الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

TERM-TERM YANG MENUNJUK HARI AKHIR

Ide pokok tentang keimanan kepada hari akhir adalah bahwa akan tiba saat (sā‘ah) ketika manusia akan memperoleh kesadaran unik yang tidak pernah dialami sebelumnya mengenai amal perbuatan yang pernah dikerjakan. Pada saat itu manusia dihadapkan kepada segala hal yang telah dilakukan,kemudian menerima ganjaran akibat perbuatannya tersebut.Oleh karena itu, al-ākhirah adalah saat kebenaran, karena ketika bencana besar tiba manusia akan teringat kepada segala sesuatu yang telah diperbuatnya (an-Nāzi‘āt/79: 34-35). Ini merupakan pernyataan yang khas mengenai fenomena al-ākhirah.
Al-ākhirah adalah suatu masa dimana manusia harus bertanggung jawab secara individual (Maryam/19: 95), tidak ada sanak kerabat, klan, teman dan orang-orang yang selama ini dijadikan sandaran untuk dimintai pertolongan, karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (Surah al-Ma‘ārij/70: 10-14 dan ‘Abasa/80: 34-37). Dengan demikian,esensi hari akhir adalah “akhir” kehidupan atau akibat jangka panjang dari amal perbuatan manusia ketika di dunia.
Demi mendapatkan gambaran secara utuh tentang apa itu hari akhir, situasinya seperti apa, maka tulisan ini mencoba mendeskripsikan beberapa term yang digunakan Al-Qur'an yang bisa memberi pemahaman tentang hari akhir.
A. Al-yaum al-Ākhir
1. Pengertian
Term al-yaum al-ākhir secara semantik terdiri dari dua kata,yaum dan ākhir. Menurut al-Ashfahānī, kata yaum mengandung dua pemahaman, pertama, mengacu kepada waktu perjalanan matahari dari terbit sampai terbenam (bersifat kuantitatif);kedua, mengacu kepada sebuah masa atau waktu yang tidak tertentu (bersifat kualitatif).1
Oleh karena itu, dengan mengacu pada penjelasan al-Ashfahānī, term al-yaum al-ākhir seharusnya dipahami sebagai hari kualitatif, bukan kuantitatif. az-Zamakhsyarī, dalam konteks hari kualitatif tersebut, menjelaskan bahwa term alyaum al-ākhir dapat dipahami dalam dua pengertian:
Pertama, mengacu kepada masa atau waktu yang sangat lama, hampir-hampir tanpa batas atau nirwaktu (akhirat), karena ia terputus dari masa yang terbatas atau terikat dengan ruang dan waktu (dunia);
Kedua, mengacu kepada waktu yang terbatas tetapi dalam dimensi kehidupan akhirat, yaitu berawal dari hari kebangkitan sampai masing-masing masuk ke surga atau neraka. Demikian ini, karena term tersebut merupakan akhir perjalanan manusia dalam masa penantian yang kemudian menjalani kehidupannya pada masa yang tanpa batas setelahnya, baik di surga maupun di neraka.2
2. Manfaat iman kepada al-yaum al-ākhir
Term al-yaum al-ākhir di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 26 kali, yang seluruhnya dirangkai dengan term alīmān billāh (iman kepada Allah), seakan inti iman itu hanya dua ini. Hal ini bukan tanpa alasan, sebagaimana secara logis dijelaskan Ibnu ‘Āsyūr, bahwa iman kepada Allah menjadi dasar yang melandasi keimanan pada yang lain. Artinya, ketika secara akidah seseorang tidak beriman kepada Allah, tentunya ia juga tidak beriman kepada Rasulullah dan Al-Qur'an. Oleh karena itu, iman kepada Allah merupakan dasar yang dengannya seluruh keyakinan menjadi benar. Sedangkan penyebutan hari akhir secara spesifik adalah dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mendorong seseorang agar senantiasa berbuat kebaikan.3
Dalam Al-Qur'an juga ditemukan term lain yang bisa dipahami sama dengan al-yaum al-ākhir, yaitu al-ākhirah yang di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 115 kali. Dari keseluruhan,term al-ākhirah mengacu kepada sebuah kehidupan lain yang berbeda sama sekali dengan kehidupan dunia, baik sifat maupun karakteristiknya, kecuali satu ayat, yaitu:
imageDan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.(adh-Dhuhā/93: 4)
Kata al-ākhirah di sini berarti akhir perjuangan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Meski demikian, ada pula sebagian mufasir yang mengartikan al-ākhirah pada ayat di atas dengan “kehidupan akhirat” beserta segala kesenangannya dan al-ūlā dengan arti “kehidupan dunia”.4Dengan demikian, term al-ākhirah meskipun memiliki karakter dan sifat yang sama dengan al-yaum al-ākhir; namun Al-Qur'an menggunakannya sebagai antonym dari ad-dun-yā.Artinya, ketika disebutkan al-ākhirah maka ia mengacu kepada sebuah kehidupan yang hakiki dan kekal, sebagai lawan dari addun-yā yakni kehidupan yang artifisial dan bersifat sementara.
Oleh karena itu, term tersebut sesungguhnya bisa menampung term-term lain selain al-yaum al-ākhir.
Yang pasti, al-yaum al-ākhir (hari akhir) tidaklah seperti hari-hari di dunia yang 1 hari sebanding dengan 24 jam. Hari akhir merupakan hari yang terjadi pada kehidupan akhirat, yang 1 hari jika menggunakan ukuran hari-hari dunia bisa sangat relatif atau tidak terbatas, bisa sebanding dengan 1000 tahun (as-Sajdah/32: 5); bahkan bisa berbanding dengan 50.000 tahun (al-Ma‘ārij/70: 4). Ini wajar saja, sebab ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (nirwaktu).
Penyebutan al-yaum al-ākhir, yang dirangkai dengan iman kepada Allah, pada hakikatnya dimaksudkan sebagai hari perhitungan (al-hisāb) dan pembalasan (al-jazā'), sehingga oleh Al-Qur'an ia dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menumbuhkan kejujuran, ketakwaan, kedermawanan, berani berkorban demi kebenaran dan keadilan, dan sebagainya. Artinya, seandainya seseorang bersikap jujur, lalu tidak mendapatkan hasil duniawi yang diinginkan, maka keimanan kepada hari akhir itulah yang menjadikan dirinya tetap sabar dan konsisten,sebab ia yakin ganjaran yang sesuai akan diperoleh di hari akhir kelak. Begitu juga, ia bisa dijadikan tameng dari perilaku-perilaku buruk, misalnya kemunafikan, ria, dan sebagainya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa firman Allah berikut ini:
imageDan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (al-Baqarah/2: 8)
Ayat ini merupakan koreksi terhadap perilaku orang-orang munafik yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir, padahal kenyataannya tidak. Mereka mengukur keimanannya melalui ucapan, sedangkan Allah mengukur keimanannya melalui perbuatan. Penggunaan redaksi wa minan-nās, menurut Ibnu ‘Āsyūr menunjuk kepada perilaku buruk. Sedemikian buruknya, sehingga Al-Qur'an merasa “malu” untuk mengungkapkannya secara jelas.5 Oleh karena itu, ayat ini sekaligus menjadi koreksi bagi siapa saja yang menyatakan beriman kepada Allah dan hari akhir tetapi perbuatannya tidak mencerminkan nilai-nilai keimanan itu sendiri.
Dengan demikian, indikasi seseorang yang beriman kepada hari akhir tentunya bukan terbatas kepada ucapan,sebagaimana hal itu bisa saja dilakukan oleh orang-orang munafik, tetapi harus direalisasikan dalam perbuatannya.Bahkan, bukan sekadar perbuatan tetapi perbuatan baik, yang lazim disebut dengan “amal saleh”.
Pada ayat lain disebutkan:
imageDan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat. Dan apa (keberatan) bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya? Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka. Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah),niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. (an-Nisā'/4: 38-40)
Ayat di atas merupakan koreksi atas sikap orang-orang munafik dan musyrik yang selalu ria ketika berinfak, sehingga perilaku ria bisa dianggap tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Demikian ini, karena orang yang ria itu selalu mengharap balasan orang lain, padahal balasan yang sesuai itu akan diperolehnya di akhirat kelak. Antara ria dan ketiadaan iman memiliki kaitan satu sama lain. Sebab adanya ria, menjadikan ia tidak beriman; atau karena lemah imannya, menjadikan dirinya selalu ria. Oleh karena itu, bentuk istifhām (kata tanya) pada ayat itu bersifat inkārī taubīkhī (negasi yang bersifat mencela).
Artinya, mereka jelas-jelas tidak ikhlas atau ria karena sejatinya mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.6

Dengan demikian, jika seseorang beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya ia akan terjaga dari perilaku-perilaku buruk. Sebaliknya, keimanannya itu akan menjadi semacam “energi positif” untuk melakukan kebajikan, menegakkan kebenaran dan keadilan sesulit dan seberat apa pun, seperti perang misalnya. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
imageOrang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian,dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan. (at-Taubah/9: 44-45)
Ayat ini juga menginformasikan tentang ketidaksiapan mental orang-orang munafik untuk melaksanakan perintah perang. Ini, disebabkan karena mereka sesungguhnya tidak pernah beriman kepada Allah dan hari akhir. Berbeda dengan kaum mukmin, mereka sama sekali tidak merasa berat melaksanakan perintah Allah seberat apa pun perintah itu, seperti berperang. Rasanya mustahil seseorang memiliki mental yang kuat dan kokoh demi melaksanakan perintah Allah jika keimanannya kepada Allah dan hari akhir lemah.
B. Yaumul-Qiyāmah
1. Pengertian
Nama lain dari hari akhir adalah yaumul-qiyāmah, yang di dalam Al-Qur'an terulang tidak kurang dari 70 kali. Kata alqiyāmah yang berasal dari kata qāma-yaqūmu-qiyāman, dilihat dari segi bentuknya (binā'), mirip dengan qiyām atau qiwām. Sementara kata qiyām atau qiwām sendiri adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang menjadi pijakan sesuatu yang lain di atasnya.7 Berdasar hal ini, maka term yaumul-qiyāmah (hari Kiamat) bisa dipahami sebagai masa di mana ia menjadi landasan atas penegakan sesuatu yang lain. Atau dengan istilah lain, hari Kiamat pada hakekatnya merupakan saat penegakan keadilan menyangkut amal seluruh manusia.
Yaumul-qiyāmah disebut juga as-sā‘ah. Kata sā‘ah juga banyak dijumpai di dalam Al-Qur'an. Makna generik sā‘ah adalah waktu atau saat, namun kemudian term ini menjadi peristilahan khusus untuk menunjukkan peristiwa kiamat.
Jika demikian, maka yaumul-qiyāmah (hari Kiamat) atau as-sā‘ah menjadi saat yang paling menentukan bagi perjalanan manusia selama hidup di dunia. Sebab hari Kiamat adalah suatu kepastian di mana semua hamba akan dikumpulkan guna dimintai pertanggungjawaban (al-An‘ām/6: 12). Pada hari itu juga segala hal yang diperselisihkan mengenai kebenaran akidah dari masing-masing pemeluk agama akan mendapatkan penyelesaian secara tuntas dan adil (al-Baqarah/2: 113). Walhasil,yaumul-qiyāmah menggambarkan situasi yang juga digambarkan oleh hampir seluruh term-term lain yang menyangkut hari akhir, misalnya yaumul-hisāb (hari perhitungan), yaumul-fashl (hari keputusan), yaumul-jazā' (hari pembalasan), dan lain-lain.
2. Situasi hari Kiamat
Hari Kiamat bisa dikatakan sebagai akhir dari alam dunia dan awal dari alam akhirat. Ia merupakan peristiwa yang sangat dahsyat, seperti yang tergambar dalam firman-Nya:
imageWahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk,tetapi azab Allah itu sangat keras. (al-Hajj/22: 1-2)
Situasi dahsyat hari Kiamat juga bisa dilihat dari beberapa term berikut:
a. al-Qāri‘ah
Kata al-qāri‘ah terulang sebanyak 5 kali di dalam Al-Qur'an.
Pada mulanya, kata qara‘a berarti memukulkan sesuatu atas sesuatu yang lain.8 Ada juga yang memahami al-qāri‘ah adalah terjadinya benturan yang sangat keras antara benda satu dengan lainnya sehingga menimbulkan suara.9 Kemudian kata ini digunakan untuk menggambarkan situasi hari Kiamat, seperti dalam firman Allah:
imageHari Kiamat, Apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (al-Qāri‘ah /101: 1-5)
Penyebutan kata al-qāri‘ah yang pertama untuk menarik perhatian, agar si pendengar memerhatikan apa yang akan dikabarkan. Al-qāri‘ah adalah sebuah kejadian yang sangat dahsyat. Menurut Ibnu ‘Āsyūr, paling tidak, terdapat beberapa indikator kedahsyatan hari itu, 1) diawali dengan menyebut kata al-qāri‘ah, yang mengabarkan bahwa hal itu merupakan persoalan yang sangat agung, 2) Penggunaan kalimat istifhām (kata tanya) dengan bentuknya yang khas mā adrāka, 3)Penggunaan ism Zhāhir menempati posisi ism dhamīr pada awalnya disertai pertanyaan tentang hakikat al-qāri‘ah, dan khithābnya tidak jelas, 4) Waktunya tidak jelas, tetapi keadaan yang akan terjadi diinformasikan secara jelas.10
Melalui ayat tersebut, paling tidak, tergambar cukup jelas tentang apa itu al-qāri‘ah, yaitu situasi yang sangat dahsyat di mana manusia digambarkan seperti anai-anai yang bertebaran atau belalang yang beterbangan. Situasi ini menunjukkan kondisi manusia yang tidak menentu dan kebingungan yang luar biasa; bahkan boleh jadi mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan gunung-gunung tercabut dari tempatnya dan bertaburan seperti bulu sehingga terjadi benturan yang sangat keras. Itulah hari Kiamat atau al-qāri‘ah sebagai akhir kehidupan dunia yang mengawali kehidupan akhirat.
b. ath-Thāmmah
Kata ath-Thāmmah berasal dari kata thamma yang arti dasarnya adalah melimpah atau meluap.11 Menurut al-Qaffāl, seperti dikutip oleh ar-Rāzī, pengertian dasar thamma adalah ad-dafn wal-‘uluww (timbul tenggelam).12 Atau dengan kata lain, situasi saat itu seperti gelombang air laut yang timbul tenggelam atau air sungai yang meluap. Yang jelas kata ath-Thāmmah digunakan sebagai istilah yang menunjukkan situasi malapetaka yang sangat dahsyat (ad-dāhiyah al-‘azhīmah).
Hari Kiamat disebut ath-Thāmmah karena situasi saat itu memang benar-benar dahsyat dan mencekam, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengandalkan kepemilikannya;bahkan sebaliknya, pada hari itulah manusia mendapatkan kesadarannya yang hakiki, sekaligus penyesalan yang luar biasa seperti yang tercantum dalam firman Allah:
imageMaka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang, yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. (an-Nāzi‘āt/79: 34-35)
Pada saat itu, setiap manusia teringat seluruh amal perbuatannya. Maka, bagi mereka yang beramal baik, saat itulah akan memperoleh manfaatnya. Sebaliknya, mereka yang durhaka akan semakin menyesal karena saat itu segalanya sudah tertutup,tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri.
Mereka hanya bisa mengandai-andai, seperti dinyatakan dalam ayat berikut:
imagePada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (al-Fajr/89: 23-24)
Bahkan, mereka mengandaikan kalau sekiranya mereka hanyalah seonggok tanah. Demikian ini, karena mereka mengingat amal perbuatannya yang buruk tersebut.
imageSesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (an-Naba'/78: 40)
c. ash-Shākhkhah
Situasi kiamat juga diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan ash-Shākhkhah. Kata ash-Shākhkhah berarti اَلصَّيْحَةُ الَّتِى تَصُمُّ الْأذَانَ لِشِدَّاتِهَا (teriakan yang sangat keras, yang memekakkan telinga).13
Menurut Ibnu ‘Āsyūr, term ash-Shākhkhah sebagai gambaran kedahsyatan hari Kiamat sekaligus sebagai tanda dari berakhirnya alam dunia ini.14Kiamat yang digambarkan sebagai teriakan keras lagi memekakkan telinga inilah yang menjadikan mereka lari tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri.
imageMaka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.(‘Abasa/80: 33-37)
Term al-mar'/ اَلْمَرْءُ digunakan untuk menunjuk pada makhluk paling agung atau kuat. Oleh karenanya, ketika redaksi di atas menginformasikan bahwa ia lari dari orang-orang yang selama ini menyatu dalam satu keluarga, saling cinta menyintai,maka hal ini bukan saja menunjukkan kedahsyatan hari Kiamat di mana masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri,juga menunjukkan ketidakberdayaan dan kelemahan manusia.15
3. Sikap orang kafir terhadap hari Kiamat
Meskipun hari Kiamat adalah suatu yang niscaya namun orang-orang kafir menolak mentah-mentah peristiwa tersebut:
imageDan orang-orang yang kafir berkata, “Hari Kiamat itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah)16 baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfūzh) .”(Saba'/34: 3)
Pengingkaran mereka terhadap hari Kiamat ini disangkal oleh Al-Qur'an sekaligus menegaskan bahwa saat itu tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Yang jelas, pada hari itulah akan terlihat siapa yang benar-benar beruntung dan tidak beruntung, semuanya akan tergambar dan terlihat secara jelas dari raut wajahnya (az-Zumar/39: 60). Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan penyesalannya akibat perbuatan buruknya selama di dunia; bahkan kalau sekiranya bisa, mereka akan menebus kesalahan-kesalahannya dengan seluruh harta bendanya yang selama ini telah melalaikannya dari pertemuan dengan hari Kiamat ini, seperti dalam firman-Nya:
imageDan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari azab yang buruk pada hari Kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang dahulu tidak pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya. (az-Zumar/39: 47-48)
Ayat ini menggambarkan keadaan mereka yang sangat hina, sekaligus merasa yang paling sial, sampai-sampai dengan sukarela mereka mau menebusnya dengan seluruh harta bendanya.
Padahal, selama di dunia, harta benda itulah yang mereka jadikan sebagai alat untuk menjatuhkan mental orang-orang beriman, meremehkan mereka yang senantiasa konsisten berada di jalan ketakwaan dan keimanan. Oleh karena itu, ketika Kiamat benar-benar terjadi, situasinya menjadi terbalik, orang-orang bertakwa di atas mereka.
Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat.
Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (al-Baqarah/2: 212)
Ayat ini menginformasikan tentang ketidakcerdasan orang-orang kafir yang tertipu dengan harta bendanya; padahal mereka telah membuktikan sendiri bahwa kenikmatan duniawi yang mereka miliki tidaklah bertahan lama atau bersifat kekal.
Seandainya bisa bertahan lama, dalam maknanya yang relatif,mereka juga tidak bisa menikmatinya secara terus-menerus,sebab setiap manusia memiliki dua sifat yang menjadikan seluruh kenikmatan duniawi tidak bertahan lama, yaitu bosan dan kenyang. Itulah keadaan manusia di dunia, ia selalu menginginkan apa saja yang berada di luar dirinya, tetapi cepat bosan atas apa yang berada di tangannya”. Mereka (orang-orang kafir) benar-benar dibiarkan/tidak digubris sama sekali; padahal boleh jadi, selama di dunia, ia sangat dihormati oleh banyak orang karena harta kekayaannya, seperti dalam firman-Nya:
image
Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka,tidak akan memerhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (Āli ‘Imrān/3: 77)
Ayat di atas menyatakan bahwa sikap mereka yang menggantikan perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya untuk senantiasa setia menolongnya, dan beriman kepadanya, dengan kenikmatan dunia. Menurut al-Baidhāwī, ayat ini merupakan kritikan Al-Qur'an terhadap para ulama Yahudi yang secara sengaja mengubah-ubah isi kitab Taurat, terutama yang menjelaskan sifat-sifat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka berani mengkhianati amanah tersebut, karena suap yang nilainya sama sekali tidak sebanding dengan pahala di akhirat kelak.17Al-Qur'an juga menggambarkan hari Kiamat sebagai situasi yang sangat mengenaskan di mana orang-orang yang berdosa mengutuk sejadi-jadinya diri mereka sendiri. Mereka juga saling melaknat antara satu dengan lainnya (al-‘Ankabūt/29: 25);bahkan mereka yang biasa mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan dosa, maka, pada hari itu, ia mengaku secara tulus kalau sebenarnya ia sendiri tidak menghendaki perbuatan buruk tersebut (Fāthir/35: 14). Yang pasti, pada hari Kiamat itulah kerugian yang sebenarnya bagi mereka yang hidupnya hanya mengikuti hawa nafsu, cenderung menyimpang dari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (az-Zumar/39: 15).
C.Yaumul-Ba‘ts (Hari Kebangkitan)
1. Pengertian
Kata al-ba‘ts dengan seluruh kata jadiannya diulang sebanyak 67 kali. Dari keseluruhan kata tersebut, yang menunjuk hari kebangkitan kurang lebih 35 kali. Yaumul-ba‘ts juga disebut yaumun-nasyr. Kata an-nasyr dalam bentuk aslinya tidak ditemukan dalam Al-Qur'an, namun dalam bentuk kata jadiannya ditemukan sebanyak 20 kali. Hanya saja, dari keseluruhan kata jadian tersebut hanya empat ayat yang terkait langsung dengan yaumun-nasyr.
Ide pokok tentang hari kebangkitan adalah bahwa semua yang sudah meninggal akan dibangkitkan kembali oleh Allah dari alam kuburnya.
imageDan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-Hajj/22: 7)
Pada ayat yang lain dijelaskan:
imageHanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati, kelak akan dibangkitkan oleh Allah,kemudian kepada-Nya mereka dikembalikan. (al-An‘ām/6: 36)
Ayat ini pada mulanya bentuk tasliyah (hiburan) bagi Rasulullah disebabkan sikap orang-orang kafir yang mendustakan beliau. Yaitu bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dan dikumpulkan bersama orang-orang lain yang juga tidak mau mendengarkan kebenaran yang disampaikan oleh para rasul dan tidak pernah merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Padahal, ketika dibangkitkan kembali, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala apa yang mereka lakukan (al-Mujādalah/58: 6).
2. Argumentasi keniscayaan yaumul-ba‘ts
Orang-orang kafir menolak hari kebangkitan, karena menurut mereka sangat tidak logis ketika orang yang sudah meninggal dan telah bercampur dengan tanah akan dibangkitkan kembali. Sikap penolakan ini muncul, karena mereka memahami sesuatu yang bersifat suprarasional dengan perspektif rasio mereka yang jelas-jelas terbatas, bukan melalui perspektif Allah. Oleh karena itu, Al-Qur'an menegaskan, dalam hal ini, bahwa yang membangkitkan mereka adalah Dia Yang Menciptakan mereka pada kali yang pertama, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
imageDan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yāsīn/36: 77-79)
Menurut riwayat dari Mujāhid, ‘Ikrimah, as-Saddī, dan lain-lain, bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan sikap Ubai bin Khalaf, tokoh munafik. Suatu ketika ia mendatangi Rasululullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sambil membawa tulang,kemudian tulang tersebut dihancurkan dan disebarkan ke udara sambil berkata, “Hai Muhammad, apa kamu kira bahwa Allah bisa membangkitkan tulang ini?” Beliau menjawab, “Ya”, Dia mematikanmu dan membangkitkanmu, lalu menggiringmu masuk ke neraka”, kemudian turunlah ayat ini.18Demi memperkuat keniscayaan hari kebangkitan,Al-Qur'an mengajukan sebuah argumennya melalui fenomena perkembangan janin di dalam rahim:
imageWahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (al-Hajj/22: 5)
Perkembangan janin merupakan sebuah fenomena yang luar biasa, dimana ia yang semula dari tanah lalu menjadi sperma pada akhirnya berwujud manusia. Ini menunjukkan kebesaran Allah sekaligus keniscayaan adanya hari akhir. Oleh karena itu, ketika manusia dimatikan lalu dibangkitkan kembali,mestinya secara logika hal demikian adalah lebih mudah daripada menciptakannya pertama kali, meskipun bagi Allah tidak ada istilah mudah dan sulit; sebab bagi Allah segala apa yang dikehendaki pasti akan terwujud (Yāsīn/36: 82).
Al-Qur'an juga menggunakan cara lain untuk memperkuat argumentasi-Nya tentang keniscayaan hari kebangkitan.
imageDan Allah-lah yang mengirimkan angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu. (Fāthir/35: 9)
Melalui ayat ini, Al-Qur'an ingin menyatakan bahwa kebangkitan manusia dari alam kubur adalah suatu yang logis bagi Allah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati melalui siraman air hujan, sehingga biji-bijian yang tertimbun di dalamnya menjadi tumbuh subur.
3. Situasi yaumul-ba‘ts
Gambaran yaumul-ba‘ts antara lain bisa dibaca pada firman-Nya berikut ini:
image(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?”Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja. Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru).(an-Nāzi‘āt/79: 6-14)
Pertanyaan orang-orang kafir itu dimaksudkan untuk mengejek Rasulullah shallāllāhu ‘alaihi wa sallam, setelah mereka mendengar adanya hari kebangkitan, sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Oleh karena itu, di saat mereka benar-benar dibangkitkan dari kuburnya, mereka sangat terkejut dan merasa sangat menyesal (Yāsīn/36: 52). Padahal,saat itu, penyesalan dan alasan apapun sudah tidak berguna lagi (ar-Rūm/30: 57). Bahkan, apa pun tidak ada gunanya saat itu:
imageDan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. (asy-Syu‘arā'/26: 87-88)
Penyebutan harta dan anak pada ayat ini hanya sebagai perwakilan. Sebab yang dimaksudkan adalah segala apa saja yang dipersepsikan bisa dijadikan sandaran. Oleh karena itu,ayat ini secara khusus memberikan kritikan kepada orang-orang kaya yang tertipu oleh hartanya sendiri. Dengan harta itu, ia merasa bisa melakukan apa saja yang diinginkan hawa nafsunya.
Sementara anak adalah sosok yang paling dekat dan paling diharapkan bisa menolongnya, terutama ketika ia berada dalam masalah. Maka, pada hari ba‘ts semua itu sudah tidak berguna lagi.19 Sedangkan yang dimaksud dengan “orang yang berhati bersih” adalah orang kaya yang tidak terpengaruh oleh hawa nafsunya untuk melakukan kemaksiatan.
D.Yaumul-Hasyr
1. Pengertian
Setelah manusia dibangkitkan dari kubur, mereka harus menghadapi yaumul-hasyr. Kata al-Hasyr dengan seluruh kata jadiannya disebutkan sebanyak 43 kali di dalam Al-Qur'an.
Pada mulanya, kata al-Hasyr berarti “mengeluarkan sekelompok manusia dengan jumlah yang besar dari tempat tinggalnya untuk dibawa ke medan perang.”20 Bahkan kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan arti selain manusia. Al-Hasyr bisa juga diartikan dengan “menggiring”.21 Namun, yang pasti kata tersebut tidak digunakan kecuali untuk menunjuk arti “sebuah kumpulan dengan jumlah yang besar,”22 seperti yang diisyaratkan ayat berikut ini:
imageDan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. (an-Naml/27: 17)
Maka, dari sinilah, kenapa hari Kiamat juga disebut yaumul-hasyr, karena saat itu seluruh makhluk, baik jin maupun manusia, dari periode yang paling awal sampai yang paling akhir, dikumpulkan jadi satu di suatu tempat yang sangat luas,yang biasa dikenal dengan “Padang Mahsyar”.
2. Situasi yaumul-Hasyr
Pada hari Kiamat, seluruh makhluk akan dikumpulkan di sebuah tempat yang sangat luas, lazim dikenal “Padang Mahsyar”, dalam keadaan telanjang sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis:
يُحْشَرُ النَّاسُ يوَمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا كَمَا خُلِقُوا. ( رواه الترمذي عن ابن عباس
Pada hari Kiamat, semua manusia akan dikumpulkan (di suatu tempat)dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan seperti awal mula mereka diciptakan. (Riwayat at-Tirmidzī dari Ibnu ‘Abbās)
Al-Qur'an merekam beberapa situasi yang akan dialami manusia pada yaumul-hasyr ini. Bahwa Allah akan membagi kumpulan besar itu dengan dua kelompok, yaitu kelompok baik dan kelompok buruk, sebagaimana diinformasikan Al-Qur'an:
image(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, bagaikan kafilah yang terhormat dan Kami akan menggiring orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak berhak mendapat syafaat,(pertolongan) kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi (Allah) Yang Maha Pengasih. (Maryam/19: 85-87)
Ayat di atas menginformasikan, ketika di yaumul-hasyr,seluruh umat manusia akan terpisah secara ekstrim dalam dua kelompok, muttaqīn dan mujrimīn. Kelompok muttaqīn disambut layaknya tamu kehormatan. Maksudnya, mereka digiring menuju Tuhannya dengan penuh rahmat dan keridaan-Nya. Sedangkan kelompok yang lain, mujrimīn, digiring menuju neraka dengan penuh kehinaan, layaknya orang yang sangat kehausan digiring menuju tempat air.24 Oleh karena itu, wajah mereka akan terlihat kusut, kusam, disebabkan oleh perasaan yang campur aduk tidak menentu (Thāhā/20: 124-125), bahkan matanya pun tidak bisa melihat alias buta, juga tuli dan bisu.
imageDan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur,dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka. (al-Isrā'/17: 97)
Di antara ahli tafsir ada yang memahami dengan metafora. Artinya, mereka tidak benar-benar buta, tuli dan bisu.Sebab saat itu, justru orang-orang yang durhaka akan membuktikan sendiri akibat kedurhakaannya. Oleh karena itu, yang dimaksud buta, tuli dan bisu adalah karena mereka tidak bisa mendapatkan manfaat dari apa yang diupayakan, karena seluruh angan-angan dan keinginan mereka kandas di tengah jalan,mereka juga merasa sangat putus asa karena segala apa saja yang selama ini dijadikan sarana untuk memperoleh apa yang diinginkan menjadi tidak berguna.25 Inilah gambaran orang yang durhaka, di mana mereka benar-benar terlihat sangat sedih dan menyesal.
Ketika di dunia, boleh jadi banyak yang melihatnya sebagai orang yang bahagia karena harta bendanya; padahal,dengan kedurhakaannya itu hatinya telah mengalami kehampaan spiritual yang sangat akut, yang tidak diketahui oleh siapapun.
Demikian ini, karena mereka seringkali tidak menghiraukan kebenaran agama, suka berlebih-lebihan sampai melampaui batas. Oleh karena itu, ayat di atas bukan bermaksud menginformasikan keadaan mereka yang buta, namun ini merupakan peringatan bagi kita yang mendengar ayat tersebut.
Pada yaumul-Hasyr itu, mereka tidak jujur mengakui kesalahannya telah mempersekutukan Allah (al-An‘ām/6: 22-23). Bahkan yang paling menyakitkan adalah pengakuan dari para sekutu sesembahannya, bahwa mereka berlepas diri dari sikap kemusyrikan tersebut.
imageDan (ingatlah) pada hari (ketika) itu Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang yang mempersekutukan (Allah), “Tetaplah di tempatmu, kamu dan para sekutumu.”Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka,“Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, sebab kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami).” Di tempat itu (padang Mahsyar), setiap jiwa merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya (dahulu) dan mereka dikembalikan kepada Allah,pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka apa (pelindung palsu) yang mereka ada-adakan. (Yūnus/10: 28-30)
Kalimat “kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami” adalah pengakuan dari sesembahan mereka yang pada masa lalu diwujudkan dengan berhala-berhala dan orang-orang yang memengaruhi mereka untuk berbuat durhaka.
Artinya, orang-orang musyrik itu sejatinya tidak menyembah berhala-berhala atau makhluk-makhluk lain, akan tetapi mereka “menyembah” hawa nafsu mereka sendiri, sebab hawa nafsu itulah yang memerintahkan menyekutukan Allah.26 Bahkan,mereka yang selama ini “disembah-sembah”, saat itu, bukan saja mereka mengingkari, tetapi berubah memusuhinya (al-Ahqāf/46: 6). Walhasil, pada hari itu, mereka benar-benar merasa putus asa, menyesal, bercampur marah sambil mengutukdirinya sendiri, maupun orang-orang  yang menyebabkannya durhaka. Situasi dramatis ini banyak diinformasikan Al-Qur'an.27Mereka semakin menyesali nasibnya karena saat mereka dikumpulkan di “Padang Mahsyar” mereka seakan merasakan hidup di dunia hanyalah sesaat (Yūnus/10: 45). Padahal, akibat dari perilaku buruknya selama di dunia yang hanya sesaat adalah neraka yang mereka kekal di dalamnya.
Itulah informasi Al-Qur'an tentang yaumul-Hasyr dan situasi yang dialami oleh setiap individu, baik yang bertakwa maupun yang durhaka. Selanjutnya, manusia bersiap-siap menghadapi hari penghitungan (yaumul-Hisab).
E.Yaumul-Hisāb
1. Pengertian
Yaumul-Hisāb atau hari perhitungan boleh jadi menjadi ikon dari hari akhir, karena segala sesuatunya pada hari itu akan dihisab oleh Allah secara adil dan tuntas. Kata Hisāb memang berarti hitungan akan tetapi tidak semua kata yang seakar dengan Hisāb juga berarti sama. Dari keseluruhan kata Hisāb dan kata jadiannya yang terulang sebanyak 109 kali, hanya 27 kali yang terkait dengan hari perhitungan di hari Kiamat.
Prinsip yaumul-Hisāb adalah bahwa sekecil apa pun yang dilakukan manusia, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan,semuanya akan dihisab secara detil dan adil, sebagaimana dalam firman-Nya:
imageDan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat,maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (al-Anbiyā'/21: 47)
Terlepas dari perdebatan para ulama tentang al-mīzān,apakah majāzī (metafora) atau hakiki, yang pasti, timbangan itulah yang dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk mengukur dan menimbang seluruh amal perbuatan manusia dalam proses penghisaban. Demikian ini, agar manusia benar-benar mendapatkan balasannya sesuai dengan apa yang dilakukan tanpa terzalimi sedikit pun.
2. Gambaran situasi yaumul-Hisāb
Situasi hari Hisāb yang detil dan adil bisa dilihat dari informasi ayat berikut ini:
imageDan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (al-Isrā'/17: 13-14)
Pada saat hari perhitungan amal, seseorang sudah tidak lagi membutuhkan orang lain untuk meneliti atau mengoreksi amal-amalnya, sebab yang akan meneliti adalah dirinya sendiri.Meskipun begitu, ia tetap tidak mampu berbohong karena situasinya berbeda sama sekali dengan keadaan di dunia, sebagaimana diinformasikan ayat berikut ini:
imagePada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Yāsīn/36: 65)
Ayat ini menginformasikan bahwa segala perbuatan manusia akan dilaporkan oleh tangannya sendiri sementara kakinya yang menjadi saksi. Jika demikian, maka tidak mungkin ada satu pun perbuatan dan perkataan yang terlewat, tidak dihisab. Situasi semacam ini, jika dilihat dari sudut pandang manusia yang lemah dan terbatas, tentu saja tidak masuk akal.
Sebab yang diketahui manusia dari anggota tubuhnya hanya mulutlah yang bisa bicara. Dalam hal ini, ia lupa bahwa mulut bisa bicara itu bukan karena ia bernama mulut, akan tetapi karena Allah memberinya hak untuk bicara ketika di dunia.
Maka, dengan kekuasaan-Nya juga, hak bicara mulut dicabut atau dinonaktifkan sementara. Demikian ini, agar proses hisab bisa berjalan secara fair dan adil.
Oleh karena itu, ketika orang-orang kafir dan para pendurhaka dikumpulkan untuk menjalani proses penghisaban,mereka sangat terkejut, karena anggota tubuh yang selama ini diam saja tiba-tiba bisa bicara sebagai saksi yang memberatkan.
imageimage
Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Fushshilat/41: 19-21)
Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Mālik, sebagaimana dikutip Ibnu Katsīr digambarkan, “Suatu ketika beliau tertawa atau tersenyum sendiri, lalu berkata kepada sahabat-sahabatnya,‘Tidakkah kalian bertanya kepadaku kenapa saya tertawa sendiri?’
Kemudian mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan anda tertawa?’ Beliau menjawab, ‘Aku merasa kagum dengan proses penghisaban di hari Kiamat kelak, di mana telah terjadi dialog antara seorang hamba dan Allah.’ Si hamba tersebut berkata, ‘Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah berjanji untuk tidak menzalimiku?’ Allah menjawab, ‘Ya benar’. Lalu ia berkata,‘Sungguh aku tidak ada saksi kecuali diriku sendiri.’ Allah menjawab, ‘Tidakkah cukup Aku yang menjadi saksi dan para malaikat pencatat amal’. Kemudian Allah mengunci mulutnya, dan hak bicara diberikan kepada anggota tubuh yang lain untuk memberi laporan tentang apa yang ia lakukan. Melihat hal ini, sihamba durhaka tersebut berkata, ‘Sialan, benar-benar celaka,kenapa mereka jadi bisa bicara bahkan menjadi saksi yang memberatkanku”.28Pelibatan anggota tubuh dalam proses penghisaban tersebut memang bukan untuk menafikan atau mengurangi posisi Allah sebagai Yang menguasai hari pembalasan dan penghisaban,sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis:
مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبيْنَهُ تُرْجَمُانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ . رواه البخاري ومسلم عن عدى ابن حاتم
Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali ia akan diajak bicara langsung oleh Allah pada hari kiamat, yang tidak ada di antara keduanya penerjemah. Kemudian ia melihat di sebelah kanan, ia tidak melihat apa pun kecuali perbuatan yang telah dilakukannya. Kemudian ia melihat ke sebelah kiri, ternyata ia juga tidak melihat apa pun kecuali perbuatan yang telah dilakukannya. Kemudian ia melihat ke arah depan, ia tidak melihat apa pun kecuali neraka menanti dirinya. Lalu Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja dari kalian yang bisa menyelamatkan dirinya dari panasnya api neraka, lakukanlah meski melalui sebiji kurma.”
(Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari ‘Adī bin Hātim)
Jadi pelibatan anggota badan itu untuk menggambarkan betapa detil dan cermatnya proses tersebut. Juga untuk melahirkan rasa kengerian tersendiri, karena tidak seorang pun bisa melarikan diri atau bersembunyi dari anggota tubuhnya sendiri. Sebab, seandainya langsung dikatakan “Allah-lah yang menghisab”, maka bagi orang-orang kafir yang sudah terbiasa “menipu” Allah, secara psikologis hal itu tidak cukup kuat untuk menumbuhkan efek jera.
Di mata mereka, kata “Allah” hanyalah sosok Zat yang berada di tempat yang sangat jauh, yang bisa saja ada perbuatan yang tidak terlihat Allah. Padahal, anggapan inilah yang justru akan menjerumuskan mereka, sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini:
imageDan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan. Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi. (Fushshilat/41: 22-23)
Yang pasti, perilaku buruk dan menyesatkan itu bisa dipastikan bahwa keyakinan mereka terhadap yaumul-Hisāb sangat lemah atau terkalahkan oleh hawa nafsunya. Sebab,secara logika, tidak mungkin ia tidak mengetahui adanya hari Hisāb (perhitungan amal) ini, apalagi ia seorang muslim. Namun karena adanya pengaruh dari luar yang memengaruhi hawa nafsunya, sehingga pengetahuan tentang keniscayaan hari Hisāb tidak berbanding simetris dengan kesadarannya. Inilah yang diisyaratkan Al-Qur'an:
image(Allah berfirman), “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh,orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat,karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shād/38: 26)
Ayat ini secara khusus memang ditujukan kepada Nabi Dawud, namun sejatinya menjadi warning bagi siapa saja, terutama para penegak hukum untuk selalu berbuat adil dan jangan mengikuti hawa nafsu agar tidak menyimpang dari jalan Allah serta kesadaran akan hari Hisāb.30
F. Yaumud-Dīn atauYaumul-Jazā'
1. Pengertian
Term yaumud-dīn di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 13 kali. Kata ad-dīn sendiri berasal dari dāna-yadīnu yang memiliki makna dasar ath-Thā‘ah (ketaatan/ketertundukan) dan al-jazā' (balasan),sehingga yaumud-dīn bisa juga dipahami dengan yaumul-jazā'.
Lalu dipinjam (isti‘ārah) untuk menyebutkan syarī‘ah atau agama.Demikian ini, karena inti keberagamaan adalah ketertundukan dan ketaatan.31 Oleh karena itu, yaumud-dīn bisa dimaknai hari pembalasan.
Prinsip hari pembalasan adalah bahwa seseorang tidak akan diberi balasan kecuali apa yang ia usahakan (al-A‘rāf/7: 147 dan Saba'/34: 33). Sekecil apa pun perbuatan itu, semuanya akan dibalas sesuai dengan kapasitas kebaikan dan keburukannya dan tidak ada seorang pun yang terzalimi; bahkan Allah akan melipat gandakan balasan kebaikannya:
imageBarang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99:7-8)
2. Situasi Hari Pembalasan
Sementara dalam konteks yaumud-dīn, Al-Qur'an menegaskan bahwa Allahlah Penguasa yaumud-dīn.
imagePemilik hari pembalasan (al-Fātihah/1: 4)
Kata mālik ada yang membaca pendek mīm-nya, malik.Kalau mālik berarti yang mengatur milik-Nya melalui perintah dan larangan yang ditujukan kepada yang terkena taklīf tersebut, atau disebut “Pemilik”. Sedangkan malik berarti Yang mengatur dan menjalankan roda kekuasaannya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, yang lazim disebut “Raja”.32 Dengan demikian, ayat di atas menyatakan bahwa Allah-lah Pemilik sekaligus Penguasa hari pembalasan. Sebagai Penguasa hari pembalasan inilah, Allah menyatakan secara tegas, bahwa kerajaan saat itu hanya milik-Nya (Ghāfir/40: 16).
Redaksi ini disebutkan setelah ar-rahmān ar-rahīm, dimaksudkan agar orang-orang kafir jangan merasa senang dulu jika perbuatan mereka seakan tidak dibalas ketika di dunia. Atau, ia boleh jadi merasa bisa mengelabui sang penguasa saat ini. Padahal,saat itu hanya Allah-lah sang Penguasa Tunggal. Oleh karena itu,pernyataan bahwa Allah Penguasa yaumud-dīn sejatinya ditujukan kepada orang-orang yang durhaka, sebab redaksi tersebut mempunyai kesan “ancaman/peringatan”. Artinya, mereka yang durhaka pada hari pembalasan inilah yang akan dimasukkan ke dalam neraka (al-Infithār/82: 15).
Apa sebenarnya yaumud-dīn itu? Ada banyak penafsiran tentang yaumud-dīn, antara lain, yaumul-hisāb (hari perhitungan),suatu hari di mana Allah akan meminta pertanggungjawaban hamba-hamba-Nya, yaumusy-syiddah (hari yang sangat berat).33Yang jelas, pada hari itu setiap hamba bertanggung jawab atas dirinya sendiri:
imageDan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (al-Infithār/82: 17-19)
Ayat di atas menggunakan kalimat tanya (istifhām), mā adrāka. Kalimat mā adrāka biasanya digunakan Al-Qur'an untuk menunjuk sesuatu yang sangat penting. Di dalam ayat tersebut terdapat dua kalimat tanya (istifhām). Istifhām yang pertama sebagai gambaran atas beratnya persoalan yang dihadapi manusia saat itu, di mana si mutakallim seakan bertanya kepada si pendengar tentang apa yang sebenarnya yaumud-dīn itu. Sedangkan istifhām yang kedua menerangkan tentang hakekat yaumud-dīn,yaitu suatu hari di mana seseorang tidak bisa lagi menolong sesamanya, begitu juga dirinya, tidak bisa mengandalkan apa pun yang ia miliki dan siapa pun yang ia kenal. Ia benar-benar telah mendapatkan balasan setimpal sebagai akibat dari perilakunya. Itulah hari pembalasan. Oleh karena itu, penggunaan mā adrāka dalam konteks yaumud-dīn menjadi sangat tepat karena saat itulah manusia menghadapi sendiri persoalan-persoalan besar dalam situasi yang menakutkan. Dalam firman-Nya yang lain dinyatakan:
imageDan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (al-Baqarah/2:48)
Bahkan, kondisi saat itu akan semakin berat, bukan saja orang lain tidak bisa menolongnya, karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (‘Abasa/80: 37), tetapi juga anak-anaknya atau bapak-ibunya; seperti dalam firman-Nya:
imageWahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (Luqmān/31: 33)
Pada mulanya ayat ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang musyrik Mekah. Namun, penggunaan redaksi umum menunjukkan bahwa peringatan tersebut juga ditujukan kepada setiap orang di setiap tempat dan di segala zaman.
Sedangkan penyebutan kata walad (anak) dan wālid (bapak) secara khusus, karena biasanya keduanya bisa saling memenuhi kebutuhan dan saling melindungi dari apa saja yang bisa membahayakannya.34 Namun, pada hari pembalasan itu masing-masing harus mempertanggungjawabkan sendiri-sendiri hasil perbuatannya.
F. Term-term Lain tentang Hari Akhir
1. Yaumut-tanād
Kata tanād hanya sekali ditemukan di dalam Al-Qur'an
(Ghāfir/40: 32). Kata tanād pada mulanya berarti saling memanggil. Para ulama sepakat yang dimaksud dengan yaumuttanād adalah hari Kiamat. Ada beberapa alasan kenapa hari kiamat disebut yaumut-tanād:35 Pertama, pada hari Kiamat, para penduduk neraka memanggil-manggil penduduk surga, begitu juga sebaliknya (al-A‘rāf/7: 44 dan 50); kedua, di antara orang-orang zalim saling memanggil dengan panggilan yang buruk,seperti yā wail (al-Anbiyā'/21: 14); ketiga, pada hari itu semua umat manusia dipanggil menuju mahsyar. Bagi orang-orang mukmin yang mengambil kitabnya dengan tangan kanan dipanggil dengan panggilan “Ambillah, bacalah kitabku (ini)” (al-Hāqqah/69: 19). Sementara orang-orang kafir yang mengambil kitabnya dengan tangan kiri, mereka menyesali dirinya sendiri dengan mengucapkan “Alangkah baiknya kitabku ini tidak diberikan kepadaku” (al-Hāqqah/69: 25); keempat, di antara orang-orang zalim saling melaknat (al-‘Ankabūt/29:25).
Kata tanād juga bisa diartikan dengan berpaling (al-idbār).Demikian ini, karena pada hari Kiamat setiap orang berpaling dari orang lain, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (‘Abasa/80: 34 dan 37). Kata tanād juga berarti berlari,karena ketika mereka mendengar berita tentang neraka, mereka berusaha lari menjauh, namun tidak bisa.362. Yaumut-talāq
Kata ini hanya sekali disebutkan di dalam Al-Qur'an.
image(Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, yang memiliki ‘Arsy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat). (Ghāfir/40: 15)
Kata talāq pada mulanya berarti pertemuan. Hari Kiamat disebut yaumut-talāq karena seluruh makhluk akan bertemu di hari itu. Ada juga yang memahami bahwa antara penduduk bumi dan penduduk langit saling bertemu.37Yaumut-talāq ini dijelaskan sendiri oleh Al-Qur'an:
image(Yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan. Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.(Ghāfir/40: 16-17)
Yaumut-talāq adalah hari di mana saat itu tidak ada yang tersembunyi dari Allah, masing-masing akan mendapatkan balasannya secara setimpal tanpa terzalimi sedikit pun. Sebenarnya,bagi Allah tidak ada yang rahasia, baik ditampakkan maupun tidak ditampakkan. Jika demikian, kenapa harus dinyatakan bārizūn. Menurut az-Zamakhsyarī, boleh jadi mereka merasa tidak dilihat oleh Allah ketika berbuat maksiat, karena melakukan perbuatan itu secara rahasia atau tersembunyi.
Maka, pada saat itu, mereka benar-benar ditelanjangi seperti orang yang tidak memakai baju sehelai pun.384. Yaumul-fashl
Kata al-fashl bentuk kata kerjanya adalah fashala. Kata fashala dengan semua bentuk kata jadiannya banyak diulang di dalam Al-Qur'an, namun yang bisa dimaknai sebagai gambaran hari akhir hanya ada enam. Kata al-fashl berarti memisah antara dua barang yang bertemu sehingga tampak lubang (furjah). Hari Kiamat disebut yaumul-fashl karena hari itu Allah menampakan secara jelas antara yang hak dan batil, dan memutuskan persoalan manusia secara tuntas. 39Dalam kaitan ini Al-Qur'an menjelaskan:
imageInilah hari keputusan; (pada hari ini) Kami kumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Maka jika kamu punya tipu daya, maka lakukanlah (tipu daya) itu terhadap-Ku. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). (al-Mursalāt/77: 38-40)
Ayat di atas memberi informasi cukup jelas tentang yaumul-fashl yaitu saat di mana semuanya dikumpulkan, baik yang bahagia maupun yang celaka, para nabi dan umatnya. Oleh karena itu, pada hari tersebut mereka yang biasa melakukan makar terhadap agama ditantang, jika mereka mampu.40 Pada hari itulah segalanya akan diputuskan secara tuntas tanpa ada seorang pun yang bisa membantu.
imageSungguh, pada hari keputusan (hari Kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, (yaitu) pada hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang. (ad-Dukhān/44: 40-42)
4. Yaumut-taghābun (Yaumul-jam’)
Kata at-taghābun hanya sekali ditemukan di dalam Al-Qur'an:
image(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taghābun /64: 9)
Kata at-taghābun pada mulanya berarti penipuan dalam persoalan jual-beli, lalu kata ini dipinjam (isti‘ārah) untuk menunjukkan suatu kondisi di mana antara satu dengan yang lain saling menipu agar dapat mendapatkan tempat yang bahagia,meskipun sejatinya ia tidak berhak. Oleh karena itu, ayat ini merupakan hinaan atau ejekan bagi orang-orang kafir dan orang-orang durhaka, bahwa saat itu adalah kenyataan bukan penipuan. Artinya, secara nyata mereka membuktikan, bahwa siapa saja yang bahagia dan celaka, benar-benar akan mendapatkan haknya tempat kembali yang sesuai, yakni neraka atau surga.41 Dari sinilah, yaumut-taghābun juga diartikan hari penyesalan.
G. Kesimpulan
Hari akhir bukanlah sekadar akhir dari kehidupan dunia ini. Namun, ia merupakan hari kepastian di mana manusia akan mengalami kondisi yang unik. Hari akhir menjadi tempat penyelesaian yang paling adil, tuntas, dan hakiki menyangkut banyak hal, seperti perselisihan tentang mana yang benar dan salah, perhitungan dari setiap amal secara adil, detil dan cermat;balasan atas perbuatan yang dilakukan manusia ketika di dunia.
Walhasil, keimanan terhadap hari akhir akan menjadikan batin seseorang mukmin menjadi tenang karena semuanya akan mendapatkan keputusan secara tuntas dan adil.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. ar-Rāghib al-Ashfahānī, al-Mufradāt fī Garībil-Qur'ān, (Beirut: Dārul-
    Ma‘rifah), pada term yaum, h. 553.
  2. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 1, h. 33.
  3. Thāhir Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 1, h. 101.
  4. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 299.
  5. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 1, h. 99.
  6. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 3, h. 417.
  7. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term qawama, h. 416.
  8. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term qara'a, h. 401.
  9. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 372.
  10. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 373.
  11. ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 16, h. 345.
  12. ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 16, h. 345.
  13. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 7, h. 237.
  14. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 117.
  15. al-Biqā‘i, Nazhmud-Durar fī Tanāsub Āyāt was-Suwar, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 9, h. 342.
  16. Dzarrah adalah jenis yang terkecil dari semut. Orang Arab mengungkapkan sesuatu yang paling kecil dengan sebutan dzarrah.
  17. al-Baidhāwī, Anwārut-Tanzīl wa Asrārut-Ta'wīl, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 1, h. 359.
  18. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān Al-‘Azīm, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 6, h. 593.
  19. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 10, h. 179.
  20. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term hasyara, h. 119.
  21. Lihat, antara lain, Āli ‘Imrān/3: 12, an-Anfāl/8: 36, an-Naml/25: 34.
  22. Lihat, antara lain, asy-Syu‘arā'/26: 26, at-Takwīr/81: 5, an-Naml/27: 17, an-Nāzi‘āt/79: 31.
  23. Hadis sahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzī, Kitab Shifat qiyāmah wa raqā'iq wal-wara', No. 2347, bab Mā jā’a fī sya'nil-hasyr. Berkata Imam at-Tirmidzī, hadis ini hasan sahih. Imam al-Bukhārī dalam Shahīhul-Bukhārī, kitab Ahādītsul-Anbiyā' No. 3100, kitab Raqā'iq, No. 6043, meriwayatkan hadis yang senada dengannya walaupun dengan redaksi yang berbeda.
  24. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 4,h. 120.
  25. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 9, h. 112.
  26. al-Baidhāwī, Anwārut-Tanzīl, jilid 3, h. 15.
  27. Lihat antara lain, Saba'/34: 31-33 dan al-‘Ankabūt/29: 25.
  28. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān, jilid 7, h. 170.
  29. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahīhul-Bukhārī, kitab at-Tauhīd,bab Kalām ar-Rab yaum al-Qiyāmah ma‘al-Anbiyā' wa ghairihi, No. 6958; Muslim dalam Shahīh Muslim, kitab zakat bab Hats ‘alā shadaqah walau bi syiqqi tamrah ,No. 1688.
  30. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān, jilid 7, h. 63.
  31. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term dayana, h. 175.
  32. al-Baidhāwī, Anwārut-Tanzīl, jilid 1, h. 6.
  33. ath-Thabarī, Jāmi‘ul-Bayān, (al-Maktabah asy-Syāmilah), jilid 24, h.271.
  34. Ibnu ‘Āsyur, at-Tahrīr, jilid 11, h. 150.
  35. ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 13, h. 330.
  36. ar-Rāzī, ibid.
  37. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 6, h. 98.
  38. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 6, h. 97.
  39. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term fashala, h. 381.
  40. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 7, h. 213.
  41. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 7, h. 74.

Tidak ada komentar: