الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Manusia dan Sifat-sifatnya

Dalam pandangan Islam, manusia merupakan entitas yang unik. Keunikannya terletak pada wujudnya yang multidimensi, bahkan awal penciptaannya didialogkan langsung oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā dengan para malaikat sehingga jadilah manusia makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna di muka bumi ini. Karena kesempurnaan dan kemuliaannya,Allah memberikan keistimewaan-keistimewaan yang menyebabkan manusia berhak mengungguli makhluk lainnya. Di antara keistimewaan-keistimewaannya adalah diangkatnya manusia sebagai khalifah di bumi (Lihat: al-Baqarah/2: 30–34).
Manusia merupakan makhluk berpikir yang menggunakan bahasa sebagai medianya (animal simbolicum); manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan untuk bersosial sehingga dapat mengembangkan peradaban (zoon politikon); manusia merupakan makhluk yang cenderung beragama (homo relegiosus); manusia juga mempunyai keluwesan sifat yang selalu berubah melalui interaksi pendidikan (animal educandum).1Namun demikian, manusia sebagai makhluk justru lebih sulit memahami dirinya sendiri daripada memahami makhluk lain seperti hewan dengan berbagai jenisnya. Dalam hal ini A.Carrel dalam Man the Unknown, sebagaimana dikutip M.Quraish Shihab, menyatakan, “Meskipun manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui hakikat dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof,sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini, tapi kita hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari manusia. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tatacara kita  sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini masih tetap tanpa jawaban.”2Kesulitan memahami manusia ini dikarenakan adanya keterlambatan manusia sendiri dalam memahami dirinya, ketika manusia pada awalnya lebih dulu dan lebih suka menyelidiki alam materi ketimbang dirinya sendiri. Keterlambatan ini juga dikarenakan akal manusia memang lebih cenderung memikirkan sesuatu yang tidak kompleks; dan yang pasti, kompleksitas manusia itu sendiri yang terdiri dari jasad dan roh, sisi luar dan sisi dalam membuat pengertian tentang manusia masih menjadi misteri dan kajian tentangnya terus dilakukan tanpa henti. 3 Inilah agaknya yang menjadi salah satu isyarat dari firman Allah subhānahū wa ta‘ālā tentang keterbatasan akal manusia dalam memahami substansi kehidupan manusia, yakni tentang kuiditas (māhiyah) roh4, sebagaimana firman-Nya:
imageDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (al-Isrā'/17: 85)
A. Ragam Term Manusia dalam Al-Quran
Jika kita membatasi pengertian manusia dalam perspektif Al-Quran yang menjadi kajian tulisan ini, term yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok.5 Pertama, kelompok yang menggunakan term basyar; kedua, kelompok yang menggunakan term insān; dan ketiga, kelompok yang menggunakan term bani Ādam. Tulisan ini akan berusaha meneliti term-term tersebut untuk mengetahui karakteristik setiap term dan kaitannya antara satu dengan yang lain. Term-term tersebut antara lain:
1. Term basyar
Term basyar secara leksikal mempunyai arti fisik manusia.6Makna ini diabstraksikan dari berbagai uraian tentang makna basyar itu sendiri. Misalnya, al-Ashfahāni yang menyatakan bahwa term basyar digunakan untuk seseorang yang kulitnya nampak jelas.7 M. Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia disebut basyar karena kulitnya nampak dengan jelas dan berbeda dengan kulit binatang yang ditutupi bulu-bulu.8 Secara lebih luas, Ibnu Manzhūr menyebutkan bahwa term basyar digunakan untuk menyebut manusia laki-laki atau perempuan, baik satu atau banyak. Menurutnya, term ini terambil dari kata basyarah yang berarti permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ia juga mengartikan basyar dengan permukaan kulit kepala atau permukaan kulit pada wajah dan seluruh tubuh manusia.9Dalam Al-Quran, term basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk dual (tatsniyah), basyarain. 10 Dari penyebutan tersebut, term basyar dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok arti pemakaian:11
a) 1 kali digunakan untuk menyebutkan bagian lahir manusia/kulit manusia (al-Muddatstsir/74: 29).
b) 23 kali digunakan untuk menyebutkan manusia dalam kaitannya dengan kenabian (al-Anbiyā'/21: 3, Āli ‘Imrān/3: 79,26,al-Mā'idah/5: 18, al-An‘ām/6: 91, Ibrāhīm/14: 10 dan 11,al-Kahf/18: 110, al-Mu'minūn/23: 24, 33, dan 34, asy-Syu-‘arā'/26: 154 dan 186, Yāsīn/36: 15, Fushshilat/41: 6, asy-Syūrā/42: 51, at-Taghābun/64: 6, al-Muddatstsir/74: 25, Hūd/11:27, Yūsuf/12: 31, al-Isrā’/17: 93 dan 94, dan al-Qamar/54:24). 11 ayat di antaranya menyatakan bahwa seorang nabi adalah basyar, yakni seperti manusia pada umumnya yang secara lahiriah memiliki ciri yang sama, yaitu makan dan minum. Hal ini sebagai bentuk jawaban dan kecaman atas penolakan kaum kafir atas diutusnya seorang nabi dari jenis manusia (lihat misalnya Surah al-Mu'minūn/23: 33-34).
c) 2 kali digunakan dalam kaitannya dengan persentuhan laki-laki dengan perempuan karena secara biologis manusia membutuhkan hubungan seksual untuk mengembangkan keturunan (Āli ‘Imrān/3: 47 dan Maryam/19: 20). Kedua ayat tersebut membicarakan masalah penciptaan Nabi Isa dari ibunya, Maryam, yang tidak pernah disentuh oleh manusia. Ada pula yang mengartikan dengan tidak mempunyai suami dan kalimat tersebut adalah metafora dari bersetubuh.12
d) 4 kali digunakan dalam pengertian sosok manusia pada umumnya (Maryam/19: 17 dan 26, al-Muddatstsir/74: 25 dan 36). Keempat term basyar di atas menunjukkan bahwa basyar memiliki arti manusia pada umumnya. Misalnya, pada Surah al-Muddatstsir/74: 36 diartikan dengan memberikan peringatan bagi manusia. Mujāhid, Qatādah, dan lainnya mengartikan kata basyar pada Surah Maryam/19: 17 dengan 'bentuk manusia yang lengkap dan sempurna (shūrah insān kāmil tāmm).13
e) 4 kali digunakan dalam kaitannya dengan penjelasan tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia yang bermula dari tanah (Shād/38: 71, al-Furqān/25: 54, ar-Rūm/30: 20, dan al-Hijr/15: 28). Keempat ayat tersebut menyatakan bahwa basyar adalah manusia yang diciptakan dari substansi dasar campuran tanah dan air (shalshāl, thīn, mā', turāb). Keempat substansi dasar itu adalah bentuk dasar manusia yang bermula dari fase tanah (marhalah turābiyah) sampai fase penyempurnaan (marhalah taswiyah) dengan ditiupkan rūh ilāhiyyah ke dalam dirinya, sebagaimana firman Allah:
image(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku
akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya;
maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Shād/38: 71 - 72)
f) 1 kali menjelaskan bahwa basyar, manusia, akan mengalami kematian. Sebagaimana firman Allah:
imageDan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (al-Anbiyā’/21: 34-35)
Dari ayat-ayat yang menggunakan term basyar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan kata ini di dalam Al-Quran memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan manusia adalah yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar,dan mereka saling bertemu atas dasar persamaan. Al-Quran juga menggambarkan basyar sebagai manusia dilihat dari segi biologis dan fisiknya berupa makan, minum, berhubunganseks, dan lain sebagainya.
Penggunaan kata basyar untuk menyebut manusia secara umum, mempunyai pengertian adanya persamaan umum yang selalu menjadi ciri pokok manusia. Ciri pokok itu adalah kenyataan lahiriahnya yang menempati ruang dan waktu, serta terikat oleh hukum-hukum alamiahnya. Manusia dalam pengertian basyar adalah manusia seperti yang tampak pada lahiriahnya,mempunyai bangun tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di alam ini, dan oleh pertambahan
usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya meninggal. Manusia dalam pengertian basyar bergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya bergantung pada apa yang dimakan dan diminumnya.14Al-Quran juga menggunakan kata basyar untuk mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar melalui beberapa tahapan sehingga mencapai tahap kedewasaan,sebagaimana diisyaratkan dalam Surah ar-Rūm/30: 20. Oleh karena itu Maryam, sebagaimana dikutip di atas,mengungkapkan keheranannya betapa mungkin ia dapat memperoleh
anak padahal ia belum pernah “disentuh” oleh basyar,yakni manusia dewasa yang mampu melakukan hubungan seksual.
Dengan demikian selain memiliki pengertian makhluk biologis sebagaimana dijelaskan di atas, konsep yang terkandung di dalam kata basyar juga memiliki pengertian manusia dewasa yang telah memasuki kehidupan bertanggung jawab.152. Term insān dan derivasinya
Term insān yang merupakan bentuk tunggal dari an-nās ghalibnya dikelompokkan pada kata-kata yang mengandung pengertian maskulin (mudzakkar), namun terkadang pula digolongkan feminin (mu'annats) yang bermakna kabilah (qābilah) atau sekelompok masyarakat (thāi’fah).16Menurut Ibnu Manzhūr, term insān mempunyai tiga asal kata: (1) berasal dari kata anasa yang mempunyai arti abshara/melihat (Thāhā/20: 10), ‘alima/mengetahui (an-Nisā'/4: 6) dan isti’zhan/minta izin (an-Nūr/24: 27); (2) berasal dari kata nasiya yang artinya lupa sebagaimana riwayat Ibnu ‘Abbās yang menyatakan bahwa, “Sesungguhnya manusia itu disebut insān karena ia pernah berjanji dan dia lupa akan janjinya
إِنَّمَا سُمِّيَ الْإِنْسَانُ الْإِنْسَانًالِأَنَّهُ عَهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ
(lihat Surah az-Zumar/39: 8);17 dan (3) berasal dari kata al-uns yang berarti jinak, antonim dari kata al-wahsyī yang berarti buas (lihat antara lain: adz-Dzāriyāt/51: 56,al-A‘rāf/7: 179, ar-Rahmān/55: 39, an-Naml/27: 17, al-Isrā'/17: 88, dan ar-Rahmān/55: 33).18
Demikian pula menurut al-Ashfahānī, term insān dapat diartikan sebagai suatu entitas yang berbeda dengan jin. Term ini juga dapat diartikan bahwa manusia pada dasarnya tidak mempunyai kekuatan kecuali bila di antara mereka terdapat keharmonisan, sehingga manusia memang cenderung untuk bersosialisasi antara sesama (madaniyyun bith-Thab‘). Selain itu, term ini pun dapat dimaksudkan sebagai makhluk yang suka lupa
akan janji-janjinya.19Dari beberapa analisis kebahasaan di atas, dapat dikatakan bahwa term insān yang berasal dari anasa yang berarti melihat,mengetahui, dan meminta izin, mengandung pengertian adanya kaitan dengan kemampuan nalar manusia. Dengan kemampuan nalarnya, manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, dapat memilah dan membedakan yang benar dari yang salah, serta terdorong untuk meminta izin ketika menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Sedangkan kata insān jika dilihat dari akar kata nasiya yang berarti lupa, menunjukkan bahwa manusia, dengan potensinya yang bisa lupa itu, justru menjadi makhluk yang berkesadaran setelah melupakan sesuatu.
Sementara kata insān jika dilihat dari asal kata al-uns atau anisa menunjukkan bahwa manusia adalah entitas yang jinak dan cenderung untuk harmonis dengan sesama.20
Pada titik ini dapat ditarik suatu keterkaitan makna dari kata insān dengan berbagai akar katanya, bahwa kesemuanya itu menunjukkan adanya kaitan manusia dengan sikap yang lahir dari kesadaran penalaran. Manusia pada dasarnya adalah jinak,dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan sosial maupun alamiah.
Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan sebagai makhluk yang berbudaya, ia tidak liar, baik secara sosial maupun alamiah.21
Jika kita memperhatikan penggunaan kata insān dalam Al-Quran, didapati bahwa manusia memang memiliki keluwesan sifat yang selalu berubah melalui interaksi pendidikan (animal educandum). Hal ini karena kata insān antara lain digunakan sebagai berikut:221) Untuk menyatakan bahwa manusia adalah hayawān nāthiq yang dapat menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Al-Quran menyatakan:
image
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (al-‘Alaq/96: 5)
image
(Allah) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qurān. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (ar-Rahmān/55: 1- 4)
2) Manusia mempunyai musuh yang nyata, yaitu setan yang berupaya mengotori fitrah kemanusiaannya. Al-Quran menyatakan:
imageSesungguhnya setan itu adalah musuh yang jelas bagi manusia. (Yūsuf/12: 5)
3) Manusia memikul amanat dari Tuhan. Allah subhānahū wata‘ālā berfirman:
imageSesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi,dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (al-Ahzāb/33: 72)
4) Tentang waktu yang harus digunakan oleh manusia untuk hal-hal yang positif agar tidak merugi, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-‘Ashr/103: 1- 3.
5) Manusia hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang telah di kerjakannya, karenanya, ia adalah makhluk yang bertanggungjawab. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
image
Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.(an-Najm/53: 39)
6) Manusia mempunyai keterikatan dengan moral dan etika sopan santun.
imageDan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (al-‘Ankabūt/29: 8)
3. Term banī Ādam
Banī Ādam dalam Al-Quran adalah salah satu term untuk menyebutkan sekelompok manusia. Yang dimaksud dengan term ini adalah anak-cucu keturunan Ādam, manusia pertama yang menjadi bapak dari seluruh umat manusia. Secara leksikal, banī adalah bentuk plural dari ibn yang berarti anak. Bentuk dasar banī adalah banūn atau banīn, tetapi karena berada pada posisi mudhāf maka huruf waw/yā' dan nūn pada kata banūn/banīn harus dihilangkan,sebingga menjadi banū/banī.23Dalam al-Quran, istilah banī ādam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat.24 Berdasarkan konteks pembicaraan masing-masing ayat tersebut, dapat dijelaskan bahwa ada tiga ayat yang membicarakan tentang banī ādam dalam kaitannya dengan term manusia, yaitu sebagai berikut:25Pertama, keharusan manusia untuk memakai pakaian yang berguna untuk memperindah tubuh dan menutup aurat. Ada tiga ayat yang membahas tentang hal ini, semuanya terdapat dalam Surah al-A‘rāf. Pada ayat 26, dinyatakan bahwa banī  ādam telah diberi oleh Allah pakaian yang berguna untuk menutupi aurat atau keburukan yang ada di tubuhnya dan juga diturunkan bersamanya perhiasan. Namun perhiasan dan pakaian yang
terbaik tetaplah yang didasarkan pada takwa. Allah subhānahū wata‘ālā berfirman:
imageWahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. (al-A‘rāf/7: 26)
Masih berkaitan dengan pakaian, dalam Surah al-A‘rāf ayat 31, Allah menyatakan tentang keharusan bagi manusia untuk menggunakan pakaian yang pantas dan indah ketika memasuki masjid. Ayat ini juga dikaitkan dengan pembolehan mengkonsumsi makanan dan minuman dengan syarat tidak berlebihan. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageWahai anak cucu Adam! pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (al-A‘rāf/7: 31)
Kemudian, masih dalam Surah yang sama, Allah memberikan peringatan kepada bani ādam untuk tidak melepaskan pakaiannya dan mempertontonkan auratnya kepada khalayak,karena hal itu adalah tipu daya setan. Dengan demikian,manusia yang tidak menutup auratnya adalah manusia yang telah terpedaya dengan rayuan setan. Hal ini juga telah terjadi dalam peristiwa diturunkannya Nabi Adam dari surga. Allah
subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageWahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (al-A‘rāf/7: 27)
Ayat-ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa manusia secara naluriah adalah makhluk istimewa yang cenderung menggunakan pakaian untuk menutup auratnya.
Kedua, tiga ayat lainnya membahas tentang hubungan manusia dengan keimanan, dan penjelasan tentang musuh utama manusia, yaitu setan. Tiga ayat yang berkaitan dengan keimanan ini mempunyai maksud dan tujuan masing-masing.
Pada Surah al-A‘rāf ayat 172 tersurat sebuah peringatan Allah subhānahū wa ta‘ālā kepada bani ādam bahwa mereka telah bersaksi sebelum lahir untuk beriman kepada Allah. Peringatan ini disebutkan untuk mengecam bentuk-bentuk alibi orangorang kafir yang melupakan perjanjian primordial ini. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang)
anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (al-A‘rāf/7: 172)
Masih berkaitan dengan keimanan, Allah juga memberitahukan kepada bani ādam untuk menaati Rasul yang diutus kepada mereka, dimana Rasul tersebut berasal dari kelompok mereka sendiri. Dalam ayat ini pun Allah menyatakan bahwa bani ādam yang bertakwa dan berbuat baik tidak akan mendapatkan ketakutan dan kegelisahan dalam hidupnya. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (al-A‘rāf/7:35)
Satu lagi ayat yang berkaitan dengan keimanan adalah peringatan Allah kepada bani ādam untuk tidak mengikuti setan.
Ayat ini sejalan dengan apa yang termaktub dalam Surah al-A‘rāf: 27, yakni larangan untuk mengikuti setan karena ia merupakan musuh yang nyata bagi umat manusia. Allah berfirman:
imageBukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. (Yāsīn/36: 60)
Ketiga, satu ayat membahas bahwa manusia adalah makhluk yang diberikan kelebihan dan keistimewaan karena dapat menguasai daratan dan lautan. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (al-Isrā'/17: 70)
Dari keseluruhan ayat yang membahas atau menggunakan term banī ādam dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan keistimewaan. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, kemampuan membangun peradaban, serta mengelola dan memanfaatkan alam. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk melakukan hubungan vertikal (relasi dengan Tuhan) dan interaksi horizontal (relasi dengan sesama manusia dan alam).26Dari uraian tentang term-term manusia di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam Al-Quran ada tiga istilah kunci yang digunakan untuk menyebut manusia, yaitu basyar, insān, dan bani ādam. Kata basyar, memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis-fisiologis. Kata insān, digunakan untuk menunjuk manusia sebagai totalitasnya; manusia sebagai makhluk pembelajar (animal educandum) dan pemikul amanah/khalifah yang lebih ditekankan pada aspek psikologis-spritualnya. Sementara bani ādam/dzurriyyah ādam digunakan untuk menunjukkan pengertian manusia secara universal (umum).27B. Kecenderungan dan Sifat Manusia
Al-Quran menegaskan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan Tuhan dalam bentuk dan keadaan yang sempurna (at-Tīn/95: 4). Demikian pula, sebagai perangkat dalam (rohani) manusia, esensi manusia (nafs)28 dicipta secara lengkap,diilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan agar ia dapat mengetahui. Sebagaimana firman Allah:
imageDemi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (asy-Syams/91: 7-10)
Berdasarkan ayat di atas, Al-Quran menyatakan bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan potensi serta peluang untuk cenderung kepada kebaikan dan menghindari keburukan atau sebaliknya, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Faktor terpenting dalam hal ini adalah bagaimana manusia mengendalikan kodrat fitriahnya yang suci, tabiat individualnya,serta daya responnya terhadap lingkungan sebelum melakukan suatu perbuatan.29
Menurut Al-Quran, manusia juga memiliki kemerdekaan untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan dengan alat bantu yang tersedia, memungkinkannya memilih jalan atau mengubah keputusan, sehingga manusia memang berpotensi untuk cenderung berlaku positif (takwa), tetapi diwaktu yang lain berpotensi pula menyimpang melakukan hal-hal yang negatif (fujūr). Allah subhānahū wa tā‘ālā berfirman:
imageBarangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isrā'/17: 15)
Oleh karena potensi (kesediaan) melakukan kebaikan dan keburukan ini, dalam Al-Quran, manusia berulang-ulang diangkat derajatnya, tetapi berulang-ulang pula dinyatakan sebagai makhluk yang rendah. Manusia kerap dinobatkan jauh mengungguli alam, bumi, dan bahkan para malaikat; tetapi pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan binatang sekalipun. Dua kecenderungan dan potensi manusia ini—positif dan negatif—memang dinyatakan dalam Al-Quran.
Namun menurut M. Quraish Shihab, ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu dengan lainnya, akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Di samping menunjukkan bahwa makhluk ini mempunyai potensi (kesediaan) untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada ditempat yang rendah sehingga ia tercela.30
1. Kecenderungan dan Sifat Positif
Dalam buku Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari mencatat beberapa segi dan kecenderungan positif manusia,yaitu:31a. Manusia diberi potensi untuk menjadi khalifah di bumi.
Allah berfirman:
imageDan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30)
imageDan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-An‘ām/6: 165)
b. Manusia memiliki kapasitas inteligensia yang paling tinggi untuk memahami nama-nama dan fungsi benda yang digunakan untuk mendukung tugas kekhalifahannya.32
imageDan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (al-Baqarah/2: 31-32)
c. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.
Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari mereka. Jadi, segala keraguan dan keingkaran kepada Tuhan muncul ketika manusia menyimpang dari fitrah mereka sendiri. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai)
fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah)
itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (ar-Rūm/30: 30)
d. Manusia, dalam fitrahnya, memiliki unsur ilahi yang luhur,yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa.
Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam fisik dan metafisik, antara materi dan immateri, antara jiwa dan raga. Allah subhhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageYang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya
dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (as-Sajdah/32: 7-9)
e. Manusia adalah makhluk pilihan, yang penciptaannya benar-benar telah diperhitungkan secara teliti; bukan suatu kebetulan. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
image
Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. (Thāhā/20: 122)
f. Manusia diberi kepercayaan dan amanat oleh Allah,diberkahi dengan risalah yang diturunkan melalui para nabi,dan dikaruniai rasa tanggungjawab. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageSesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. (al-Ahzāb/33: 72)
g. Manusia adalah makhluk mulia, sehingga memiliki kecenderungan untuk mencapai sesuatu yang baik dan bermartabat.
Manusia akan menghargai dirinya sendiri hanya jika mereka mampu merasakan kemulian dan martabat tersebut,serta mau melepaskan diri mereka dari kepicikan segala jenis kerendahan budi dan perbudakan hawa nafsu. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (al-Isrā'/17: 70)
h. Manusia memiliki kesadaran moral, sehingga mereka dapat membedakan yang baik dari yang buruk melalui inspirasi fitri yang ada dalam diri mereka. Allah subhānahū wata‘ālā berfirman:
imageDemi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (asy-Syams/91: 7-8)
i. Manusia diberikan potensi untuk memanfaatkan segala bentuk karunia duniawi secara absah dan bertanggung jawab, karena alam raya ini diciptakan untuk kepentingan manusia dalam tugasnya membangun peradaban di muka bumi. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. (al-Jatsiyah/45: 13)
j. Manusia pada dasarnya cenderung meraih cita-cita dan aspirasi-aspirasi yang luhur. Dengan demikian, kebutuhan bendawi bukanlah satu-satunya stimulus manusia bertindak,tetapi dalam banyak hal—jika kesucian jiwa terpelihara—mereka tidak akan mengejar satu pun tujuan kecuali mengharap keridaan Allah. Allah berfirman:
imageWahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. (al-Fajr/89: 27-28)
Dari uraian di atas, kita temukan bahwa Al-Quran menggambarkan manusia sebagai suatu makhluk pilihan Tuhan,sebagai suatu makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi,yang di dalam dirinya ditanamkan sifat-sifat positif seperti mengakui Tuhan, berlaku amanah, bertanggungjawab terhadap dirinya maupun alam semesta, serta karunia keunggulan atas alam semesta. Manusia juga dianugerahi dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Karenanya, kapasitas mereka relatif tidak terbatas, baik dalam kemampuan belajar maupun dalam menerapkan ilmu pengetahuan. Mereka memiliki suatu keluruhan dan martabat naluriah, sehingga motivasi dan pendorong mereka—dalam banyak hal—tidak bersifat kebendaan semata. Akhirnya, dengan kecenderungan dan potensi yang positif ini, manusia secara leluasa dapat memanfaatkan karunia yang dilimpahkan kepada mereka,namun pada saat yang sama, mereka harus menunaikan kewajiban kepada Tuhan.332. Kecenderungan dan sifat negatif
Di dalam Al-Quran, manusia juga banyak dicela. Mereka,misalnya, dinyatakan sebagai keji dan bodoh. Beberapa sifat dan kecenderungan negatif manusia yang dikecam oleh Al-Quran, antara lain, sebagai berikut:34
a. Ketergesa-gesaan (lihat: Surah al-Isrā’/17: 11 dan al-Anbiyā’/21: 37). Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa. (al-Isrā'/17: 11)
imageManusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya. (al-Anbiyā'/21: 37)
b. Ketidaksabaran dan keragu-raguan. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu,maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thāhā/20: 115)
c. Keserakahan, kekikiran, dan ketamakan (lihat: Ali ‘Imrān/3:80, an-Nisā’/4: 37, at-Taubah/9: 34-35, al-Isrā’/17: 100, al-Furqān/47: 8, al-Ma‘ārij/70: 21). Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageKatakanlah (Muhammad), “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan manusia itu memang sangat kikir. (al-Isrā'/17: 100)
imageDan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (al-Ma‘ārij/70: 21)
d. Amat aniaya dan mengingkari nikmat. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrāhim/14: 34)
e. Kerap berkeluh kesah. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageSungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. (al-Ma‘ārij/70: 19-20)
f. Kecongkakan (Lihat: an-Nisā'/4: 36-37, an-Nahl/16: 22-23,29, al-Isrā'/17: 37, 83, Ghāfir/40: 83, al-Hadid/57: 23-24).
Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageSungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, (yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan. (an-Nisā'/4: 36-37)
g. Tidak pandai berterima kasih (lihat: Hūd/11: 9-10, an-Nahl/16: 53-55, 83, az-Zumar/39: 7-8, Ghāfir/40: 61). Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan apabila manusia ditimpa bencana, dia memohon (pertolongan) kepada
Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya; tetapi apabila Dia memberikan nikmat kepadanya dia lupa (akan bencana) yang pernah dia berdoa kepada Allah sebelum itu, dan diadakannya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya.Katakanlah,“Bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu. Sungguh,
kamu termasuk penghuni neraka.” (az-Zumar/39: 8)
h. Sikap suka membantah. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia
dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (al-Kahf/18: 54)
i. Sikap merusak diri sendiri (lihat: Ali ‘Imrān/3: 165, an-Nisā'/4: 79, Yūnus/10: 44, Hūd/11: 101, an-Nahl/16: 33-34, 118, ar-Rūm/30: 41, asy-Syūrā/42: 30). Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageSesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri. (Yūnus/10: 44)
imageTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rūm/30: 41)
j. Sangat mencintai hal-hal keduniaan (tahta, harta dan wanita). Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan,hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Ali ‘Imrān/ 3: 14)
k. Gampang putus asa. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa
kesusahan, niscaya dia berputus asa. (al-Isrā’/17: 83)
l. Sikap zalim dan bodoh. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageSesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (al-Ahzāb/33:
72)
m. Lemah dan bersusah payah. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageAllah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah. (an-Nisā'/4: 28)
imageSungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (al-
Balad/90: 4)
n. Suka melampaui batas. Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan. (Yūnus/10: 12)
o. Cepat merasa puas dan berkecukupan, sebagaimana firman Allah subhānahū wa ta‘ālā:
imageApabila melihat dirinya serba cukup. (al-‘Alaq/96: 7)
Demikianlah dua kecenderungan dan potensi manusia ini —positif dan negatif—memang dinyatakan dalam al-Quran.
Namun sebagaimana di singgung di atas, ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu dengan lainnya,akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Di samping itu Al-Quran menunjukkan bahwa makhluk ini mempunyai potensi (kesediaan) untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat yang rendah sehingga ia tercela.35Hal tersebut karena kualitas jiwa manusia yang menjadi penggerak tingkah lakunya berbeda-beda. Maka di samping ada jiwa yang baik (nafs muthma’innah) yang dipanggil untuk kembali kepada Tuhan dengan rida-Nya, ada juga yang ditegur karena tidak bisa mempertahankan kesucian jiwanya (nafs ammārah bissū').
Dalam Surah al-Infithār Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
image(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya).Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (al-Infithār/82: 5-7)
Menurut al-Marāghi, kalimat فَعَدَلَكَ artinya membuat badanmu seimbang,36 sedangkan menurut Abdullah Yusuf Ali,kalimat tersebut artinya membuatmu berprasangka adil, adil sepanjang argumen rasional dan intiusi spiritual.37
Jadi pada dasarnya, meskipun manusia memiliki kebebasan memilih berbuat kebaikan atau keburukan, tetapi Allah memberikan kecenderungan kepada kebaikan dan keadilan.38Dalam salah satu firman-Nya, disebutkan bahwa manusia akan memperoleh ganjaran sesuai dengan perbuatannya:
imageDia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (al-Baqarah/2:286)
Menurut Ibnu Manzhūr, mengutip dari Ibnu Jinni, term kasabat menunjuk pada usaha yang dilakukan secara mudah,sedangkan term iktasabat menunjuk pada usaha yang dilakukan degan susah payah. 39 Jadi pada dasarnya, manusia diciptakan Tuhan untuk menjalankan kebaikan, yang kemudian diberi fasilitas dengan jiwa (nafs) yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan. Akan tetapi kemerdekaan manusia memungkinkan adanya manusia yang mengabaikan perbuatan baik dan terjerumus dalam keburukan, meskipun untuk itu ia harus bersusah payah melakukan (iktasabat), yakni harus memenangkan konflik batin, karena batin atau jwa manusia tidak mendukung perbuatan buruk itu. 40 Dengan demikian, ayat ini sebenarnya juga menegaskan apresiasi Al-Quran terhadap manusia, yakni memandang manusia sebagai makhluk yang mulia (positif)
sejak lahir.
Wallāhu a‘lam bish-Shawāb.
Catatan:
  1. M. Slamet Yahya, Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia, dalam: Insania, Vol. 12, No. 2, 2007, h. 164.
  2. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an, Bandung: Mizan, cet. III,Juni 1996, h. 277.
  3. Ibid., h. 278.
  4. Tentang keterbatasan akal manusia dalam memahami hakikat substansi manusia berupa roh, lihat: ar-Rāzi, Mafātihul-Ghaib, h. 10/116.
  5. Rully Nasrullah et. al., Manusia: Dari Mana dan Untuk Apa?,Sidoarjo: Mashun, 2008, h. 9 dst. Bandingkan: M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 278 - 280.
  6. Musa Asy‘ari, Manusia pembentuk Kebudayaan dalam Al-Quran,Yogyakarta: LESFI, 1992, h. 34.
  7. ar-Rāghib al-Ashfahāni, Mu‘jam Mufradāt li Alfāzhil-Qurān, h. 1/47.
  8. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 279.
  9. Ibnu Manzhūr, Lisānul-'Arab, h. 4/59.
  10. Lihat klasifikasi ayat yang disusun oleh M. Fu’ād Abdul- Bāqi,al-Mu'jam al-Mufahras li Alfāzhil-Qurān, entri: ba-sya-ra, kairo: Dārul-Hadits,1996, h. 147 – 148.
  11. Rully Nasrullah et al, Manusia: Dari Mana dan Untuk Apa?, h. 10 dst.
  12. M. A. ash-Shābūni, Shafwatut-Tafāsir, Beirut: Dārul-Fikr, tt., h.1/202-203.
  13. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurānil-‘Azhim, h. 5/219.
  14. Ibid, h. 14.
  15. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 279.Bandingkan:Sahabudin et al. (ed), Ensiklopedia Al-Quran: Kajian Kosakata, Jakarta:Lentera Hati, 2007, jilid 1, h. 138.
  16. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, entri: anasa, h. 6/10.
  17. Lihat: ath-Thabrāni, al-Mu‘jam ash-Shaghir, Man Ismuhū Muhammad, no.924, h. 3/64.
  18. Lihat: Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, entri: anasa, h. 6/10.
  19. al-Ashfahāni, al-Mufradāt fi Gharibil-Qurān, h. 1/28.
  20. ‘Abbās M. al-'Aqqād, al-Insān fil-Qurānil-Karim, Kairo: Dārul-Islām, 1973, h. 140.
  21. Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan, h. 20.
  22. Rully Nasrullah et. al, Manusia: Dari Mana dan Untuk Apa? h. 20– 21.
  23. Menurut al-Ashfahāni, Ibn berasal dari kata banawun, bentuk pluralnya abnā' dan bentuk tashghir-nya bunayya. Lihat lebih lanjut: ar-Rāghib al-Ashfahāni, al-Mufradāt fi Gharibil-Qurān, h. 1/62.
  24. Ayat tersebut adalah: al-A‘rāf: 16, 27, 31, 35, 172; al-Isrā': 70; dan Yāsin: 60. Lihat juga M. F. A. Bāqi, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāzhil
    Qurān, h. 168 – 169.
  25. Rully Nasrullah et. al., Manusia: Dari Mana dan Untuk Apa?, h. 25 dst.
  26. Ibid, h. 28.
  27. M. Slamet Yahya, Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia, dalam: Insania, Vol. 12, No. 2, 2007, h. 174.
  28. Menurut A. Mubarok, term yang digunakan Al-Qurān untuk menunjuk totalitas manusia-baik dalam kehidupannya di dunia maupun akhirat, jiwa dan raga, sisi dalam dan sisi luarnya-adalah term nafs. Lihat:Ahmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Quran: Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern, Jakarta: Paramadina, 2000, h. 46 – 49.
  29. Ibid, h. 5
  30. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 282.
  31. Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama: Membumikan Kitab Suci, Bandung: Mizan, cet, II, 2007, h. 129 dst.
  32. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 283.
  33. Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, h. 134.
  34. S. Waqar Husaini, Sistem Pembinaan Masyarakat Islam, terj. Anas Mahyudin, Bandung: Pustaka, 1983, h. 21 – 22.
  35. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 282.
  36. A. Mushthafā al-Marāghi, Tafsir al-Marāghi, Beirut: Dārul-Ihyā’ at-
    Turāts al-‘Arabiyah, 1985, h. 10/66.
  37. Abdullāh Yūsuf Ali, The Meaning of Glorious Quran, Beirut: Dārul-Kutub al-Lubnāni, t.t., h. 1701.
  38. Ahmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Quran, h. 58.
  39. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, h. 1/176. Ibnu Manzhūr menulis,
    قَالَ اِبْنُ جِنِّيْ قَوْلُهُ تعَالَى لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ) عَبَّرَ عَنِ الحَسَنَةِ بِكَسَبَتْ وَعَنِ الَّسيِّئَةِ
    بِاكْتَسَبَتْ لِأَنَّ مَعْنَى كَسَبَ دُوْنَ مَعْنَى اِكْتَسَبَ لِمَا فيْهِ مِنَ الزِّيَادَةِ وَذَلِكَ أَنَّ كَسْبَ الحَسَنَةِ
    بِالْإِضَافَةِ إِلى اكْتِسَابِ السَّيِّئَةِ أَمْرٌ يَسِيْرٌ ومُسْتَصْغَرٌ
  40. A. Mubarok, Jiwa dalam Al-Quran, h. 59.

Tidak ada komentar: