الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

KEMATIAN

A. Pengertian Kematian
Kematian menurut bahasa berasal dari kata “mati” yang berarti hilang nyawa, atau sudah tidak bernyawa. Sedangkan,‘kematian’ itu sendiri berarti perihal mati.1 Dalam Ensiklopedi Islam dikatakan, mati berasal dari Bahasa Arab, yaitu ‘maut’,yang berarti terpisahnya roh dari zat, psike dari fisik, jiwa dari badan, atau yang gaib dari yang nyata, keluarnya roh dari badan atau jasmani.2Dalam konsep Islam, maut adalah pasangan peristiwa hayat (hidup).3 Pasangan peristiwa ini pasti dialami oleh manusia dan makhluk lain serta merupakan peristiwa yang diciptakan Allah untuk manusia sebagai alat pengecekan, mana di antara mereka yang lebih baik amalannya, sebagaimana firman Allah:
imageYang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk/67: 2)
Kematian dalam pengertian kedokteran adalah berhentinya semua fungsi alat vital tubuh yang permanen seperti jantung dan otak.4 Secara populer kematian dipahami sebagai ketiadaan hidup yang berlangsung hanya satu kali. Sementara itu, dalam pandangan Al-Qur'an, kematian tidak hanya terjadi satu kali, tetapi dua kali. Sebagaimana firman Allah:
imageMereka menjawab, “Ya Tuhan Kami, Engkau telah mematikan Kami dua kali dan telah menghidupkan Kami dua kali (pula), lalu Kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah jalan (bagi Kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghāfir/40: 11)
Berdasarkan ayat ini, kematian oleh sebagian ulama didefinisikan sebagai ketiadaan hidup atau antonim dari hidup.
Kematian pertama dialami manusia sebelum kelahirannya atau saat sebelum Allah meniupkan roh kehidupan kepadanya.Sedangkan kematian kedua, saat manusia meninggalkan dunia yang fana ini. Kehidupan pertama ada pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedangkan kehidupan kedua terjadi saat manusia berada di barzakh atau kelak ketika manusia hidup di akhirat.5Kematian menurut ar-Rāghib al-Ashfahānī bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kehidupan. Pertama, kematian adalah ketiadaan daya yang menumbuhkan dan mengembangkan seperti yang terjadi pada tanaman. Kedua, kematian adalah ketiadaan daya fisik (al-quwwah al-Hāssah). Ketiga, kematian adalah ketiadaan daya berfikir (al-quwwah al-‘āqilah), yakni ketidakmampuan berpikir atau bodoh. Keempat, kematian dipahami
sebagai kesedihan yang menghancurkan kehidupan. Kelima,kematian adalah tidur yang terbagi menjadi dua bagian, tidur yang ringan dan tidur yang berat. Tidur yang berat adalah perpisahan roh dari tubuh.6
Kematian adalah keluarnya roh dari tubuh, dan bukan ketiadaan hidup semata-mata. Roh itu bermigrasi dari tubuh ke alam barzakh. Roh manusia tetap hidup di alam barzakh sebagaimana disebutkan di dalam ayat Al-Qur'an berikut ini:
imageDan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Āli ‘Imrān/3:169-171)
Dalam menafsirkan ayat ini, M. Quraish Shihab menyatakan,bahwa hidup ditandai antara lain oleh gerak dan pengetahuan.
Jangan menduga bahwa gerak mereka yang gugur di jalan Allah telah dicabut dan pengetahuan mereka telah tiada.Mereka yang gugur di jalan Allah itu tetap bergerak, bahkan lebih leluasa dari gerak manusia di muka bumi ini. Mereka mengetahui lebih banyak dari apa yang diketahui oleh manusia yang beredar darah dan berdenyut jantungnya, karena di alam sana mereka melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena seperti yang diketahui oleh penduduk dunia. Sungguh mereka hidup, kehidupan yang tidak dapat dijelaskan hakikatnya,karena kehidupan yang mereka alami tidak disadari atau dirasakan oleh selain manusia.7Kematian itu bukan berarti kemusnahan seperti diyakini orang-orang musyrik Mekah yang menantang Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sombong, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh ini?”8Ketika orang-orang musyrik Mekah yang tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati itu tewas pada Perang Badar dan telah dikuburkan dalam satu perigi, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Wahai penghuni perigi, wahai ‘Utbah bin Rabī‘ah, Syaibah bin Rabī‘ah, Ummayah bin Khalaf, wahai Abū Jahal bin Hisyām (seterusnya beliau menyebut nama-nama mereka yang dikuburkan dalam perigi itu satu persatu). Wahai penghuni perigi, adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku.” “Wahai Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengapa Anda berbicara dengan orang yang telah tewas?” Tanya para sahabat. Rasulullah menjawab,“Kamu sekalian tidak lebih mendengar daripada mereka tentang apa-apa yang kukatakan, tetapi mereka tidak dapat menjawabku.”9Pada hakikatnya maut adalah akhir dari kehidupan dan sekaligus awal kehidupan (yang baru). Jadi maut bukan kesudahan,kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari suatu dunia ke dunia lain, dari suatu keadaan ke keadaan lain, tempat kehidupan manusia akan berlanjut. Karena itu manusia yang ingkar akan kehidupan akhirat, merasa takut akan maut dan membenci maut akibat perbuatan yang buruk di dunia.
Namun bagi orang-orang yang beriman secara benar, maut merupakan harapan indah untuk memulai hidup yang hakiki,kehidupan yang abadi.
Para ulama menegaskan, bahwa walaupun maut berarti ketiadaan, bukan berarti tidak ada lagi eksistensi dan wujud manusia sesudah kematian. Setelah maut, masih ada hidup baru bagi manusia, sebagaimana halnya sebelum kehadiran makhluk di pentas bumi ini, ia pernah mengalami ketiadaan.10 Sehubungan dengan masalah ini Allah berfirman:
imageBukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (al-Insān/76: 1)
Maut disebut sebagai awal kehidupan, atau kehidupan baru, karena pada dasarnya maut hanya terjadi pada badan,tetapi roh, atau jiwa manusia, akan tetap hidup dan mempunyai suatu kedudukan hayati dalam suatu cakrawala yang lebih tinggi daripada unsur-unsur jasad dan material.11Sehubungan dengan ungkapan tentang jiwa manusia akan tetap hidup dan mempunyai kedudukan hayati tersebut setelah terjadinya kematian,Syekh Mahmūd Syaltūt mengatakan, bahwa roh tetap memiliki daya tangkap mendengar ucapan salam dari para peziarah yang mengucapkan salam untuk pemiliknya, melihat para peziarah dan merasakan kelezatan nikmat serta penderitaan siksa.12
Dari perkataan Mahmūd Syaltūt tersebut dapat disimpulkan,bahwa roh memiliki fungsi yang amat penting dalam hidup manusia. Jasmani tanpa roh tidak ada artinya. Roh adalah pangkal kehidupan. Tetapi roh sendiri adalah sesuatu yang misterius bagi manusia dan tidak dapat diketahui, sebagaimana Firman Allah:
imageDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah:
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isrā'/17: 85)
Maut adalah sesuatu yang suci. Karena itu manusia dilarang menemui maut dengan cara yang salah, seperti bunuh diri, atau membunuh orang lain. Bunuh diri dan membunuh orang lain adalah perbuatan terkutuk dan dosa besar. Begitu juga bercita-cita mati, adalah tidak terpuji.
Maut adalah urusan Tuhan. Karena itu manusia tidak dibenarkan putus asa, karena maut dan hayat diciptakan untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Dalam salah satu hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam disebutkan:
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ اَلْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًالِي. (رواه البخا ري و مسلم عن أنس ابن مالك
Tidak boleh diantara kamu mencita-citakan mati karena bala yang menimpanya. Andaikata ada bala yang menimpa, berdoalah: Hidupkanlah
aku sekiranya hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku kalau mati itu lebih baik untukku.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas bin Mālik)
Tentang keyakinan orang bahwa maut adalah akhir segala-galanya dan bahwa tidak ada kehidupan sesudah kematian,dibantah oleh Al-Qur'an. Dalam Surah al-Baqarah ayat 154,Allah subhānahū wa ta‘ālā berfirman:
imageDan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (al-Baqarah/2: 154)
Sesudah mati, manusia mengalami suatu masa yang disebut alam barzakh, yaitu masa antara maut dan Kiamat. Sebagaimana Firman Allah:
imageAgar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.(al-Mu'minūn/23: 100)
Adapun ayat-ayat yang berkenaan dengan kematian,yaitu kata “maut” ( موت ) dalam berbagai bentuknya disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 285 kali (ayat).
B. Setiap yang Bernyawa Mengalami Kematian
Kematian pasti datang pada saat yang telah ditentukan.Jika maut (kematian) itu datang, maka datanglah ia, sebagaimana firman Allah, antara lain sebagai berikut:
a. Surah Yūnus/10: 49:
imageKatakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Yūnus/10: 49)
b. Surah an-Nahl/16: 70
imageDan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, diantara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh Allah Maha mengetahui, Maha Kuasa. (an-Nahl/16: 70)
c. Surah Āli-‘Imrān/3: 185
imageSetiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperolah kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Āli-‘Imrān/3: 185)
Berhubungan dengan ayat-ayat tersebut Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ . رواه الترمذي عن أبي هريرة
Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan kenikmatan,yakni kematian. (Riwayat at-Tirmidzī dari Abū Hurairah)
Hadis tersebut meskipun hanya sebuah kalimat yang singkat, tatapi sarat dengan pesan dan pelajaran. Orang yang benar-benar ingat kematian, ia akan sadar tentang hakikat nikmat yang sedang dirasakannya di dunia, sehingga ia tidak akan banyak berharap nikmat itu akan abadi di masa datang dan ia akan bersikap zuhud terhadap apa yang diharapkan daripadanya. Tetapi bagi orang yang berjiwa keruh dan berhati lalai, perlu nasihat yang detil dan pelajaran yang panjang.
Seorang mukmin yang mendengarkan, atau memerhatikan sabda Nabi tersebut dan firman Allah dalam Surah Āli-‘Imrān/3: 185 “setiap yang bernyawa akan merasakan mati”, tentu hal itu sudah cukup menjamin ia menjadi mukmin yang baik.
Kematian itu tidak terikat oleh umur tertentu, atau waktu tertentu dan penyakit tertentu. Ayat-ayat dan hadis yang telah disebutkan di atas mengisyaratkan, bahwa hal itu dimaksudkan agar manusia selalu dalam posisi siap siaga menghadapinya, kapan dan di mana saja.
Agar manusia mendapat husnul-khātimah, hendaklah banyak beramal saleh antara lain, melakukan hal-hal yang dapat memberi manfaat kepada orang lain selama hidupnya, sebagaimana hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنفَعُهُمْ لِلنَّاسِ . رواه القضاعي عن جابر

Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. (Riwayat al-Qudhā‘ī dari Jābir)
Ad-Daqqāq berkata: “Barang siapa yang sering ingat kematian ia akan dimuliakan dengan tiga hal, yakni, cepat bertobat, hati yang qanā‘ah dan semangat dalam beribadah; dan barang siapa yang lupa akan kematian, ia akan diberi sanksi dengan tiga hal, yakni, lambat bertobat, tidak puas dengan pemberian Allah dan malas beribadah. Karena itu berpikirlah wahai orang yang tertipu akan kematian dan saat-saat yang krusial ketika kamu sedang sekarat. Kematian adalah janji yang pasti akan ditepati. Kematian adalah hakim yang adil. Kematian adalah sebagai luka. Kematian membuat mata menangis. Kematian mengakibatkan perpisahan, kematian akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan dan memutuskan harapan serta angan-angan.”16Selanjutnya ad-Daqqāq mengatakan, “Pernahkah kamu memikirkan kematianmu wahai anak cucu Adam (manusia);itulah saat kamu berpindah dari tempatmu di dunia yang lapang ke sebuah liang lahat yang sangat sempit, saat teman-temanmu yang paling dekat sekalipun tega mengkhianatimu tanpa kamu bisa berbuat apa-apa, saat kamu harus meninggalkan saudara dan handai tolan, saat kamu harus bangkit dari tempat tidurmu,saat kamu harus meninggalkan pakaianmu yang mewah berganti dengan pakaian tanah yang kotor? Wahai orang yang selalu menghimpun harta dan bersaing mendirikan bangunan pencakar langit, saat itu kamu sudah tidak punya harta sama sekali hanya beberapa lembar kain kafan, itu pun sebentar lagi pasti akan rusak. Tubuhmu dimakan tanah. Lalu di mana nanti harta yang selama ini kamu tumpuk? Apakah ia akan bisa menyelamatkanmu dari huru-hara kematian? Tentu tidak.
Kamu tinggalkan hartamu untuk orang yang justru tidak mau berterima kasih kepadamu, sedangkan Allah tidak mau menerima alasan-alasanmu.”17Menurut M.Quraish Shihab, kematian adalah keniscayaan.
Ia tidak dimajukan atau diundurkan; adakah upaya yang dapat dilakukan sehingga harapan hidup bertambah?Dalam buku Secercah Cahaya Ilahi, antara lain M.Quraish Shihab mengemukakan bahwa 27 kata yang seakar dengan ‘umur dalam berbagai bentuknya, terulang di dalam Al-Qur'an. Ketika Al-Qur'an berbicara tentang penganugerahan umur, redaksi yang digunakan kadang dalam bentuk tunggal pasif dan kadang juga bentuk jamak/plural aktif seperti firman Allah:
imageDan Barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya) Maka mengapa mereka tidak mengerti? (Yāsīn/36: 68)
Sepanjang penelitian M. Quraish Shihab, jika Al-Qur'an menggunakan bentuk plural untuk menunjuk kepada Allah dalam satu aktivitas, maka seringkali bentuk plural tersebut mengisyaratkan adanya keterlibatan selain Allah dalam aktivitas tersebut,18 yaitu manusia, karena dalam ayat di atas (Yāsīn/36:68) digunakan kata “Kami”, yaitu: “Siapa yang Kami panjangkan umurnya.” Ini menunjukan adanya keterlibatan manusia dalam
upaya memperpanjang harapan hidup. Ini diperkuat pula oleh sabda Rasulullah:19

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فىِ رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ في أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رواه البخا ري ومسلم وأبو داود والنسائي عن أنس


Siapa yang suka diperluas rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia bersilaturrahmi. (Riwayat al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwud dan an-Nasā'ī dari Anas)20
Berdasarkan hadis di atas, umur seseorang dapat diperpanjang karena melakukan silaturrahmi. Tentu dalam perpanjangan umur ini harus disertai doa, harus memohon kepada Allah agar dipanjangkan usia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana disebut oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ. رواه أحمد والترمذي والحاكم عن أبي بكرة
Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya dan manusia terburuk adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.(Riwayat Ahmad, at-Timidzī dan al-Hākim dari Abū Bakrah)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa sebelum datang kematian, hendaklah setiap manusia mengintrospeksi diri atas kelalaiannya, memanfaatkan usia dengan baik, membekali diri untuk menyongsong akhir urusannya dengan amal-amal saleh, mengingat dan taat kepada Allah setiap saat. Itulah bekal utama untuk menghadapi hari ketika seluruh makhluk akan menuju ke tempat kembali yang abadi, di mana setiap yang bernyawa akan mengalami kematian.
C. Cara Menghadapi Kematian
Kematian tidak senyaman tidur. Ada faktor-faktor yang dapat berdampak terhadap yang mengalaminya. Di samping itu,kematian adalah pemisahan nafs dengan badan secara sempurna,sedang tidur adalah pemisahan sementara lagi tidak sempurna.
Tidak mustahil pemisahan sempurna mengakibatkan sesuatu yang tidak nyaman. Inilah yang diistilahkan oleh Al-Qur'an dan sunnah dengan sakratul-maut.22
Sakarāt terambil dari kata sakara, yang dari segi bahasa pada mulanya berarti menutup. Seorang yang mabuk ditunjuk dengan kata sakran, karena akalnya tertutup, tidak dapat menyadari ucapan dan tingkah lakunya. Dari sini, sakratul-maut dipahami para ulama dalam arti kesulitan dan perih yang dialami seseorang beberapa saat sebelum rohnya meninggalkan badan.
Masalah sakratul-maut disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
a. Surah Qāf/50: 19
image
Dan datanglah sakratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari. (Qāf/50: 19)
b. Surah al-An‘ām/6: 93
imageSiapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,”padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An‘ām/6: 93)
Menurut M. Quraish Shihab, ayat 19 Surah Qāf tersebut dipahami para pakar tafsir dalam arti, datanglah pada saat roh akan dicabut, sakratul-maut, yakni kesulitan yang menjadikan siapa yang akan tercabut nyawanya dalam situasi yang sangat sulit dan menyakitkan. Kedatangannya haqq yakni pasti,tidak dapat dihindari oleh siapa pun, atau kedatangannya pasti tidak berubah, sehingga ia tidak akan berhenti, kecuali dengan Dalam Tafsir Departemen Agama dikatakan, bahwa Allah subhānahū wa ta‘ālā dalam ayat 19 Surah Qāf di atas menolak keingkaran orang-orang kafir dengan keterangan, bahwa mereka akan meyakini kebenaran firman Allah itu, ketika mereka menghadapi sakratul-maut dan hari Kiamat. Bila telah datang sakratul-maut, terbukalah kenyataan yang sebenarnya dan timbulah keyakinan akan datangnya hari kebangkitan. Sakratulmaut benar-benar membuka tabir, yang selalu mereka hindari.
Sekarang bagi mereka tidak ada tempat berlindung, atau pelarian lagi.24
Sedangkan pada ayat 93 Surah al-An‘ām, Ibnu Katsīr mengatakan, bahwa firman Allah: Dan Jika kamu melihat tatkala orang-orang zalim itu berada dalam kedahsyatan maut, yakni tengah sakratul-maut dan bencananya, sedang para malaikat membentangkan tangan-tangannya, keluarkanlah nyawa-nyawa kalian,yakni, para malaikat memukul mereka hingga nyawa mereka keluar dari jasadnya. Hal itu karena apabila orang kafir sekarat,maka para malaikat menyambutnya dengan azab, bencana, belenggu, neraka jahīm, air yang bergolak, dan kemurkaan yang dahsyat serta hebat, lalu nyawa si kafir itu membandel, berpindah-pindah dalam tubuh si kafir dan menolak untuk keluar.
Lalu para malaikat pun memukul mereka hingga nyawa kaum kafir keluar dari tubuhnya.25Selanjutnya, berkenaan dengan orang mukmin ketika hendak dicabut nyawanya, Allah mengutus malaikat untuk menyampaikan berita gembira bagi hambanya yang beriman dan istikamah agar ia tidak merasa takut dan cemas,sebagaimana firman Allah:
imageSesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.
Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubārak dari Haiwa dari Abū Shakhar dari Muhammad bin Ka‘ab al-Qardhī bahwa ia berkata, “Ketika nyawa seorang mukmin sudah akan keluar,Malaikat Maut datang dan berkata, “Assalāmu ‘alaika, wahai orang yang dikasihi Allah. Allah berkirim salam kepadamu.”Kemudian ia mencabutnya dengan membaca ayat berikut ini:
image
(Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka),“Salāmun‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (an-Nahl/16: 32)
Ibnu Mas‘ūd berkata, “Ketika Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawa seorang mukmin, ia terlebih dahulu berkata, “Tuhanmu berkirim salam padamu.”
Mengomentari firman Allah:
imagePenghormatan mereka (orang-orang mukmin itu) ketika mereka menemui-Nya ialah, “Salam,” dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (al-Ahzāb/33: 44)
Al-Barrā' bin ‘Āzib mengatakan, “Malaikat Maut menyampaikan salam kepada seorang hamba yang mukmin sebelum mencabut nyawanya. Ia memang baru mencabut nyawanya setelah menyampaikan salam.”
Mujāhid berpendapat, “Sesungguhnya seorang mukmin itu diberi kabar gembira terlebih dahulu bahwa nanti sepeninggalannya anaknya akan menjadi anak yang saleh, supaya ia merasa senang.26
Ada riwayat mengatakan, setan pun hadir ketika Malaikat Maut mencabut nyawa seseorang. “Saat terdekat setan kepada manusia adalah saat keluarnya roh.” Demikian bunyi satu riwayat dari pakar hadis, Abū Nu‘aim. Riwayat lain mengatakan, ada dua setan yang hadir; satu di sebelah kanan yang menampakkan diri sebagai ayahnya, dan satu disebelah
kiri menampakkan diri sebagai ibunya. Keduanya menyebut-nyebut pemeliharaan mereka kepada sang anak, lalu meminta agar dia menolak agama Islam. Demikian tulis al-Qurthubī dalam bukunya, at-Tadzkirah, yang menurutnya disebut oleh sekian banyak ulama, antara lain al-Ghazālī.27Memang biasa terlihat adanya gerak-gerik seorang yang akan meninggal yang menandakan bahwa ia melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang sekitarnya. Umar bin al-Khaththāb berkata, “Talqinkanlah (yakni bisikan dan sebutkanlah) kepada orang-orang yang akan mati ucapan lā ilāha illā Allāh, karena sesungguhnya mereka melihat apa yang kalian tidak lihat.28
Ajaran untuk mentalqinkan itu bersumber dari petunjuk Nabi,sebagaimana Sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
لَقِّنُوا مَوْ تَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله -رواه مسلم عن أبي سعيد الخدري
Talqinkanlah (yakni bisikanlah) kepada orang-orang yang akan meninggal dengan kalimat, Lā Ilāha Illā Allāh”. (Riwayat Muslim dari Abū Sa‘īd al-Khudrī)
Para ulama mengatakan bahwa menalqin orang yang hendak meninggal dunia dengan kalimat tersebut hukumnya sunnah yang telah diamalkan oleh kaum muslim. Hal ini dimaksudkan supaya kalimat terakhir yang diucapkannya ialah, lā ilāha illā Allāh”, agar ia masuk surga, berdasarkan hadis Rasullullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ -روه مسلم عن معذ بن جبل
Barang siapa yang ucapan terakhirnya kalimat lā ilāha illā Allāh,maka ia masuk surga”. (Riwayat Muslim dari Mu‘ādz bin Jabal)
Imam al-Ghazālī mengatakan, bahwa orang yang menalqinkan orang yang akan meninggal dunia, hendaklah dengan pelan, karena kadang-kadang lidah orang sakit itu tidak mengucapkannya, sehingga berat baginya mengucapkan kalimat tersebut; mengucapkan talqīn dan menjadikannya tidak senang dengan kalimat talqīn itu. Juga dikhawatirkan akan menjadikannya sū'ul-khātimah31 (kematian tidak dalam iman kepada Allah).
Apabila orang yang tengah menghadapi ajal tersebut sudah membaca kalimat syahadat yang diajarkan satu kali saja,jangan disuruh mengulangi supaya ia tidak merasa gelisah. Para ulama justru tidak suka memperbanyak talqīn dengan cara terus mendesaknya.
Ibnu Mubārak mengatakan, “Talqinkanlah orang yang akan mati dengan membaca kalimat lā ilāha illā Allāh. Jika ia sudah mengucapkanya, maka biarkanlah dia.”32Abū Muhammad ‘Abdul Haq mengatakan,“Jika didesak terus untuk mengucapkan kalimat tersebut, padahal ia sudah mengucapkannya satu kali, hal itu dikhawatirkan membuatnya merasa gelisah lalu dimanfaatkan oleh setan, sehingga menyebabkan ia mendapati sū'ul-khātimah.” Demikian yang diperintahkan oleh Ibnu al-Mubārak untuk diperhatikan.
Kata al-Hasan, “Ibnu al-Mubārak pernah berpesan kepadaku, “Talqinkanlah aku, dan jangan kamu ulang-ulangi,kecuali aku sudah berbicara yang lain lagi”.
Tujuan talqīn ialah mengingatkan seseorang yang akan meninggal dunia, agar dalam hatinya hanya ada Allah. Jadi,masalahnya terfokus pada hati. Amalan hatilah yang diperhitungkan dan yang bisa membawa keselamatan. Gerakan bibir hakikatnya hanyalah ungkapan hati.33Menalqin orang yang akan meninggal dunia dan mengingatkannya pada kalimat syahadat, dianjurkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya ketika sekarat, walaupun ia masih dalam keadaan sangat sadar.
Selanjutnya, berkenaan dengan orang yang sedang sekarat, sudah koma, atau tidak sadarkan diri lagi, maka dianjurkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya,sambil mendoakannya, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan tetap membacakan, atau menuntunnya membaca syahadat, karena kemungkinan dia sedang sekarat itu sadar,hanya tidak bisa lagi bersuara, tetapi membacanya dalam hati.
Dalam ajaran Islam, bila seorang muslim akan menghadapi kematian (sakratul-maut), terhadap ahli waris atau muslim yang hadir dianjurkan melakukan beberapa hal sebagai berikut:
a. Membaringkannya dengan mengarahkan bagian lambung kanannya ke arah kiblat. Jika memungkinkan meletakkannya dengan posisi sebagaimana posisi mayat di dalam kubur,sehingga jasad bagian depan (dada)nya menghadap kiblat,keadaan seperti ini pernah dianjurkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadisnya sebagai berikut:
قَالَ رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّامَ عَنِ البَيْتِ الحَرَامِ : قِبْلَ تُكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا. رواه أبو داود عن أبي هريرة
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang Baitullah, katanya: al-
Harām (Baitullah) adalah kiblat kamu baik ketika hidup maupun setelah mati. (Riwayat Abū Dāwud dari Abū Hurairah)
Jika tidak mungkin meletakkannya dengan posisi demikian,dianjurkan membaringkan badannya dengan cara menelentang dan dadanya tetap mengarah ke arah kiblat, karena dengan posisi tersebut, akan memudahkannya menghembuskan napas terakhir.35
b. Membaca talqin yaitu mengingatkan dan mengajarkanya mengucapkan kalimat syahadat lā ilāha illā Allāh Muhammad Rasūlullāh) dengan cara membisikan kalimat tersebut ke arah telinganya.
Hukum mengingatkan dan mengajarkan kalimat yang agung itu kepada orang yang akan meninggal dunia adalah sunnah, karena dalam hadis-hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam diterangkan bahwa seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut,kemudian meninggal dunia akan dimasukkan ke dalam surga.
Meskipun hal itu didasarkan kepada hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun di kalangan ahli fiqih tidak ada kesepakatan, terutama mengenai waktu peringatan dan pengajaran itu disampaikan kepadanya.
Kelompok ahli fiqih dari mazhab Hanafī dan Mālikī mengatakan bahwa mengingatkan dan mengajarkan itu disunahkan terhadap orang yang akan mati jika ia belum mengucapkannya.
Tetapi jika ia telah mengucapkannya, maka tidak perlu lagi mengingatkan dan mengajarinya. Adapun kalimat yang diingatkan dan diajarkan itu ialah kalimat lā ilāha illā Allāh Muhammad Rasūlullāh (tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Kedua kalimat itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga jika ia hanya mengucapkan kalimat pertama (lā ilāha illā Allāh), maka ucapannya belum diterima tanpa diiringi dengan kalimat kedua (Muhammad Rasūlullāh ).
Jumhur ahli fiqih mengatakan, yang dianjurkan untuk diingatkan dan diajarkan hanya kalimat lā ilāha illā Allāh, karena Nabi hanya menyebut kalimat itu pada hadis yang diriwayatkan oleh Muslim di atas.36
Talqīn dalam arti mengingatkan dan mengajari, menurut kelompok ahli fiqih mazhab Hanafī, tidak dilakukan setelah seseorang benar-benar meninggal dunia atau mati, apalagi setelah ia berada di dalam kubur, karena tidak ada artinya mengingatkan dan mengajari orang yang sudah mati yang tidak lagi dapat mendengar dan tidak pula berakal. Sedangkan menurut sebagian ahli fiqih dari kalangan Ahlussunnah wal-Jama‘ah,boleh, bahkan dianjurkan, meskipun mayat/jenazahnya telah berada di dalam kubur, karena menurut mereka, seseorang akan ditanyai oleh malaikat di dalam kuburnya. Jika kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan dan si mayat dapat menjawabnya,kenapa mengingatkan dan mengajari kalimat tauhid tidak dapat dilakukan.
c. Membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Untuk masyarakat Islam di Indonesia membaca ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan orang yang sedang sekarat sudah menjadi kebiasaan, dengan harapan ia dapat menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan tenang. Ayat-ayat yang biasa dibacakan adalah Surah Yāsīn.
Di dalam kitab-kitab fiqih ditemukan pembicaraan tentang pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan orang yang akan mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, para ahli fiqih dari kalangan Mālikiyyah tidak menyetujui hal itu jika dilakukan dengan suara keras, karena para sahabat tidak pernah melakukan yang demikian. Demikian juga halnya setelah meninggal dunia, baik sebelum dikuburkan maupun setelah berada di dalam kubur.37 Sedangkan kebanyakan Jumhur ahli fiqih menyukai pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan orang yang sedang menghadapi maut dengan alasan hadis:
يس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْ رَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ . رواه أحمد عن معقل بن يسار
Yāsīn adalah jiwanya Al-Qur'an. Orang yang membacanya dengan mengharapkan keridaan Allah dan hari akhirat akan diampuni dosanya. Dan bacakanlah Surat Yāsīn itu terhadap mayat kamu.(Riwayat Ahmad dari Ma‘qil bin Yasār)
Menurut mereka, hadis ini menjelaskan anjuran membaca Surah Yāsīn di hadapan orang yang sedang menghadapi maut. Hikmah pembacaan surah tersebut adalah untuk mengingat dan menambah keyakinannya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan kekuasaan Allah, karena di dalam surah itu digambarkan persoalan kehidupan, kematian,hari akhirat dan hari berbangkit.39
d. Menutup atau memejamkan kedua matanya apabila telah diyakini kematiannya. Hal ini sudah menjadi kesepakatan ulama berdasarkan hadis:
إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ . (رواه مسلم عن أم سلمة) 40
Sesungguhnya jika roh itu pergi, maka matanya mengikuti (untuk menyaksikannya). (Riwayat Muslim dari Ummu Salamah)
e. Menutupi sekujur tubuhnya. Hal ini dianjurkan agar tidak timbul pandangan yang tidak baik atau fitnah dari orang-orang yang datang menjenguk, sebab setelah roh pergi jasadnya akan berubah sehingga dapat menimbulkan pemikiran yang negatif.41
Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Āisyah:

إ نَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَة . (رواه البخاري عن عائشة) 42
Sesungguhnya Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika wafat, jasadnya ditutupi dengan kain panjang/selimut bercorak. (Riwayat al- Bukhārī dari ‘Āisyah)
Setelah semua anjuran itu dilakukan, maka selanjutnya menjadi kewajiban ahli waris atau umat Islam yang hadir untuk menyelenggarakan jenazahnya. Penyelenggaraan jenazah itu wajib kifāyah bagi umat Islam yang hidup. Adapun hal-hal yang wajib diselenggarakan orang yang hidup terhadap jenazahnya ialah memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkannya.
Selanjutnya, berkenaan dengan roh atau nyawa orang yang telah meninggal, banyak sekali riwayat yang menyebutkannya,tetapi sebagian besar diragukan kesahihannya baik secara ilmiah maupun secara agama.
Kalau menurut Al-Qur'an, orang yang meninggal dunia telah berada di satu alam yang dinamai dengan alam barzakh.
Barzakh adalah tempat kehidupan kedua, yang berada di alam lain. Siksa kubur dan nikmatnya adalah nama bagi siksaan di dalam barzakh dan nikmatnya. Demikian menurut Ibnul-Qayyim dalam bukunya ar-Rūh.43
M. Quraish Shihab mengutip pendapat Syaikh Hasanain Makhlūf, mantan Mufti Mesir yang mengatakan bahwa alam roh memiliki perbedaan yang beraneka ragam dengan alam materi, baik keadaan, maupun perkembangannya. Roh adalah wahyu dari urusan Allah yang dicampakkan Allah ke dalam tubuh kehidupan dunia ini, sehingga menghasilkan rasa,gerak, pengetahuan dan pengamalan, serta kelezatan dan kepedihan.
Lalu dia meninggalkan badan itu pada waktu yang telah ditentukan yang mengakibatkan terputusnya hubungan ke alamnya. Dengan demikian apa yang dihasilkan pada badan,terputus dan hilang pula, jasad menjadi rusak dan menjadi benda mati, atau mayat. Tetapi roh tetap ada di alam barzakh,yaitu alam antara kehidupan dunia dan akhirat, serta saat kematian sampai hari kebangkitan dan pengumpulan. Roh juga berhubungan dengan roh-roh yang lain dan berdialog dengannya serta merasa bergembira, baik dengan roh yang masih hidup, maupun yang telah meninggal dunia. Roh merasakan kenikmatan dan siksa, kelezatan dan kepedihan, sesuai dengan keadaan dan amalnya ketika hidup di dunia. Dia berkunjung ke halaman kuburan, mendatangi rumah-rumah dan dalam keadaan demikian, dia tidak dibatasi oleh tempat atau terhalang olehnya.44
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa arwah orang-orang yang telah meninggal berada di alam barzakh.
D. Husnul-Khātimah dan Sū'ul-Khātimah
Husnul-khātimah berarti kesudahan yang baik, yakni kematian dalam keadaan iman kepada Allah. Lawannya adalah Su'ul-khātimah. Kedua istilah ini tidak dikenal dalam Al-Qur'an,tapi ada sekian banyak hadis yang mengarah pada maknanya.
Imam Muslim, melalui Abū Hurairah, meriwayatkan bahwa seseorang boleh jadi melakukan amal-amal penghuni surga dalam waktu yang lama tapi dia menutup amalnya dengan amalan penghuni neraka, demikian pula sebaliknya. Dalam konteks ini, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ . رواه البخاري عن سهل بن سعيد
Seseorang dinilai sesuai akhir amalnya. (Riwayat al-Bukhārī dari Sahl bin Sa‘īd)45
Amal yang pungkasannya adalah amal penghuni neraka itulah yang kematiannya dinamai sū'ul-khātimah. Dan yang amal terakhirnya merupakan amalan penghuni surga, kematiannya dinamai Husnul-khātimah.46Banyak ulama menggarisbawahi bahwa sū'ul-khātimah tidak akan dialami seseorang selama secara lahir dan batin amal-amalnya baik dan tulus kepada Allah subhānahu wa ta‘ālā.
Kesudahan buruk itu bisa terjadi bagi mereka yang tidak tulus,atau seringkali melakukan dosa besar, walau dalam saat lain perjalanan hidupnya ia melakukan amal-amal baik. Mereka itulah yang berhasil diperdaya oleh setan pada detik-detik akhir hidupnya, sehingga dia terjerumus dalam sū'ul-khātimah.47Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda:
فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ . رواه البخاري ومسلم عن عبدالله بن مسعود
Sesungguhnya salah seorang dari kalian melakukan perbuatan penghuni neraka sehingga jarak antaranya dengan kematiannya tinggal sehasta kemudian ia melakukan/mengakhiri perbuatannya dengan perbuatan punghuni surga, maka ia menjadi penghuni surga, dan ada pula diantara kalian melakukan perbuatan penghuni surga sehingga jarak antaranya dengan kematiannya tinggal sehasta, kemudian ia melakukan/mengakhiri perbuatannya dengan perbuatan penghuni neraka, maka ia menjadi penghuni neraka”. (Riwayat al- Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas‘ūd)
Di sisi lain perlu diingat, hati manusia berbolak-balik.Hati tidak dinamai qalbu yang secara harfiah berarti berbalik,kecuali karena dia berbolak-balik. Yang tidak mantap dapat berubah, sekali senang dan sekali susah, sekali percaya dan di saat lain ingkar walau terhadap objek yang sama. Karena itu Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam sering kali berdoa: Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī, ‘alā Thā‘atika/wahai Tuhan yang membolakbalikkan hati, mantapkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu. Istri Nabi Muhammad, ‘Āisyah, pernah bertanya kepada beliau,“Wahai Rasul, engkau sering kali berdoa demikian, apakah engkau takut?” Beliau menjawab: “Apa yang menjadikan aku merasa aman, padahal hati hamba-hamba Allah berada antara dua jari Allah yang Maha Perkasa. Kalau Dia berkehendak, Dia dapat membolak baliknya” (Riwayat Ahmad dari ‘Āisyah).49Pembolak-balikan hati itu, tentu saja tidak dilakukan Allah sewenang-wenang, tetapi melihat lubuk jiwa terdalam seseorang,melihat ketulusan dan keikhlasan, menilai ria dan pamrihnya.Karena itu, seseorang tidak boleh merasa yakin dengan amal-amalnya atau berbangga dengannya. Allah berpesan:
imageMaka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa. (an-Najm/53: 32)
Abū Muhammad ‘Abdul-Haq berkata,50 “Ketahuilah,sesungguhnya sū'ul-khātimah (akhir kehidupan yang buruk) itu tidak akan menimpa orang yang bersikap istiqāmah lahir batin.
Hal itu sama sekali tidak pernah terdengar. Tetapi, su'ulkhātimah menimpa orang yang akalnya rusak, atau orang yang terus-menerus melakukan dosa-dosa besar sehingga meninggal dunia tanpa sempat bertobat. Atau, menimpa orang yang semula bersikap istiqāmah, tetapi kemudian berubah menyimpang dari jalannya yang lurus tersebut karena memilih jalan lain yang sesat, sehingga hal itulah yang menyebabkan ia bernasib buruk pada bagian akhir hidupnya, misalnya Iblis. Menurut sebuah riwayat, selama delapan puluh ribu tahun ia selalu tekun menyembah Allah. Atau, seperti Bal‘am bin Ba‘ura yang dikaruniai pengetahuan terhadap ayat-ayat Allah, ia malah meninggalkannya dan lebih memilih menurut keinginan hawa nafsunya. Atau, seperti Barshisha, seorang yang rajin beribadah yang disinggung dalam firman Allah:
image(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” (al-Hasyr/59: 16)
Menurut Imam al-Qurthubī, pernah terjadi dahulu seorang laki-laki yang rajin beribadah di masjid, sebelum salat fardu ia selalu mengumandangkan azan. Pada suatu hari sebagaimana biasanya, ia naik ke atas menara untuk mengumandangkan azan. Kebetulan di bawah menara ada sebuah rumah milik seorang Nasrani yang hidup dalam jaminan keamanan pemerintahan Islam. Dari atas tiba-tiba ia melihat anak gadis pemilik rumah. Karena merasa tertarik, lalu ia tidak jadi azan. Ia turun untuk menemuinya. Ia masuk ke rumah itu. Gadis putri orang Nasrani itu bertanya kepadanya, ada apa dan apa maunya datang ke rumahnya? Ia menjawab bahwa ia tertarik dengan gadis itu dan telah merampas segenap hatinya. Gadis itu berkata,bahwa ia tidak mau dipermainkan olehnya. Tetapi laki-laki itu menjawab, bahwa ia akan menikahinya. Gadis itu berkata lagi,bahwa ayahnya tidak akan mau mengambilnya sebagai menantu karena mereka berbeda agama. Laki-laki itu Muslim dan gadis itu Nasrani. Karena sudah tergoda dengan gadis itu, akhirnya ia bersedia menjadi orang Nasrani.51
Berkenaan dengan uraian di atas, Nabi Ibrahim telah berpesan kepada anak cucunya, yang ditujukan juga kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
imageDan Ibrahim telah mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya,demikian pula Ya'kub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (al-Baqarah/2: 132)
Pesan Nabi Ibrahim ini menunjukkan agar jangan meninggalkan ajaran agama sesaat pun, karena setiap manusia mempunyai ajal. Setiap manusia tidak ada yang mengetahui kapan saatnya ia meninggal. Tidak ada yang dapat menduga kapan datangnya ajal itu.
Menurut Quraish Shihab, pesan Nabi Ibrahim ini mengandung pesan jangan kamu meninggalkan agama itu walau sesaat pun. Sehingga dengan demikian, kapan pun saatnya kematian datang kepada kamu, kamu semua tetap menganutnya.
Kematian tidak dapat diduga datangnya. Jika kamu melepaskan ajaran ini dalam salah satu detik hidupmu, jangan-jangan sampai pada detik itu kematian datang merenggut nyawamu, sehingga kamu mati tidak dalam keadaan berserah diri. Karena itu, jangan sampai ada saat dalam hidup kamu,yang tidak disertai oleh ajaran ini.52Untuk menghindari akhir hidup yang fana ini dari sū'ulkhātimah, umat Islam hendaklah senantiasa memohon kepada Allah agar bisa mengakhiri hidupnya dengan Husnul-khātimah berpegang kepada hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ،وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ . رواه الحاكم عن ابن عباس
Pergunakanlah lima waktu sebelum datang lima waktu yang lainnya:hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, lowongmu sebelum repotmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan kayamu sebelum miskinmu”. (Riwayat al-Hākim dari Ibnu ‘Abbās)
Hadis tersebut mengingatkan dan memerintahkan kepada umat Islam agar menggunakan waktunya sebaik-baiknya,mempergunakan umurnya untuk hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran Islam sebelum datang ajalnya. Waktu sehat digunakan dengan baik sebelum jatuh sakit, karena kalau sudah sakit, seseorang tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang memerlukan
tenaga dan kekuatan. Begitu pula halnya dalam memanfaatkan waktu luang sebelum datang waktu sempit. Jika sudah didera kesibukan, seseorang tidak bisa lagi bekerja dengan baik.Demikian pula masa muda jangan pernah disia-siakan, tetapi hendaknya dipergunakan sebaik-baiknya, karena jika sudah tua,tidak bisa lagi mengerjakan sesuatu dengan baik, atau malah sudah tidak bisa sama sekali mengerjakannya sebagaimana ketika masih muda. Karena kekuatan dan tenaga serta kemampuan berkreasi sudah kurang, bahkan hampir tidak ada lagi di masa itu. Jika sudah begitu, timbullah penyesalan yang tidak berguna, sementara masa muda tidak mungkin kembali lagi. Seorang pujangga Arab berkata:
لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا * فَأُخْبِرَهُ بِمَا فَعَلَ الْمَشِيْبُ
Andai masa muda itu kembali pada suatu masa, maka saya akan beritahukan apa yang dilakukan oleh masa tua.
Kegunaan mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk melaksanakan ajaran agama perlu diperhatikan agar pada akhir hayat mati dengan husnul-khātimah, dan bukan dengan sū'ul-khātimah. Sebagai makhluk, manusia tentu tidak luput dari salah dan lupa. Untuk itu setiap orang wajib bertobat dari segala dosa, atau pelanggaran yang telah dilakukannya sebelum ia sampai pada sekarat, karena Allah masih menerima tobat seorang hamba sebelum nyawanya sampai di kerongkongan (sakratul-maut), sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالمَ يُغَرْغِرْ . رواه أحمد والترمذي عن ابن عمر
Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba, sebelum nyawanya sampai di kerongkongan. (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzī dari Ibnu ‘Umar)
Ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan, itulah saat-saat yang menentukan apakah ia akan mendapatkan rahmat atau ditimpa kehinaan. Saat itu sudah tidak ada gunanya lagi tobat dan pernyataan ingin beriman. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
imageMaka iman mereka ketika mereka melihat azab Kami tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir. (Ghāfir/40: 85)
Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka,
(barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisā'/4: 18)
Tobat selalu terhampar bagi seorang hamba sampai ia melihat dengan mata kepala sendiri sang malaikat yang akan mencabut nyawanya, yaitu ketika dalam keadaan sekarat. Itulah saatnya nyawa sudah lepas dari dada menuju tenggorakan. Itulah saatnya orang melihat Malaikat Maut dengan mata kepalanya sendiri, saat itulah maut datang menjelang. Karena itu,hendaklah seseorang bertobat sebelum sekarat.
Wallāhu ‘alam bish-Shawāb.

Catatan:
  1. Lihat: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), cet. I, h. 566, 567.
  2. Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), cet. III, Jilid III, h. 211.
  3. Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyyah, al-Mu‘jam al-Wasīth (Mesir: Dārul-Ma‘rifah, 1973 M/1393 H), Jilid II, h. 890, 891.
  4. Kamus Kedokteran Dorland, (Jakarta: Kedokteran EGC, 2002), h. 567.
  5. M. Quraish Shihab, ‘Makna Kematian’ dalam Muhammad Wahyuni Nafis (ed), Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam,(Jakarta:Paramadina, 1996), h. 221.
  6. ar-Rāghib al-Ashfahānī, Mu‘jam Mufradāt Alfāzh Al-Qur'ān, (Beirut:Dārul-Fikr, t.th.), h. 497.
  7. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati,1421H/2000 M), Jilid I, h. 261, 262.
  8. Surah Yāsīn/36: 78.
  9. Muhammad Husain Haikal, Hayātu Muhammad, (Mesir: Dārul-‘Ilmi, t.th.), h. 259.
  10. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, (Jakarta: Lentera Hati,2001), cet. IV, h. 19.
  11. Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, h. 212.
  12. Mahmūd Syaltūt, al-Fatāwā, (Mesir: Dārusy-Syurūq, 1499 H/1980 M), cet. x, h. 19.
  13. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, kitab al-Mardhā,bab Tamannil-mardhal-maut No. 5239; Muslim dalam kitab adz-dzikr wa du‘a No.4840.
  14. Hadis Hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmiżī, bab Mā jā’a fī żikrilmaut No. 2229, berkata Imam at-Tirmiżī: Hadis ini hasan sahih; an-Nasā’ī meriwayatkannya dalam kitab al-Janā’iz No. 1801.
  15. Jalāluddīn as-Suyūthī, al-Jāmi‘ ash-Shagīr, (Beirut: Dārul-Kutub al-Islāmiyah, t.th), Jilid II, h. 9.
  16. Imām al-Qurthubī, Rahasia Kematian, Alam Akhirat dan Kiamat,(terjemahan dari kitab: التذكرة فى أحوال الموتى وأحوال الآخرة , oleh Abd. Rasyad Shiddiq), (Jakarta: Akbar, 2004), cet. II, h.10.
  17. Imam al-Qurthubī, Rahasia Kematian, Alam Akhirat dan Kiamat, h.10, 11.
  18. M. Quraish Shihab, Pejalanan Menuju Keabadian, h. 85, 86.
  19. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 86.
  20. Jalāluddīn as-Suyūthī, al-Jāmi‘ ash-Shagīr, Jilid II, h. 160 dan lihat: Muhammad ‘Allān, Dalīlul-Fālihīn, h. 198.
  21. Jalāluddīn as-Suyūthī, al-Jāmi‘ ash-Shagīr, Jilid II, h. 9.
  22. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 53.
  23. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 54.
  24. Depag RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, (Jakarta: Balitbang dan Diklat,2008), cet I, jilid IX, h. 440.
  25. Ibnu Katsīr, Tafsir Al-Qur'an Al-‘Azhīm, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999 M), cet. I, Jilid II, h. 252.
  26. Imam al-Qurthubī, Rahasia Kematian, Alam Akhirat dan Kiamat, h. 99
  27. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 77; dan lihat:al-Ghazāli, Ihyā' ‘Ulūmiddīn, (Beirut: Dār Ihyā'ut-Turāts al-‘Arabī, t. th), jilid IV, h. 464.
  28. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 77, 78; al-Qurthubī, Rahasia Kematian, h. 34
  29. Hadis Riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Janā’iz, bab Talqīn mautā, No. 1523.
  30. Hadis hasan, diiriwayatkan oleh Abū Dāwud dalam Sunan Abū Dāwud, Kitab al-Janā’iz, bab fī Talqīn, hadis No. 2709.
  31. al-Ghazālī, Ihyā ‘Ulūmiddīn, h. 466.
  32. Dikemukakan oleh al-Bagawi dalam Syarah as-Sunnah (V/296).
  33. Imam al-Qurthubī, Rahasia Kematian, h. 35.
  34. Hadis riwayat Abū Dāwud dalam Sunan Abū Dāwud, kitab washayā hadis No. 2490; al-Baihaqī dalam Sunanul-Kubrā, Jilid 3, h. 409.35 Wahbah az-Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmy wa Adillatuhū, (Damaskus:Dārul-Fikr, 1409 H/1989 M), cet. III, jilid II, h. 452.
  35. Sayid Sābiq, Fiqhus-Sunnah, (Beirut: Dārul-Fikr, 1983), jilid I, h.421.
  36. Sayid Sābiq, Fiqhus-Sunnah, (Beirut: Dārul-Fikr, 1983), jilid I, h.421
  37. as-Sāyid Sābiq, Fiqhus-Sunnah, h. 421.
  38. Hadis daif, riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, No.19415; an-Nasā’ī dalam kitab Sunan Kubrā, No.10914; ath-Thabrānī dalam al-Mu‘jam al-Kabīr No.16905; Imam Haitsamī dalam Majma‘ Zawā’id, jilid 3 h.136 menyatakan:‘Pada sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang tidak disebutkan, adapun perawi lainnya tsiqah’.
  39. Wahbah az-Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, h. 454.
  40. Hadis riwayat muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-Janāiz, bab fī Igmadh al-Mayt.
  41. Lihat Sayid Sābiq, Fiqhus-Sunnah, h. 422.
  42. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, kitab al-Libās,bab al-Burūd wal-habirah wasyamlah, No. 5376.
  43. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 88.
  44. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 88, 89.
  45. Hadis إنما الأعمال بالخواثم , diriwayatkan juga oleh Muslim, lihat Muhammad bin ‘Allān: Dalīlul-Fālihīn, h. 11.
  46. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 71.
  47. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Kebadian, h. 71, 72.
  48. Hadis riwayat al-Bukhārī dalam Shahihul-Bukhārī, kitab Ahādītsul-Anbiy’ā, No. 3085; Muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-Qodar, No. 4781.
  49. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 72.
  50. Imam al-Qurthubī, Rahasia Kematian, h. 83.
  51. Imam al-Qurthubī, ibid.
  52. M. Quraish Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 73
  53. Hadis Sahih, diriwayatkan oleh al-Hākim dalam al-Mustadrak al-Hākim, No. 7957, al-Hākim berkata, hadis ini sahih sesuai dengan perawi shahīhain namun mereka tidak mencantumkannya.
  54. Hadis hasan, diriwayatkan Ahmad dalam Musnad Ahmad, No.6160; at-Tirmiżī dalam Sunan at-Tirmiżī, No.3537; Ibnu Mājah dalam Sunan Ibnu Mājah, No. 4253; Imam at-Tirmiżī mengomentari hadis ini:Hasan gharīb.

Tidak ada komentar: