الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

ALAM KUBUR/ALAM BARZAKH

Al-Qur'an menjelaskan bahwa setiap orang akan mengalami kematian dua kali dan kehidupan dua kali. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ghāfir/40: 11:
imageMereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghāfir/40: 11)
Urutan kematian dan kehidupan yang dua kali tersebut dijelaskan dalam Surah al-Baqarah/2: 28:
image
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati,lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)
Dari kutipan ayat di atas maka dapat dimengerti bahwa sebelum terlahir ke dunia yang merupakan kehidupan pertama,manusia pernah mengalami kematian, dan itulah kematian yang pertama. Setelah selesai menjalani hidup di dunia ini maka setiap manusia akan mengalami kematian dan itulah kematian yang kedua. Setelah kematian mendatangi seseorang maka
selanjutnya ia akan tinggal di sebuah alam yang disebut dengan alam kubur atau alam barzakh. Apa yang dimaksud dengan alam kubur/barzakh tersebut, inilah yang menjadi fokus tulisan ini.
A. Pengertian
1. Alam Kubur
Kata kubur adalah bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini diartikan dengan liang lahat dan tempat pemakaman jenazah.1
Sedangkan dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, kata qabr yang bentuk jamaknya adalah qubūr memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia yaitu tempat pemakaman.
Dalam Al-Qur'an kata ini dengan segala perubahannya terulang sebanyak delapan kali; sekali dalam bentuk kata kerja aqbarah, terdapat di Surah ‘Abasa/80: 21, sekali dalam bentuk isim mufrad qabr, terdapat di Surah at-Taubah/9: 84. Kemudian dalam bentuk jamak qubūr terulang sebanyak lima kali yaitu,Surah al-Hajj/22: 7, Fāthir/35: 22, al-Mumtahanah/60: 13 al-Infithār/82: 3 dan al-‘Ādiyāt/100: 9. Kemudian dalam bentuk kata maqābir terulang sekali yaitu dalam Surah at-Takātsur/102: 2.
Untuk lebih jelasnya masing-masing ayat tersebut akan ditampilkan agar didapat gambaran yang utuh tentang alam kubur yang dimaksud Al-Qur'an.
a. Surah ‘Abasa/80: 11
imageKemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya. (‘Abasa/80: 21)
Ungkapan (Dia Allah) menguburkannya dalam ayat di atas dipahami oleh sementara mufasir dengan pengertian bahwa Allah subhānahū wa ta‘ālā mensyariatkan agar jasad orang yang telah meninggal itu dikuburkan dengan baik sehingga tidak hancur lebur atau dibiarkan begitu saja.2Tentang perintah menguburkan jenazah orang yang telah meninggal, Al-Qur'an mengabarkan bahwa syariat tersebut untuk pertama kali diperlihatkan oleh seekor burung gagak yang menggali tanah untuk diperlihatkan kepada salah seorang putera Nabi Adam yang populer dengan nama Qabil yang telah membunuh saudaranya sendiri, Habil. Informasi ini disebutkan dalam Surah al-Mā'idah/5: 31:
imageKemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan
mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)
Menguburkan dalam kedua ayat di atas jelas dalam arti fisik.
b. Surah at-Taubah/9: 84
imageDan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya.Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (at-Taubah/9: 84)
Para mufasir merujuk kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī yang menjadi asbābun-nuzūl ayat tersebut; ‘Abdullāh bin Ubay bin Salūl yang merupakan tokoh munafik meninggal dunia. Putranya yang merupakan sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengharap kiranya Nabi memberikan pakaian beliau untuk digunakan sebagai kain kafan bagi ayahnya. Nabi mengabulkan permintaan itu, dan kemudian bangkit untuk melaksanakan hal tersebut. Ketika melihat hal ini ‘Umar bin al-Khaththāb memegang baju Nabi sambil berkata:“Apakah engkau akan menshalati ayahnya (shalat jenazah) padahal Allah telah melarangmu menshalati orang-orang munafik?” Nabi menjawab: “Allah telah memberiku pilihan dengan firmannya:
(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.3 Aku akan melebihkan dari tujuh puluh kali.” ‘Umar berkata: “Dia adalah munafik.” Kemudian Rasul tetap mensalatkannya, maka turunlah ayat ini.4Thāhir bin ‘Āsyūr mengartikan ungkapan janganlah berdiri dikuburannya sebagai larangan agar tidak berdiri atau memberi penghormatan dan jangan juga menziarahi kuburnya.5 Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud qubr dalam ayat tersebut adalah aspek fisik tempat jasad dikuburkan.
c. Surah al-Hajj/22: 7
imageDan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-Hajj/22: 7)
Kubur dalam ayat tersebut jelas bukan mengacu kepada tempat ditanamnya jasad, karena kalau itu yang dimaksud akan sulit dipahami bagi mereka yang meninggal dan tidak sempat dikubur. Dalam hal ini Wahbah az-Zuhailī memberi komentar bahwa sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya. Dan bahwasanya Allah akan membangkitkan semua orang dari dalam kuburnya.6d. Surah Fāthir/35: 22
image
Dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati.Sungguh, Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (Fāthir/35: 22)
Ayat di atas berisi perbandingan antara orang yang beriman dengan orang kafir. Hidup adalah pangkal pengetahuan dan usaha, lawannya adalah mati. Dengan hidup seseorang dapat meraih kebahagiaan yang hakiki dan dengan kematian maka putus sudah harapan. Jika demikian orang mukmin selalu dapat meningkatkan diri dalam pengetahuan dan usahanya meraih sukses dan bahagia. Berbeda dengan orang kafir, walaupun masih hidup dalam arti menarik dan menghembuskan nafas tetapi ia tidak dapat meraih kebahagiaan yang hakiki. Orang mukmin dengan keimanannya menjadi hidup walau telah menghembuskan nafas, sedangkan orang kafir karena kekufurannya disebut mati walau masih menarik dan menghembuskan nafas.7Sebagai sebuah perumpamaan maka penyebutan kata qubūr dalam ayat di atas dapat diartikan sebagai aspek fisik.
e. Surah al-Mumtahanah/60: 13
imageWahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa. (al-Mumtahanah/60: 13)
Ayat ini diberikan penjelasan oleh Tim Tafsir Departemen agama; Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir putus asa untuk memperoleh kebaikan dari Allah di akhirat, karena kedurhakaan mereka kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang telah diisyaratkan kedatangannya dalam kitab-kitab mereka. Padahal persoalan itu sudah dikuatkan pula dengan bukti-bukti yang jelas dan mukjizat yang nyata. Keputusasaan mereka untuk memperoleh rahmat Allah di hari akhirat sama
halnya dengan keputusasaan mereka di dalam kubur karena mereka tidak percaya adanya kebangkitan kembali di akhirat.8
Dari keterangan ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa kubur dalam ayat tersebut mengacu kepada dimensi alam kubur.
f. at-Takātsur/102: 2
imageBermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (at-Takātsur/102: 1- 2)
Kata maqābir hanya ditemukan sekali dalam ayat ini.
Bintu Syāthi' seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menyatakan,Satu tempat pemakaman dinamai qabr, bentuk jamaknya adalah qubūr, kumpulan (bentuk jamak) dari sekian banyak qubūr dinamai maqbarah. Bentuk jamak dari maqbarah adalah maqābir.
Jadi dapat dibayangkan betapa kata yang digunakan Al-Qur'an menggambarkan pelipatgandaan yang beruntun. Pelipatgandaan tersebut menggambarkan bahwa benar-benar mereka amat senang memperbanyak walaupun yang diperbanyak adalah kuburan.9Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kuburan dalam ayat tersebut adalah aspek fisik tempat jasad dikuburkan.
2. Alam Barzakh
Dari segi bahasa barzakh berarti pemisah antara dua hal.Kata ini hanya dua kali disebut dalam Al-Qur'an:
Surah ar-Rahmān/55: 19-20:
imageDia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.(ar-Rahmān/55: 19-20)
Para ulama tafsir dan cendikiawan muslim banyak yang mencoba menjelaskan makna ayat tersebut, namun bukan di sini tempat untuk mengutip pandangan mereka. Yang jelas ayat tersebut menyatakan bahwa air laut yang asin tidak dapat bercampur dengan air sungai yang tawar karena di antara keduanya ada barzakh/pembatas.
Surah al-Mu'minūn/23: 99-100:
image(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku,kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai
pada hari mereka dibangkitkan. (al-Mu'minūn/23: 99-100)
Kedua ayat yang menggunakan kata barzakh itu menjelaskan adanya faktor pemisah, sekaligus mengisyaratkan perbedaan keduanya. Untuk ayat di Surah ar-Rahmān perbedaan terdapat pada jenis airnya yaitu tawar dan asin. Air laut menguap dan turun menjadi tawar. Jika demikian lautan asalnya dan sungai hasilnya. Dan keduanya bermanfaat bagi yang mau memanfaatkannya.
Demikian juga barzakh yang dimaksud dalam Surah al-Mu'minūn di atas yang merupakan pemisah antara dua kehidupan.Kehidupan dunia pada akhirnya akan punah dan berganti kehidupan akhirat yang kekal. Keduanya adalah baik dan membawa manfaat bagi siapa saja yang mau memanfaatkannya.Kepercayaan akan adanya akhirat itulah yang membuahkan amal-amal yang bermanfaat di dunia, dan ini berarti akhirat
adalah sumber, dan kehidupan yang baik adalah buah.10
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa saat kematian tiba, seorang kafir ingin kembali ke dunia, tetapi itu tidak dapat terlaksana, karena ada dinding/pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dinding pemisah itu sering juga disebut dengan alam kubur di mana manusia hidup setelah kematiannya di dunia. Dalam ayat di atas juga dijelaskan bahwa mereka akan berada di sana sampai hari kebangkitan tiba. Dengan demikian alam barzakh itu berfungsi menghalangi manusia menuju ke alam yang lain yang lebih sempurna dari alam barzakh, dan pada saat yang sama menghalanginya pula kembali ke dunia. Untuk menuju ke alam sana mereka harus menunggu sampai semua orang mati, dan itu baru akan terjadi saat kebangkitan yaitu setelah dunia kiamat.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan alam kubur adalah alam barzakh bukan tempat di mana orang yang telah meninggal dikuburkan. Alam tersebut menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Di manakah alam tersebut? Jawaban yang memuaskan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Bagaimana dengan keadaan orang yang tinggal di alam barzakh tersebut? Inilah yang selanjutnya akan dijelaskan di bawah ini.
B. Keadaan Manusia di Alam Kubur
Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang keadaan yang dialami oleh penghuni alam barzakh. Secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua; siksa dan nikmat.
1. Siksa Kubur
a. Siksa kubur menurut Al-Qur'an
Ayat-ayat yang menginformasikan adanya siksa kubur di antaranya;
1). Surah at-Taubah/9: 101
imageDan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya.Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah/9: 101)
Orang munafik sebelum mendapat siksa yang pedih di akhirat akan menerima siksa dua kali. Siksa pertama diberikan di dunia dan siksa kedua adalah siksa di alam kubur.112). Surah Ghāfir/40: 46
imageKepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan),“Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!”(Ghāfir/40: 46)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat tersebut berbicara tentang adanya siksa kubur.12 Dalam ayat tersebut terbaca bahwa kepada kaum Fir‘aun ditampakkan neraka pagi dan petang. Tentu saja ini tidak terjadi di dunia melainkan ketika mereka sudah meninggalkan kehidupan dunia dan berada di alam barzakh, sebelum kehidupan akhirat. Kesimpulan didapat dari lanjutan ayat yang menyatakan “Dan pada hari terjadinya Kiamat (lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!”Di sisi yang lain ayat tersebut menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di alam barzakh jelas berbeda dengan yang hidup di dunia. Di alam tersebut pandangan mereka lebih tajam dari pandangan di dunia ini karena mereka telah dapat melihatpentas kehidupan di akhirat, salah satunya adalah siksa neraka.
Di sisi lain hal itu dapat dinilai sebagai siksa karena melihat neraka yang akan mereka masuki tentu saja sesuatu yang sangat mengerikan dan ini pasti menimbulkan perasaan takut yang luar biasa, sebelum pada akhirnya tempat tersebut benar-benar mereka masuki pada hari Kiamat nanti.
Dari pemaparan tersebut dapat dipahami ungkapan ayat yang terdapat dalam Surah Yāsīn/36: 52:
imageMereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya). (Yāsīn/36: 52)
Orang-orang yang durhaka ketika hidup di dunia mendapati situasi yang sangat tidak menyenangkan di kehidupan alam barzakh. Manakala Kiamat tiba, mereka berteriak seperti yang dilukiskan dalam ayat di atas dengan ucapan “Celakalah kami!” Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa siksa neraka yang selama ini mereka lihat di alam barzakh sebentar lagi akan benar-benar mereka masuki dan rasakan.
3). Surah as-Sajdah/32: 21
imageDan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (as-Sajdah/32: 21)
‘Abdullāh bin ‘Abbās memahami ungkapan siksa yang dekat bukan hanya siksa di dunia melainkan termasuk siksa di alam kubur. Kesimpulan ini didasarkan dari ungkapan redaksi pada ayat tersebut yang diawali dengan huruf min yang menurut ahli bahasa mengandung arti sebagian, “Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat” bukan menggunakan redaksi “Dan pasti Kami timpakan kepada mereka siksa yang
dekat.”134). Surah Nūh/71: 25
imageDisebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah. (Nūh/71: 25)
Al-Qurthubī memahami ungkapan fa udkhilū nāran (lalu dimasukkan ke neraka) maksudnya adalah siksa kubur.14Pendapat ini dikuatkan juga oleh ar-Rāzī yang menyatakan bahwa dalam menetapkan adanya siksa kubur salah satu ayat yang digunakan adalah, “Mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka”. Hal ini didasarkan dengan dua alasan; pertama, fa
dalam firman Allah fa udkhilū nāran menunjukkan bahwa kondisi tersebut terjadi setelah peristiwa tenggelamnya para pendurhaka. Waktu yang dekat tersebut menunjukkan bahwa siksa tersebut adalah siksa di alam barzakh, bukan siksa di akhirat kelak. Kalau yang dimaksud adalah siksa di akhirat maka penggunaan fa tidak tepat. Kedua, Ungkapan fa udkhilū menggunakan kata kerja masa lampau, hal ini menunjukkan peristiwa tersebut telah terjadi sebelum Kiamat tiba.155). Surah ath-Thūr/52: 45-47
imageMaka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka, pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) pada hari (ketika) tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan mereka tidak akan diberi pertolongan. Dan sesungguhnya bagi orangorang
yang zalim masih ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (ath-Thūr/52: 45-47)
Ath-Thabarī menyatakan dengan mengutip pendapat al-Barrā', bahwa yang dimaksud dengan “Bagi orang-orang yang zalim masih ada azab selain itu” adalah siksa kubur. Demikian juga Qatādah berpendapat sama dengan mengutip dari Ibnu ‘Abbās.
Kemudian ath-Thabarī berkomentar, sesungguhnya Allah telah memberitakan bahwa bagi orang-orang yang menzalimi diri mereka dengan kekafiran maka bagi mereka ada siksa di alam kubur selain siksa yang disediakan di akhirat.16
Pendapat yang lebih jelas disampaikan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yang menyatakan bahwa bentuk siksa yang dimaksud dalam ayat tersebut dapat juga siksa di dunia misalnya berupa tenggelam, dibunuh atau bahkan dibakar dan lainnya. Yang jelas, siksa di alam barzakh adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang durhaka.17
6). Surah Thāhā/20: 124
imageDan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thāhā /20: 124)
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit tersebut adalah siksa kubur.18
b. Siksa kubur menurut as-Sunnah
Cukup banyak riwayat yang menjelaskan tentang adanya siksa kubur. Bahkan Imam al-Bukhārī membuat bab tersendiri yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu Bab mā jā'a fī ‘adzābil-qabri (bab yang menjelaskan tentang siksa kubur). Demikian juga dengan perawi hadis lainnya. Di antara hadis-hadis tersebut adalah;
1). Bersumber dari Anas bin Mālik:
أَلْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ أَبْدَ لَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الجْنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهمُا جمَيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوِ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يقُولُ النَّاسُ فَي قَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بيْنَ أُذُنيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ . رواه البخا ري عن أنس ابن مالك
Jika seorang hamba diletakkan dalam kuburnya, dan teman-temannya telah meninggalkannya sampai ia masih mendengar hentakan sandal mereka, maka datanglah kedua malaikat dan mendudukkan hamba itu dan bertanya kepadanya: ‘bagaimana pendapatmu dengan laki-laki ini? Maksudnya adalah Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Hamba itu menjawab; ‘Saya bersaksi bahwasanya ia adalah hamba Allah dan utusan-
Nya’. Lalu dikatakan kepadanya. “Lihatlah bangkumu di neraka, Allah telah menggantinya untukmu dengan bangku di surga.” Nabi bersabda: “hamba itu dapat melihat kedua malaikat itu. Adapun orang-orang kafir dan munafik akan menjawab: “Saya tidak tahu, saya hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh orang-orang”. Malaikat berkata: “Engkau tidak mengenalnya padahal kamu telah mengetahuinya dan tidak mau menerima ajarannya? Kemudian ia dipukul dengan palu yang terbuat dari besi dan dipukulkan di antara kedua telinganya, sehingga ia berteriak dan didengar oleh makhluk hidup yang berada di sekitarnya kecuali jin dan manusia. (Riwayat al-Bukhārī dari Anas bin Mālik)
2). Bersumber dari Ibnu ‘Abbās:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ .رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة
Ya Allah sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam,dan saya berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan saya berlindung kepada-Mu dari fitnah dikala hidup dan sesudah mati dan saya berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masīhad-Dajjāl. (Riwayat Bukhārī Muslim dari Abū Hurairah)20

3). Bersumber dari ‘Āisyah:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ قَالَتْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَلمَ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ دَخَلَتَا عَلَيَّ فَزَعَمَتَا أَنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنهُّمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ قَالَتْ فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِي صَلَاةٍ إِلَّا يتَعَوَّذُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ .رواه مسلم عن عائشة
Dari ‘Āisyah berkata: “Dua orang perempuan yang telah berusia lanjut dari kaum Yahudi di Medinah menemuiku. Keduanya berkata; “sesungguhnya para penghuni kubur disiksa dalam kubur mereka.” ‘Āisyah berkata: saya tidak percaya ucapan keduanya.” Keduanya pun keluar.Kemudian Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendatangiku, saya pun berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah dua orang perempuan Yahudi yang telah berusia lanjut datang menemuiku dan menyatakan bahwa para penghuni kubur disiksa dalam kubur mereka.” Rasulullah şhallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keduanya benar, penghuni kubur (yang dulu durhaka) disiksa dengan azab yang dapat didengar oleh para binatang.” Kemudian ‘Āisyah berkata, setelah itu saya tidak pernah melihat beliau kecuali selalu memohon perlindungan dari siksa kubur.”(Riwayat Muslim dari ‘Āisyah) 21
c. Sebab-sebab seseorang mendapat siksa kubur
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebut dua sebab yang menjadikan seseorang memeroleh siksa kubur yaitu sebab yang bersifat global dan sebab yang terinci. Yang bersifat global adalah kedurhakaan seseorang terhadap Allah subhānahū wa ta‘ālā ketika di dunia. Sedangkan yang bersifat rinci di antaranya (yang disebutkan di sini hanya beberapa contoh):
  1. Kekafiran, hal ini diisyaratkan dalam Surah Ghāfir/40: 46.
  2. Kemunafikan, Seperti yang disebut dalam Surah at-Taubah/9: 101.
  3. Berpaling dari mengingat Allah subhānahū wa ta‘ālā,disebut dalam surah Thāhā/20: 124.
  4. Tidak bersuci dari kencing dan mengadu domba manusia. Hal ini disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrānī dan al-Hākim yang oleh Nāshiruddīn al-Bānī dinilai sahih.22
  5. Ghibah, membicarakan aib orang lain; seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal yang bersumber dari Abī Bakrah. Hadis tersebut juga dinilai sahih oleh al-Bānī.23
  6. Menangisi mayit dengan meronta, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Yang dimaksud adalah siksa ini diberlakukan kepada orang yang berwasiat kepada keluarganya agar mereka menangisinya setelah kematiannya atau kepada orang yang tidak berwasiat kepada keluarganya untuk tidak menangisinya meski ia mengetahui bahwa mereka akan melakukannya.24 Yang perlu digarisbawahi di sini adalah menangis yang dimaksud adalah dengan meronta dan menunjukkan ketidakridaan terhadap keputusan Allah subhānahū wa ta‘ālā .
2. Nikmat kubur
Bagi para pendurhaka telah disiapkan siksa kubur, maka bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa telah disiapkan berbagai macam kenikmatan dalam kubur. Di antara beberapa penjelasan tentang nikmat kubur adalah:
a. Nikmat kubur dalam Al-Qur'an
1). Kenikmatan yang pertama yang akan diterima oleh ahli kubur yang beriman adalah Allah memantapkan hatinya untuk menghadapi segala prosedur yang ada di alam barzakh.
Hal ini ditegaskan dalam Surah Ibrāhīm/14: 27:
imageAllah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrāhīm/14: 27)
Ibnu Qayyim memberi komentar atas ayat tersebut,bahwa orang mukmin dapat melihat neraka yang Allah telah menjaganya (untuk tidak masuk ke dalam neraka) dari dalam kuburnya. Dan ia juga diperlihatkan kamarnya di surga. Selain itu Allah juga menyinari kuburnya dan menjadikannya lapang,sehingga orang mukmin itu dapat tidur dalam kuburnya dengan sebaik-baik tidur.252). Surah Āli ‘Imrān/3: 169-170:
imageDan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki, Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Āli ‘Imrān/3: 169-170)
Sayyid Quthub memberi penjelasan bahwa ayat ini secara tegas melarang kita menganggap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah meninggalkan kehidupan ini jauh dari pandangan mata manusia. Ayat ini juga secara tegas menyatakan bahwa mereka tetap hidup di sisi Tuhan mereka yaitu di alam barzakh.
Mereka pun mendapatkan rezeki yang tidak kita ketahui hakikatnya. Demikian juga kenikmatan macam apa yang mereka alami di alam barzakh juga tidak kita ketahui kecuali sebatas yang diinformasikan oleh Allah dan Rasul-Nya melalui hadis-hadis yang sahih.26
Pandangan bernada sama diberikan Quraish Shihab dengan sedikit penekanan pada aspek kehidupan di alam barzakh;hidup ditandai antara lain oleh gerak dan tahu. Jangan menduga gerak mereka telah dicabut atau pengetahuan mereka telah tiada. Mereka yang gugur di jalan Allah itu tetap bergerak,bahkan lebih leluasa dari gerak manusia di permukaan bumi ini.
Mereka tahu lebih banyak dari apa yang diketahui oleh yang beredar darah dan berdenyut jantungnya, karena di alam sana (barzakh) mereka telah melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena seperti yang diketahui oleh penduduk dunia. Sungguh mereka hidup di kehidupan yang tidak dapat dijelaskan hakikatnya, karena kehidupan yang mereka alami tidak disadari atau dirasakan oleh selain mereka.27Salah satu jenis kenikmatan yang diterima oleh ahli kubur yang beriman tersebut di antaranya adalah kegembiraan menyangkut teman-teman sejawat mereka yang akan menyusul.Penjelasan ini membuktikan bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang keadaan teman-teman tersebut, sekaligus membuktikan bahwa ada kehidupan di alam barzakh.
Ayat yang hampir sama disebut dalam Surah al-Baqarah/2: 154:
imageDan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (al-Baqarah/2: 154)
b. Nikmat kubur dalam hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam Di antara riwayat yang menjelaskan tentang salah satu jenis nikmat kubur adalah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala saudara-saudaramu gugur dalam perang Uhud, Allah menjadikan arwah mereka dalam rongga burung yang kehijau-hijauan, keluar menuju sungai-sungai surga dan makan dari buah-buahan surga, lalu kembali ke periuk-periuk yang terbuat dari emas, serta bergantungan dalam naungan ‘Arsy.” (Riwayat Ahmad)28
Demikian juga dalam riwayat al-Barrā' bin ‘Āzib, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika yang meninggal itu adalah orang yang salih, maka ia akan didudukkan dalam kuburnya tanpa ketakutan, lalu ditanya; “Bagaimana status lelaki yang berada di tengah-tengah kalian?” Ia menjawab, “Muhammad adalah utusan Allah, telah datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti dari sisi Allah, maka kami pun memercayainya.” Maka ditunjukkanlah kepadanya jalan yang dekat menuju neraka, dan ia dapat menyaksikan bagaimana penghuni neraka disiksa. Kemudian dikatakan kepadanya:
“Lihatlah kepada penjagaan yang diberikan Allah untukmu.”Kemudian ditunjukkan kepadanya surga, ia pun melihat bunga-bunga dan isi surga itu, dan dikatakan kepadanya, itu adalah tempatmu nanti di akhirat, juga dikatakan kepadanya; “Engkau telah meyakini syariat Allah dan atas keyakinan itu pula engkau meninggal dunia, serta dengannya engkau dibangkitkan.” Kemudian ketika dihadapkan wajahnya ke akhirat maka turunlah para malaikat yang berwajah keputih-putihan dari langit, seakan matahari memenuhi wajah mereka.Mereka membawa kafan dan wewangian dari surga, kemudian penyeru dari langit menyeru: Hamba-Ku mengatakan yang sebenarnya, berikanlah kasur dan pakaian dari surga, dan bukakanlah nantinya pintu menuju surga, dan berikanlah keindahan dan wewangian surga serta lapangkan baginya kuburnya sepanjang ia melihat. Kemudian datanglah seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian bagus, dan beraroma wangi yang berkata: “Saya menyampaikan kepadamu berita yang menggembirakanmu, ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu”.
Hamba mukmin tersebut bertanya; “Siapa engkau? Wajahmu datang dengan penuh kebaikan”. Ia menjawab, “Saya adalah amalmu yang salih”, hamba itu pun berkata,’ “Tuhanku cepat datangkanlah Kiamat hingga saya dapat masuk surgamu”. (Riwayat Abū Dāwud)29C. Lamanya di Alam Kubur
Salah satu ayat yang memberi informasi tentang berapa lama waktu di alam kubur adalah Surah al-Mu'minūn/23: 100,khususnya pada potongan ayat:
imageDan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan (al-Mu'minūn/23: 100)
Para penghuni alam barzakh akan tinggal di “tempat”tersebut sejak dia meninggal sampai datangnya hari Kiamat.Hal ini berarti kalau umur manusia sudah mencapai ribuan tahun dan mereka sudah meninggal maka betapa lamanya mereka tinggal di alam kubur tersebut. Ungkapan ini sepenuhnya benar namun agak sulit memberi jawaban yang memuaskan akal, mengingat persoalan yang dibicarakan adalah masalah metafisika yang di luar jangkauan akal. Di sisi lain Al-Qur'an memperkenalkan relativitas waktu. Waktu yang berlangsung di dunia berbeda dengan waktu di sisi Allah. Di antara ayat-ayat yang mengisyaratkan hal tersebut adalah;
Surah al-Mu'minūn/23: 112-114:
imageDia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.” (al-Mu'minūn/23: 112-114)
Dalam ayat tersebut nampak adanya perbedaan dalam hal hitungan waktu antara kehidupan dunia dengan setelah orang meninggal, baik di kehidupan alam barzakh maupun di akhirat. Di kehidupan dunia yang rata-rata umur manusia mencapai puluhan tahun hinga lebih dari seratus tahun ternyata oleh Allah dalam ayat tersebut dianggap hanya beberapa saat saja. Salah satu alasannya adalah seperti yang diisyaratkan dalam Surah al-Hajj/22: 47:
imageDan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (al-Hajj/22: 47)
Sehari di sisi Allah ternyata seperti seribu tahun dalam hitungan manusia. Maka wajar kalau orang hidup di dunia selama beberapa puluh tahun jika dibandingkan dengan waktu di sisi Allah sebenarnya ia baru hidup beberapa saat saja.Dalam ayat yang lain ditemukan informasi secara lebih
khusus tentang berapa lama orang tinggal di alam kubur. Diantara ayat tersebut adalah Surah ar-Rūm/30: 55:
imageDan pada hari (ketika) terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah, bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja).Begitulah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran). (ar-Rūm/30:
55)
Demikian juga dalam Surah al-Ahqāf/46: 35:
imageMereka merasa seolah-olah mereka tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. (al-Ahqāf/46: 35)
Kembali ke pertanyaan awal, berapa lama orang tinggal di alam barzakh? Melihat beberapa penjelasan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia yang masih hidup di dunia tidak diberi tahu secara detail rincian waktu yang akan dialami ketika tinggal di alam barzakh. Maka sebaiknya seseorang berkonsentrasi untuk menggunakan waktu sebaik mungkin dalam
hidupnya di dunia ini. Kehidupan selanjutnya di akhirat kelak amat ditentukan oleh pilihan-pilihannya ketika di dunia.
Kehidupan di alam barzakh dapat diilustrasikan sebagai seseorang yang sudah jatuh vonis hukumannya bagi yang durhaka dan atau sudah tahu ganjarannya bagi yang beriman, maka tinggal menunggu saat untuk dieksekusi yaitu pada hari Kiamat.
Berapa lama orang harus menunggu di alam tersebut, hanya Allah Yang Mahatahu.Apabila seseorang sudah di alam barzakh apakah memang sudah sama sekali terputus segala amalnya ataukah masih ada peluang sekaligus pertolongan bagi orang tersebut?
Inilah yang akan diuraikan di bawah ini.
D. Syafaat di Alam Barzakh
Yang dimaksud dengan syafaat dalam hal ini adalah pertolongan yang diterima oleh ahli kubur. Lebih jelasnya adalah amalan apa saja yang dapat membantu ahli kubur untuk dapat diampuni segala dosanya dan bahkan dapat ditambah pahala kebaikannya. Beberapa hal yang dapat membantu ahli kubur adalah;
1. Doa seorang muslim untuk ahli kubur
Hal ini diisyaratkan dalam Surah al-Hasyr/59: 10:
imageDan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhājirīn dan Anshār),mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun,Maha Penyayang.” (al-Hasyr/59: 10)
Di antara hadis yang menjelaskan tentang hal tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُل مَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ .رواه مسلم عن أم الدرداء
Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak ada di depannya itu terkabul (mustajab). Di atasnya terdapat malaikat yang menjaganya.
Setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata, “amin, semoga engkau juga mendapatkan kebaikan sepertinya”.
(Riwayat Muslim dari Ummi ad-Dardā')30
Dalam kaitan ini salat jenazah yang intinya adalah doa menjadi sangat penting dan bermanfaat.
2. Keluarga mayit yang membayarkan nazarnya
Beberapa hadis yang menjelaskan hal ini di antaranya;
Dari ‘Āisyah, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ . رواه البخا ري ومسلم عن عائشة
Barang siapa yang meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan puasa, maka hendaknya anggota keluarganya membayarkan puasanya.(Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari ‘Āisyah)31
إِنَّ سَعْدُ بْنَ عُبَادَةَ اِسْتَ فْتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل مَ فَقَالَ : إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذَرٌ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ : اِ قْضِهِ عَنْهَا. رواه البخاري عن ابن عباس

Sahabat Sa‘īd bin ‘Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia
dan ia memiliki tanggungan nazar.” Rasulullah bersabda: “Tunaikanlah nazarnya.” (Riwayat al-Bukhārī dari ibnu Abbās)32
3. Amalan baik yang dilakukan anak yang salih
Seorang anak yang salih apabila dia melakukan kebaikan maka orang tuanya juga mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan anaknya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala tersebut. Dengan catatan apabila ada kewajiban sebagai orang tua untuk mendidik anaknya telah ditunaikan dengan baik. Itu berarti kebaikan yang dilakukan oleh si anak juga berkat bimbingan dan usaha orang tuanya. Salah satu ayat yang menjelaskan hal ini adalah Surah an-Najm/53: 39:
image
Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.(an-Najm/53: 39)
Ayat tersebut diperkuat dengan hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam di antaranya:
إِنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اُمِّيْ إِفْتَلَتَتْ (مَاتَتْ فَجْأَةَ) نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْتَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ :نَعَمْ روه البخارى و مسلم عن عائشة
Bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba (dan tidak meninggalkan wasiat apa pun), dan saya menduga seandainya ia dapat berbicara niscaya ia menginginkan untuk dapat bersedekah. Maka apakah dia mendapatkan pahala seandainya saya bersedekah?Rasulullah menjawab, “Ya.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ā‘isyah)33
إِنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِيْ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوْصِ فَهَلْ يُكَفِّرُعَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ ؟ قَالَ :نَعَمْ  .رواه البخارى ومسلم عن عائشة

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Ayahku telah meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak meninggalkan wasiat apa pun. Apakah dapat membantu menghapuskan kesalahannya jika saya bersedekah untuknya?” Rasulullah menjawab: “Ya.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari dari ‘Āisyah)
Tentu masih banyak lagi riwayat lain yang secara substansi sama dengan riwayat-riwayat di atas. Kami mencukupkan untuk mengutip beberapa riwayat saja sebagai contoh.
E. Penutup
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal kesimpulan,bahwa setiap orang akan menjumpai alam kubur atau alam barzakh. Bagaimana keadaan orang tersebut di alam Barzakh amat ditentukan oleh amalnya ketika di dunia.
Wallāhu ‘alam bish-Shawāb.
Catatan:
  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 606.
  2. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, 15/69.
  3. Surah at-Taubah/9: 80.
  4. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān al-Karīm, II/161.
  5. Thāhir bin ‘Āsyūr, at-Tahrīr , 6/356.
  6. Wahbah az-Zuhailī, Tafsīr al-Wajīz, h. 334.
  7. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, 11/459.
  8. Tim Tafsir Depag, Al-Qur'an dan Tafsirnya, 10/106.
  9. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur'an al-Karim, h. 592.
  10. M. Quraish Shihab, al-Mishbah, 9/252.
  11. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān al-Karīm, II/166, demikian juga dalam Fathul-Bari, 3/233.
  12. Mahmūd al-Mishri, Rihlah Ilā Dāril-Ākhirah, h. 240.
  13. Mahmūd al-Misri, Rihlah Ilā Dāril-Ākhirah, h. 261.
  14. al-Qurthubī, al-Jāmi’ li ahkāmil-Qur'ān, Darul-Hadis, 12/255.
  15. Fakhruddīn ar-Rāzi, Mafātihul-Ghaib, 16/64.
  16. Ibnu Jarīr ath-Thabarī, Jāmi‘ul-Bayān, 22/486.
  17. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ar-Rūh, h. 102.
  18. al-Hākim, al-Mustadrak ‘alash-Shahihain, I/38. Hadis tersebut kemudian diberikan catatan bahwa derajatnya sahih menurut syarat Muslim. Lihat Mahmūd al-Misri, Rihlah Ilā Dāril-Ākhirah, h. 264.
  19. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, kitab al-Janāiz,Bab al-Mayyit yasmi’a khafqu an-ni’ali, No.1252
  20. Hadis Riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, kitab al-Adzān,No.789; Muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-Adzān, No. 925.
  21. Hadis riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-Masājid wa Mawādhi’ish-Shalah, bab istihbāb at-ta’awwudz min ‘adzābil-Qabri, hadis No. 922.
  22. Nāshirudīn al-Bāni,Shahīhul-Jāmi‘, h. 2102.
  23. Nāshirudīn al-Bāni, Shahīhul-Jāmi‘, h. 2441.
  24. Mahmūd al-Mishri, Rihlah Ilā Dāril-Ākhirah, h. 285.
  25. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ar-Rūh, 85-86.
  26. Sayyid Quthb, Fī zhilalil-Qur'ān, II/417.
  27. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, 2/262.
  28. Hadis tersebut dinilai sahih oleh al-Bāni, Shahīhul-Jāmi‘, 5205.
  29. Hadis tersebut dinilai shahih oleh al-Bāni, Shahīhul-Jāmi‘, 1676.
  30. Hadis riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, kitab adz-dzikr wad-Du‘ā, bab fadhlud-du‘ā al-muslimīn bizhahril- ghaib, No. 7105.
  31. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, jilid 3, No.45/1952; Muslim dalam Shahih Muslim, jilid 3, No. 155/1147.
  32. al-Bukhāri, Shahīhul-Bukhāri, bab mā yustahabbu liman yatawaffa faj’ah, jilid 3, no. 2610/h. 1015.
  33. al-Bukhāri, Shahīhul-Bukhāri, 3/198.
  34. Hadis riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Washiyah, bab Wushūluts-tsawāb ash –Shadaqah ilal-Mayyit.

Tidak ada komentar: