الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Keniscayaan Hari Akhir

A. Akhirat dan Hari Akhir
Al-Qur'an menyebut istilah   أَلْيَوْمُ الْأٰخِرُ  (al-yaum al-ākhir),hari akhir, sebanyak 26 kali dan menyebut istilah اَلْأٰخِرَةُ (al-ākhirah), akhirat, sebanyak 115 kali.1 Kedua istilah ini, al-ākhir dan al-ākhirah, secara kebahasaan, menurut ar-Rāgib al-Ashfahānī, mengandung arti akhir atau yang kemudian yang merupakan lawan dari perkataan awal. Istilah al-ākhir biasanya dihubungkan dengan istilah  يَوْمٌ (yaum) sehingga menjadi اَلْيَوْمُ
اْلأخِرُ
(al-yaum al-ākhir) yang berarti hari akhir atau hari Kiamat.
Sementara itu, istilah اَلْأٰخِرَةُ (al-ākhirah), akhirat sering dihubungkan dengan istilah dār yang berarti negeri atau kampung seperti dalam ungkapan ad-dār al-ākhirah, yang berarti negeri akhirat.
Dengan demikian, Hari Akhir atau Hari Kiamat merupakan tahapan yang harus dilewati menuju Negeri Akhirat. Ungkapan ad-dār al-ākhirah merupakan lawan dari ad-dār ad-dunyā.2
sebagaimana termaktub di dalam ayat Al-Qur'an yang berikut:
imageDan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya
mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 64)
Sementara itu, istilah ad-dār ad-dunyā secara bahasa berarti negeri yang dekat. Maksudnya, bahwa kehidupan dunia itu adalah kehidupan yang dekat, yakni kehidupan yang bersifat fisik, materi atau bersifat kebendaan sehingga membutuhkan tempat atau ruang. Karena bersifat fisik, materi dan kebendaan,maka kehidupan dunia oleh Al-Qur'an dinamakan asy-syahādah (yang nyata) sebagaimana disebutkan ayat Al-Qur'an yang berikut:
image(Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar, Mahatinggi. (ar-Ra‘d/13: 9)
Istilah asy-syahādah pada ayat ini, menurut Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, adalah yang dapat disaksikan atau dapat dilihat,3yakni kehidupan dunia yang bersifat kongkret sehingga dapat diindera oleh pancaindera dan dapat dilihat oleh mata. Apabila benda itu sangat kecil seperti proton atau netron, maka materi yang sangat kecil itu pun tetap membutuhkan tempat atau ruang dan dapat dilihat oleh mata, meskipun dengan bantuan
alat pembesar seperti mikroskop.
Dengan demikian, al-hayāh ad-dunyā ( أَلْحَيَاةُ الدُّنْيَا ), yakni kehidupan dunia adalah kehidupan yang berhubungan dengan kebutuhan biologis manusia untuk memertahankan kelangsungan hidup, sekaligus guna menopang ibadah dan mu‘amalah yang menjadi tanggung jawab sosial setiap manusia. Dalam AlQur'an, urusan dunia tersebut digambarkan sebagai مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (matā‘ul-hayātid-dunyā), kesenangan hidup di dunia, yang harus dijadikan modal guna meraih kesuksesan hidup di akhirat. Kesenangan hidup di dunia itu antara lain adalah kehidupan bersama keluarga dengan sandang, papan, pangan yang cukup, serta dilengkapi dengan alat transportasi yang baik seperti disebutkan ayat Al-Qur'an berikut:
imageDijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan,hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Āli ‘Imrān/3: 14)
Dalam kaitan itu, Al-Qur'an Surah al-‘Ankabūt/29 ayat 64 di atas menyebut kehidupan al-ākhirah dengan istilah أَلْحَيَوَانُ (al-hayawān), yakni kehidupan yang berkualitas. Istilah  أَلْحَيَوَانُ (al-hayawān) berasal dari kata حَيَاةٌ (hayāh) yang berarti hidup.
Penambahan akhiran alif dan nūn pada kata  حَيَاةٌ (hayāh) menunjukkan makna kesempurnaan. Dengan demikian, istilah  أَلْحَيَوَانُ (al-hayawān) pada ayat tersebut mengandung arti kehidupan yang sempurna.4 Kehidupan akhirat, menurut Al-Qur'an, adalah kehidupan yang sempurna atau kehidupan yang lebih berkualitas dibandingkan dengan kehidupan dunia. Allah menjelaskan maksud Surah al-‘Ankabūt/29 ayat 64 di atas dengan ayat Al-Qur'an berikut:
image
Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.
(ad-Duhā/93: 4)
Sejalan dengan penegasan Al-Qur'an bahwa kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sempurna, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam membandingkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat seperti setetes air dalam telunjuk dibandingkan dengan samudera yang luas. Beliau menegaskan hal itu dalam hadis berikut:
مَامَثَلُ الدُّنْيَا فِى الْأٰخِرَةِ إِلَّا مَثَلَ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْبِمَايَرْجِعْ  -روه إبن ماجه عن المستورد 
Tidaklah perumpamaan kehidupan dunia dengan akhirat kecuali seperti salah seorang kamu yang mecelupkan jemarinya ke dalam laut,maka lihatlah bagaimana kualitas air yang jatuh dari jemarinya itu?(Itulah kualitas kehidupan dunia). (Riwayat Ibnu Mājah dari al-Mustawrid)5
Informasi Al-Qur'an tentang kehidupan akhirat yang sempurna itu ditolak keras oleh sebagian besar manusia.
Manusia pada umumnya sulit untuk menerima dan meyakini kebenaran adanya akhirat, karena pola pikirnya sudah terbentuk dengan paradigma berpikir ad-dunyā (yang dekat), yang bersifat fisik, materi atau bersifat kebendaan. Kesadaran hidup yang bersifat materialistik tidak sanggup menembus batas-batas ruang dan waktu. Kesadaran para pendukung pola pikir materialistik hanya terpaku pada tataran empiris, yang terlihat, terasa dan terukur. Kebenaran, menurut mereka, adalah sesuatu yang bersifat empiris. Di luar dunia empiris adalah sebuah khayalan,imajinasi, dan dongeng. Akhirat, menurut para pendukung paham materialisme, adalah gambaran ketidakberdayaan orang-orang bodoh dalam mewujudkan kehidupan yang dicita-citakan,kemudian lari dan berilusi pada kehidupan khayalan yang memberikan rasa puas, lezat dan nikmat. Menurutnya,orang-orang yang meyakini akhirat adalah manusia yang mengejar imajinasi, melupakan dunia empiris yang faktual.
Akhirat di dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah alghaib (baca: gaib), sedangkan dunia disebut dengan asy-syahādah.
Kata asy-syahādah, menurut M. Quraish Shihab, berarti hadir atau dapat disaksikan, baik dengan mata kepala maupun mata hati. Jika demikian, yang tidak hadir adalah gaib. Sesuatu yang tidak dapat disaksikan juga gaib, bahkan sesuatu yang tidak terjangkau oleh pancaindera juga merupakan gaib, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya. Ada gaib mutlak yang tidak dapat terungkap sama sekali, hanya Allah yang mengetahuinya, dan ada pula gaib yang relatif. Kematian adalah gaib bagi seluruh yang hidup, tetapi tidak gaib bagi yang telah mengalaminya. Puncak dari segala yang gaib (ghā'ibul-ghuyūb) adalah Allah subhānahū wa ta‘ālā,sehingga manusia tidak dapat mengetahui hakikat Allah. Di dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan tentang diri-Nya sebagai berikut:
imageDia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti. (al-An‘ām/6: 103)
Hari Kiamat dan kehidupan akhirat termasuk almughayyabāt, persoalan gaib mutlak, tetapi berada di bawah peringkat kegaiban Allah subhānahū wa ta‘ālā. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hari Kiamat itu terjadi, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kehidupan di akhirat, termasuk kehidupan di alam kubur. Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengetahui kapan kiamat itu terjadi,dan beliau pun tidak mengetahui keadaan di akhirat, termasuk di alam kubur, kecuali sebatas yang diinformasikan Allah dalam Al-Qur'an; dan yang disingkapkan Allah kepada beliau melalui penyingkapan hijab. Ketika Malaikat Jibril datang dan berdialog dengan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang iman, Islam,ihsan, dan pertanyaan tentang kapan kiamat itu terjadi; tergambar betul ketidaktahuan beliau tentang kapan terjadinya kiamat tersebut sebagaimana tersurat dengan jelas pada hadis berikut:

حَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: مَا الْإِيْمَانُ؟ قَالَ:  ( الْإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ ) قَالَ: مَا الْإِسْلَامُ؟ قَالَ:( الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلَا تُشرِكَ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَكَاةَ المـَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ ) قَالَ: مَا الْإِحْسَانُ؟ قَالَ: ( أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ) قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: ( مَا المـَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا؛ إِذَا وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإبِلِ البَهْمُ فِي البُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ ) ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ) الآيَة، ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ: «رُدُّوهُ» فَلَمْ يَرَوْا شَيْئاً، فَقَالَ: «هَذَأ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ»
(أَخْرَجَهُ البُخَارِيّ
Hadīś riwayat Abū Hurairah , ia berkata; bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam pada suatu hari muncul bersama para sahabat, lalu datanglah orang asing yang kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menjawab: "Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, percaya akan bertemu dengan-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya, dan beriman kepada hari kebangkitan." Orang asing itu berkata: "Apakah Islam itu?" Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menjawab: "Islam adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan şalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramađan". itu berkata: "Apakah ihsān itu?" Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menjawab: "Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya dan andaipun kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu". Orang itu berkata lagi: "Kapan terjadinya hari kiamat?" Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menjawab: "Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya; yaitu jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah". Kemudian Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam membaca ayat: "Sesungguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat" (QS. Luqman: 34). Setelah itu orang asing tersebut pergi, kemudian Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam berkata; "Coba jemput kembali orang itu ke sini." Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda; "Dia adalah Malaikat Jibril yang datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka”. (Shahīh al-Bukhāri hadis no. 48)
Dengan demikian, hari Kiamat dan kehidupan akhirat itu adalah sesuatu yang gaib. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kiamat itu terjadi selain Allah. Dalam Al-Qur'an Allah subhānahū wa ta‘ālā menegaskan:
imageSungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa. (Thāhā/20: 15-16)
Dalam menafsirkan dua ayat Al-Qur'an di atas, Syekh ‘Abdur-Rahmān bin Nāshir as-Sa‘dī menyatakan: “Sungguh, hari Kiamat itu akan datang. Terjadinya hari Kiamat adalah suatu keniscayaan. Aku merahasiakan waktunya pada diri-Ku sendiri sebagaimana disebutkan pada ayat yang lain, ‘Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, ‘Kapan
terjadi?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.Mereka bertanya kepadamu sekan-akan engkau mengetahuinya.Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(al-A‘rāf/7: 187). “...dan di sisi-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (az-Zukhruf/43: 85).
Pengetahuan tentang hari Kiamat benar-benar disembunyikan dari seluruh makhluk sehingga para malaikat yang dekat dengan Allah saja tidak mengetahuinya, sebagaimana juga para nabi dan para rasul tidak mengetahuinya. Hikmah dibalik disembunyikannya hari Kiamat itu antara lain, “agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakannya,” (Thāhā/20: 15) berupa perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)” (an-Najm/53: 31).7Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengetahui kapan kiamat itu terjadi. Demikian juga kehidupan di akhirat bersifat gaib bagi manusia pada umumnya. Rasulullah tidak dapat melihat keadaan di alam kubur, kecuali jika Allah sesekali membukakan hijab yang menutupi pandangan manusia tentang alam gaib tersebut. Allah menegaskan: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan
Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku” (al-An‘ām/6: 50).
Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfūzh) (al-An‘am/6: 59).
Dunia dan akhirat bisa dibedakan, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan. Kehidupan dunia merupakan bagian kehidupan yang terlihat (asy-syahādah), sedangkan kehidupan akhirat merupakan bagian dari kehidupan yang tersembunyi (alghaib).
Keduanya merupakan satu kesatuan yang terpadu secara integral. Dunia dan akhirat merupakan dua sisi dari satu mata uang. Dunia bagian depan, akhirat bagian belakang. Dunia itu kehidupan kini, di sini, sedangkan akhirat itu kehidupan sesudah mati. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berada di balik kehidupan dunia yang dekat ini. Rasulullah shallallāhu
‘alaihi wa sallam melukiskan surga di akhirat dengan ungkapan:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ- رواه البخا ري عن أبي هريرة
Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang salih apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga dan tidak juga terlintas dalam pikiran manusia. (Riwayat al-Bukhārī dari Abū Hurairah)8B. Hidup dan Mati Menurut Al-Qur'an
Kematian dalam pengertian kedokteran adalah berhentinya semua fungsi vital tubuh yang permanen seperti jantung dan otak.9 Secara populer kematian dipahami sebagai ketiadaan hidup dan berlangsung hanya satu kali. Sementara itu, dalam pandangan Al-Qur'an, kematian tidak hanya terjadi sekali,tetapi dua kali. Surah Ghāfir/40: 11 menyatakan ucapan orang kafir di akhirat sebagai berikut:
imageMereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghāfir/40: 11)
Berdasarkan ayat ini, kematian oleh sebagian ulama didefinisikan sebagai ketiadaan hidup atau antonim dari hidup.
Kematian pertama dialami manusia sebelum kelahirannya atau saat sebelum Allah meniupkan roh kehidupan kepadanya.
Sedangkan kematian kedua, saat manusia meninggalkan dunia yang fana ini. Kehidupan pertama pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedangkan kehidupan kedua saat manusia berada di alam barzakh atau kelak ketika manusia hidup kekal di akhirat.10Kematian, menurut ar-Rāghib al-Ashfahānī, bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kehidupan. Pertama, kematian adalah ketiadaan daya yang menumbuhkan dan mengembangkan seperti yang terjadi pada tanaman. Kedua, kematian adalah ketiadaan daya fisik (al-quwwah al-hāssah). Ketiga, kematian adalah ketiadaan daya berpikir (al-quwwah al-‘āqilah), yakni ketidakmampuan berpikir atau bodoh. Keempat, kematian dipahami
sebagai kesedihan yang menghancurkan kehidupan. Kelima, kematian adalah tidur yang terbagi ke dalam dua bagian, tidur yang ringan dan tidur yang berat. Tidur yang berat adalah perpisahan roh dari tubuh.11Kematian dalam pengertian roh keluar dari tubuh bukanlah ketiadaan hidup semata-mata, akan tetapi roh itu bermigrasi dari tubuh ke barzakh. Roh manusia tetap hidup di barzakh sebagaimana disebutkan di dalam ayat Al-Qur'an yang berikut:
imageDan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Āli ‘Imrān/3:169-171)
Dalam menafsirkan ayat ini, M. Quraish Shihab menyatakan, “Hidup ditandai antara lain oleh gerak dan pengetahuan. Jangan menduga bahwa gerak mereka yang gugur di jalan Allah telah dicabut dan pengetahuan mereka telah tiada.
Mereka yang gugur di jalan Allah itu tetap bergerak, bahkan lebih leluasa dari gerak manusia di muka bumi ini. Mereka mengetahui lebih banyak dari apa yang diketahui oleh manusia yang beredar darah dan berdenyut jantungnya, karena di alam sana mereka melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena seperti yang diketahui oleh penduduk dunia. Sungguh mereka hidup, kehidupan yang tidak dapat dijelaskan hakikatnya,
karena kehidupan yang mereka alami tidak disadari atau dirasakan oleh selain mereka.”12Kematian itu bukan berarti kemusnahan seperti diyakini oleh orang-orang musyrik Mekah yang menantang Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sombong, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh ini?”13 Ketika orang-orang musyrik Mekah yang tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati itu tewas pada Perang Badar dan telah dikuburkan dalam satu perigi, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Wahai penghuni perigi, wahai ‘Utbah bin Rabī’ah, Syaibah bin Rabī‘ah,Ummayah bin Khalaf, wahai Abū Jahal bin Hisyām—seterusnya beliau menyebut nama-nama mereka yang dikuburkan di dalam perigi itu satu persatu—Wahai penghuni perigi,adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku”. “Wahai Rasulullah, mengapa Anda berbicara dengan orang yang telah tewas?” Tanya para sahabat. Rasulullah menjawab: “Kamu sekalian tidak lebih mendengar daripada mereka tentang apa-apa yang kukatakan, tetapi mereka tidak dapat menjawabku.”14
Banyak orang berpendapat bahwa hidup ini bersifat ironis, karena manusia sebenarnya tidak pernah meminta agar ia dilahirkan, tetapi begitu ia lahir, mencintai hidup dan kehidupannya,ia dihadapkan pada realitas yang sangat menyakitkan hatinya. Manusia dihadapkan pada kematiannya, dihadapkan pada batas akhir hidupnya, yang senang atau tidak senang harus dijalaninya, sebagaimana kelahirannya sendiri.15 Kematian memang sebuah misteri; tetapi kehidupan pun merupakan sebuah misteri. Mengapa kita hidup? Dan mengapa kemudian kita mati? Jawaban yang meyakinkan atas pertanyaan ini hanya dapat diperoleh dengan menerima dan meyakini kebenaran berita langit,yakni wahyu yang diterima oleh Rasulullah dari Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian. Menurut Al-Qur'an, Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk memberikan kesempatan kepada manusia tampil sebagai makhluk bermoral, yakni makhluk yang memiliki kemampuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia serta berjuang memerangike jahatan. Allah hendak menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amal perbuatannya.16
imageMahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (al-Mulk/67: 1-2)
Dengan begitu jelas, bahwa hidup mempunyai tujuan,dan wujud tujuan itu akan terlihat dalam kehidupan sesudah mati. Kematian walaupun secara lahiriah kelihatannya kepunahan,tetapi hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur ayam.
Anak ayam yang terkurung dalam telur tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila telur-telur itu menetas.
Demikian juga manusia tidak akan meraih kesempurnaan hidupnya kecuali dengan meninggalkan dunia ini. Kematian,menurut hadis qudsi, adalah pintu yang menghubungkan dunia dengan akhirat dan semua orang pasti melewatinya.17Kematian secara umum bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kematian merupakan sesuatu yang menakutkan,bahkan sangat mengerikan. Naluri manusia ingin hidup lebih lama di dunia, bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Al-Qur'an melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup seribu tahun lagi: 18
image
Masing-masing dari mereka, ingin diberi hidup seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. (al-Baqarah/2: 96)
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang takut menghadapi kematian. Di antaranya, tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari apa yang akan diperoleh setelah mati; membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati; memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggal; dan tidak mengetahui makna hidup dan mati. Secara garis besar, pada umumnya manusia merasa cemas dan takut menghadapi kematian.19Sementara itu, Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) menyatakan bahwa sesungguhnya ketakutan akan kematian hanya melekat pada orang yang tidak mengetahui hakikat kematian itu, atau tidak tahu ke mana tujuan dirinya sesudah mati.
Bisa saja orang itu menyangka bahwa setelah jasmaninya rusak,dirinya pun akan hilang pula. Kemungkinan lain, orang mengira bahwa alam ini akan terus lestari sedang dirinya musnah, karena ia tidak mengerti bahwa diri dan jiwa itu kekal, ia tidak mengerti bagaimana jiwa itu kembali ke hadirat Allah. Rasa takut kepada maut hanya menghinggapi orang yang menyangka bahwa kematian itu meyebabkan rasa sakit yang tak terperikan;atau pada orang yang merasa bahwa setelah mati akan menerima siksa, atau pada orang yang merasa sedih dan menyesal akan berpisah dengan harta atau kesenangan duniawinya.”20Pendapat Ibnu Miskawaih di atas bahwa ketakutan akan kematian hanya melekat pada orang yang tidak mengetahui hakikat kematian diperkuat oleh Julien Green, “Saya berpikir,janin dalam rahim ibunya, kiranya menikmati kehangatan dan barangkali ia bahagia. Mungkin dia mengira bahwa ruang kecil dan hangat itu adalah seluruh dunianya yang serba kecukupan.
Mengenai dunia yang kita kenal, apa yang bisa dibayangkan olehnya? Tak ada. Andaikata kita berhasil berkomunikasi dengan janin yang belum lahir itu, gagasan apa yang bisa kita berikan tentang apa itu sebuah buku atau rumah? Tak ada.
Nah, kita berada dalam situasi yang sama sehubungan dengan “dunia sebrang” (di balik kematian) yang menyelubungi kita,dan yang hanya tercapai setelah kita mati. Sesungguhnya kita juga berada dalam suatu rongga gelap di mana kita hidup senang; dan kita akan bisa lahir waktu kita mati. Pada kesempatan itulah kita akan menemukan suatu dunia yang tak terucapkan keindahannya.”21 Dalam pandangan Al-Qur'an,keindahan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata sesudah kematian itu hanya diberikan kepada mereka yang meyakini bahwa Tuhan kami Allah dan hidup dengan berorientasi ketuhanan sepanjang hayatnya secara konsisten.22
Dengan demikian, peristiwa kematian yang sering kita saksikan seharusnya menyadarkan kita tentang tugas hidup manusia, bahwa manusia itu bukan hanya makhluk jasmani yang hanya bertugas mengejar kepuasaan, kelezatan dan kenikmatan hidup duniawi semata-mata, akan tetapi manusia itu adalah makhluk rohani yang akan hidup setelah mati dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah di akhirat. Maka yang paling pokok itu bukan panjang atau pendeknya rentang hidup di antara kelahiran dan kematian,akan tetapi apakah kita telah menjalani hidup yang bermakna dan menemukan makna hidup untuk migrasi ke akhirat?
C. Perjalanan Manusia Menuju Akhirat
Dunia dan akhirat bisa dibedakan, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan. Dunia adalah kehidupan yang terlihat,sedangkan akhirat kehidupan yang tersembunyi. Keduanya merupakan satu kesatuan yang terpadu. Dunia dan akhirat merupakan dua sisi dari satu mata uang. Dunia bagian depan,akhirat bagian belakang. Dunia itu kehidupan kini, di sini;akhirat itu kehidupan sesudah mati. Kematian adalah pintu yang menghubungkan dunia dengan akhirat. Manusia tidak akan dapat menyeberang ke akhirat tanpa melewati pintu kematian. Setiap manusia pada hakikatnya berada dalam antrian menuju pintu kematian.23 Masalahnya, kita tidak mengetahui kapan kita melewati pintu kematian ini. Sebab yang dapat dipastikan adalah, bahwa kita akan mati, tetapi kapan kita mengalaminya merupakan rahasia Allah.24
Ajaran Islam menggambarkan tahapan-tahapan perjalanan yang harus dilewati jiwa manusia sejak kematian hingga ia berada di dalam surga atau di dalam neraka sebagai berikut:
Pertama, kematian yang merupakan perpisahan roh dari tubuh.
Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang jiwa manusia menuju akhirat yang berakhir di surga atau di neraka.
Kedua, setelah mengalami kematian jiwa manusia akan berada di alam barzakh. Alam barzakh adalah alam yang menjadi pemisah antara dunia dan akhirat yang juga disebut alam kubur. Selanjutnya jiwa manusia di alam barzakh akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan yang disebut dengan nikmat kubur atau berbagai ragam siksaan dan kenistaan yang disebut dengan azab kubur. Ketiga, manusia akan dibangkitkan dari alam kubur menuju kehidupan akhirat, yaitu menuju mahsyar, tempat pertemuan manusia sedunia sejak manusia pertama hingga manusia terakhir. Keempat, manusia akan menghadapi hisāb (evaluasi dan perhitungan amal), mīzān (timbangan amal), dan melewati shirāth (jembatan penghubung antara mahsyar dan surga). Kelima, setelah melewati hisāb dan mīzān manusia terbagi dua kelompok. Pertama, ash-hābul-yamīn,yakni kelompok kanan; kelompok inilah yang akan mendapat keselamatan, lalu mereka masuk ke dalam surga. Kedua,ash-hābusy-syimāl, kelompok kiri; kelompok inilah yang akan mengalami kecelakaan, kemudian mereka menuju ke dalam neraka.
Alur perjalanan hidup manusia, menurut Al-Qur'an,sejak proses reproduksi hingga kematian dan kebangkitan dari barzakh atau alam kubur adalah sebagai berikut: “Dan sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia (berasal) dari saripati tanah. Kemudian Kami jadikan saripati tanah itu nuthfah—sperma, mani—(yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian sperma itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk baru. Maka Mahasuci Allah Pencipta Yang Paling Indah. Kemudian sesudah itu sungguh benar-benar kamu pasti akan mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat” (al-Mu'minūn/23: 12-16).
Kematian diawali dengan kedatangan malaikat maut yang diserahi tugas oleh Allah untuk mencabut nyawa manusia.25 Malaikat maut dalam melaksanakan tugasnya mencabut nyawa manusia dengan dua cara, dengan cara yang lembut dan dengan cara yang kasar.26 Cara yang lembut, ketika malaikat maut mencabut roh manusia yang jiwanya tenteram karena kedekatannya dengan Allah. Saat kematian mereka tiba,
Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”27 Sementara itu, cara-cara yang kasar dilakukan malaikat maut ketika mencabut roh manusia yang tidak beriman. “Alangkah ngerinya sekiranya engkau melihat
pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul-maut, sedang para malaikat maut memukuli mereka dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”
Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan kepada Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”28 Al-Qur'an menjelaskan bagaimana tindakan kekerasan malaikat Maut ketika mencabut nyawa orang-orang kafir. “Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.”29Ketika malaikat Maut datang untuk mencabut nyawa dan memberitahukan bahwa saat kematian telah tiba, orang yang sedang menghadapi kematian ini terkejut, lalu pingsan tak sadarkan diri. Keadaan ini dinamakan sakratul-maut, yang secara harfiah berarti mabuk karena menghadapi kematian.30 Sakratulmaut tidak dapat dihindari, ia akan datang dengan pasti.31 Ketika sakratul-maut tiba, orang yang menghadapi kematian ini dapat melihat yang metafisik (al-ghaib), karena Allah membuka tutup yang selama ini menutupi penglihatan mata manusia terhadap yang ghaib.32 Keterbukaan hijab dan kemampuan melihat yang metafisik itu terjadi ketika roh sudah sampai di tenggorokan.33
Saat itu ia melihat kilas balik amal perbuatannya, keadaan di barzakh, dan dirinya akan bergabung dengan siapa. Bagi orangorang yang beriman dan beramal saleh serta senantiasa mensucikan jiwanya dari berbagai penyakit hati, Allah berfirman kepadanya: “Maka masuklah kamu ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku.”34Menurut Al-Qur'an, ketika orang-orang berkeyakinan bahwa Tuhan kami Allah dan menghayati keyakinan itu dengan pola hidup yang berorientasi ketuhanan (rabbāniyyūn) secara konsisten sepanjang hayatnya sampai mengalami sakratul-maut,malaikat turun berbondong-bondong menghampirinya, sambil mengatakan kalimat berikut: (1) Janganlah kamu merasa takut menghadapi malaikat Maut dan kematian ini; (2) Janganlah kamu bersedih hati, karena akan berpisah dengan kehidupan dunia yang kamu cintai ini; (3) bergembiralah karena memperoleh surga yang dijanjikan untuk kamu; (4) Kami, para malaikat ini, adalah sahabat-sahabat kalian dalam kehidupan di dunia dan akhirat; dan (5) kamu memeroleh apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian minta.35 Para malaikat yang turun berbondong-bondong mendatangi orang saleh yang sedang menghadapi kematian ini membentuk dua posisi. Ada malaikat yang mengiringi kepergian roh orang saleh itu dan mengantarkannya hingga tempat terhormat yang ditentukan Allah dan ada pula para malaikat yang berdiri menyaksikan roh orang saleh itu sepanjang perjalanan.36D. Kebangkitan dari Alam Kubur
Kiamat atau kebangkitan manusia dari alam kubur itu bukanlah sebuah ilusi, tetapi sebuah kepastian. Al-Qur'an menjelaskan,“Dan sungguh hari Kiamat pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang berada di dalam kubur.”37 Kebangkitan dari alam kubur itu bukanlah peristiwa yang sulit bagi Allah. Al-Qur'an melukiskan peristiwa kebangkitan ini sebagai berikut: Lalu ditiuplah sangkakala,maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya. Mereka berkata,“Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul-Nya. Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab). Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.38Kebangkitan dari alam kubur itu mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam dada.39 Maksudnya, di dunia kejahatan dan kebaikan sering membingungkan, karena manusia sering berada di persimpangan jalan di antara keduanya. Keadaan manusia di mahsyar, tempat berkumpul manusia sedunia, menggambarkan jati diri manusia yang sebenarnya. Orang-orang yang beriman dan bertakwa akan tampil di mahsyar seperti kafilah yang terhormat.40 Sementara itu, Al-Qur'an menggambarkan keadaan orang-orang yang berdosa di mahsyar sebagai berikut: pada hari Kiamat sangkakala ditiup dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan wajah biru muram. Mereka saling berbisik satu sama lain, “Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh hari41untuk mengejar kenikmatan,kepuasan dan kelezatan biologis; sedangkan di sini kita harus menanggung akibatnya, menderita selama-lamanya.”
Mahsyar adalah tempat rata, tidak ada tempat yang rendah dan tidak ada tempat yang tinggi. Mahsyar merupakan tempat perjumpaam penduduk bumi sejak manusia pertama hingga manusia terakhir. Keberadaan manusia di mahsyar terbagi ke dalam dua keadaan, yang terhormat dan yang hina;yang bahagia dan yang menderita. Al-Qur'an melukiskan mahsyar sebagai berikut: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah,“Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gununggunung) itu rata sama sekali, (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.
Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (malaikat) tanpa berbelok-belok (membantah); dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafaat (pertolongan), kecuali dari orang-orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Dia ridai perkataannya.Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang ada di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.Dan semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Hidup dan Yang Berdiri Sendiri. Sungguh rugi orang-orang yang melakukan kezaliman.42Di mahsyar seluruh umat manusia menunggu kepastian tentang nasibnya, apakah akan menjadi penghuni surga atau penghuni neraka. Mereka menunggu hisāb dan mīzān. Al-Qur'an melukiskan keadaan manusia di mahsyar sebagai berikut: Dan sangkakala ditiup, maka matilah semua makhluk yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu), maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). Dan bumi (padang mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (catatan amal perbuatan manusia) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan kepada setiap jiwa diberikan balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan Dia (Allah) Maha mengetahui apa yang telah mereka kerjakan.43E. Proses hisāb di Mahsyar
Salah satu yang ditunggu manusia di mahsyar adalah hisāb. Secara kebahasaan istilah hisāb berarti hitungan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan angka.44 Sementara itu, menurut ar-Rāghib al-Ahsfahānī, di dalam bahasa Al-Qur'an istilah bi ghair hisāb, yang secara harfiah berarti tanpa hitungan,memiliki delapan pengertian: (1) memberikan sesuatu kepada seseorang lebih banyak dari yang berhak diterimanya; (2)memberikan sesuatu kepada seseorang, sementara yang berhak tidak mengambilnya; (3) Allah memberikan hadiah (pemberian)kepada seseorang yang manusia tidak akan pernah sanggup menghitungnya; (4) memberikan suatu pemberian yang dengan pemberian itu seseorang tidak merasakan kesempitan; (5)memberikan sesuatu yang lebih banyak dari yang diperkirakan oleh penerimanya; (6) memberikan sesuatu berdasarkan apa yang diketahui penerimanya sebagai kebaikan bagi dirinya; (7)Allah memberikan sesuatu kepada orang beriman tanpa menghitung atau mengevaluasi terlebih dahulu kualitas amal perbuatannya; dan (8) Allah memperlakukan orang-orang beriman pada hari Kiamat tidak berdasarkan hak mereka atas perlakuan tersebut, tetapi lebih banyak berdasarkan kebaikan Allah kepada mereka.45Hisāb di akhirat yang berarti evaluasi akhir tentang perbuatan manusia didasarkan atas data yang obyektif, valid,dan akurat. Keobyektifan, validitas dan keakuratan data tentang perbuatan manusia merupakan hasil dari sebuah sistem dokumentasi yang juga obyektif, valid, dan akurat. Pertama,data tentang perbuatan manusia diketahui oleh Allah dan tersimpan dalam pengetahuan Allah. Al-Qur'an menegaskan:
“Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,”.46 Kedua, data tentang perbuatan manusia tersimpan dalam sebuah dokumen yang ada pada diri manusia itu sendiri. Al-Qur'an menjelaskan:“Dan kepada setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami akan mengeluarkan data itu baginya dalam sebuah kitab(catatan yang dapat diakses secara) terbuka. Bacalah kitab (catatan)mu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”47 Ketiga, perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk tersimpan dengan akurat pada catatan Malaikat Raqīb dan ‘Atīd. Al-Qur'an menyebutkan: “Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan sebuah perkataan kecuali bersamanya dua orang malaikat, Raqīb dan ‘Atīd, (yang
mencatatnya dengan cermat).”48 Dua malaikat ini bukan hanya mengawasi dan memerhatikan gerak-gerik tingkah laku manusia, tetapi juga menjaganya dengan teliti. “Dan sesungguhnya atas dirimu benar-benar ada malaikat yang menjaga,yaitu malaikat mulia yang mencatat perbuatanmu. Mereka mengetahui semua yang kamu kerjakan.”49
Proses hisāb atas perbuatan manusia di akhirat bukanlah proses yang sulit, tetapi berjalan dengan mudah, modern dan praktis. Data tentang perbuatan manusia itu akan ditampilkan dalam bentuk tulisan pada layar monitor yang bisa diakses secara terbuka. Jika ia menerima layar monitor itu dari sebelah kanan, maka proses hisāb itu akan berjalan dengan mudah. Ia akan melewati hisāban yasīran, proses perhitungan amal yang ringan dan segera akan bergabung dengan keluarganya yang sama-sama beriman dengan gembira.50Sebaliknya, jika layar monitor itu diberikan dari sebelah belakang, ia akan melewati hisāban syadīdan, proses perhitungan amal yang berat. Ia akan berteriak: “Celakalah aku!”. Ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).51 Pada waktu melewati proses hisāb ini, seseorang tidak bisa beralibi untuk tidak mengakui data tentang perbuatannya, sebab Allah menciptakan saksi independen yang akan berbicara obyektif di hadapan Allah. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.52F. Surga dan Neraka
Setelah melewati proses hisāb, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, ash-hābul-yamīn, yakni kelompok kanan.
Kelompok inilah yang akan mendapat keselamatan, lalu mereka masuk ke dalam surga.53 Kedua, ash-hābusy-syimāl, kelompok kiri.
Kelompok inilah yang akan mengalami kecelakaan, kemudian mereka menuju ke dalam neraka.54
Al-Qur'an menggambarkan suasana ketika ash-hābusy-syimāl digiring ke dalam neraka sebagai berikut: Orang-orang kafir digiring ke dalam neraka Jahanam secara berombongan;hingga apabila mereka sampai ke dalam neraka, pintu-pintunya dibukakan dan penjaganya berkata kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan (dengan) harimu ini?” Mereka menjawab,“Benar ada,” tetapi ketetapan azab pasti akan berlaku terhadap orang-orang kafir. Dikatakan (kepada mereka),Masukilah pintu-pintu Jahannam itu, (kamu) kekal di dalamnya.”Maka (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri.55Sementara itu Al-Qur'an pun menggambarkan suasana ketika ash-hābul-yamīn diantar para malaikat ke dalam surga sebagai berikut: Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Ketika mereka sampai di depan surga, pintu-pintunya telah dibukakan,penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan
dilimpahkan kepada anda, berbahagialah anda! Maka masuklah,anda kekal di dalamnya.” Dan para calon penghuni surga pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami,sedang kami diperkenankan menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.56
G. Meyakini Akhirat Landasan Etika dan Moralitas Hidup Seorang Muslim
Meyakini adanya akhirat itu merupakan bagian dari rukun iman yang enam. Namun, secara aksiologi kita mungkin bertanya, apa manfaat meyakini adanya akhirat itu bagi kehidupan manusia kini, di sini, di dunia ini? Apakah meyakini akhirat itu ada pengaruhnya terhadap pola hidup orang-orang beriman? Mengetahui, memahami dan mengerti secara mendalam pertanyaan aksiologis tentang hakikat meyakini akhirat merupakan landasan fundamental yang akan menopang dan menumbuhkan kemantapan beragama yang kokoh dan kuat. Allah berpesan kepada Nabi Yahya:
image
Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. (Maryam/19: 12)
Keyakinan terhadap akhirat selain memantapkan beragama,juga akan menguatkan landasan etika dan moralitas seorang muslim dalam menjalani kehidupan ini. Berikut ini adalah landasan etika dan moralitas hidup seorang muslim yang bersumber dari keyakinannya terhadap akhirat:
Pertama, meyakini akhirat meneguhkan tujuan hidup seorang muslim meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan beriman kepada akhirat, tujuan hidup seorang muslim tidak hanya untuk meraih kebahagiaan duniawi yang bersifat kebendaan (yang bersifat materi) guna memenuhi kepuasan, kelezatan dan kenikmatan fisik-biologis seperti makan, minum, tidur dan hubungan seksual sehingga memengaruhi cita rasa, kecenderungan dan penilaian tentang baik dan buruk seperti paham kaum hedonisme yang meyakini bahwa semua perbuatan manusia itu baik, selama perbuatan itu mendatangkan kepuasan,kelezatan dan kenikmatan biologis, termasuk kepuasan, kelezatan dan kenikmatan seksual bagi pelakunya; tetapi juga untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Seorang muslim memiliki pola hidup yang seimbang di antara kepentingan untuk memenuhi kepuasan, kelezatan dan kenikmatan hidup duniawi dengan usaha-usaha untuk meraih kepuasan, kelezatan dan kenikmatan hidup di akhirat dengan berpegang kepada empat prinsip etika dan moralitas Al-Qur'an tentang hidup bermakna sebagai berikut: (1) menggunakan semua yang diberikan Allah kepada manusia untuk kepentingan hidup di akhirat; (2) tidak melupakan sedikit pun akses dan tanggung jawab terhadap kehidupan dunia; (3) mengisi hidup dengan berbuat baik kepada seluruh umat manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada seluruh umat manusia; dan (4)menghindari sekecil apa pun juga tindakan fasād, yakni tindakan merusak lingkungan hidup, mengganggu ekosistem, berbuat zalim kepada sesama manusia, melanggar hukum dan melakukan kejahatan kemanusiaan seperti korupsi untuk memperkaya diri sendiri; karena meyakini bahwa Allah tidak menyukai manusia yang berbuat fasād di muka bumi (al-Qashash/28: 77).
Kedua, beriman kepada akhirat menjadi sumber inspirasi guna melahirkan etos beramal saleh dengan sebaik-baiknya.
Mengingat hidup di dunia ini sangat singkat dan terbatas, maka kesempatan, waktu, tenaga, pikiran dan peluang yang terbatas ini harus bisa dijadikan modal dengan sebaik-baiknya untuk meraih kepuasan, kelezatan dan kenikmatan hidup di akhirat.
Keterbatasan hidup manusia di dunia dilukiskan oleh Al-Qur'an dalam perkembangan atau fase-fase hidup sebagai berikut:
imageWahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (al-hajj/22: 5)
Pada ayat Al-Qur'an di atas, secara tersirat Allah mengajak manusia agar memanfaatkan hidup yang terbatas,sebelum mati dalam usia muda atau sebelum menjadi pikun karena usia lanjut, untuk beramal dan berkarya guna meraih makna hidup dan hidup yang bermakna bagi diri kita di akhirat.
Keyakinan kepada akhirat selain melahirkan tujuan hidup yang seimbang antara orientasi dunia dan akhirat dalam perpaduan yang simponi, juga bertujuan mengikis habis hingga ke akar-akarnya gaya hidup yang malas, membuang-buang waktu dan kesempatan untuk berkarya, dan menunda-nunda agenda untuk berbuat kebaikan kepada sesama hingga kematian datang dalam usia muda atau hingga hidup menjadi tua renta dan lemah sehingga tidak sanggup lagi berkarya bagi orang banyak. Allah mengingatkan kaum beriman:
imageBelum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (al-Hadīd/57:16)
Al-Qur'an pun mengajak manusia untuk segera berinfak, memanfaatkan harta kekayaan yang diberikan Allah untuk beramal saleh, membantu kaum duafa, agar tidak menyesal setelah kematian tiba.
imageDan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (al-Munāfiqūn/63:10)
Ketiga, keyakinan terhadap akhirat merupakan generator yang senantiasa membangkitkan kekuatan moral dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Keyakinan tentang kebangkitan, pertanggungjawaban perbuatan manusia di hadapan Allah, serta balasan tentang kebaikan dan keburukan secara obyektif di akhirat adalah sumber mata air yang memancarkan kesegaran dan ketegaran dalam perjuangan dan mewujudkan kebenaran, keadilan, kebaikan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab dalam sistem hukum di dunia, para pejuang keadilan tidak dapat menegakkan kebenaran dengan seadil-adilnya.
Akibatnya, yang benar tidak mendapatkan keadilan dari sikapnya yang benar, dan yang berbuat salah tidak mendapat kan hukuman yang sebanding dengan kesalahannya sesuai dengan rasa keadilan.
Manusia yang imannya kepada akhirat lemah, ragu atau skeptis bisa saja frustasi, kecewa dan putus asa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran, bahkan bisa saja surut dari perjuangannya dan larut dalam sikap pragmatis. Seorang yang beriman kepada akhirat dengan keyakinan yang mantap tidak akan mengubah kepribadiannya. Ia akan tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan, sekalipun mengalami kendala di dunia, sebab iman kepada akhirat itu adalah harapan terakhir untuk merasakan keadilan, karena Allah bersifat obyektif dengan sistem peradilan yang obyektif pula. Penetapan hukuman Allah kepada seorang manusia berdasarkan fakta-fakta yang obyektif dan dukungan saksi-saksi yang obyektif. Fakta-fakta itu berdasarkan rekaman perbuatan manusia yang akurat dan saksi-saksi yang obyektif,yakni para malaikat yang tidak pernah menolak apa pun yang diperintahkan Allah kepada mereka; dan mereka pun (para malaikat itu) tidak dapat disogok dengan harta benda apa pun,
karena mereka tidak berkepentingan sedikit pun dengan harta benda yang menjadi kebutuhan hidup manusia di dunia.
Allah melukiskan akhirat sebagai saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenaran dan kejujurannya:
imageAllah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (al-Mā'idah/5: 119)
Dalam Al-Qur'an dan Tafsirnya terbitan Departemen Agama RI disebutkan bahwa dalam ayat ini, Allah menjelaskan pada hari Kiamat orang yang kokoh tauhidnya akan memperoleh manfaat dari kebenaran iman mereka dan dari kejujuran perbuatan mereka. Manfaat yang mereka peroleh itu ialah:
Pertama, kenikmatan surga, kenikmatan yang banyak memberi kepuasan jasmaniah. Kedua, kenikmatan rida Allah, kenikmatan yang memberikan ketenteraman dan kepuasan rohani. Segala perbuatan mereka diterima Allah sebagai ibadah dan Allah memberikan anugerah dan keridaan kepada mereka. Mereka merasa bahagia memperoleh keridaan Allah. Tidak ada kenikmatan yang lebih besar dibandingkan dengan penghargaan dari Allah. Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada Allah. Inilah puncak kebahagiaan abadi dalam diri manusia. 57Keempat, sistem sosial dalam Islam dibangun di atas prinsip persamaan (egalitarianisme), keadilan dan kemanusiaan.
Ajaran tentang persamaan tercermin di dalam khutbah wadā‘(pidato perpisahan) yang disampaikan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam di Arafah pada tahun ke-10 Hijrah, antara lain sebagai berikut:
يَآ أَيهُّا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى. (رواه أحمد عن أبي نضرة

Wahai umat manusia, sesungguhnya Tuhan kamu satu. Bapak kamu satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa-bangsa yang bukan Arab, tidak ada kelebihan bangsa yang berkulit merah atas bangsa yang berkulit hitam dan tidak pula bangsa yang berkulit hitam atas bangsa yang berkulit merah kecuali karena ketakwaan. (Riwayat Ahmad dari Abū Nadhrah)58Prinsip persamaan yang menjadi tema pokok pidato perpisahan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam di Arafah pada tahun ke-10 Hijrah itu merupakan jantung ajaran Al-Qur'an tentang sistem sosial dalam Islam. Al-Qur'an menyatakan:
imageWahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih
baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujurāt/49: 11)
imageWahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurāt/49: 13)
Al-Qur'an pun sangat menekankan agar kaum beriman menegakkan keadilan dan menjadi pejuang keadilan yang gigih dan militan. Al-Qur'an menyatakan:
imageWahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (al-Mā'idah/5: 8)
Dalam sejarah sosial umat manusia, mewujudkan nilai persamaan dan menegakkan keadilan merupakan sebuah perjuangan yang sangat berat, bahkan nyaris tidak dapat diwujudkan.
Manusia yang menyaksikan dan merasakan beratnya memperjuangkan persamaan dan keadilan boleh jadi putus asa dan tidak sedikit yang menyerah kepada keadaan. Hanya manusia yang memiliki integritas moral yang mantap dan memiliki kepribadian yang kuat yang terus berjuang mewujudkan persamaan dan keadilan dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Meyakini akhirat merupakan sumber kekuatan moral yang terus menerus membangkitkan etos untuk memperjuangkan persamaan dan keadilan dalam kehidupan pribadi dan sosial. Perjuangan ini tidak sia-sia. Jika dalam kehidupan di dunia menegakkan keadilan dan persamaan seakan-akan seperti menegakkan benang basah, maka di akhirat Allah menjamin tegaknya persamaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia,termasuk bagi mereka yang tidak merasakan persamaan dan diperlakukan tidak adil di dunia karena status sosial yang rendah. Al-Qur'an menegaskan bahwa akhirat itu merendahkan derajat orang-orang yang di dunia tinggi karena kekuasaan dan status sosialnya dan meninggikan derajat orang-orang yang
rendah karena ketidakberdayaan dan status sosialnya yang rendah.59 Tinggi rendahnya derajat seseorang di akhirat di hadapan Allah bukan karena kekuasaan dan status sosialnya di dunia,tetapi karena kualitas iman dan kesalehannya.60Kelima, ajaran Islam sangat menekankan prinsip kebebasan memilih agar manusia bertindak atas dasar kesadaran,bukan karena paksaan dan tekanan dari siapa pun. Namun,prinsip kebebasan dalam Islam diimbangi dengan prinsip pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan yang diambil dalam hidup ini. Puncak dari kebebasan dalam Islam tercermin dalam kebebasan untuk memilih di antara dua pilihan, beriman kepada Allah atau kufur kepada-Nya sebagaimana tersurat pada ayat Al-Qur'an berikut:
imageDan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman,dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (al-Kahf/18:29).
Memilih beriman merupakan pilihan yang diridai Allah,sedangkan memilih kufur merupakan pilihan yang dimurkai Allah. Kebebasan memilih, dalam pandangan Islam, berujung pada prinsip pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur'an menyatakan:
imageKemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu dari semua kenikmatan (yang megah di dunia itu). (at-Takātsur/102: 8)
Pertanggungjawaban dalam sistem kehidupan di dunia tidak terjamin tingkat obyektivitasnya. Bisa saja sistem pertanggungjawaban di dunia merupakan sebuah sandiwara, penuh rekayasa, dan bersifat formalitas yang lebih mengutamakan prosedur dibandingkan dengan substansi pertanggungjawaban.
Sementara itu, pertanggungjawaban di akhirat merupakan pertanggungjawaban yang dijamin tingkat obyektivitasnya secara mutlak, karena didukung oleh data-data perbuatan manusia yang akurat seperti catatan dua malaikat yang cermat,61 rekaman perbuatan manusia pada diri setiap individu,62 dan saksi independen berupa tangan dan kaki yang akan bersaksi di hadapan Allah tentang perbuatan manusia63 sehingga tidak seorang pun dapat menghindar dari pertanggungjawaban ini sebagaimana yang terjadi di dunia. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah secara individual. Al-Qur'an menyatakan:
imageSetiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab.Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian
kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan. (al-An‘ām/6: 164)
Terakhir, dalam buku ini dikupas tuntas rahasia,makna dan nilai-nilai edukasi di balik istilah-istilah yang digunakan Al-Qur'an dalam menggambarkan hari akhirat,seperti: yaumul-ākhir, yaumud-dīn, yaumul-qiyāmah, yaumul-hisāb,yaumul-mahsyar, yaumut-talāq, yaumut-tanād, yaumul-mī‘ād, yaumulfashl, dan lain sebagainya. Pemahaman terhadap istilah-istilah ini merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim. Sebab hanya dengan tingkat kognitif yang luas dan mendalam tentang istilah-istilah yang disebutkan Al-Qur'an tentang hari akhirat,keyakinan tentang keniscayaan hari akhir itu akan mengakar pada jiwa seorang muslim. Keraguan atau skeptis terhadap akhirat mungkin saja pernah dialami oleh salah seorang di antara kita, tetapi keadaan itu segera akan lenyap dengan
membaca dan memahami pesan Al-Qur'an secara dialogis,yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ketika kita membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an melalui para mufasirnya akan menjawab keraguan kita tentang hari akhir. Kita bertanya, Al-Qur'an menjawab.
Pada bagian lain tulisan ini, para pembaca diajak untuk memerhatikan bahwa manusia secara bertahap migrasi dari dunia yang kita tempati ini ke alam kubur melalui pintu kematian yang diawali dengan uraian tentang hakikat sakratulmaut,mabuk atau ketidaksadaran menjelang kematian.64 Keberadaan manusia di alam kubur yang juga disebut alam barzakh,alam pemisah di antara dunia dan akhirat, hanya bersifat transisi. Perjalanan manusia menuju Allah akan melewati proses kebangkitan dari alam kubur menuju mahsyar. Kematian seluruh makhluk hidup di langit dan di bumi, serta kehancuran tatanan kehidupan dunia, yang segera diikuti dengan kebangkitan manusia dari alam kubur menuju mahsyar dinamakan Al-Qur'an dengan istilah kiamat. Peristiwa ini, menurut Al-Qur'an, terjadi setelah sangkakala ditiup dua kali dalam ukuran detik. Tiupan pertama untuk mematikan seluruh makhluk hidup kecuali yang dikehendaki Allah kelangsungan hidupnya; sedangkan tiupan kedua untuk membangkitkan manusia dari alam kubur menuju mahsyar.65
Menurut Al-Qur'an, sebagaimana akan dibahas pada bab tersendiri, mahsyar bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga tempat manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di dunia di hadapan Allah. Melalui evaluasi (hisāb) dan timbangan amal (mīzān) prinsip keadilan dan persamaan manusia di hadapan Allah ditegakkan, lalu manusia diberi keputusan di antara dua, celaka (syaqāwah) atau bahagia (sa‘ādah) tanpa ada kezaliman sedikit pun.66 Saat itu manusia sangat membutuhkan pertolongan (syafā‘ah), namun pemegang otoritas mutlak tentang syafā‘ah pada hari Kiamat berada sepenuhnya di tangan Allah67 dan di tangan orang-orang yang mendapat lisensi (izin) dari Allah,68 terutama pada diri Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Syafā‘ah pada intinya adalah doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk keselamatan kaum beriman dari neraka yang pada salah satu bab buku ini akan dijelaskan bentuk-bentuk siksaannya dari perspektif Al-Qur'an. Sementara itu, Al-Qur'an membimbing umat manusia supaya terbebaskan dari azab neraka,69sekaligus mendapat surga yang merupakan manifestasi dari keridaan Allah yang besar dan kemenangan agung yang diperuntukkan bagi kaum beriman.70
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Muhammad Fu'ād ‘Abdul Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāzhil-Qur'ān al-Karīm, cet. ke-4, (Beirut: Dārul-Fikr, 1414 H/1994 M), h.27-28.
  2. ar-Rāghib al-Ashfahānī, al-Mufradāt fī Gharībil-Qur'ān, (Beirut: Dārul-
    Fikr, t.t.), h. 9.
  3. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid 2, (Jakarta:Dārul-Kutub al-Islāmiyyah, t.t.), h. 76.
  4. Muhammad Quraish Shihab, Volume 10, cet. ke-XI, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007),
    h. 539-540.
  5. Ibnu Mājah dalam Sunan Ibnu Mājah, hadis nomor 4108.
  6. Imam al-Bukhārī dalam Shahīhul-Bukhārī, hadis nomor 4499.
  7. ‘Abdurrahmān bin Nashir as-Sa‘dī, Taisīrul-Karīm ar-Rahmān fi Tafsīr Kalam al-Mannān, (Kairo: Dārul-Hadīts, 2002), h. 542.
  8. Hadis Riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, Juz IV, h. 1794.
  9. Kamus Kedokteran Dorland, Jilid 29, cet. ke-1, (Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC, 2002), h. 567.
  10. M. Quraish Shihab, “Makna Kematian” dalam (ed), Muhammad Wahyuni Nafis, Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam, (Jakarta:Paramadina,1996), h. 221.
  11. ar-Rāghib al-Ashfahānī, al-Mufradāt fī Gharībil-Qur'ān, (Beirut: Dārul-
    Fikr, t.t.), h. 497.
  12. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, cet. ke-1, (Jakarta: Lentera Hati, 1421/2000), vol 2, h. 261-262.
  13. Yāsīn/36: 78.
  14. Muhammad Husain Haikal, Hayātu Muhammad, (Kairo: Dārul-‘Ilmi, t.t.), h. 259.
  15. Ahmad Charris Zubair, Pengantar Refleksi tentang Kematian dalam Louis Leahy, S.J., Misteri Kematian Suatu Pendekatan Filosofis, (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, 1998), h. ix.
  16. Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, 2007, Jilid 10, h.225.
  17. ألْمَوْتُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسُ دَاخِلُهُ (Kematian itu adalah pintu dan semua manusia akan masuk ke dalamnya). Lihat: Asep Usman Ismail, Makna Kematian Menurut Al-Qur'an, (makalah tidak dipublikasikan), 1997, h. 4.
  18. M. Quraish Shihab, Makna Kematian, h. 222.
  19. M. Quraish Shihab, ibid.
  20. Ahmad Charris Zubair, Pengantar Refleksi tentang Kematian dalam Louis Leahy, S.J., Misteri Kematian Suatu Pendekatan Filosofis, (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, 1998), h. xiii.
  21. Louis Leahy, S.J., Misteri Kematian Suatu Pendekatan Filosofis,(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1998), h. xvii.
  22. Fushshilat/41: 30-32.
  23. Āli ‘Imrān/3: 185, Surah al-Anbiyā'/21: 35, dan Surah al-‘Ankabūt/29: 57.
  24. Āli ‘Imrān/3: 145 dan Surah Luqmān/31: 34.
  25. as-Sajdah/32: 11.
  26. an-Nāzi‘āt/79: 1-2.
  27. al-Fajr/89: 27-30.
  28. al-An‘ām/6: 93.
  29. al-Anfāl/8: 50.
  30. ar-Rāghib al-Ashfahānī, Mu‘jam Mufradāt Alfāzhil-Qur'ān, (Beirut:Dārul-Fikr, t.t.), h. 242.
  31. Qāf/50: 19.
  32. Qāf/50: 22.
  33. al-Wāqi‘ah/56: 83-84.
  34. al-Fajr/89: 29.
  35. Fushshilat/41: 30-32.
  36. Qāf/50: 21.
  37. al-Hajj/22: 7.
  38. Yāsīn/36: 51-54.
  39. al-‘Adiyāt/100: 9-10.
  40. Maryam/19: 85.
  41. Thāhā/20: 102-103.
  42. Thāhā/20: 105-111.
  43. az-Zumar/39: 68-70.
  44. ar-Rāghib al-Ashfahānī, Mu‘jam Mufradāt Alfāzhil-Qur'ān, (Beirut:
    Dārul-Fikr, t.t.), h. 115.
  45. ar-Ragib al-Ashfahānī, Mu‘jam Mufradāt Alfāzhil-Qur'ān, (Beirut:
    Darul-Fikr, t.t.), h. 115-116.
  46. al-Baqarah/2: 234.
  47. al-Isrā'/17: 13-14.
  48. Qāf/50: 18.
  49. al-Muthaffifīn/83: 10-12.
  50. al-Insyiqāq/84: 8-9.
  51. al-Insyiqāq/84: 10-12.
  52. Yāsīn/36: 65.
  53. al-Wāqi‘ah/56: 27-40.
  54. al-Wāqi‘ah/56: 41-56.
  55. az-Zumar/39: 71-72.
  56. az-Zumar/39: 73-74.
  57. Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, 2007, Jilid 3, h. 62.
  58. Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 38, h.474. Dikutip oleh Ahmad Yazid dan Bayuni Ahmad, Wejangan dan Khutbah
    Nabi Saw, (Surabaya: Bina Ilmu, 1981), h. 353-354.
  59. al-Wāqi‘ah/56: 3.
  60. az-Zalzalah/99: 6-8.
  61. Qāf/50: 18.
  62. al-Isrā'/17: 13-14.
  63. Yāsīn/36: 65.
  64. Qāf/50: 19.
  65. az-Zumar/39: 68
  66. az-Zumar/39: 69.
  67. al-Baqarah/2: 255.
  68. Thāhā/20: 109.
  69. al-Baqarah/2: 201.
  70. at-Taubah/9: 72.

Tidak ada komentar: