuk juga kehendak untuk meninggalkan, melawan atau menentang perintah Allah subhānahū wa ta‘ālā dan Rasulnya. Ketiga nafsu
tersebut bersemayam di dalam diri manusia. Ketiganya saling berebut pengaruh. Mana yang lebih kuat, dialah yang akan menguasai diri manusia. Disinlah pentingnya pendidikan dan penguasaan dari ketiga nafsu tersebut.56Apabila manusia dikuasai oleh nafsu syaitaniyahnya, kemudian ia mengumbar nafsunya dalam kehidupan sehari-sehari,maka dia memiliki kedudukan yang sama dengan binatang bahkan lebih hina. Seperti firman-Nya dalam Surah al-A‘rāf/7: 179.
imageDan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-A‘rāf/7: 179)
Berdasarkan ayat di atas maka dapat dipahami bahwa hawa nafsu (fitrah hayawāniyyah) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Daya-daya konasi yang mampu menginduksi pada hal-hal yang menyenangkan (syahwat) dan menghindari dari hal-hal yang membahayakan. Daya ini menghasilkan tingkat irasional.
  2. Natur nafsu adalah hayawāniyyah (kehewanan) yang dapat menghantarkan manusia pada tingkat bawah kesadaran dari kepribadiannya, seperti gaya hidup hedonisme (serba kenikmatan), gila materi dan seks.
Dari uraian panjang di atas, dapat dipahami, bahwa fitrah merupakan, awal penciptaan manusia, dimana unsur penciptaan itu terdiri dari dua unsur, unsur jasmaniah dan unsur rohaniah.
Unsur jasmaniah “sisi luar” manusia, sedangkan unsur rohani adalah “sisi dalam” manusia, yang terdiri dari roh, akal, kalbu dan nafsu, dengan “perangkat-perangkat” inilah, maka manusia dijadikan sebagai khalifah di atas bumi ini (al-Baqarah/2: 30).
Tidak saja sebagai khalifah tetapi makhluk yang dimintai “pertanggungjawaban”terhadap segala perbuatan dan tingkah lakunya kelak di akhirat (al-Mu’minūn/23: 115).
Fitrah ini berupa potensi yang dapat dikembangkan menjadi baik atau buruk, tergantung lingkungan yang mengitarinya.
Jika nafsu yang menguasai dirinya maka menjadilah ia manusia serakah, hedonisme dan orientasinya mengumbar hawa nafsu. Jika akalnya yang menguasai fitrahnya, maka menjadilah ia manusia bijaksana, ilmuan, jika kalbunya yang menguasai maka menjadilah ia ahli hikmah, ahli ibadah, dan berusaha “taqarrub” kepada penciptanya dan melahirkan manusia sufi, manusia yang mementingkan kehidupan akhirat.
Dalam ajaran agama Islam, keempat “sisi dalam” diri manusia harus difungsikan secara maksimal dan seimbang melalui pendidikan, pengarahan, pengembangan, pembinaan dan pencerahan, sehingga menjadi manusia yang menemukan “jatidirinya”, tidak saja manusia terdidik, cerdas, terpelajar, bahkan menjadi manusia berakhlak, bermoral dan dekat dengan Penciptanya.
Dalam bahasa modern sekarang 57 ini, menjadikan manusia yang IQ (Intelektual Quotient)nya tinggi, EQ (Emosinall Quotient)nya stabil dan SQ (Spritual Quotient)nya prima.
Wallāhu a‘lam bish-Shawāb.
Catatan:
  1. Imām al-Bukhārī, Shahīhul-Bukhārī, juz II, h. 97. NH: 6926. Imam Muslim, Shahīh Muslim bisy -Syarh Imām an-Nawāwī, (Beirut: Dārul-Fikr, 1981),juz XVI, h. 207. NH: 6226.
  2. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an, Tafsir Maudhū‘ī atas Berbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996), h. 285
  3. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, Sebuah Pendekatan Psychologis,(Dārul Falah, Jakarta, 2000), h. 35.
  4. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 49, mengutip dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ar-Rūh fil-Kalām ‘alā Arwāhil-Amwāt, (Dārul-Kutub al-‘Ilmiyyah), h. 143-250.
  5. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 49, mengutip dari Ma‘an Ziyadat, dkk, al-Mausū‘ah al-Falsafiyah al-‘Arabiyyah, (Arab: Inma’ al-‘Arabi, 1986), h. 464-466.
  6. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 49, mengutip dari Ahmad Daudī, Kuliah Filsafat Islam, (Bulan Bintang, Jakarta, 1989), h. 41.
  7. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 50, mengutip dari Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, h. 115 dan 170.
  8. Wahbah az-Zuhailī, at-Tafsīr al-Munīr, jilid 15, h. 156.
  9. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, mengutip dari Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 123.
  10. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 51, mengutip dari Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam., h. 59 Sir M. Iqbal, The Devlopment of Methaphysics. Al-‘Irāqī, al-Mītāfīzīqā min Falsafati Ibnu Thufail, (Kairo: Dārul-Ma‘ārif, 1979), h. 150. Wahbah az-Zuhaili, jilid 15, h. 156.
  11. al-Ghazālī, Kimyā‘us-sa‘ādah, (Beirut: al-Maktabah asy-Sya‘biyah), h. 111
  12. Abdurrahman Saleh Abdullah, Educational Theory a Quranic Outlook (Ummul-Qurā University, Mekah) h. 67-70.
  13. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 51.
  14. Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (CV. Nala Dana, 2007), h. 6.
  15. Imam al-Bukhārī, Shahīh al-Bukhārī, al-Maktabah asy-Syāmilah, NH,312.
  16. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, hal 53, mengutip dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ar-Rūh, (Beirut: Dārul-Fikr, 1992), h. 37.
  17. Ilm Zadah Faidh Allah, Fathurrahmān lithālibi āyātil-Qurān , h. 367-369;lihat juga: Fu'ād ‘Abdul Bāqī, Mu‘jam al-Mufahrasy li Alfāzhil-Qurānil-Karīm, h.658-659.
  18. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 59, mengutip dari Muhammad Sadati asy-Syinqithī, al-Qalb fil-Qurān, h. 17.
  19. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 59, mengutip dari al-Ghazālī, Kimyā‘us-sa‘ādah, h. 118
  20. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 60.
  21. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 60, mengutip dari Victor Said Basil, Manhajul-bahs‘anil-Ma‘rifāt ‘indal-Ghazālī, (Beirut: Dārul-Kitāb Libanon, t.t.), h. 155.
  22. az-Zamakhsyarī, Tafsīr al-Kasysyāf, juz, 3, h. 295.
  23. Hadis riwayat al-Bukhārī, Shahīhul-Bukhārī, kitab al-īmān, bab Fadhlu man istabra' li dīnihi No.50, Muslim bab akhżul-halāl watarkus-syubhāt. No.2996.
  24. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, hal 61, mengutip dari Ma‘an Ziyadat, Mausū‘ah al-falsafiyya, h. 676.
  25. Harun Nasution, Filsafat Agama, (Bulan Bintang, Jakarta, 1991), h.77.
  26. Abd al-Razzaq al-Kasyaniy, Mu‘jam al-Ishtilāhāt ash-Shūfiyah, (Kairo:Darul-Ma‘ārif, 1984), h. 53, 39.
  27. al-Ghazālī, Kimyā‘us-Sa‘ādah, h. 114.
  28. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 61.
  29. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 62, mengutip dari Ma‘an Zidayat, Mausū‘ah al-Falsafiyya, h. 677.
  30. Abdul Mujib, Fitrah dan kepribadian Islam, h. 61, mengutip dari Muhammad Sadari asy-Syinqithī, al-Qalb fil-Qurān, h. 17
  31. ath-Thabāthabā‘ī, al-Mīzan fī Tafsīril-Qurā n, juz II, h. 234.
  32. Ilm Zadah Faidh Allah, Fathurrahmān lithālibi āyātil-Qurān, h. 367-369;lihat juga: Fu'ād ‘Abdul Bāqī, Mu‘jam al-Mufahrasy li Alfāzhil-Qurānil-Karīm, h.658-659.
  33. al-Bassām, Mu‘jam Ma‘ānil-Qurānil-Karīm, (Damaskus: Dārul-Fikr,1427 H) h. 742.
  34. al-Bassām, Mu‘jam Ma‘ānil-Qurānil-Karīm, h. 743.
  35. Hery Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h. 9.
  36. Hadis Hasan Lighairihi, Riwayat Ahmad dalam Musnadnya No.17313, Imam ad Dārimi dalam Sunannya No. 2588 dari sahabat Wābishah bin Ma‘bad radhiyallāhu ‘anhu.
  37. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 64, mengutip dari Ma‘an Ziyadat, al-Mausū‘ah al-Falsafiyyah…, h. 596. ar-Rāghib al-Ashfahānī,Mufradāt fī Gharīb ., h. 354.
  38. Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 65, mengutip dari Abil-Baqā’ Ayyūb ibnu Mūsā al -Husain al-Kufwiy, al-Kulliyat: Mu‘jam fil-Musthalahāt., h. 618. ar-Rāghib al-Ashfahānī, h. 354.
  39. Ma‘an Ziyadat, al-Mausū‘ah al-falsafiyyah, h. 597.
  40. Victor Said Basil, Manhaju Bahsil-lma‘rifa ‘indal-Ghazālī, Dārul-Kutub al-Lubnāni, h. 38.
  41. Abμ Hamid Muhammad al-Ghazalī, Ihyā’ Ulūmiddīn, h. 101-102.
  42. Ma‘an Ziyadat, al-Mausū‘ah al-Falsafiyyah, h .598.
  43. Abī al-Baqa’ Ayyūb bin Mūsū al-Husain al-Kufwī, al-Kulliyāt;Mu‘jam fil-Mushthalahāt., h. 619-620.
  44. C.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Rajawali, 1989), h. 90.
  45. Imam al-Ghazālī, Ihyā’ Ulūmiddīn, juz V, h. 290.
  46. Wahbah az-Zuhailī, at-Tafsīr al-Munīr, juz IX, h. 131-233. dan Muhammad asy-Syaukānī, Fathul-Qadīr, (Beirut: Dārul-Fikr, t.t.), jilid III, h. 658.
  47. Muhammad Mahmud, Ilmun-Nafs al-Mu‘āshir, (Jeddah: Dārusy-Syurūq,), h. 41.
  48. Ibnu Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak, terj. Helmi Hidayat, judul asli, “Tahzibul-Akhlāq”, (Bandung: Mizan, 1994) h. 44.
  49. Victor Said Basil, Kamus Lengkap Psykologi, h. 54.
  50. al-Imām as-Suyūthī, al-Jamiush-Shagīr, Juz 2, h. 16, Imam Suyūthi menyebutkannya dalam Ahādītsul-maudhū‘ah h. 6, beliau berkata: berkata Hārits: telah memberitahu pada kami Dāwud, telah mengabarkan kami Nashr bin Tharif dari ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jābir secara marfu‘.Hadits ini pun dikeluarkan oleh Ibnu ‘adi dalam al-Kāmil fi dhu‘afā’ir-Rijāl (3/796), Ibnu Najjār dalam dhail tārikh baghdād. Imam Suyūthī tidak mengomentari derajat hadis ini karena illatnya yang begitu jelas, hal ini karena Dāwud adalah Ibnu Mahbar, penulis kitab ‘Aql. azh-Zhahabī berkata: kitab ‘Aql sebenarnya ditulis oleh Maisarah bin ‘Abdi Rabbih, namun Dāwud bin Mahbar mencurinya, dan membubuhinya dengan sanad selain dari sanad maisarah.Al-Imām as-Suyūthi pun menyebutkan hadis dengan jalan yang lain,beliu berkata: hadis ini dikeluarkan oleh al-Baihāqī dari jalan Hamīd bin Adam dari Gamin dari Abū Zubair, beliau (as-Suyūthī berkata: Hamīd bin Adam menyendiri dalam periwayatan hadis ini, dan ia adalah orang yang tertuduh dusta, wallāhu a‘lam.
  51. A. Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam, h. 69.
  52. Ahmad Mubarak, Jiwa Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2000),h. 44.
  53. Qurasih Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid 5, h. 473.
  54. Ahmad Mubarok, Jiwa Dalam Al-Qur’an, h. 52.
  55. Ahmad Mushthafā al-Marāghī, Tafsir al-Maraghi, Juz VI, h. 96.
  56. Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya,2005), h. 8.

Tidak ada komentar: