الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

ZUHUD DAN QANĀ‘AH

Ada sementara pandangan yang keliru dalam masyarakat tentang makna kedua istilah tersebut. Ada yang memahami zuhud dengan sifat yang tidak menyukai harta sama sekali bahkan, meninggalkan arena kehidupan. Demikian juga makna qāna„ah secara sempit sering diartikan sebagai menerima apa adanya dengan konotasi yang pasif (nrimo ing pandum). Bagaimana sebenarnya pandangan Al-Qur′an secara khusus dan Islam secara umum menyangkut kedua istilah tersebut. Secara teknis pembahasan kedua istilah tersebut akan dilakukan secara terpisah.
A. Zuhud
1. Pengertian
Secara kebahasaan zuhud mengandung arti berpantang, meninggalkan, menarik diri dari sesuatu/to abstain from, renounce, withdraw from.1 Kata zahida fīhi wa ‘anhu, zuhdan wa zahādatan artinya berpaling dari sesuatu, meninggalkannya karena nilai rendahnya. Lafaz zahuda fīsy-syai′ artinya tidak membutuh-kannya. Zahida fid-dunyā artinya meninggalkan hal-hal yang halal dari dunia karena takut hisabnya dan meninggalkan yang haram dari dunia karena takut siksaannya. Tazahhada artinya menjadi
orang yang zuhud dan ahli ibadah.2 Pengertian kebahasaan ini disinggung dalam Al-Qur′an Surah Yūsuf/12: 20:
12_20Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya. (Yūsuf/12: 20)
adh-Dhahhāk, sebagaimana dikutip Ibnu Ka♧īr mengartikan ungkapan wa kānū fīhi minaz-zāhidīn mereka tidak tertarik karena mereka tidak mengetahui persoalan kenabian yang akan diturunkan oleh Allah subhānahū wa ta’ālā kepada Yusuf.3 Sementara Quraish Shihab mengartikan dengan ketidak-senangan terhadap sesuatu yang biasanya disenangi.4
Secara terminologi, zuhud menurut Ibnul Jauzī merupakan ungkapan tentang pengalihan keinginan dari sesuatu kepada sesuatu lain yang lebih baik darinya. Syarat sesuatu yang tidak disukai haruslah berupa sesuatu yang memang tidak disukai dengan pertimbangan tertentu. Siapa yang tidak menyukai sesuatu yang bukan termasuk hal yang disenangi dan dicari jiwanya, tidak harus disebut orang yang zuhud, seperti orang yang tidak suka makan batu, maka tidak disebut orang zuhud. Jadi zuhud itu bukan sekedar meninggalkan harta dan mengeluarkannya dengan suka rela ketika badan kuat dan ada kecenderungan hati kepadanya. Tetapi zuhud ialah meninggalkan dunia karena didasarkan pengetahuan tentang nilainya yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan nilai akhirat.5Ibnu Taimiyah mendefinisikan zuhud dengan menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik karena memang tidak ada manfaatnya atau karena keadaannya yang tidak diutamakan, karena ia dapat menghilangkan sesuatu yang lebih bermanfaat atau dapat mengancam manfaatnya, baik manfaat yang sudah pasti maupun manfaat yang diprediksi.6
Imam al-Qusyairī (w. 465 H) mengutip dari gurunya Syeikh Abū ‘Alī ad-Daqqāq mengatakan pada umumnya banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Ada yang mengatakan bahwa zuhud berkaitan dengan perkara yang diharamkan saja. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan bahwa zuhud terhadap hal yang diharamkan adalah kewajiban, sementara zuhud dengan hal yang dihalalkan adalah suatu keutamaan. Apabila seorang hamba miskin dia bersabar dengan keadaannya maka dia dapat dikatakan sebagai orang yang zuhud. Sebaliknya orang yang apabila dianugerahi kekayaan dia dapat selalu bersyukur maka dia pun seorang yang zuhud.7Di samping pengertian di atas para penulis dari kalangan ulama sufi hampir semuanya memuat dan membicarakan tentang zuhud. Perbedaan yang ada secara umum hanya pada aspek redaksional saja, sedangkan dari sisi substansi maknanya hampir dapat dikatakan sama. Misalnya; Abū Sulaimān ad-Darānī mengartikan zuhud dengan menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan anda dari Allah subhānahū wa ta‘ālā.
Dari beberapa pengertian zuhud yang dikutip di atas dapat ditarik benang merah, pengertian zuhud yaitu sebuah sikap dalam hal menjaga jarak (hatinya) dengan harta dunia, di saat seseorang sanggup untuk meraihnya. Kalau demikian timbul pertanyaan antara satu orang dengan orang yang lain dalam berzuhud boleh jadi berbeda-beda dan inilah yang akan diuraikan di bawah ini.
2. Tingkatan zuhud
Ahmad bin hanbal membagi zuhud menjadi tiga macam;
  1. Menjauhi yang diharamkan adalah zuhud kaum awam.
  2. Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam hal yang dihalalkan adalah zuhud orang khusus.
  3. Menjauhi apa pun yang memalingkan seseorang dari Allah subhānahū wa ta‘ālā adalah zuhud kaum ‘ārifīn.8
Sedangkan Ibnu Taimiyah membagi tingkatan zuhud ada empat dengan sedikit perbedaan redaksional dari pendapat di atas;
  1. Zuhud dalam hal yang haram, maka hukumnya fardu ‘ain.
  2. Zuhud dalam hal syubhat, tergantung kepada tingkatan-tingkatan syubhat. Jika syubhat lebih kuat ia lebih dicondongkan kepada hukum wajib, dan jika lemah maka ia dicondongkan kepada sunah.
  3. Zuhud dalam hal yang berlebih, zuhud dalam hal-hal yang tidak dibutuhkan: berupa perkataan, pandangan, pertanyaan, pertemuan dan lain-lain.
  4. Zuhud yang menghimpun semuanya, yaitu zuhud dalam perkara selain Allah subhānahū wa ta‘ālā.
    Tingkatan ini dapat dikelompokkan lagi menjadi dua golongan:
    a. Orang yang zuhud di dunia secara keseluruhan. Maksudnya bukan melepaskan dunia ini dari tangan sama sekali dan duduk berdiam diri, tetapi maksudnya adalah mengeluarkan dunia itu secara keseluruhan dari hatinya, tidak menengoknya dan tidak membiarkannya mengendap di dalam hati, meskipun sebagian dunia itu ada di genggamannya.
    b. Zuhud terhadap diri sendiri; yaitu ketika seseorang telah dapat menjadikan hatinya sama sekali berpaling dari keinginan-keinginan pribadi dan hanya total mengikuti Allah subhānahū wa ta‘ālā.9


3. Isyarat Al-Qur′an tentang pentingnya bersikap zuhud terhadap dunia
Secara tegas Al-Qur′an menyebut bahwa harta dunia adalah cobaan bagi manusia, hal ini disebutkan dalam Surah al-Anfāl/8: 28:
8_28Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (al-Anfāl/8: 28)
Ayat yang sama dengan sedikit redaksi yang berbeda terdapat dalam Surah at-Taghābun/64: 15, dimana Al-Qur′an menghimbau agar orang yang beriman berhati-hati terhadap dunia. Di antara ayat yang menjelaskan hal ini adalah Surah al-Hadīd/57: 20
57_20Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (al-Hadīd/57: 20)
Sebagian orang menjadikan ayat-ayat tersebut untuk menilai betapa rendahnya kehidupan dunia. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar karena prinsip yang dikembangkan Islam adalah bahwa semua yang berasal dari Allah subhānahū wa ta‘ālā adalah baik tentu termasuk kehidupan dunia, yang buruk adalah cara manusia menyikapinya. Maka ayat tersebut menguraikan makna kehidupan dunia bagi orang-orang yang melalaikan kehidupan akhirat. Sementara bagi orang yang beriman makna kehidupan dunia akan bernilai tidak seperti tersebut di atas.
Ungkapan yang menarik diberikan oleh Ibnu ‘Athāillāh as-Sakandarī untuk melukiskan kehidupan dunia; “Yang ada dalam alam semesta ini lahiriyahnya adalah tipuan dan batiniyahnya adalah pelajaran (‘ibrah), Nafsu syahwat melihat kepada tipuan lahiriyahnya dan hati melihat kepada pelajaran batiniyahnya, apabila engkau mengharapkan mendapatkan kemuliaan yang tidak musnah, maka janganlah mengharap mendapatkan kemuliaan yang dapat musnah”.10
Dari ungkapan di atas dapat dimengerti bahwa dalam memandang kehidupan dunia ini, manusia tidak boleh hanya menggunakan nafsu syahwatnya saja, karena kalau itu yang dilakukan maka yang akan diperoleh hanyalah tipuan belaka. Maka yang harus dilakukan adalah menggunakan pandangan mata hati supaya yang diperoleh adalah pelajarannya. Artinya kepada hal yang bersifat lahiriyah, manusia harus mampu melihatnya dengan indra batinnya, sehingga dunia tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang buruk melainkan menjadi sesuatu yang baik lagi mulia.
Agar manusia tidak keliru bersikap terhadap kehidupan dunia, Al-Qur′an mendeskripsikan kehidupan dunia sebagai berikut;
Pertama, senda gurau dan permainan
Di samping Surah al-Hadīd ayat 20 di atas, ada dua ayat lain yang senada menjelaskan tentang kehidupan dunia sebagai senda gurau dan permainan yaitu Surah al-An’ām/6: 32 dan al-‘Ankabūt/29: 34. Sementara mufasir menjelaskan tentang kenikmatan dunia hanyalah sekedar untuk menghilangkan ketidaknyamanan, misalnya nikmatnya makan untuk menghi-langkan rasa lapar, sehingga kalau seseorang sudah kenyang maka tidak terasa lagi nikmat makan.11
Dari ketiga ayat tersebut di atas, dua ayat menyebutkan permainan lebih dahulu daripada senda gurau. Hal ini menjadi perhatian para mufasir dengan menjelaskan bahwa al-la’b/permainan mengandung arti segala aktifitas yang tidak memiliki tujuan atau untuk suatu tujuan yang tidak wajar, dalam arti membawa manfaat atau mencegah mudarat. Dengan ungkapan lain hanya untuk menghabiskan waktu, hal ini biasanya dilakukan oleh anak-anak. Sedangkan kata al-lahwu/senda gurau adalah segala aktifitas yang ada tujuannya namun sama sekali tidak bermanfaat, atau mengakibatkan pelakunya lengah dari melakukan pekerjaan yang bermanfaat atau lebih bermanfaat, hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah menginjak usia remaja bahkan dewasa. Maka kata permainan didahulukan karena masa kanak-kanak terjadi lebih dahulu dari pada masa dewasa.12
Kedua, perhiasan
Al-Qur′an melukiskan bahwa kehidupan dunia ini adalah indah seperti perhiasan bagi sementara orang. Kriteria kesuksesan dan kebahagiaan pun mengacu kepada kehidupan dunia. Inilah yang diisyaratkan dalam Al-Qur′an Surah al-Baqarah/2: 212
2_212Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (al-Baqarah/2: 212)
Salah satu indikasi bahwa orang-orang kafir hanya melihat dan mengukur segala sesuatu dari hal-hal yang bersifat materi diisyaratkan dalam ayat tersebut dengan sikap mereka yang merendahkan orang-orang yang beriman. Padahal seperti Allah tegaskan dalam ayat tersebut orang-orang yang beriman dan bertaqwa jelas lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah subhānahū wa ta‘ālā, meskipun hakikat ini tidak diakui oleh orang-orang yang kafir. Namun pada hari Kiamat hal tersebut tidak mungkin terjadi. Kalau di kehidupan dunia bisa saja orang-orang kafir melakukan hal ini namun tidak untuk di akhirat nanti.13
Perhiasan kehidupan dunia yang paling utama adalah harta dan anak-anak, hal ini diisyaratkan dalam Surah al-Kahf/18: 46
18_46Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (al-Kahf/18: 46)
Harta dan anak disebut sebagai perhiasan karena secara umum keduanya adalah dua hal yang paling dirindukan oleh manusia. Ungkapan Al-Qur′an tersebut dinilai oleh para mufasir amat tepat apabila dibandingkan dengan istilah lain ”sesuatu yang berharga”/qīmah umpamanya, karena harta dan anak-anak tidak menjamin pemiliknya berharga/bernilai. Kemuliaan dan nilai seseorang dalam pandangan Al-Qur′an ditentukan oleh kualitas imannya bukan harta dan anak-anaknya.
Ayat-ayat lain yang melukiskan kehidupan dunia sebagai perhiasan antara lain Surah Āli ‘Imrān/3: 14, al-Kahf/18: 7 dan 27.
Ketiga, tipuan (al-ghurūr )
Di antara alasan mengapa kehidupan dunia ini dinilai sebagai menipu adalah karena kehidupan dunia dapat menjadikan manusia merasa condong kepadanya dan lalai sehingga meninggalkan apa yang seharusnya mereka persiapkan untuk bisa meraih kehidupan yang lebih sempurna dan abadi, serta lalai dari memersiapkan diri untuk dapat menghindar dari siksaan Allah kelak di akhirat.14Di antara ayat yang menjelaskan hal ini adalah Surah Āli ‘Imrān/3: 185
3_185Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Āli ‘Imrān/3: 185)
Frase terakhir dalam ayat tersebut menyatakan bahwa, kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya oleh Sayyid Quthub diberi penjelasan bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan, tetapi ia bukanlah kesenangan yang sejati, bukan kesenangan yang sehat dan menyadarkan. Tetapi ia adalah kesenangan yang memperdaya, kesenangan yang menipu manusia, atau kesenangan yang mengakibatkan keterpedayaan dan ketertipuan. Sedangkan kesenangan yang sebenarnya adalah kesuksesan mendapat surga.15Cukup banyak ayat yang menginformasikan bahwa kehidupan dunia adalah memperdaya, di antaranya; Surah al- An’ām/6: 70 dan 130, al-A’rāf/7: 51, Fāthir/35: 5, al-Hadīd/57:20. Sungguhpun dunia itu adalah tipuan dan kalau pada akhirnya manusia benar-benar tertipu, bukan kehidupan dunianya yang harus disalahkan, tetapi manusia sendiri mengapa mereka sampai dapat tertipu. Padahal Allah sudah jelas-jelas memperingatkan masalah ini.
Keempat, harta benda/al-‘aradh
Al-Qur′an juga menyebutkan tentang gambaran kehidupan dunia sebatas dan seputar harta benda saja. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat, di antaranya dalam Surah an-Nisā′/4: 94
4_94Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah (carilah keterangan) dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘‘salam” kepadamu, ‘‘Kamu bukan seorang yang beriman,” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, padahal di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah memberikan nikmat-Nya kepadamu, maka telitilah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (an-Nisā′/4: 94)
Harta benda kehidupan dunia mengandung makna “sesuatu yang sedikit dan tidak kekal, mudah diperoleh dan mudah pula hilangnya”. Dari sini dapat dipahami penegasan Allah subhānahū wa ta‘ālā yang menyatakan bahwa: Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Sungguh, Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (an-Nahl/16: 96)
Ayat lain yang menyatakan bahwa kehidupan dunia adalah sebatas harta benda saja tersebut dalam Surah al-A’rāf/7: 169, al-Anfāl/8: 67, an-Nūr/24: 33.
Dalam hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam banyak ditemukan penjelasan tentang deskripsi kehidupan yang secara umum tidak berbeda dengan penjelasan Al-Qur′an. 16
zuhud01Barang siapa yang hasratnya adalah akhirat, maka Allah menghimpun hasratnya, menjadikan kekayaan ada di dalam hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan yang hina. Dan barang siapa yang hasratnya adalah dunia, maka Allah menceraiberaikan urusannya, menjadikan kefakiran tampak di depan matanya dan sebagian dari kehidupan dunia tidak datang kepadanya melainkan yang sudah ditetapkan baginya. (Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Zaid bin Tsābit)
Dalam hadis yang lain seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Abū Hurairah, Rasulullah bersabda: 17
zuhud02Kekayaan yang sebenarnya bukanlah terletak banyaknya harta benda, akan tetapi terletak pada kelapangan hati. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)
Dari pemaparan ayat-ayat di atas tentang gambaran harta benda dunia, wajar jika Al-Qur′an secara tegas memerintahkan agar jangan pernah risau dengan kehidupan dunia. Hal ini dapat dilihat dari penegasan Allah subhānahū wa ta‘ālā dalam Surah Thāhā/20: 131
20_131Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. (Thāhā/20: 131)
Redaksi yang hampir sama disebut dalam Surah al-Hijr/15: 88. Kata madda secara harfiah berarti memanjangkan. Memanjangkan mata terhadap sesuatu, pertanda perhatian yang besar serta rasa kagum dan cinta kepadanya. Dari sini larangan di atas dipahami sebagai larangan untuk menaruh perhatian yang luar biasa dan keinginan yang mendalam serta rasa kagum terhadap hiasan dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir.18Maka bagi orang-orang yang perhatiannya hanya kepada kehidupan dunia semata, bahkan ketenteraman dan kebahagiaannya pun diukur dari kepemilikan harta dunia maka Allah telah mengancam kelompok orang seperti ini dengan siksa di neraka. Surah Yūnus/10: 7- 8 mengisyaratkan hal ini:
10_7-8Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan. (Yūnus/10: 7-8)
Salah satu sifat negatif manusia yang kemudian dikoreksi oleh Al-Qur′an adalah bahwa kebanyakan manusia mengukur kesuksesan dalam hidup dan pada gilirannya mengukur keridaan Allah pun dari aspek dunia semata. Hal ini dinyatakan dalam Surah al-Fajr/89: 15-16
89_15-16Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (al-Fajr/89: 15-16)
Karena harta dunia ini bukanlah sebagai ukuran keridaan Allah subhānahū wa ta‘ālā terhadap manusia, maka wajar kalau orang-orang yang durhaka terhadap Allah pun dianugerahi harta. Dalam hal ini Allah subhānahū wa ta‘ālā menciptakan hukum dalam pembagian harta dunia ini secara universal dalam arti tidak dikaitkan dengan keimanan seseorang. Maka bagi yang menghendaki dunia kemudian dia bekerja keras untuk meraihnya maka Allah akan memberinya. Ini diisyaratkan dalam Surah Hūd/11: 15-16
11_15-16Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (Hūd/11: 15-16)
Dari sinilah dapat dimengerti bahwa bagi seorang muslim bersikap zuhud terhadap dunia adalah sebuah kewajiban sekaligus tuntutan atas dirinya bila ia menginginkan kebaha-giaan hidup dunia dan akhirat. Para sufi banyak menyoroti hal ini. Di antara ungkapan-ungkapan mereka yang berkaitan dengan hal ini adalah:
Fudhail bin Iyyādh (w. 208 H) mengemukakan; “Semua kejahatan itu diletakkan di dalam sebuah rumah dan kunci rumah itu adalah kecintaan terhadap dunia. Semua kebaikan itu diletakkan di dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud terhadap dunia”. Demikian juga ungkapannya: “zuhud terhadap dunia itu dapat menenteramkan hati dan menyehatkan badan. Sedangkan kesenangan kepada dunia memperbanyak kekhawatiran dan kesedihan.”19
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam menegaskan kembali bahwa: 20
zuhud03Sesunguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkatmu sebagai khalifah di dunia. Kemudian Dia melihat bagaimana kamu berbuat. Maka takutlah pada dunia dan takutlah pada wanita. Sesungguhnya fitnah pertama yang diujikan pada Bani Israil adalah wanita. (Riwayat Muslim dari Abū Sa’īd al-Khudrī)
Sesuatu yang amat merisaukan Rasulullah atas umatnya bukanlah kemiskinan melainkan kekayaan yang terbuka lebar sehingga mereka saling bermusuhan untuk memperebutkannya. Seperti yang dikisahkan dalam shahīhul-Bukhārī bahwa Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāh baru saja tiba dari Bahrain dan dia diberitakan membawa harta yang banyak. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abū Ubadah ini. Mereka menunaikan shalat bersama Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Seusai shalat Rasulullah berpaling dan mereka pun menghadap beliau, Rasulullah tersenyum ketika melihat mereka, kemudian bersabda, “Aku yakin bahwa kalian mendengar Abū ‘Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu.” Mereka menjawab benar wahai Rasulullah, Kemudian Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘‘Bergembiralah dan berharaplah apa yang akan membahagiakan kalian, Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian tetapi aku mengkhawatirkan kalian jika dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana pernah dibentangkan kepada orang sebelum kalian lalu mereka memperebutkannya sebagaimana kalian memperebutkan, kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka”.21
3. Tanda-tanda zuhud
Ibnu Qudāmah dalam Minhājul-Qāshidīn menyebutkan tiga tanda zuhud;
Pertama, Tidak terlalu gembira ketika ada dan tidak terlalu berduka apalagi putus asa ketika tidak ada. Hal ini menyangkut zuhud terhadap harta. Ungkapan tersebut merupakan petunjuk Al-Qur′an seperti yang disebutkan dalam Surah al-Hadīd/57: 23
57_23Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (al-Hadīd/57: 23)
Kedua, Bersikap menyeimbangkan diri baik terhadap orang yang memuji maupun mencelanya. Ibnu Qudāmah menyebutnya sebagai zuhud yang berkaitan dengan kedudukan.
Ketiga, Kebersamaannya hanya dengan Allah subhānahū wa ta‘ālā, biasanya dalam hatinya ada kelezatan karena ketaatan.22
Ibnu ‘Athāillāh (w. 709 H/1350 M) membagi tanda zuhud terhadap dunia menjadi dua saja; tanda ketika memiliki harta dan tanda ketika tidak memilikinya. Ketika memiliki harta seorang zahid selalu mendahulukan orang lain. Dan ketika tidak memilikinya ia selalu bersikap lapang dan rida.23
Orang yang mendahulukan kepentingan orang lain berarti mensyukuri nikmat keberadaan. Dan orang yang merasa lapang ketika tidak punya berarti mensyukuri nikmat ketiadaan. Menurutnya, anugerah Allah subhānahū wa ta‘ālā tidak hanya berupa pemberian harta. Dia tidak memberi pun merupakan salah satu bentuk anugerah-Nya. Bahkan ketika tidak memberi harta, nikmat-Nya menjadi lebih sempurna.
4. Jalan untuk meraih zuhud
Secara eksplisit tidak ditemukan petunjuk Al-Qur′an tentang bagaimana cara untuk berzuhud. Namun apabila melihat hakikat zuhud seperti di atas maka cukup banyak ayat yang dapat dijadikan landasan tentang bagaimana cara berzuhud. Di antara ayat tersebut adalah Surah Āli ‘Imrān/3: 191
image(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Āli ‘Imrān/3: 191)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia yang dianugerahkan berbagai macam alat agar dapat memerankan tugas dan fungsinya di kehidupan dunia ini dengan baik. Diantara instrumen yang utama adalah akal fikiran dan hati. Keduanya harus digunakan secara proporsional termasuk sebagai cara untuk menempuh jalan kezuhudan. Ayat di atas memberi petunjuk bahwa hati seseorang haruslah hanya digunakan untuk mengingat Allah subhānahū wa ta‘ālā, sementara selain Allah itu hendaklah diletakkan dalam akal pikirannya atau di tempatnya.
Di sinilah dapat dimengerti mengapa Allah subhānahū wa ta‘ālā menyatakan bahwa orang-orang yang beriman akan selalu tenteram hidupnya manakala hatinya selalu mengingat Allah. Ketahuilah hanya dengan hati yang selalu mengingat Allah maka akan menjadi tenteram (ar-Ra’d/13: 28). Artinya kalau ada orang yang menjalani hidupnya diliputi ketidaktenteraman, kegelisahan, kesedihan dan lain-lain, maka salah satu kemungki-nannya adalah bahwa yang dominan dalam hati orang tersebut bukanlah Allah subhānahū wa ta‘ālā. Karena Allah subhānahū wa ta‘ālā menegaskan dalam ayat yang lain: ‘‘Bahwa Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya” (al-Ahzāb/33: 4).
Kalau dalam hati seseorang dipenuhi dengan ambisi kehidupan dunia maka hati yang seperti ini tidak mungkin dapat digunakan untuk mengingat Allah subhānahū wa ta‘ālā. Sebaliknya kalau hati tersebut selalu digunakan untuk mengingat Allah subhānahū wa ta‘ālā maka yang selain Allah subhānahū wa ta‘ālā pun pasti akan keluar dari hati orang tersebut. Maka seseorang yang menjalani kehidupan zuhud tidak harus menjauhi apalagi membuang dunia dari kepemilikannya, akan tetapi yang harus dilakukan adalah mengeluarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia (selain Allah) dari rasa kepemilikannya dalam hatinya. Oleh karena itu, manusia boleh mengelola dan menyimpan dunia sebanyak-banyaknya di tempat mana saja asal jangan di dalam hatinya. Sebab apabila dunia itu dikelola dan disimpan di dalam hati maka manusia itu justru yang akan dikelola dan disimpan oleh harta bendanya.24
Sebuah kisah yang cukup menarik dapat menjelaskan tentang prinsip ini;
Ibnu ‘Arabī yang mendapat gelar syaikhul-akbar/guru agung memiliki murid yang mempraktekkan cara hidup “zuhud” dengan menjauhi kenikmatan dunia. Dia tinggal bersama dengan murid-muridnya. Menu makanannya sehari-hari adalah kepala ikan, (sampai dia dikenal sebagai syaikh kepala ikan) sengaja dia tidak mau makan dagingnya karena ingin mempraktekkan hidup zuhud. Suatu ketika muridnya hendak pergi ke kota untuk suatu urusan, maka dia berpesan agar mampir ke kediaman gurunya yaitu Ibnu ‘Arabī untuk meminta nasehatnya. Ibnu ‘Arabī saat itu menjabat qādhī di pemerintahan Islam di Andalusia sehingga secara materi cukup makmur. Maka ketika mendapati kediaman syaikhul-akbar yang mewah si murid jadi ragu apa benar ini adalah guru dari gurunya. Sesampainya di dalam dan setelah menyampaikan pesan gurunya maka Ibnu ‘Arabī menitip nasehat kepada muridnya tersebut yaitu agar dia tidak terlalu memikirkan dunia. Mendengar nasehat tersebut si murid bertambah bingung, apa tidak terbalik nasehatnya. Sesampainya di hadapan gurunya maka nasehat tersebut disampaikan, dan guru tersebut kemudian sujud syukur, sementara si murid masih bingung. Guru tersebut kemudian menjelaskan: “Selama ini kalian tahu aku hanya makan makanan yang amat sedikit dan terbatas salah satunya kepala ikan, dan ternyata itu tidak menjadikan ibadahku khusyu„ karena selalu saja terbayang dalam benakku, betapa lezatnya daging ikan itu, dan guruku mengetahui hakikat itu”.
Sebagai penutup pembahasan tentang zuhud ini mari kita dengar penuturan seorang sufi Abū Utsmān al-Hīrī (w. 298 H): “Allah subhānahū wa ta‘ālā akan memberi orang yang zahid lebih dari yang diinginkannya”.25Salah satu persyaratan agar seseorang dapat besikap zuhud maka dia harus bersifat qanā‘ah , inilah yang akan dibahas dalam tulisan berikut ini.
B. Qanā‘ah
1. Pengertian
Secara kebahasaan qanā‘ah berarti merasa puas dan rela atas bagiannya.26 Para ulama sufi mendefinisikan qanā‘ah dengan berbagai macam redaksi, di antaranya Muhammad bin ‘Alī at-Tirmidzī menegaskan bahwa qanā‘ah adalah kepuasan jiwa terhadap rezeki yang diberikan.27 Sementara yang lain berkata qanā‘ah adalah sikap tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada.28 Salah seorang sufi ditanya, siapa yang paling qanā‘ah di antara umat manusia? Ia menjawab: “Yaitu orang yang paling berguna bagi umat manusia dan paling sedikit upahnya”. al-Qusyairī mengutip, “Allah subhānahū wa ta‘ālā menempatkan lima perkara dalam lima tempat; keagungan dalam ibadah, kehinaan dalam dosa, kekhidmatan dalam bangun malam, kebijaksanaan dalam perut kosong/ puasa dan kekayaan/cukup dalam qanā‘ah .29
2. Syarat qanā‘ah
Sifat qanā‘ah tidak dapat dicapai oleh seseorang sebelum terpenuhi tiga syarat;
Pertama, usaha maksimal yang halal; kedua, keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal tersebut; ketiga, dengan suka cita menyerahkan apa yang telah dihasilkan karena puas dengan apa yang telah diperolehnya.30Ketiga syarat di atas akan dibahas satu persatu di bawah ini:
Pertama, usaha maksimal yang halal.
Seseorang baru dikatakan qanā‘ah kalau terlebih dahulu melakukan usaha yang maksimal untuk meraih sesuatu dari anugerah Allah, khususnya dalam persoalan rezeki. Bahkan Al-Qur′an menyatakan bekerja itu adalah bagian dari ekspresi syukur, seperti firman Allah subhānahū wa ta‘ālā dalam Surah Saba′/34: 13
imageBekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Saba′/34: 13)
Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. Ini berarti nikmat yang diperoleh menun-tut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah.31
Cukup banyak ayat yang mendorong agar manusia berusaha secara maksimal dalam hidup, baik yang meng-gunakan redaksi langsung misalnya seperti “bekerjalah/ i‘malū” atau redaksi yang tidak langsung seperti “makan dan minum-lah”, bahkan termasuk perintah agar orang beriman berin-fak/bersedekah ini mengisyaratkan perintah untuk berusaha. Bagaimana seseorang dapat berinfak kalau tidak memiliki harta, dan salah satu cara memperoleh harta tentu saja melalui kerja. Kehidupan Rasululllah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah fakta tidak terbantahkan bahwa Islam amat menghargai usaha maksimal dan kerja keras.
Ibnu ‘Athā′illāh mengutip sebuah kisah bahwa seseorang pernah berdoa agar dirinya tidak usah bekerja dan bisa mendapatkan makan dan minum paling tidak sehari dua kali. Maksudnya orang tersebut ingin istirahat dari rasa capai karena bekerja. Kemudian orang tersebut ternyata mendapat fitnah dari seseorang yang menghantarkannya masuk penjara, dan mendapat makan dan minum dua kali dalam satu hari. Setelah sekian lama tinggal dipenjara dia terus merenung mengapa hal itu terjadi. Suatu saat di tengah perenungannya dia seperti mendengar ada yang berkata; kamu telah meminta untuk mendapat makan dan minum dua kali dalam satu hari dan doamu dikabulkan. Kamu lupa untuk meminta keselamatan. Kemudian orang tersebut bertaubat.32
3. Hikmah berusaha
Di antara hikmah mengapa manusia diharuskan berusaha adalah;
1. Allah subhānahū wa ta‘ālā mengetahui bahwa hati manusia itu lemah, tidak mampu melihat pembagian-Nya, dan kurang yakin kepada-Nya. Karena itu, Allah membolehkan bahkan mengharuskan berusaha agar kuat hatinya dan kokoh jiwanya. Dari sini dapat dipahami kemampuan manusia untuk berusaha adalah karunia Allah subhānahū wa ta‘ālā.
2. Usaha yang dilakukan seseorang dapat menjaga kehormatannya sehingga ia tidak merendahkan diri dengan meminta-minta, sekaligus dapat memelihara imannya sehingga ia tidak mengemis kepada makhluk.
3. Kesibukan berusaha dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan maksiat dan dosa. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa kasus ketika hari libur orang yang lalai hatinya banyak melakukan perbuatan dosa dan tenggelam dalam maksiat kepada Allah. Maka kesibukan bekerja dapat dimaknai sebagai rahmat dari Allah subhānahū wa ta‘ālā .
4. Dalam kerja dan usaha terdapat rahmat dan karunia dari Allah subhānahū wa ta‘ālā bagi para ahli ibadah dan hamba yang sibuk menaati-Nya, termasuk para penuntut ilmu. Tanpa usaha, para pekerja tersebut tidak dapat melak-sanakan tugasnya dengan baik terutama para pejuang di jalan Allah.
5. Allah subhānahū wa ta‘ālā ingin agar orang beriman bersatu sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara” (al-Hujurāt/49: 9). Usaha dan kerja merupakan sarana untuk saling mengenal dan untuk memunculkan cinta di antara mereka. Tidak ada yang menentang kerja kecuali orang yang bodoh atau hamba yang lalai dari Allah.33
Setelah dijelaskan tentang hikmah berusaha, selanjutnya adalah bagaimana petunjuk Al-Qur′an menyangkut cara bekerja khususnya mencari rezeki yang baik. Di antaranya, khusus yang berkaitan dengan keyakinan adalah;
1. Meluruskan niat dalam mencari dan membelanjakan rezeki. Dengan niat yang benar, segala kegiatan untuk memperoleh dan menafkahkannya akan tercatat sebagai ibadah.
2. Rezeki khususnya harta adalah amanat Allah subhānahū wa ta‘ālā yang diserahkan kepada manusia agar mereka tunaikan sesuai dengan pesan Allah.
3. Harta adalah ujian, karena itu keluasan rezeki atau kesempitannya, bukan bukti rida Allah subhānahū wa ta‘ālā atau ketidaksenangan-Nya terhadap seseorang, (al-Fajr/89: 15-16, al-Anfāl/8: 28), bahkan bisa jadi perluasan rezeki sebagai salah satu cara Allah mengulur sang durhaka sehingga semakin larut dalam kedurhakaan yang dapat mengakibatkan makin besar dan pedihnya ancaman siksa terhadapnya.
imageDan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat teguh. (al-A’rāf/7: 182-183)
4. Allah subhānahū wa ta‘ālā adalah penganugerah rezeki, Dia yang membagi-baginya sesuai kehendak-Nya. Salah satu bukti ketidakmampuan manusia membagi rezeki adalah keinginan semua manusia untuk meraih sebanyak mungkin untuk diri dan keluarganya, tetapi ternyata banyak yang tidak memperoleh dambaannya, bahkan manusia durhaka tidak pernah merasa puas dengan perolehannya. Karena itu Allah subhānahū wa ta‘ālā yang membaginya dengan cara dan kadar yang dapat mengantar terjalinnya hubungan timbal balik antara anggota masyarakat.
5. Allah subhānahū wa ta‘ālā menjamin rezeki bagi makhluk-Nya tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak dituntut peranannya. Di sisi lain, harus diyakini bahwa peranan tersebut tidak dapat membatalkan ketentuan pasti yang telah ditetapkan oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā .
6. Rezeki itu tidak hanya berupa material, namun dapat juga immaterial/spiritual. Rezeki material mendukung kelanjutan jasmani/fisik, sedangkan rezeki spiritual adalah mendukung kelanjutan ruhani.34
Kedua, keberhasilan meraih hasil
Setelah berusaha dengan baik maka persyaratan selanjutnya adalah telah berhasil meraih hasil dari usahanya. Hasil yang diraih tidak mesti harus sesuai dengan target rencananya, karena manusia memang tidak diberi wewenang oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā menentukan hasil usaha. Namun demikian sekiranya manusia berusaha sungguh-sungguh, maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Allah mengharuskan hamba-Nya untuk terus berproses menyempurnakan setiap usahanya. Pada akhirnya, Allah akan menilai dan sekaligus memberi balasan yang pantas atas setiap usaha hamba-Nya. Isyarat ini dapat dilihat dalam Surah at-Taubah/9: 105
imageDan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (at-Taubah/9: 105)
Ayat ini menegaskan pentingnya seseorang menyempurnakan proses usahanya. ath-Thabāthabā′ī mengomentari ayat tersebut; Seseorang akan mengetahui hakikat hasil amal mereka baru nanti pada Hari Kiamat, sedangkan di dunia hanya yang bersifat lahiriyah semata.35 Prinsip bahwa seseorang harus menyerahkan aspek hasil kepada Allah, bukan berarti dia dilarang untuk menetapkan target atau membuat perencanaan. Yang perlu diluruskan adalah setiap perencanaan yang dibuat, setiap target yang ditetapkan hendaklah itu sebagai bagian dari menyempurnakan usaha. Indikasinya adalah ketika tidak sesuai dengan target maka tidak akan merasa kecewa dan menganggap usahanya sia-sia, namun diterima dengan penuh kerelaan, sebaliknya kalau berhasil yang ada hanya rasa syukur dan juga puas atas pemberian-Nya.
Ayat yang juga mengajarkan bahwa manusia harus berusaha dalam konteks kehidupan dunia adalah Surah al-Qashash/28: 77
imageDan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (al-Qashash/28: 77)
Ketiga, merasa puas dan dengan sukarela mau berbagi
Inilah inti dari sifat qanā‘ah. Seseorang yang memiliki sifat qanā‘ah tidak fokus dengan berapa banyak ia diberi tetapi dia fokus dengan siapa yang memberi. Keyakinan dalam hatinya bahwa yang memberi adalah Zat Yang Maha Sempurna, maka berapa pun ia diberi berarti juga bernilai sempurna. Tidak ada yang kurang kalau itu berasal dari Allah subhānahū wa ta‘ālā, tidak ada yang sedikit kalau dari Zat Yang Maha Memberi. Keyakinan seperti inilah yang menjadikan pemilik sifat qanā‘ah akan selalu merasa tenteram hidupnya.
Imam al-Qusyairī mengutip Surah an-Nahl/16: 97 untuk menjelaskan tentang sifat qonā‘ah:
imageBarangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (an-Nahl/16: 97)
Yang dimaksud dengan kehidupan yang baik menurut Imam Qusyairī adalah kehidupan yang disertai dengan sifat qanā‘ah.36 Ibnu ‘Athā′illāh mengutip Surah an-Nisā′/4: 65 sebagai perintah bagi orang yang beriman untuk bersifat qona’ah:
imageMaka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisā′/4: 65)
Demikian juga dalam Surah al-Qashash/28: 68
imageDan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (al-Qashash/28: 68)
Bagi Ibnu ‘Atha′illāh kedua ayat tersebut jelas menunjuk-kan bahwa bagi manusia yang meraih kebahagiaan hidup tidak ada pilihan lain kecuali harus menerima dengan rela dan puas apa yang diputuskan oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā, Maka Nabi shalallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: 37


ذَاقَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِااللهِ رَبًّا وَبِاالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً -روه مسلم عن العباس بن عبدالمطلب

Orang yang telah ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagi nabinya, sungguh ia telah merasakan nikmatnya iman. (Riwayat Muslim dari al-‘Abbās bin ‘Abdul-Muthallib)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa orang yang berada di luar ketentuan itu, berarti tidak pernah merasakan manisnya iman. Maka orang yang tidak pernah puas atas pemberian Allah subhānahū wa ta‘ālā, juga tidak akan pernah merasakan manisnya iman.38 Ketika orang tersebut ridha atas ketetapan dan pemberian-Nya maka Allah pun akan ridha terhadap orang tersebut  “Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya” (al-Fajr/89: 29).
Rasulullah menjelaskan bahwa qanā‘ah adalah harta yang tidak pernah sirna, Maka beliau pun memberi petunjuk dengan sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Abū Hurairah: 39
كُنْ وَرَعًا تَكُنْ أَعْبَدَالنَّاسِ وَكُنُ قَنْعًا تَكُنْ أَشْكَرَالنَّاسِ وَأَحِبَّ النَّاسَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحْسِنْ مُجَاوَرَةِ مَنْ جَوَارَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقَلِ الضَّحْكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحْكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ -رواه البيهقي عن أبي هريرة
Jadilah orang yang wara‘, maka engkau akan menjadi orang yang paling berbakti kepada Allah, jadilah engkau orang yang menerima pemberian-Nya (qanā‘ah), maka engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur, cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, maka engkau menjadi orang yang beriman, perbaikilah dalam hidup bertetangga dengan tetanggamu, engkau akan menjadi orang muslim, dan sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. (Riwayat al-Baihaqī dari Abū Hurairah)
C. Kesimpulan
1. Zuhud yang diajarkan Al-Qur′an bukanlah tidak peduli apalagi meninggalkan harta dunia, melainkan bersikap secara tepat terhadap dunia.
2. Qanā‘ah mengandung arti berusaha maksimal dan kemudian menerima dengan kerelaan atas anugerah Allah subhānahū wa ta‘ālā.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Rūhul-Balbaki, al-Maurid a Modern Arabic-English Dictionry, h. 610.
  2. Asāsul Balāghah, al-Mu‘jam al-Wasith, 1/404-405 h. 197.
  3. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān al-Karīm, jilid II, h. 244.
  4. Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol. 6, h. 403.
  5. Ibnu Qudāmah, Minhajul Qāshidīn, h. 324.
  6. Ibnu Taimiyah, Fatāwā, 10/615.
  7. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 104.
  8. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 106
  9. Ibnu Taimiyah, Tharīqul-Hijratain, h. 453-456.
  10. Ibnu ‘Athā′illāh, Syarahul-Hikam, h. 242.
  11. asy-Syaukānī, Tafsīr Fathul-Qadīr 2/111; Mushthāfā al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, 3/107.
  12. al-Burhān fī Mutasyābihil-Qur′ān, h. 169.
  13. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, vol. I, h. 423.
  14. Ahzami Samū’un Jazūlī, al-Hayāt fil-Qur′ān, jilid I, h. 132.
  15. Sayyid Quthub, fī zhilālil-Qur′ān, jilid II, h. 486.
  16. Riwayat Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, kitab Musnad al-Anshār, bab hādits Zaid bin Tsābit ‘anin Nabi, no. 20608.
  17. Imam Muslim an-Naisābūrī, Shahīh Muslim, bab laisal ghinā ‘an katsratil ‘aradh, no. 120.
  18. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 8, h. 401.
  19. Ibnu Qudāmah, Minhajul-Qāshidīn, h. 401.
  20. Muslim, Shahīh Muslim, kitab Zikir, Do‘ā, Taubat wa Istigfār, bab aktsaru ahlin-nāri an-nisā′ wa aktsaru ahlil jannah al-fuwarā′, no. 4925.
  21. al-Bukhārī, Shahīhul-Bukhārī, no. 567.
  22. Ibnu Qudāmah, Minhajul-Qāshidīn, h. 402.
  23. Ibnu ‘Athā′illāh as-Sakandārī, at-Tanwīr fī Isqāthil-Tadbīr, h. 125.
  24. Muhammad Lutfi Ghazali, Menggapai Cinta Ilahi (Syarah Hikam), h. 307.
  25. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 113.
  26. Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, h. 1250.
  27. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 143.
  28. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 144.
  29. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 145.
  30. M. Qurasih Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, h. 101.
  31. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur′an, h. 221.
  32. Ibnu ‘Athā′illāh as-Sakandārī, at-Tanwīr fī Isqāthil-Tadbīr, h. 225.
  33. Ibnu ‘Athā′illāh as-Sakandārī, at-Tanwīr fī Isqāthil-Tadbīr, h. 221.
  34. M. Quraish Shihab, Berbisnis dengan Allah, h. 15; juga Ibnu ‘Athā′illāh as-Sakandārī, at-Tanwīr fī Isqā•il-Tadbīr, h. 225.
  35. ath-Thabāthabā′ī, al-Mīzān, jilid IV, h. 241.
  36. al-Qusyairī an-Naisābūrī, Risālātul-Qusyairiyah, h. 175.
  37. Imam Muslim, Shahīh Muslim, bab Dzāqa tha‘mul-īmān man radhiya billāh. no. 160.
  38. Ibnu ‘Athā′illāh as-Sakandārī, at-Tanwīr fī Isqāthil-Tadbīr, h. 39.
  39. al-Baihaqī, Sunan al-Baihaqī, no. 5057.

Tidak ada komentar: