الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Spiritualitas dan Tantangan Era Global

A. Makna Spiritualitas
Istilah spiritualitas mengandung beberapa pengertian, baik secara kebahasaan maupun secara terminologi. Secara kebahasaan perkataan spiritualitas berasal dari perkataan spirit yang berarti roh, jiwa, semangat atau keagamaan.1 Jadi, spiritualitas secara kebahasaan bisa diartikan sebagai segala aspek yang berkenaan dengan jiwa, semangat, dan keagamaan yang mem-pengaruhi kualitas hidup dan kehidupan seseorang. Sementara itu, dalam Encyclopedia Americana disebutkan bahwa istilah spiritualitas atau spiritualism kadang-kadang digunakan dengan mengacu kepada sebuah aliran filsafat manusia, lawan dari aliran materialism. Kadang-kadang, istilah spiritualism digunakan untuk menunjuk sebuah sekte agama atau kelompok umat beragama dari kalangan Kristen yang menekankan doktrin bahwa ruh orang yang sudah mati masih hidup sebagai seorang pribadi yang dapat berkomunikasi dengan orang yang masih hidup melalui seorang yang dikenal sebagai medium.2Dalam tulisan ini, yang dimaksudkan dengan istilah spiritualitas adalah dimensi batin (esoteric dimension) atau jiwa agama dalam kehidupan manusia modern di abad global meliputi kualitas iman, kualitas jiwa, kualitas mental, kualitas kecerdasan emosi dan kualitas kecerdasan spiritual yang bersumber dari keyakinan agamanya sebagai seorang muslim. Spiritualitas, dalam tulisan ini dilihat dari empat ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, konatif dan psikomotorik.3 Ranah kognitif meliputi konseptual-teoritis, yakni pengertian, pengeta-huan dan pemahaman tentang ajaran Islam. Ranah afektif meliputi penghayatan ajaran Islam. Ranah konatif meliputi kebulatan tekad, kemauan, dorongan dan motivasi yang kuat untuk melaksanakan konsep iman, kesucian jiwa, kesehatan mental, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Dalam pada itu, ranah psikomotorik merupakan keterampilan menerapkan konsep iman, kesucian jiwa, kualitas mental, kualitas kecerdasan emosi dan kualitas kecerdasan spiritual dalam tataran kehi-dupan praktis, yakni dalam personal komunikasi manusia secara vertikal dengan Tuhan dan pada tataran interaksi sosialnya secara horizontal dengan sesama manusia.
B. Ciri-ciri Abad Global
Adapun yang dimaksud dengan era global atau globalisasi dalam tulisan ini adalah adanya proses kehidupan umat manusia menuju masyarakat yang meliputi seluruh bola dunia. Proses ini dimungkinkan dan dipermudah oleh adanya kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan transportasi.
Dalam masyarakat yang global itu akan terjadi pola-pola hubungan sosial yang berbeda dari sebelumnya. Kemudahan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan terbentuknya jaringan komunikasi yang menjangkau setiap pelosok hunian manusia.4 Dengan demikian, dunia menjadi kecil dan mudah dijangkau. Apa yang terjadi di belahan bumi paling ujung dapat segera diketahui oleh masyarakat yang berada di ujung yang lain.5 Dalam konteks ekonomi-politik, kenyataan tersebut bahkan dijadikan faktor penting untuk melihat kemungkinan memudarnya batas-batas teritorial negara bangsa, yang oleh Kenichi Ohmae dibahasakan sebagai the end of the nation state, berakhirnya negara bangsa.6Era global atau globalisasi disikapi oleh umat manusia dengan dua pandangan; pandangan positif dan pandangan negatif. Dalam nada penuh harapan, pandangan positif mengatakan bahwa seluruh umat manusia sedang menuju terbentuknya masyarakat paguyuban (gemeinschaft), karena umat manusia akan hidup dalam sebuah “desa buwana” (global village). Tidak seperti pola kehidupan manusia urban industri “primitive” sekarang ini yang bercirikan masyarakat patembayan (gesellschaft), yang antara lain sering dilukiskan bagaimana para penghuni kota tidak mengenal tetangganya, biarpun sama-sama hidup dalam satu apartemen atau rumah susun, kehidupan manusia dalam “desa buwana” yang bercirikan masyarakat paguyuban itu akan lebih akrab, lebih manusiawi dan lebih “guyub” (bersatu, rukun, dan penuh semangat kerja sama, sebagaimana gambaran yang diidealisasikan tentang masyarakat pedesaan).7
Sementara itu, para pemikir yang memandang era global atau globalisasi dalam perspektif yang negatif, mengatakan bahwa era global atau globalisasi telah melahirkan dua budaya yang mengancam eksistensi bangsa. Pertama, budaya konfron-tasi atau benturan budaya yang hebat di antara berbagai perada-ban besar. Kedua, era global atau globalisasi telah melahirkan budaya kompetisi yang tidak seimbang di antara berbagai kelompok peradaban. Kelompok peradaban tertentu memiliki sumber daya manusia berkualitas, menguasai teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan transportasi sehingga mengenal dan menguasai berbagai elemen kehidupan dan hajat hidup manusia, bahkan mengenal dan mengetahui “isi perut”bangsa-bangsa lain secara transparan. Kegiatan ekonomi yang meliputi kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi mengalami globalisasi, maka satu negara akan semakin sulit melakukan kegiatan ekonominya dalam batas-batas lingkungan nasionalnya sendiri, karena ketidakberdayaan menghadapi kekuatan global. Dalam pola ekonomi yang sudah diglobalkan, hal tersebut akan semakin sulit lagi dilakukan, disebabkan oleh keharusan suatu bangsa membuka diri kepada proses-proses di luar dirinya. Hal ini berarti tantangan kompetisi semakin sengit dengan pertaruhan paling utama pada sumber daya manusia. Suatu bangsa dengan keunggulan sumber daya manusia akan mengalahkan bangsa-bangsa lain yang sumber daya manusianya lemah; dan akan berpeluang lebih besar untuk bertahan hidup (survive). Masyarakat yang telah mengalami globalisasi, jika tidak diimbangi oleh kuatnya pandangan-pandangan etis kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama, akan menjurus kepada pola-pola hubungan–dengan mengutip ungkapan Charles Darwin–”struggle for life” (perjuangan untuk hidup) dan “survival of the fittest by means of natural selection” (mempertahankan kelangsungan hidup sesuai dengan seleksi alam).8C. Hubungan Era Global dengan Spiritualitas
Era global memiliki dua wajah yang berbeda, wajah sains dan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan transportasi, yang membawa kemudahan dalam hidup dan kehidupan ini, sehingga era global dinamakan The Age of Science and Technology. Sementara itu pada sisi lain, era global menampilkan wajah kecemasan sehingga era global dinamakan The Age of Anxiety.9 Kedua wajah era global ini sudah muncul dalam kehidupan ini dan terus menampakkan diri ke permukaan sehingga makin jelas dan makin nyata.
Era global yang menampilkan wajah kecemasan makin terasa meresahkan dan dapat kita saksikan secara langsung. Di antaranya perang antar bangsa dan perang saudara yang terus menerus berlangsung saling menghancurkan dan saling meluluh-lantahkan kehidupan ini. Kemelut ekonomi yang membawa krisis ekonomi global melanda banyak negara, bukan hanya Amerika Serikat yang menjadi pusat krisis ekonomi global, tetapi juga berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia yang berada di Asia Tenggara. Ledakan penduduk yang tidak terkendali melahirkan ledakan tenaga kerja yang membanjiri kota besar seperti Jakarta, bahkan ledakan buruh migran dan buruh illegal yang terus menerus membanjiri pasar tenaga kerja di Malaysia, Timur Tengah, Asia Timur, dan Canada. Para tenaga kerja Indonesia ini bukan hanya mendatangkan devisa bagi negara, tetapi juga mendatangkan masalah-masalah sosial yang merendahkan harkat dan martabat bangsa. Pencemaran lingkungan, penggundulan hutan, dan pembalakan liar, serta program alih fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi telah mendatangkan banjir yang menghancurkan tatanan kehidupan. Demikian juga penyempitan, pendangkalan, dan pengalihfungsian daerah resapan air seperti danau dan situ menjadi pemukiman dan tempat wisata, serta buruknya manajemen pemerintah dalam pemeliharaan situ dan tanggul telah terbukti menghancurkan kehidupan, merenggut ratusan nyawa dan meninggalkan luka mendalam yang menimbulkan traumatik di kalangan anak-anak dan remaja. Melunturnya nilai-nilai tradisi dan mendangkalnya penghayatan agama; perubahan nilai-nilai yang cepat; makin canggihnya pola kejahatan, penipuan dan kriminalitas; human trafficing (penjualan manusia), terutama penjualan anak-anak dan perempuan muda, serta organ tubuh manusia, pelanggaran HAM yang terus meningkat; serta mewabahnya penyakit-penyakit baru yang sulit diatasi. Kondisi ini jelas mengakibatkan beban psikologi dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat hingga kegelisahan seakan-akan wabah yang melanda masyarakat modern.10
Menurut pengamatan Elisabeth Lukas, seorang logo-terapis, salah satu prestasi penting dari proses modernisasi di Barat adalah keberhasilan melepaskan berbagai belenggu tradisi yang serba menghambat dan menggantinya dengan kebebasan dalam hampir semua bidang kehidupan.
Pertama, tradisi orang tua untuk menjodohkan anak-anaknya atas dasar pertimbangan sosial ekonomi telah berhasil dihilangkan dan digantikan dengan kebebasan anak untuk menentukan pilihan atas dasar pertimbangan dan keinginan sendiri, tetapi data statistik menunjukkan angka perceraian makin lama makin tinggi.
Kedua, kaum wanita berhasil mengembangkan karir profesional di luar fungsi tradisional mereka sebagai istri dan ibu semata-mata, tetapi keberhasilan ini tidak jarang menimbulkan konflik peran antara tuntutan profesional dengan tanggung jawab keluarga.
Ketiga, kebebasan seks dan peluang luas untuk melakukannya ternyata menjadikan fungsi hubungan seks bukan sebagai ungkapan cinta kasih, melainkan sebagai tuntutan dan keharusan untuk berhasil meraih puncak kenikmatan. Akibatnya justru makin sering terjadi gangguan fungsi seksual pada pria dan wanita dewasa.
Keempat, pola asuh yang menanamkan kemandirian dan kebebasan pada anak-anak seakan-akan membuka luas ambang keserbabolehan. Akibatnya, anak-anak menjadi terlalu bebas dan cenderung lepas kendali sehingga tidak jelas lagi bagi mereka apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Kelima, asas-asas dan tuntutan keagamaan yang makin rasional sering berubah-ubah seiring dengan mendangkalnya penghayatan agama, sehingga agama di Barat seakan-akan telah kehilangan fungsinya sebagai pedoman hidup dan sumber ketenangan batin.11
D. Respon Kaum Muslim terhadap Tantangan Abad Global
Abad global seperti disebutkan di atas telah memisahkan manusia secara bertahap dari kehidupan spiritual. Menghadapi fenomena abad global atau proses globalisasi ini, kaum muslimin dengan kesadaran dan tanggung jawab kemanusiaan sangat mungkin merespon masalah globalisasi ini dengan respon yang positif, meluruskan dan menyelamatkannya dengan langkah-langkah strategis yang berpijak pada ajaran dasar Al-Qur′an. Setidak-tidaknya ada tiga agenda besar yang bisa dilakukan kaum muslimin dalam menyelamatkan krisis spiritual dan krisis kemanusiaan pada abad global ini sebagai berikut:
Pertama, menghidupkan kembali nilai-nilai spiritualitas yang merupakan jiwa agama guna mewujudkan makna hidup dan hidup bermakna. Manusia modern di era global ini menghadapi persoalan makna hidup karena tekanan yang sangat berlebihan kepada segi material kehidupan. Kemajuan dan kecanggihan dalam cara mewujudkan keinginan memenuhi hidup material yang merupakan ciri utama zaman modern ternyata harus ditebus dengan ongkos yang sangat mahal, yaitu hilangnya kesadaran akan makna hidup yang lebih mendalam. Definisi sukses dalam perbendaharaan kata manusia modern hampir identik hanya dengan keberhasilan mewujudkan angan-angan dalam bidang kehidupan material semata-mata. Ukuran sukses dan tidak sukses kebanyakan terbatas hanya kepada seberapa jauh orang bersangkutan menampilkan dirinya secara lahiriah dalam kehidupan material.12Kedua, menyadarkan umat manusia terus menerus tentang fitrahnya yang suci bahwa manusia secara universal adalah sebuah entitas yang tergantung dan sangat membutuhkan Tuhan (Surah Fāthir/35: 15). Tuhan dekat dan terlibat dalam keseharian manusia, bahkan lebih dekat dibandingkan dengan jarak antara manusia dengan dirinya sendiri (Surah al-Baqarah/2: 186 dan Qāf/50: 16). Tuhan tidak mengantuk dan tidak tidur, bahkan tidak merasa bosan dan lelah dalam memelihara langit dan bumi (Surah al-Baqarah/2: 255). Apa dan siapa saja yang berada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya sehingga setiap waktu Tuhan dalam kesibukan (Surah ar-Rahmān/55: 29).
Ketiga, menghidupkan terus menerus penghormatan terhadap konsep kemanusiaan universal. Al-Qur′an menyatakan bahwa Allah telah memuliakan anak cucu Adam (Surah al-Isrā′/17: 70). Penghormatan terhadap konsep kemanusiaan universal itu diwujudkan dengan keinsafan bahwa Allah telah menciptakan manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan umat manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku; kemudian perbedaan itu dikenali sebaik mungkin supaya terwujud kesalingfahaman di antara umat manusia yang budayanya beraneka ragam tersebut (Surah al-Hujurāt/49: 13). Hindari kejahatan kemanusiaan melalui perang dan pengusiran suatu etnis dari tanah airnya hanya karena kelompok-kelompok sosial itu berbeda keyakinan agamanya dari yang banyak dan kuat (Surah al-Mumtahanah/60: 8-9). Sebab membunuh satu orang yang tidak bersalah, bukan disebabkan karena membunuh atau berbuat fasad (merampok atau mengganggu keamanan dan ketertiban) di bumi seperti membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, menghidupkan satu orang manusia seakan-akan telah menjaga kelangsungan hidup seluruh umat manusia (Surah al-Mā′idah/5: 32).
E. Urgensi Spiritualitas (Jiwa Agama) dalam Kehidupan Modern
1. Menghadapi materialisme dengan menghidupkan jiwa agama
Materialisme orang modern ialah etos yang memandang bahwa kebahagiaan manusia dan harga dirinya ada dalam penampilan-penampilan fisik dan lahiriah, berdasarkan kekaya-an material, meskipun mereka sepenuhnya percaya kepada yang gaib atau immaterial,13 termasuk beriman atau percaya kepada Allah; namun kualitas kepercayaan mereka tidak atau belum berhasil membebaskan diri mereka dari belenggu materialisme di atas.
Dalam pada itu, Al-Qur′an menjelaskan konsep kebahagiaan manusia secara kāffah (holistik dan komprehensif) dengan menekankan konsep al-falāh sebagai berikut:
Istilah al-falāh secara bahasa, menurut al-Ashfahānī,أَلظَّفْرُ وَإِدْرَاكُ بُغْيَةِ berarti  (keberuntungan dan mendapatkan apa yang diinginkan). al-Falāh terbagi menjadi dua jenis, kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Kebahagiaan duniawi adalah keberuntungan meraih kebahagiaan yang menyebabkan kehidupan duniawi seseorang menjadi baik (sejahtera) dengan mendapatkan al-baqā′ (kesinambungan dalam kebaikan), al-ghinā (kekayaan) dan al-‘izz (kemuliaan). Sementara itu kebahagiaan ukhrawi memiliki empat kualifikasi : (1) بَقَاءٌبِلَا فَنَاء (keabadian tanpa kemusnahan), (2) غَنِيٌّ بِلَا فَقْرٍ (kekayaan tanpa kefakiran), (3) عِزٌّ بِلَا ذُلٍّ (kemuliaan tanpa kehinaan), (4) dan عِلْمٌ بِلَا جَهْلٍ (pengetahuan tanpa kebodohan).14 Sementara itu, Ibnu Manzhūr menambahkan bahwa istilah al-falāh secara kebahasaan berarti:أَلْفَوْزُوَالنَّجَاةُ وَالْبَقَاءُ فِىي النَّعِيْمِ وَالْخَيْرِ (keberuntungan, keselamatan, dan kesinambungan dalam kenikmatan dan kebaikan).15 Konsep kebahagiaan yang tercakup di dalam istilah al-falāh di atas meliputi dimensi fisik, intelektual, emosi, spiritual dan sosial, lahir batin, dunia akhirat.
Di dalam Al-Qur′an istilah al-falāh dengan segala perubahan tashrif-nya diulang sebanyak 40 kali yang tersebar pada beberapa ayat dan surah.16 Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
imageSungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunai-kan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. (al-Mu’minūn/23: 1-6)
Pertama, berdasarkan ayat di atas konsep kebahagiaan yang dipromosikan Al-Qur′an dibangun di atas prinsip: (1) keimanan yang mantap; (2) komunikasi personal dengan Allah melalui salat khusyu„; (3) pola hidup yang efektif dan efisien dengan menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna; (4) kepedulian dan tanggung jawab sosial dengan membayarkan zakat dan memberikan infak dan sedekah kepada kaum du„afa; dan (5) memelihara hubungan seksual hanya dengan pasangan permanen yang terikat dalam pernikahan yang sah.
Kedua, kebahagiaan hakiki yang ditawarkan Islam kepada umat manusia hanya akan diperoleh melalui perjuangan terus menerus sepanjang hayat untuk tazkiyatun-nafs, membersihkan jiwa, dari kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan, kezaliman, dan perbuatan keji (dosa-dosa besar) seperti disebutkan pada ayat Al-Qur′an yang berikut:
imageSungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (al-A’lā/87: 14-19)
Ketiga, kebahagiaan yang kāffah (holistik dan komprehensif), menurut Al-Qur′an, tidak akan pernah dirasakan oleh orang-orang yang mempertahankan pola hidup dan budaya kezaliman, baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Al-Qur′an dalam beberapa ayat menyatakan: إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُوْنَ yang berarti: Sesungguhnya tidak akan pernah merasakan kebahagiaan orang-orang yang berbuat zalim (Surah al-An’ām/6: 21, 135), (Surah Yūsuf/12: 23), dan (Surah al-Qashash/28: 37).
Keempat, kebahagiaan yang kāffah (holistik dan kompre-hensif), menurut Al-Qur′an, tidak akan pernah dirasakan oleh orang-orang yang mempertahankan budaya dan gaya hidup yang terus menerus bergelimang dosa. Al-Qur′an menyatakan:
imageMaka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesung-guhnya orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan beruntung. (Yūnus/10: 17)
Kebudayaan manusia yang dibangun di atas landasan ideologi kebohongan terhadap Allah dan tidak sejalan dengan fitrah manusia, seperti paham materialisme dan hedonisme yang memandang bahwa kebahagiaan manusia dan harga dirinya ditentukan oleh penampilan fisik berdasarkan kekayaan material, merupakan kebudayaan palsu yang tidak akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Hal ini tergambar dengan jelas pada ayat Al-Qur′an berikut:
imageDan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah, dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar, dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? (al-Wāqi’ah/56: 41-47)
Sementara itu, tentang etos materialisme orang modern Al-Qur′an menegaskan:
imageMaka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (al-Fajr/89: 15-20)
Pertama, pada ayat di atas Allah menggunakan ungkapan yang berarti Tuhannya telah mengujinya. Ayat ini menegaskan bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya akan menghadapi ujian. Ada dua model soal ujian yang harus dihadapi dan dijawab oleh manusia dalam hidup dan kehidupan di dunia ini. Pertama ujian dalam bentuk kemuliaan dan kenikmatan; kedua, ujian dalam bentuk keterbatasan dan kesulitan mendapatkan penghidupan atau rezeki guna memenuhi kebutuhan hidup. Menghadapi soal ujian pertama, yakni hidup dengan keberhasilan mendapatkan pangkat, jabatan dan status sosial yang baik sehingga mendapatkan kemudahan dan kenikmatan dalam hidup dan kehidupan, manusia cenderung menilainya sebagai kemuliaan dari Tuhan, “Tuhan telah memuliakanku” (Surah al-Fajr/89: 15); Sebaliknya dalam menghadapi soal ujian kedua, yaitu ujian dalam bentuk kemiskinan, keterbatasan dan kesulitan mendapatkan rezeki guna memenuhi kebutuhan hidup; manusia cenderung menilainya sebagai kehinaan dari Tuhan. “Tuhanku telah menghinakanku” (Surah al-Fajr/89: 16).
Kedua, pada ayat di atas ukuran yang digunakan untuk menilai kemuliaan dan kehinaan dalam hidup dan kehidupan ini bertumpu kepada kebendaan seperti materialisme orang modern yang memandang bahwa kebahagiaan manusia dan harga dirinya ada dalam penampilan-penampilan fisik dan lahiriah, berdasarkan kekayaan material. Dalam Al-Qur′an dan Tafsirnya terbitan Departemen Agama R.I. disebutkan bahwa: Ayat ini (Surah al-Fajr/89: 15) menyatakan bahwa Allah menguji manusia dengan kemuliaan dan berbagai nikmat-Nya, seperti kekuasaan dan kekayaan. Orang yang kafir (tertutup fikiran dan hatinya) dan durhaka akan memandang hal itu sebagai tanda bahwa Allah menyayangi mereka. Sebaliknya, (Surah al-Fajr/89: 16), bila Allah menguji mereka dengan cara membatasi rezeki, mereka menyangka bahwa Allah telah membenci mereka. Pandangan itu tidak benar, karena ketika Allah memberi siapa saja atau tidak memberinya bertujuan menguji manusia, karena Dia menghendaki agar manusia selalu patuh kepada-Nya, baik dalam keadaan berkecukupan maupun kekurangan. Bila Allah memberi, maka manusia yang diberi harus bersyukur, dan bila Allah tidak memberi, manusia harus bersabar.17
Kekayaan tidak otomatis menjadi kemuliaan, kecuali jika kekayaan itu diperoleh dengan cara-cara yang halal dan dimanfaatkan untuk menyejahterakan kaum du’afa dengan membayarkan zakat dan mengeluarkan infak dan sedekah yang disalurkan guna pemberdayaan fakir miskin dan anak-anak yatim. Sebaliknya, kemiskinan bukanlah kehinaan, kecuali apabila dengan kemiskinan itu seseorang kehilangan harga dirinya untuk berusaha dengan gigih dan ulet sebagai manusia yang bermartabat sehingga menjadi pengemis, bahkan kemiskinan itu dijadikan alasan dan pembenaran untuk menghalalkan segala cara dalam mencari rezeki, misalnya dengan mengurangi takaran dan timbangan dalam berdagang. Tidak sedikit orang miskin yang merasa dirinya tidak perlu beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, dengan dalih bahwa ibadah itu merupakan ungkapan bersyukur orang-orang kaya kepada Allah atas kekayaannya. Inilah kemiskinan yang dinyatakan oleh Rasulullah كَادَالْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا (Kefakiran itu mendekati kekufuran).
Kemiskinan itu bisa jadi kemuliaan apabila: (1) kemiskinan itu tidak menggoyahkan keyakinan agamanya; (2) kemiskinan itu melahirkan etos kerja dan kesabaran dalam berusaha, dalam pengertian gigih, ulet, dan bertahan, serta tekun dan teliti dalam membedakan usaha yang halal dan haram; (3) kemiskinan itu tidak menghalanginya untuk tekun dalam beribadah; serta (4) dalam kemiskinan itu ada kepedulian dan tanggung jawab kepada sesama orang miskin dan nilai-nilai kemanusiaan untuk membangun harkat dan martabat umat manusia.
Adapun yang dimaksud dengan bersabar ketika diuji dengan kesulitan dan kemiskinan, maka pengertian sabar yang dimaksud adalah konsep sabar yang mengacu kepada pengertian sabar yang berikut:
أَلصَّبْرُ جَبْسُ النَّفْسِ عَلَى مَا يَقْتَضِيْهِ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ أَوْ عَمَّا يَقْتَضِيَانِ جَبْسَهَا عَنْهُ . فَاالصَّبْرُ لَفْظٌ عَامٌ وَرُبَّمَا خُوْلِفَ بَيْنَ أَسْمَائِهِ بِحَسْبِ إِخْتِلَافِ مَوَاقِعِهِ فَإِنْ كَانَ جَبْسُ النَّفْسِ لِمُصِيْبَةٍ سُمِيَ صَبْرًا لَاغَيْرَ وَيُضَادُهُ الْجَزْعُ ، وَإِنْ كَانَ الْمُحَارَبَةُ سُمِيَ شَجَاعَةً وَيُضَادُهُ الْجُبْنُ ،وَإِنْ كَانَ فِى مُضْجَرَةٍ سُمِيَ رَحْبَ الصَّدْرِ وَيُضَادُهُ الْضَجَرُ، وَإِنْ كَانَ فِى إِمْسَاكِ الْكَلَامِ سُمِيَ كِتْمَانًا وَيُضَادُهُ الْمَذْلُ ،وَقَدْسَمَّى اللهُ تَعَالَى كُلَّ ذَالِكَ صَبْرًا

Ash-shabr (kesabaran) adalah menahan (mengendalikan) nafsu sesuai dengan apa yang dikehendaki akal dan agama atau yang ditetapkan oleh keduanya. Konsep ash-shabr merupakan istilah yang bersifat umum, terkadang bisa diganti dengan istilah lain sesuai dengan konteksnya. (1) Jika istilah ash-shabr itu berkenaan dengan pengendalian emosi terhadap musibah yang menimpanya, maka dinamakan kesabaran, tidak dinamakan dengan istilah yang lain. Adapun lawan kata dari kesabaran ini adalah kegelisahan, kecemasan atau kekhawatiran; (2) Jika istilah ash-shabr ini berkenaan dengan daya tahan untuk berperang, maka dinamakan dengan syajā’ah (keberanian), yang berlawan dengan al-jubn, penakut. (3) Apabila istilah ash-shabr itu berkenaan dengan sesuatu yang membosankan, maka dinamakan dengan rahbush-shadr (lapang dada), yang berlawanan dengan istilah adh-dhajar (bosan atau perasaan tidak senang). (4) Apabila istilah ash-shabr itu berkenaan dengan menahan pembicaraan, maka dinamakan dengan kitmān (terdiam), yang berlawan dengan istilah mazhl (tidak berhenti bicara). Allah menyebut semua pengertian di atas dengan ash-shabr (kesabaran).
Dengan demikian, kesabaran itu merupakan kualitas mental yang positif, meliputi daya tahan, keuletan, pengen-dalian emosi dan pembicaraan, serta lapang dada. Kualitas mental ini merupakan human capital untuk bisa mengubah tantangan menjadi peluang sehingga kemiskinan itu bukan hambatan untuk meraih keberhasilan. Kemiskinan itu bukanlah kehinaan, seperti dugaan kaum materialisme, akan tetapi kehormatan dan kemuliaan apabila melahirkan kesabaran sebagaimana disebutkan di atas. Sebaliknya, jabatan, kekayaan dan kehidupan yang serba berkecukupan itu bukanlah kemuliaan; apabila melahirkan egoisme, individualisme, keang-kuhan, serta ketidak-pedulian terhadap nasib dan kelangsungan hidup kaum du’afa.
Dari paparan Surah al-Fajr/89 ayat 15-20 di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa materialisme dalam arti gaya hidup kebendaan, seperti disebutkan Nurcholish Madjid, bukanlah monopoli orang zaman modern. Al-Qur′an menegaskan hal ini untuk menyampaikan pesan moral tentang kemungkinan merosotnya harkat dan martabat kemanusiaan sepanjang zaman, yang disebabkan oleh gaya hidup kebendaan tersebut dengan sikap angkuh dan tidak peduli kepada kelompok manusia miskin dalam masyarakat. Gaya hidup manusia modern, seperti dilukiskan Al-Qur′an tersebut, serba berpusat pada diri sendiri dan mengabaikan masyarakat sekeliling. Ketika kita menyebut ciri masyarakat modern adalah egoisme dan individualisme, maka sebetulnya kita merasakan kekhawatiran yang sangat mendalam terhadap pola hidup kebendaan yang berlebihan. Tidak jarang manusia modern merasa telah menjadi ”segalanya” hanya karena telah mengonsumsi kekayaan yang melimpah. Konsumerisme menjadi kebanggaan, kemudian menjadi tumpuan harga diri yang tidak pada tempatnya. Penilaian mereka terhadap kesukesan diri mereka sendiri dan penilaian orang terhadap kesuksesan mereka sering tertumpu kepada tampilan-tampilan lahiriah yang mahal dan mewah.192. Menyadarkan manusia kepada fitrahnya bahwa manusia secara universal tergantung dan sangat membutuhkan Allah.
Al-Qur′an membimbing manusia supaya menyadari fitrahnya yang suci bahwa pada hakikatnya manusia itu tidak bisa lepas dari Tuhan, tergantung kepada Tuhan, dan sangat membutuhkan Tuhan. Perhatikanlah ayat Al-Qur′an berikut:
image
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (ar-Rūm/30 : 30)
Fithratallāh secara bahasa berarti ciptaan Allah. Maksudnya, agama Allah, agama Islam, merupakan ciptaan Allah, (fitrah)-Nya untuk kebaikan seluruh umat manusia.20 Sebagian ulama tafsir mengartikan fithrah dengan kejadian. Maksudnya, Allah menciptakan manusia dengan fithrah atau kejadian, yang bersifat pembawaan sejak lahir, mengetahui Tuhannya. Dengan kejadian itu, seorang anak sejak lahir menjadi makhluk bertuhan, mengetahui dan membutuhkan Tuhan sesuai dengan perkembangan akal dan pengetahuannya. Kejadian atau fitrah manusia berbeda dengan kejadian atau fitrah binatang yang tidak sampai kepada pengetahuan tentang Tuhannya.21 Fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan Tuhan itu dijamin oleh Allah tidak akan pernah mengalami perubahan; namun mungkin saja manusia dalam perjalanan hidupnya mengabaikan fitrah atau kejadian ini sehingga ia merasa tidak membutuhkan Tuhan, bahkan menyatakan dirinya tidak bertuhan.
Kebutuhan manusia kepada Allah yang merupakan fitrah atau kejadiannya tersebut ditegaskan Allah di dalam ayat Al-Qur′an yang berikut:
imageWahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu), Maha Terpuji. (Fāthir/35:15)
Pada ayat ini, istilah أَلْفُقَرَاءُ bentuk jamak dari أَلْفَقِيْرُ (al-faqīr) merupakan kata kunci untuk memahami pesan ayat secara komprehensif. Istilah al-fuqarā′ atau al-faqīr secara bahasa berarti orang yang membutuhkan.22Perkataan أَلْفَقْرُ yang menjadi akar kata أَلْفَقِيْرُ  , menurut ar-Rāghib al-Ashfahānī berarti:
وُجُوْدُ الْحَاجَةِ الضَّرُوْرِيَةِ وَذَالِكَ عَامٌ لِلْإِنْسَانِ مَادَامَ فِى دَارِ الدُّنْياَ بَلْ عَامٌ لِلْمَوْجُوْدَاتِ
Adanya kebutuhan mendasar yang berlaku universal bagi seluruh manusia selama (hidup) di dunia, bahkan merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh makhluk hidup.23Dengan demikian, menurut hemat penulis, penggalan ayat Al-Qur′an pada Surah al-Fāthir ayat 15 di atas yang berbunyi: أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ mengandung makna fundamental, yakni bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah sebagai kebutuhan mendasar yang berlaku universal bagi seluruh manusia selama (hidup) di dunia, bahkan kebutuhan kepada Allah itu merupakan kebutuhan seluruh makhluk.
Di dalam Al-Qur′an ada dua dilālah (konotasi) makna al-faqīr dan al-fuqarā′. Pertama, sosial ekonomi. Dilālah ini merupakan dilālah umum tentang istilah al-faqīr dan al-fuqarā′ di dalam Al-Qur′an sehingga kebutuhan yang terkandung di dalam dua istilah ini mengindikasikan makna sosial ekonomi. Maksudnya, bahwa istilah faqīr atau al-fuqarā′ mengacu kepada seorang atau beberapa orang yang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan, tetapi penghasilannya tidak mencu-kupi kebutuhan pokoknya sehingga masih membutuhkan bantuan. Oleh sebab itu, menurut Ibnu Manzhūr, seorang fakir lebih baik keadaannya dibandingkan dengan seorang miskin. Orang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki sesuatu apa pun.24Kedua, eksistensi manusia. Dilālah ini hanya disebut pada Surah al-Fāthir ayat 15 ini, tetapi kandungan maknanya bersifat universal dan bersifat primordial. Maksudnya bahwa manusia secara universal membutuhkan Allah dan tergantung kepada-Nya, baik yang fakir maupun yang kaya. Kebutuhan kepada Allah ini bersifat primordial karena merupakan akar dan asal kejadian manusia sehingga menyangkut eksistensi manusia. Salah satu wujud kebutuhan manusia kepada Allah ini, dalam istilah ar-Rāghib al-Ashfahanī disebut dengan faqrun-nafs, yakni kebutuhan jiwa manusia untuk memiliki, mengakses, dan mendapatkan siraman rohani guna pengayaan batin.25Sementara itu, Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī ketika menafsirkan penggalan ayat يَاأَيُّهَاالنَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ (Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah) menyatakan bahwa al-khithāb (pesan) ayat ini ditujukan kepada seluruh umat manusia guna mengingatkan mereka tentang nikmat Allah kepada manusia bahwa seluruh manusia membutuhkan Allah untuk kelangsungan hidup mereka dalam segala keadaan, baik ketika bergerak maupun ketika diam.26
Dalam pada itu Abū Hayyan berkata: “Ayat ini merupakan ayat nasihat dan peringatan bahwa sesungguhnya umat manusia secara universal membutuhkan kebaikan (ihsān) Allah dan nikmat-nikmat-Nya dalam segala keadaan mereka. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak membutuhkan kebaikan (ihsān) Allah kepadanya walaupun hanya sekejap mata; sedangkan Allah secara mutlak Mahakaya, tidak membutuhkan manusia dan seluruh makhluk.”27
Sejalan dengan pandangan dua ulama tafsir di atas, di dalam Al-Qur′an dan Tafsirnya terbitan Departemen Agama R.I. disebutkan, bahwa ayat ini menerangkan bahwa manusia sangat berkepentingan kepada Penciptanya yaitu Allah karena semua manusia membutuhkan pertolongan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, seperti kekuatan, rezeki, menolak bahaya, mendapat kenikmatan, ilmu dan sebagainya, baik urusan dunia maupun akhirat. Semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan rahmat dan taufik Allah.
Hanya Allah yang wajib disembah dan diharapkan rida-Nya. Ia Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu. Maha Terpuji atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada para hamba-Nya. Setiap nikmat yang dimiliki oleh manusia berasal dari sisi-Nya. Dialah yang seharusnya dipuji dan disyukuri dalam segala hal. Di ayat lain Allah menegaskan: Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya, Maha Terpuji (al-Hajj/22:64).28Sementara Syekh ‘Abdurrahmān bin Nāshir al-Sa’diyyī ketika menjelaskan maksud Surah Fāthir ayat 15 menulis, bahwa Allah dalam ayat ini berbicara kepada manusia secara universal, memberitahukan keadaan mereka, dan menjelaskan sifat dasar manusia bahwa manusia itu membutuhkan Allah dalam berbagai aspek kehidupan sebagai berikut:
(1) Manusia membutuhkan Allah dalam penciptaan. Sekiranya Allah tidak berkehendak untuk menciptakan manusia, maka manusia tidak akan pernah ada (dalam planet bumi ini).
(2) Manusia membutuhkan Allah dalam membekali diri mereka dengan berbagai daya (kekuatan, kemampuan, kecerdasan, emosi dan spiritual), anggota tubuh, dan panca indra. Sekiranya Allah tidak membekali manusia dengan berbagai daya, kecanggihan anatomi dan biologi manusia yang sempurna dan proporsional; maka manusia tidak akan pernah sanggup memikul tanggung jawab dan menjalankan kehidupan ini dengan baik.
(3) Manusia membutuhkan Allah dalam menjamin tersedianya sumber-sumber makanan, rezeki dan kenikmatan lahir batin. Sekiranya tidak ada karunia Allah, kebaikan dan kemudahan-Nya kepada manusia dalam menjamin dan menyediakan sumber-sumber makanan, rezeki dan kenikmatan lahir batin; maka manusia tidak akan pernah sanggup menjamin tersedianya sumber-sumber makanan bagi seluruh makhluk hidup.
(4) Manusia membutuhkan Allah dalam menolak berbagai bencana; menjauhkan diri dari berbagai hal yang tidak dikehendaki; serta meringankan berbagai beban hidup yang memberatkan punggung. Sekiranya Allah tidak menentukan mekanisme untuk meringankan beban hidup manusia dan menghilangkan penderitaan mereka, niscaya beban hidup dan penderitaan manusia tersebut tidak akan pernah berakhir.
(5) Manusia membutuhkan Allah dalam mendidik dan mengem-bangkan dirinya dengan berbagai pendidikan dan pelatihan guna menyempurnakan kualitas hidup dan kehidupannya secara terus menerus.
(6) Manusia membutuhkan bimbingan Allah dalam mengorien-tasikan dirinya menjadi manusia yang bertuhan, mencintai Tuhannya, serta menggerakkan dirinya untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Sekiranya Allah tidak memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada seseorang di antara manusia, niscaya manusia akan mengalami krisis kemanusiaan yang dahsyat; jiwa, kalbu, suasana hati, mental dan spiritualnya menjadi rusak dan akan membawanya kepada kenestapaan hidup dunia dan akhirat.
(7) Manusia membutuhkan pengajaran langsung dari Allah tentang segala sesuatu di dalam hidup ini yang tidak sanggup diketahuinya secara pasti oleh akal dan fikiran mereka. Manusia pun membutuhkan Allah untuk bisa menggerakkan hatinya guna melakukan perbuatan yang akan mendatangkan kemas-lahatan bagi sesama manusia. Sekiranya hidup manusia mengalir tanpa pengajaran langsung dari Allah yang mengarahkannya untuk melakukan berbagai kemaslahatan bagi sesama manusia, niscaya manusia tersebut tidak akan pernah mendapatkan kearifan dalam hidup ini. Sekiranya hidup manusia mengalir tanpa taufik dan hidayah-Nya, niscaya ia akan menjalani hidup dengan kegelapan ruhani hingga tidak akan sanggup memperbaiki kualitas perbuatannya bagi kemaslahatan dirinya sekalipun.
(8) Manusia membutuhkan Allah untuk menemukan makna hidup dalam segala keadaan, baik dalam keadaan menyadari kebutuhannya kepada Allah maupun dalam keadaan tidak menyadarinya. Orang yang mendapat taufik dari Allah senan-tiasa melihat dirinya dalam keadaan membutuhkan Allah dalam segala keadaan, baik berkenaan dengan urusan dunia maupun agama. Manusia yang menyadari kebutuhannya kepada Allah akan senantiasa rendah hati, selalu memohon kepada Allah agar dirinya tidak melupakan Tuhan walaupun sekejap mata, menolong orang (untuk kembali kepada Allah) dalam semua aspek kehidupan, serta menyadari setiap waktu bahwa sikap ini sepenuhnya atas pertolongan Allah yang lebih sayang kepada manusia melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya.29Sementara itu menurut Ibnu Katsīr, Surah Fāthir ayat 15 di atas, menjelaskan bahwa Allah subhanahū wa ta’ālā Mahakaya, tidak membutuhkan sesuatu dari selain diri-Nya; dan sesungguhnya seluruh makhluk membutuhkan Allah dan merendah di hadapan keagungan-Nya. Maka Allah pun berfirman: “Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah”, dalam pengertian seluruh manusia secara universal membutuhkan Allah dalam gerak dan diam; sedangkan Allah Maha-kaya secara mutlak dan absolut. Maka Allah pun menegaskan: ”dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu), lagi Maha Terpuji” (Surah Fāthir/35: 15). Dia dalam kesendirian-Nya Mahakaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Maha Terpuji dalam semua yang dilakukan, ditetapkan, ditakdirkan dan disyariatkan-Nya.30Melengkapi pandangan di atas, Ahmad Musthafā al-Marāghī ketika menafsirkan Surah Fāthir ayat 15 di atas, menyatakan: ”Kamu sekalian, wahai hamba-hamba Allah adalah orang-orang yang butuh kepada pencipta kamu sekalian yang memberikan rezeki kepada kamu sekalian; maka hanya kepada-Nyalah kamu sekalian beribadah dan hanya keridaan-Nyalah yang kamu usahakan (dalam hidup ini). Dia Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah kalian. Dia Maha Terpuji atas nikmat-nikmat-Nya. Semua kenikmatan yang dirasakan oleh kamu dan yang dirasakan oleh makhluk-makhluk selain kamu berasal dari Dia. Maka hanya untuk Allah segala puji dan segala rasa syukur dalam segala keadaan.31
Sementara itu al-Qurthubī ketika mejelaskan tafsir Surah Fāthir ayat 15 di atas yang berarti “Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah”, menyatakan: ”Kamu adalah orang-orang yang membutuhkan Allah dalam memperjuangkan kelangsungan hidup kamu dalam segala keadaan”.32 Menurut az-Zamakhsyarī, seorang ahli tata Bahasa Arab Al-Qur′an, jika anda bertanya, mengapa Allah menggunakan istilah al-fuqarā′ pada ayat di atas dalam bentuk definite (ma’rifah) dengan menggunakan kata sandang  أَلْ maka jawabannya menurut pendapat kami, “Perkataan  أَلْفُقَرَاءُ  dimaksudkan bahwa Allah memperlihatkan kepada manusia kekhususan manusia, bahwa manusia itu sesungguhnya sangat membutuhkan Allah, meskipun makhluk-makhluk yang lain pun membutuhkan Allah; karena ada korelasi antara kebutuhan kepada Allah dengan keadaan manusia yang lemah. Makin lemah keadaan manusia, makin nyata kebutuhannya kepada Allah. Sementara Allah pun menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah seperti terlihat pada ayat Al-Qur′an yang berikut:
imageAllah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah. ( an-Nisā′/4: 28)
Dari pandangan para mufassir di atas, dapatlah dirumuskan sebuah gambaran tentang hakikat manusia, menurut perspektif Al-Qur′an, bahwa manusia tidak akan pernah tampil dalam pentas kehidupan ini tanpa kehendak mutlak Allah untuk mewujudkannya. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari Allah, karena Allah tidak menghendaki manusia menjadi makhluk otonom. Allah hadir, dekat dan terlibat sepenuhnya dalam kehidupan manusia sebagaimana ditegaskan di dalam penggalan ayat Al-Qur′an yang berikut: أللهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا هُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَانَوْمٌ  (Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. (Surah al-Baqarah/2: 255). Menurut Muhammad ‘Alī al-Shābūnī, ”Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur seperti disebutkan dalam hadis: 33
إِنَّ اللهَ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَنَامَ يَرْفَعُ الْقِسْطَ وَيَخْفِضُهُ -روه المسلم عن أبى موسى
Sungguh Allah tidak pernah tidur dan tidak layak tidur bagi Allah. Beliau meninggikan dan merendahkan timbangan (amal perbuatan manusia).34Hakikat ketergantungan manusia kepada Tuhan, menurut Al-Qur′an, dan konsep keterlibatan Tuhan dalam urusan manusia tergambar pada ayat Al-Qur′an yang berikut:
image
Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (ar-Rahmān/55: 29)
Menurut Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Surah ar-Rahmān ayat 29 di atas menjelaskan bahwa, “Semua makhluk secara universal yang berada di langit maupun di bumi membutuhkan Allah. Makhluk-makhluk itu memohon, mencari dan meminta pertolongan dan rezeki kepada Allah, baik dengan bahasa yang terungkap secara lisan (lisānul-maqāl) maupun dengan bahasa aksi (lisānul-hāl). Setiap detik Allah dalam kesibukan-Nya tentang berbagai urusan makhluk senantiasa mengampuni dosa hamba-hamba, meringankan beban penderitaan manusia, meninggikan harkat dan martabat sekelompok manusia serta merendahkan harkat dan martabat kelompok manusia yang lain.35Konsep Tuhan, menurut perspektif Al-Qur′an, tidak seperti konsep Tuhan yang digambarkan aliran filsafat Deisme yang meyakini bahwa Tuhan ada dan manusia itu ciptaan Tuhan, tetapi Tuhan telah membekali manusia dengan akal budi dan hati nurani sehingga manusia menjadi makhluk otonom, tidak perlu berdoa dan tidak tergantung kepada Tuhan. Manusia bisa mengembangkan akal budinya untuk menciptakan kebudayaan, mengembangkan sains dan mencip-takan teknologi guna memudahkan hidup dan kehidupannya. Konsep Tuhan kaum Deisme memiliki kemiripan dengan konsep Tuhan aliran Mu’tazilah. Dalam pandangan Mu’tazilah perbuatan manusia ditentukan oleh manusia sendiri. Tuhan menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal dan nurani. Manusia dalam konsep Mu’tazilah adalah makhluk otonom. Memiliki kebebasan untuk bertindak dan kebebasan untuk memilih. 36Pendirian para filosof tersebut merupakan hasil pemikiran spekulatif. Tuhan mereka jauh, bersifat transendental, impersonal, tidak berhubungan dengan dunia dan kehidupan manusia. Tuhan mereka tertutup dari kehidupan manusia. Pendirian serupa ini, jika ditimbang dengan konsep Tuhan di dalam Al-Qur′an, jelas tidak dapat diterima secara mutlak. Tuhan itu, menurut Al-Qur′an mengetahui, mendengar, melihat dan memelihara kehidupan ini. Dia yang menghidupkan dan mematikan manusia dan Dia pula yang menyediakan sarana hidup ini. Ibnu Taimiyyah menegaskan, bahwa menurut Al-Qur′an Tuhan terlibat dalam kehidupan manusia.373. Menghidupkan budaya penghormatan terhadap nilai kemanusiaan
Penghormatan manusia terhadap nilai kemanusiaan sepanjang sejarah mengalami pasang surut. Al-Qur′an menyatakan bahwa Allah telah memuliakan anak cucu Adam seperti termaktub pada ayat Al-Qur′an berikut:
imageDan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (al-Isrā’/17: 70)
Penggalan ayat di atas yang berbunyi: وَلَقَدْكَرَّمْنَا بَنِى أٰدَامَ (Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam),menurut Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, menjelaskan bahwa Allah telah memuliakan umat manusia, anak cucu Nabi Adam, dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain dengan diberi akal, ilmu, dan bahasa, serta dengan menaklukkan alam dan segala isinya bagi kepentingan manusia.38 Penghormatan terhadap akal harus dipadukan dengan penghormatan terhadap agama, jiwa, keturunan dan harta sebagaimana dirumuskan oleh asy-Syāthibī bahwa prinsip penghormatan dan perlindungan terhadap manusia dan nilai kemanusiaan universal hendaklah dengan menegakkan lima pilar tujuan syari’at Islam yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim. Adapun kelima pilar itu selengkapnya dinamakan dengan al-kulliyyāt al-khams (five universals), yaitu: himāyatud-dīn (memelihara agama), himāyatun-nafs (melindungi jiwa), himāyatul-‘aql (memelihara akal/kecerdasan/intelek), himāyatun-nasl (memelihara keturunan), dan himāyatul-amwāl (melindungi hak milik/harta/property).39 Penegakan kelima pilar tersebut, harus terwujud (1) dalam peraturan perundang-undangan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, (2) dalam budaya kaum muslim dan sistem sosial, dan (3) dalam kurikulum sistem pendidikan nasional, serta (4) dalam kehidupan individu dan keluarga.
Penghormatan dan perlindungan terhadap manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal itu harus diwujudkan dengan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
Pertama, menumbuhkan keinsafan di kalangan umat Muslim bahwa Allah telah menciptakan manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan umat manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Perbedaan etnis, kultural, bahasa, warna kulit, tradisi, dan nilai-nilai kearifan lokal itu dikenali dengan sebaik mungkin supaya terwujud kesaling-fahaman di antara umat manusia yang beranekaragam tersebut. Al-Qur′an menegaskan pada ayat yang berikut:
imageWahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurāt/49: 13)
Ayat ini, menurut riwayat Abū Dāwūd, turun berkenaan dengan peristiwa yang terjadi pada seorang sahabat yang bernama Abū Hindin, seorang hamba sahaya yang biasa berkhidmat kepada Rasulullah untuk mengeluarkan darah kotor dengan pembekam. Rasulullah menyuruh Kabilah Banī Bayadah agar menikahkan Abū Hindin dengan seorang perempuan di kalangan mereka. Mereka bertanya, “Apakah patut kami mengawinkan gadis-gadis kami dengan seorang budak? Maka Allah menurunkan ayat ini agar kita tidak mencemoohkan seseorang karena memandang rendah kedudukannya.40Sementara itu, menurut riwayat Abū Mulaikah bahwa tatkala terjadi Pembebasan Mekah pada tahun 8 Hijrah, Rasulullah menyuruh Bilāl untuk mengumandangkan azan. Ia memanjat Ka’bah dan mengumandangkan azan, menyeru kaum muslimin untuk salat berjama’ah. ‘Attab bin Usaid ketika melihat Bilāl naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan ayahku sehingga tidak sempat menyaksikan peristiwa ini”. Hāris bin Hisyam berkata: ”Muhammad tidak akan menemukan orang lain untuk berazan kecuali burung gagak yang hitam ini.” Suhail bin Amr berkata: ”Jika Allah menghendaki, niscaya Allah bisa mengubahnya (menjadi putih). Mereka mencemoohkan Bilāl karena warna kulitnya yang hitam. Maka datanglah Malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah, apa yang mereka ucapkan itu. Lalu turunlah ayat ini yang melarang manusia menyombongkan diri karena kedudukan, kepangkatan, kekayaan, keturunan dan mencemoohkan orang miskin.41Ketika menafsirkan Surah al-Hujurāt/49: 13 di atas, ‘Abdurrahmān bin Nashir al-Sa’diyyī (1307–1376 H) menyatakan bahwa, Ayat ini memberitahukan kepada kita, sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dari asal-usul yang satu dan jenis yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu bahwa manusia berasal dari nenek moyang yang sama, Nabi Adam dan Siti Hawa. Allah mengembangbiakan dari keduanya, Adam dan Hawa, laki-laki dan perempuan yang banyak. Lalu anak cucu Nabi Adam tersebut terpencar-pencar ke berbagai kawasan sehingga menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Ada bangsa-bangsa dan suku-suku yang lemah, tertindas dan minoritas dan ada pula suku-suku yang kuat, menindas dan mayoritas. Hal ini dimaksudkan agar manusia saling mengenal yang satu dengan yang lain. Apabila masing-masing bangsa dan suku-suku tersebut hanya mementingkan diri sendiri, tidak akan tercapai tujuan penciptaan untuk saling mengenal (ta’āruf) tersebut; padahal dengan ta’āruf itu akan melahirkan sikap saling membantu, tolong menolong,kerja sama, dan saling berbagi dalam memenuhi hak dan kewajiban.42Sementara itu, dalam menjelaskan kandungan makna Surah al-Hujurāt/49: 13 di atas, al-Qurthubī mengutip bagian dari pidato Rasulullah di atas kendaraan beliau di Mina pada hari tasyrīq sebagai berikut: 43


يَاأَيُّهَاالنَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلاَ لِعَرَبِيِّ عَلَى أَعْجَمِيِّ وَلاَ لِعَجَمِيِّ عَلَى عَرَبِيِّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلّاَ بِاالتَّقْوَاى أَبَلَغْتُ قَالُوْا بَلَّغَ رَاسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - روه أحمد بن حنبل عن أبى نضرة
Wahai segenap manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu Maha Esa. Sungguh bahwa nenek moyang kalian itu satu, yakni Nabi Adam. Sungguh tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa-bangsa lain dan tidak ada kelebihan bangsa-bangsa lain atas bangsa Arab. Tidak ada kelebihan apa pun bagi bangsa kulit hitam atas bangsa kulit merah. Tidak ada kelebihan apa pun bagi bangsa kulit merah atas bangsa-bangsa kulit hitam kecuali dengan ketakwaan. Ingat, aku telah menyampaikan (pesan penting ini)? Para sahabat menjawab Rasulullah shallallāhu ‘alahi wa sallam telah menyampaikannya. (Riwayat Ahmad bin hanbal dari Abū Nadhrah)
Sementara itu, menurut riwayat Ibnu Hibbān dan at-Tirmidzī dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam berpidato di Mekkah pada waktu pembebasan Makkah tahun 8 Hijrah.
Kedua, kita harus melakukan advokasi dan secara terus menerus menyadarkan umat manusia dan negara-negara di dunia pada abad global ini untuk menghentikan berbagai bentuk tindak kekerasan dan kejahatan kemanusiaan melalui perang dan pengusiran suatu etnis dari tanah airnya hanya karena kelompok-kelompok sosial itu berbeda keyakinan agamanya dengan kelompok yang kuat dan berkuasa. Kita harus menyimak dengan hati pesan ayat Al-Qur′an yang berikut:
imageAllah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Mumtahanah/60: 8-9)
Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada beberapa imam yang lain dari ‘Abdullāh bin Zubair, ia berkata, Telah datang ke Medinah (dari Mekah) Qutailah binti ‘Abdul ‘Uzzā, bekas istri Abū Bakar sebelum masuk Islam, untuk menemui putrinya Asma′ binti Abū Bakar dengan membawa berbagai hadiah. Asma′ enggan menerima hadiah itu dan tidak memperkenankan ibunya memasuki rumahnya.
Kemudian Asma′ mengutus seseorang kepada Aisyah agar menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Maka turunlah ayat ini yang membolehkan Asma′ menerima hadiah dan mengizinkan ibunya yang kafir itu tinggal di rumahnya.
Allah tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong, dan bantu-membantu dengan orang musyrik selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tidak mengusir kaum muslimin dari negeri-negeri mereka, dan tidak pula berteman akrab dengan orang yang hendak mengusir itu.
Ayat ini memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama mereka bersikap dan ingin bergaul baik, terutama dengan kaum muslimin.
Seandainya dalam sejarah Islam, terutama pada masa Rasulullah dan masa para sahabat, terdapat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslimin kepada orang-orang musyrik, maka tindakan itu semata-mata dilakukan untuk membela diri dari kezaliman dan siksaan yang dilakukan oleh pihak musyrik.
Di Mekah, Rasulullah dan para sahabat disiksa dan dianiaya oleh orang-orang musyrik, sampai mereka terpaksa hijrah ke Medinah. Sesampai di Medinah, mereka pun dimusuhi orang Yahudi yang bersekutu dengan orang-orang musyrik, sekalipun telah dibuat perjanjian damai antara mereka dengan Rasulullah dalam Piagam Madinah. Oleh karena itu, Rasulullah terpaksa mengambil tindakan keras terhadap mereka. Demikian pula ketika kaum muslimin berhadapan dengan Kerajaan Persia dan Romawi, orang-orang kafir di sana telah memancing permusuhan sehingga terjadi peperangan.
Jadi ada satu prinsip yang perlu diingat dalam hubungan orang-orang Islam dengan orang-orang kafir, yaitu boleh mengadakan hubungan baik, selama pihak yang bukan Islam melakukan yang demikian pula. Hal ini hanya dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatan kedua belah pihak.
Di Indonesia prinsip ini dapat dilakukan, selama tidak ada pihak agama lain bermaksud memurtadkan orang Islam atau menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah hanya melarang kaum muslimin bertolong-tolongan dengan orang yang menghambat atau menghalangi manusia beribadah di jalan Allah, dan memurtadkan kaum muslimin sehingga ia berpindah kepada agama lain, yang memerangi, mengusir, dan membantu pengusir kaum muslimin dari negeri mereka. Dengan orang yang semacam itu, Allah dengan tegas melarang kaum muslimin untuk berteman dengan mereka.
Di akhir ayat ini, Allah mengingatkan kaum muslimin yang menjadikan musuh-musuh mereka sebagai teman dan tolong-menolong dengan mereka, bahwa jika mereka melang-gar larangan ini, maka mereka adalah orang-orang yang zalim. Kaum muslimin dibolehkan berteman dan bertolong-tolongan dengan orang-orang yang bukan Muslim, selama mereka tidak berniat memerangi kaum muslimin, tidak berusaha memurtadkan kaum muslimin, dan tidak bermaksud mengusir atau bersekongkol untuk menjajah kaum muslimin di negeri mereka.44Ketiga, menumbuhkan kesadaran umat manusia, bangsa-bangsa, para pemikir, negarawan, budayawan, agamawan, ulama, tokoh masyarakat, dan para pemimpin negara di dunia untuk bersama-sama mencintai kehidupan dan menjaga kelangsungan hidup umat manusia. Sebab membunuh satu orang yang tidak bersalah, bukan disebabkan karena membunuh atau berbuat fasad (merampok atau mengganggu keamanan dan ketertiban) di bumi seperti membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, menghidupkan satu orang manusia seakan-akan telah menjaga kelangsungan hidup seluruh umat manusia. Al-Qur′an menegaskan hal itu pada ayat yang berikut:
imageOleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi. (al-Mā’idah/5: 32)
Menurut ulama tafsir, Surah al-Mā′idah ayat 32 di atas terkait erat dengan beberapa ayat sebelumnya, yakni ayat 27-31 yang mengisahkan pembunuhan Qabil terhadap saudara kandungnya, Habil, yang keduanya merupakan putra Nabi Adam. Menurut Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Berdasarkan peristiwa pembunuhan Qabil terhadap saudara kandungnya Habil secara zalim, Allah menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa di antara mereka membunuh seseorang karena tindakan zalim, bukan karena orang itu membunuh orang lain yang baginya berlaku hukum qishāsh; dan bukan karena berbuat kerusakan di bumi yang diancam dengan hukuman mati; maka maka ia seakan-akan telah membunuh semua manusia, karena, menurut al-Baidhawī, tindakan itu telah menumpahkan darah yang terlindungi, membudayakan pem-bunuhan, dan menggiring manusia untuk melakukan tindakan serupa.45 Adapun maksud ayat tersebut menurut al-Baīdhawī, adalah menekankan larangan menghilangkan nyawa manusia, menghidupkan larangan tersebut di dalam hati, memperingat-kan manusia agar menghindari pembunuhan, dan mendorong manusia untuk melindungi jiwa.46Sementara itu ketika menafsirkan ayat ini, al-Marāghī menjelaskan bahwa sesungguhnya disebabkan tindakan kejahatan dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh salah seorang dari dua bersaudara karena kezaliman dan permusuhan, Allah menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain atau karena sebab-sebab yang diancam dengan hukuman qisas; bukan karena berbuat kerusakan di bumi yang menghilangkan rasa aman dan ketenteraman; dan bukan pula karena menghancurkan ladang dan ternak seperti yang dilakukan para perampok bersenjata yang merencanakan untuk menghilangkan nyawa, merampas harta, atau merencanakan tindakan sabotase terhadap pemerintah yang menegakkan hukum Allah; maka tindakan itu seakan-akan telah membunuh seluruh ummat manusia. Sebab seorang yang dibunuh itu merupakan representasi seluruh manusia. Siapa yang meng-halalkan darah satu orang tanpa alasan yang dibenarkan agama, maka sebenarnya ia telah menghalalkan darah setiap individu manusia. Maka maksud ayat ini adalah menekankan larangan membunuh sesama manusia secara sengaja karena permusuhan dan menekankan bahwa tindakan pembunuhan tersebut merupakan perbuatan keji.47Sebaliknya, menurut Ahmad Mushthafā al-Marāghī, penggalan Surah al-Mā′idah ayat 32 di atas menegaskan, “Barangsiapa memelihara kelangsungan hidup seorang manu-sia, maka seakan-akan dia telah memelihara kelangsungan hidup semua manusia”. Maksud penggalan ayat tersebut, barangsiapa yang melakukan sesuatu yang menjadi sebab terpeliharanya kelangsungan hidup satu orang manusia dengan menyelamatkannya dari ancaman kematian, maka tindakan tersebut merupakan perbuatan mulia, seakan-akan dia telah memelihara kelangsungan hidup semua manusia. Sebab motivasi dasar yang mendorong tindakan penyelamatan itu adalah memberikan kasih sayang kepada sesama, menghargai kehidupan manusia, dan mengamalkan pesan agama.48Di dalam ayat ini, menurut al-Marāghī, terdapat bimbingan tentang keharusan menyadari kesatuan manusia (wahdatul-basyar) sehingga tiap-tiap orang memelihara kehidupan semua dengan menjauhi tindakan yang mendatangkan kemadaratan bagi setiap individu. Menginjak-injak harkat dan martabat individu dinilai sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat seluruh umat manusia. Memenuhi hak-hak azasi setiap individu manusia, dalam batas-batas yang ditetapkan agama, dinilai sebagai pemenuhan terhadap hak-hak azasi seluruh umat manusia.49
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, cet. ke-12, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983), h. 546.
  2. The Encyclopedia Americana, (International Edition), Volume 25, h. 421.
  3. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Edisi Revisi), cet. ke-7, (Bandung: Penerbit Remaja Rosda Karya, 2002), h. 85-86.
  4. Nurcholish Madjid, Segi-segi Positif-Negatif Globalisasi dan Kemungkinan Respon Islam, (Jakarta: Makalah Klub Kajian Agama, Seri KKA ke 92/Tahun VIII/November 1994), h. 1-2.
  5. Akbar S. Ahmed and Hastings Donnan, “Islam in the Age of Postmodernity”, dalam Bachtiar Effebdy, Masyarakat Agama dan Tantangan Globalisasi: Mempertimbangkan Konsep Deprivatisasi Agama, (Jakarta: Makalah Klub Kajian Agama, Seri KKA ke 119/Tahun XII/Maret 1997), h. 2.
  6. Kenichi Ohmae, “The End of the Nation State: The Rise of Regional Economic”, dalam Bachtiar Effendy, Masyarakat Agama dan Tantangan Globalisasi: Mempertimbangkan Konsep Deprivatisasi Agama, (Jakarta: Makalah Klub Kajian Agama, Seri KKA ke 119/Tahun XII/Maret 1997), h. 2.
  7. Nurcholish Madjid, Segi-segi Positif-Negatif Globalisasi dan Kemungkinan Respon Islam, h. 2.
  8. Nurcholish Madjid, Segi-segi Positif-Negatif Globalisasi dan Kemungkinan Respon Islam, h. 5.
  9. Hanna Djumhana Bastaman, Kehidupan Modern dan Kehidupan Bermakna: Sebuah Tunjauan Psikologis, (Jakarta: Seri Klub Kajian Agama (KKA) ke-93/Tahun VIII/1994), h. 3.
  10. Hanna Djumhana Bastaman, Kehidupan Modern dan Kehidupan Bermakna: Sebuah Tunjauan Psikologis, 1994), h. 2.
  11. Elisabeth Lukas, Meaningful Living: A Logotherapy Guide to Health Institute of Logotherapy, Berkeley, 1985, sebagaimana dikutip Hanna Djumhana Bastaman, Kehidupan Modern dan Kehidupan Bermakna: Sebuah Tunjauan Psikologis, 1994), h. 3.
  12. Nurcholish Madjid, Persoalan Makna Hidup bagi Manuusia Modern, (Jakarta: Makalah Klub Kajian Agama, Seri KKA ke-93/Tahun VIII/ Desember 1994), h. 1-2.
  13. Nurcholish Madjid, Persoalan Makna Hidup bagi Manuusia Modern, h. 2.
  14. ar-Rāghib al-Ishfahānī, Mu’jam Mufradāt Alfāzhil-Qur′ān, (Beirut: Dārul-Fikr, t.t.), h.399.
  15. Jamāluddīn Abī al-Fadhl Muhammad bin Makram Ibnu Manzhūr al-Ansharī al-Ifriqiī al-Mishrī, Lisānul-‘Arab, cet. ke-1, Jilid II, (Beirut: Dārul-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003/1424), h. 647.
  16. Muhammad Fu′ād ‘Abdul-Bāqī, al-Mu„jam al-Mufahras li Alfazhil-Qur′ān, cet. ke-4, (Beirut: Dārul-Fikr, 1994/1414), h. 667-668.
  17. Al-Qur′an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 10, (Jakarta: Departemen Agama R.I., 2008), h. 569
  18. ar-Rāghib al-Ashfahānī, Mu’jam Mufradāt Alfāzhil-Qur′an, (Beirut: Dārul-Fikr, t.t.), h. 281.
  19. Nurcholish Madjid, Persoalan Makna Hidup bagi Manusia Modern, h. 2-3.
  20. Al-Qur′an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 7, (Jakarta: Departemen Agama R.I., 2008), h. 495.
  21. Al-Qur′an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 7, (Jakarta: Departemen Agama R.I., 2008), h. 498.
  22. Jamāluddīn Abī al-Fadhl Muhammad bin Makram Ibnu Manzhūr al-Ansharī al-Ifriqiī al-Mishrī, Lisānul-‘Arab, cet. ke-1, Jilid V, (Beirut: Dārul-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003/1424), h. 71
  23. ar-Rāghib al-Ashfahānī, Mu’jam Mufradāt Alfāzhil-Qur′an, (Beirut: Dārul-Fikr, t.t.), h. 397.
  24. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, cet. ke-1, Jilid V, h. 70.
  25. ar-Rāghib al-Ashfahānī, op. cit., h. 397.
  26. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwātut-Tafāsīr, Jilid II, (Jakarta: Dārul-Kutub al-Islāmiyyah, t.th), 571.
  27. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwātut-Tafāsīr, Jilid II, h. 571.
  28. Departemen Agama R.I, Al-Qur′an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 8, (Jakarta: Departemen Agama, 2007), h. 151.
  29. ‘Abdurrahmān bin Nāshir al-Sa’diyyī, Taisīr al-Karīm al-Rahmān fī Tafsīr Kalāmil-Mannan, (Kairo: Dārul-Hadits, t.t.), h. 754.
  30. ‘Imāduddīn Abū al-Fidā′ Ismā’īl bin Katsīr al-Qurasyī al-Dimasyqī, Tafsīr Al-Qur′ān al-‘Azhīm, Jilid V, (Beirut: Dārul-Fikr, t.t.), h. 577.
  31. Ahmad Mushthafā al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, cet. ke-1, Jilid VIII, (Beirut: Dārul-Fikr, 1421/2001), 75-76.
  32. Abū ‘Abdillāh Muhammad bin Ahmad al-Anshāri al-Qurthubī, Al-Jāmi’ lī Ahkāmil-Qur′ān, jilid VII, cet. ke-1, (Beirut: Dārul-Fikr, 1999 M/1419), h. 246.
  33. Hadis Riwayat Imam Muslim, Shahīh Muslim, bab Fi qauli ‘alaihis-salām, no. 465
  34. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid I, h. 163.
  35. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid III, h. 296-297.
  36. Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1992), h. 48.
  37. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatāwa Ibnu Taimiyyah: al-Tafsīr, Jilid 17, (Rabat: Maktabat al-Ma’arif, t.th), h. 293-294.
  38. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid II, h. 170.
  39. asy-Syātibī, al-Muwāfaqāt fī Ushūlil-Ahkām, (Beirut: Dārul-Fikr, 1341 H), vol. II, h., 4-5.
  40. Departemen Agama R.I, Al-Qur′an dan Tafsirnya, (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 9, (Jakarta: Departemen Agama, 2007), h. 419.
  41. Departemen Agama R.I, Al-Qur′an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 9, h 419-420. Lihat juga: al-Qurthubī, al-Jāmi’ lī Ahkāmil-Qur′ān, jilid VIII, cet. ke-1, h. 246.
  42. ‘Abdurrahmān bin Nāshir al-Sa’dī, Taisīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalāmil-Mannan, (Kairo: Dārul-Hadits, t.t.), h. 893.
  43. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Bab Hadīsh Rajulun Min Ashhābin-Nabī.
  44. Departemen Agama R.I, Al-Qur′an dan Tafsirnya, (Edisi yang Disempurnakan), Jilid 10, 97-99.
  45. Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid I, h. 339.
  46. Tafsir al-Baidhawī, h. 151. Lihat: Muhammad ‘Alī ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, Jilid I, h. 339.
  47. al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, cet. ke-1, Jilid II, (Beirut: Dārul-Fikr, 1421/2001), h. 290.
  48. al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, cet. ke-1, Jilid II, (Beirut: Dārul-Fikr, 1421/2001), h. 290.
  49. al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, cet. ke-1, Jilid II, (Beirut: Dārul-Fikr, 1421/2001), h. 291.

Tidak ada komentar: