الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Sabar

Kata sabar dengan berbagai derivasinya disebut dalam Al-Qur′an sebanyak 103 kali yang tersebar di 45 surah, 40 % dari keseluruhan surah Al-Qur′an yang berjumlah 114, di 93 ayat. Terkadang dalam satu ayat terulang kata tersebut dua kali. Banyaknya jumlah ayat yang berbicara tentang sabar ini telah mendapat perhatian para ulama terdahulu seperti Imam al-Ghazālī dalam kitab Ihyā′ ‘Ulūmiddīn, Ibnul-Qayyim dalam kitab Madārijus-Sālikīn dan Abū Thālib al-Makkī dalam kitab Qūtul-Qulūb. Al-Makkī misalnya berkomentar, tidak ada (sebuah perilaku) yang disebut oleh Allah dengan jumlah bilangan besar kecuali sabar.1Al-Makkī tidak berlebihan. tingginya perhatian Al-Qur′an terhadap sabar karena sifat ini memiliki nilai yang sangat tinggi, bahkan merupakan sebuah keharusan bila seseorang ingin mencapai derajat yang tinggi dalam hidup, baik secara materi maupun maknawi, dalam kapasitas sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Seorang petani tidak akan menuai tanamannya bila ia tidak sabar dalam bekerja dan menunggu hasil dari sejak menebar bibit. Tanpa kesabaran seorang pelajar juga tidak akan bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Hampir semua sejarah orang-orang besar selalu diwarnai oleh ketekunan dan kesabaran. Merindukan kesuksesan tanpa dibarengi kesabaran hanyalah seperti berenang di daratan dan terbang tanpa sayap. Seseorang datang kepada Ibnu Sirin, ulama yang dikenal pandai menakwil mimpi, dan mengutarakan mimpi yang dialaminya. Dikatakan dia bermimpi bisa berenang tanpa air, dan terbang tanpa sayap. Seketika Ibnu Sirin menjelaskan, “Anda orang yang banyak bermimpi dan bercita-cita meraih sesuatu yang tidak akan pernah terjadi”. Jika kesuksesan di dunia membutuhkan kesabaran apalagi kesuksesan di akhirat, sebab jalan menuju surga bukanlah jalan yang mudah. Abū Thālib al-Makkī mengatakan, “Ketahuilah, sabar merupakan sebab masuk surga dan terhindar dari neraka.”
Dalam sebuah riwayat dikatakan, jalan ke surga dipenuhi oleh hal-hal yang sulit dan tidak mengenakkan, dan jalan menuju neraka dipenuhi syahwat dan hal-hal yang menyenangkan. Untuk bisa masuk ke surga seorang mukmin harus bersabar menghadapi kesulitan, dan menahan diri dari hawa nafsu”2.
Sabar menjadi sangat penting bagi manusia karena hidup manusia sejak ia diciptakan selalu penuh tantangan. Al-Qur′an memberi gambaran kesulitan yang dialami manusia sejak awal melalui ungkapan dalam firman Allah:
90_4Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (al-Balad/90: 4)
Kata kabad dalam Bahasa Arab, seperti dikemukakan al-Ashfahānī, seorang pakar bahasa Al-Qur′an, bermakna kesulitan. Satu hal yang menurutnya mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia diciptakan tidak terpisah dengan kesulitan dan pen-deritaan bila tidak dihadapi dengan usaha menembus segala rintangan dan tantangan3. Para penyusun Tafsir al-Muntakhab menjelaskan ayat ini dengan mengatakan, kami telah menciptakan manusia dalam keadaan sulit dan payah, sejak lahir sampai akhir hayatnya.4 Sulit dan payah dialami karena awal kelahirannya diliputi gabungan antara perasan senang dan menderita; senang karena menyambut kedatangan bayi dan menderita karena sang ibu melahirkannya dengan susah payah dan penuh pengorbanan. Menurut Imam al-Khāzin, mengutip dari Ibnu ‘Abbās, sulit dan payah itu dialami ketika masih dalam kandungan, saat melahirkan, menyusui, menyapih, mengarungi kehidupan dan saat kematian. Tidak ada makhluk Allah yang mengalami penderitaan melebihi penderitaan yang dialami manusia. Padahal ia juga juga diciptakan dalam keadaan lemah (al-Nisā′/4: 28)5Sabar menghadapi tantangan lebih sangat dibutuhkan lagi oleh orang-orang yang beriman, sebab musuh mereka selalu ada. Balasan surga yang akan mereka terima nanti mempunyai harga yang harus dibayar, bukan gratisan. Dahulu, ketika Islam baru pertama kali muncul dan berkembang di Mekah, para pemeluk Islam mengalami siksaan dan cobaan yang luar biasa. Saat itu Al-Quran menghibur mereka dengan mengatakan bahwa penderitaan merupakan harga yang harus dibayar untuk sebuah keimanan. Allah berfirman:
29_2-3Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (al-‘Ankabūt/29: 2-3)
Ketika berada di Medinah, di saat perkembangan Islam semakin pesat, dan satu per satu kejayaan mereka peroleh, Al-Quran juga mengingatkan:
2_214Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (al-Baqarah/2: 214)
Ujian kesabaran melalui berbagai penderitaan dan cobaan saat itu sangatlah penting, bukan hanya untuk mendidik dan menempa jiwa umat Islam, tetapi juga mengetahui siapa di antara mereka yang betul-betul beriman secara lahir dan batin, dan siapa yang beriman untuk kepentingan sesaat. Bukankah untuk memilah antara emas dan yang bukan seorang pengrajin atau penambang perlu membakarnya dengan api yang panas. Demikian pula kualitas keimanan seseorang dapat diukur melalui sikapnya dalam menghadapi berbagai penderitaan dan cobaan. Selain itu, bagi seorang mukmin, cobaan demi cobaan yang dialami dan dihadapi dengan kesabaran akan menghapus-kan dosa-dosa yang pernah dia lakukan. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī, Rasulullah bersabda:
sabar01Tidak ada musibah yang dihadapi manusia, yang berupa penderitaan, sakit menahun, kegelisahan, kesedihan, sesuatu yang menyakitkan, kegundahan, sampai pun duri yang mengenai seseorang, kecuali Allah akan menghapuskan segala dosa-dosanya dengan itu semua. (Riwayat al-Bukhārī dari Abū Hurairah)
A. Definisi sabar dan Macam-macamnya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sabar diartikan sebagai tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati)6. Kata ini merupakan serapan dari Bahasa Arab, yaitu dari kata ash-shabru yang berasal dari akar kata sha ba ra. Menurut pakar Bahasa Arab, Ibnu Fāris, kata ini memiliki tiga makna dasar, yaitu: 1) menahan dan mengekang, 2) bagian yang tertinggi pada sesuatu, dan 3) segala sesuatu yang keras seperti besi, batu dan lainnya7. Ketiga makna ini memberi kesan bahwa sabar adalah sebuah upaya untuk menahan diri dan mengekang segala bentuk keinginan memperturuti hawa nafsu, yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan menempa diri secara keras, agar bisa sampai pada puncak kebahagiaan. Sabar bukanlah sebuah kepasrahan dan ketundukan tanpa perlawanan dan kerja keras, tetapi sabar adalah usaha keras untuk mengatasi kesulitan dengan tetap tegar dan penuh keyakinan akan datangnya keberuntungan di kemudian hari8. Upaya itu juga dibarengi dengan niat mencari rida Allah subhānahū wa ta‘ālā. Allah berfirman yang artinya: Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya. (ar-Ra‘d/13: 22)
Dengan demikian, sabar menurut Al-Qur′an adalah upaya menahan diri dari segala sesuatu yang tidak mengenakkan, semata-mata karena mencari rida Allah, bukan untuk mendapat pujian atau popularitas di mata manusia. Dalam Surah al-Muddatsir ayat 7, Allah juga menegaskan, walirabbika fashbir, jadikanlah kesabaranmu hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk selain-Nya. Kaum cerdik cendekia (ulul albāb) yang dijanjikan akan mendapat tempat yang baik di akhirat kelak semata-mata bukan hanya karena kesabaran mereka, tetapi karena bersabar demi mencari rida Allah subhānahū wa ta‘ālā. Allah berfirman:
13_22Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melak-sanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (ar-Ra‘d/13: 22)
Ayat di atas menunjukkan bahwa ajaran moral dan etika dalam Islam memiliki kekhasan bersumber dari Allah subhānahū wa ta‘ālā. Atau dengan kata lain memiliki shibgah rabbāniyyah (celupan warna ketuhanan), baik dari segi sumbernya maupun tujuannya. Sumbernya adalah perintah Allah subhānahū wa ta‘ālā, dan tujuannya adalah mencapai keridaan-Nya.
Menurut al-Ashfahānī, sabar adalah upaya menahan diri berdasarkan tuntutan akal dan agama, atau menahan diri dari segala sesuatu yang harus ditahan menurut pertimbangan akal dan agama. Dengan demikian sabar adalah kata yang memiliki makna umum. Namanya bisa beragam sesuai perbedaan obyeknya. Jika menahan diri dalam keadaan mendapat musibah disebut sabar, kebalikannya adalah al-jaza‘u (sedih dan keluh kesah)9, sebagaimana disebut dalam firman Allah Surah Ibrāhīm 14: 21
Menurut Imam al-Ghazālī, sabar ada dua macam; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban penderitaan secara fisik dan berusaha tegar menghadapinya. Bentuknya bisa berupa perbuatan, yaitu melakukan pekerjaan berat, baik berupa ibadah atau bukan, dan bisa berbentuk menanggung penderitaan seperti sabar menahan pukulan yang menyakitkan, sakit kronis dan luka parah. Bila sejalan dengan tuntunan agama maka sabar dalam hal itu terpuji. Yang kedua adalah ash-shabru an-nafsi (menahan diri) dari berbagai bentuk tabiat buruk yang menyenangkan dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu. Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam. Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut ‘iffah. Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengenda-likan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr). Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran disebut syajā‘ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut). Jika sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional). Jika sabar dalam menyimpan perkataan disebut katūm (penyimpan rahasia). Jika sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah).
Demikian, kebanyakan akhlak terpuji yang merupakan tuntutan atau konsekuensi dari keimanan seseorang terhimpun dalam kata dan sifat sabar. Karena itu, ketika suatu saat Rasulullah ditanya tentang iman, beliau menjawab, iman yang paling baik adalah sabar10. Dengan redaksi sedikit berbeda Hasan al-Basrī, ulama generasi tabi‘in, mengatakan, iman adalah sabar11. Karena begitu banyaknya perilaku dan sifat baik yang terangkum dalam kata sabar dan begitu tingginya nilai sabar sehingga seakan-akan keimanan itu adalah kesabaran. Sama halnya ketika Nabi mengatakan haji adalah Arafah, sebab Arafah adalah puncak dan merupakan rukun dari pelaksanaan ibadah haji. Semua jenis sabar itu terangkum dalam firman Allah:
2_177aDan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah/2: 177)
Penggalan ayat di atas menyebutkan tiga keadaan yang menuntut kesabaran, yaitu dalam keadaan al-ba′sā′, adh-dhārrā′, dan al-ba′su. al-ba′sā′ adalah keadaan buruk dan sulit yang dihadapi seseorang, berupa kemiskinan dan lainnya. adh-Dharrā′ adalah kondisi menderita dan menghadapi bahaya. Berasal dari kata adh-dhurr yang berarti bahaya. Sedangkan al-ba′su adalah penderitaan yang dialami saat peperangan dan pertempuran12.
Al-Qur′an tidak hanya menuntut orang beriman untuk sekadar sabar, tetapi lebih dari itu ia harus menempuh satu tingkatan di atasnya, yaitu al-mushābarah. Allah berfirman:
3_200Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Āli ‘Imrān/3: 200)
al-Mushābarah pada ayat di atas diterjemahkan dengan menguatkan kesabaran. Bentuk kata seperti ini dalam Bahasa Arab menunjukkan keterlibatan dua belah pihak yang memiliki kesabaran. Sehingga yang dimaksud dalam ungkapan tersebut adalah mengalahkan musuh dalam kesabaran. Jika kita memiliki kesabaran dalam mempertahankan kebenaran demikian pula orang-orang musyrik memiliki kesabaran dalam kebatilan mereka. Yang dituntut dari kita adalah mengalahkan mereka dengan kesabaran kita, dan supaya kesabaran kita lebih kuat dari yang mereka miliki.13 Di dalam Al-Quran diceritakan betapa orang-orang musyrik yang memusuhi dakwah Islam memiliki kesabaran dalam mempertahankan kebatilan dan kesesatan mereka. Allah berfirman:
25_41-42Dan apabila mereka melihat engkau (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan engkau sebagai ejekan (dengan mengatakan), “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sungguh, hampir saja dia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak tetap bertahan (menyembah)nya.” Dan kelak mereka akan mengetahui pada saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. (al-Furqān/25: 41-42)
Pada Surah Āli ‘Imrān/3: 200 di atas kita juga diperintahkan untuk melakukan murābathah melalui firman-Nya: warābithū. Kata murābathah sudah dikenal di kalangan Bangsa Arab saat Al-Quran diturunkan yaitu mengikat kuda untuk berjaga-jaga, sebagai upaya antisipasi bila ada serangan dari pihak lawan. Makna ini kemudian „dipinjam‟ oleh Al-Qur′an untuk menggambarkan keadaan seseorang yang sedang menunggu dengan mengikat dirinya untuk sebuah ketaatan kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā. Dalam salah satu hadis disebutkan, berwuduk setiap kali mengalami sesuatu yang tidak mengenak-kan, banyak melangkah menuju masjid dan menunggu shalat berikutnya setelah menunaikan salat disebut ar-ribāth yang dapat menghapuskan dosa-dosa seseorang dan mengangkat derajatnya (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah). ar-Ribāth atau al-murābathah adalah upaya menjaga celah dalam hati agar tidak diserang setan seperti halnya menambatkan kuda di setiap celah untuk mengantisipasi serangan musuh. Menurut sebagian ulama, ketiga hal di atas merupakan tingkatan dari yang terendah yaitu ash-shabr, kemudian al-mushābarah dan terakhir al-murābathah.
B. Objek Sabar
Dari penjelasan tentang definisi dan macam-macam sabar di atas kita dapat mengetahui bahwa sabar memiliki cakupan makna dan aspek-aspek yang luas sekali. Imam al-Ghazālī menyebut tiga objek sabar yaitu: sabar dalam menaati Allah, menjauhi larangan-Nya dan sabar terhadap musibah pada saat pertama dialami.14 Sedangkan Wahbah al-Zuhailī dalam kitab tafsirnya menyebut tiga obyek sabar, yaitu: sabar dalam menunaikan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, menghadapi ketentuan dan cobaan-Nya. Secara umum, obyek sabar tidak terlepas dari dual hal; yang berhubungan dengan sabar dalam menghadapi penderitaan dan sabar dalam menghadapi kesenangan. Berikut ini beberapa aspek atau obyek sabar yang dapat disimpulkan dari penjelasan Al-Qur′an:
1. Sabar terhadap petaka atau cobaan dunia
Sabar jenis ini akan dialami oleh semua kalangan; baik atau jahat, yang beriman atau yang kafir, pemimpin atau rakyat yang dipimpinnya, sebab cobaan ini merupakan bagian dari dinamika hidup. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesedihan hati, terganggu kesehatan tubuhnya, ditinggal mati orang yang paling dicintai, kerugian harta, gangguan manusia lain, kesulitan hidup atau musibah bencana alam. Hal ini telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya yang disertai dengan sumpah:
2_155-157Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah/2: 155-157)
Ayat 155 dari Surah al-Baqarah di atas menjelaskan agar cobaan yang telah disebut itu dihadapi dengan sabar. Sikap sabar yang dimaksud dijelaskan pada ayat berikutnya (al-Baqarah/2: 156), yaitu menghadapi dengan mengucapkan: “Innā lillāhi wa innā ilaihi raji‘ūn” (sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Ungkapan ini dalam Bahasa Arab disebut al-istirjā′. Ungkapan ini menurut al-Alūsī tidak cukup dengan lisan saja, melainkan juga dengan hati, yaitu dengan menanamkan dalam hati ma‘rifatullāh (mengenal Tuhan) dan berusaha menyempurnakan jiwa yang menjadi tujuan ia diciptakan. Orang yang mengucapkan hendaknya juga merasa-kan dalam hati bahwa dia akan kembali kepada Tuhannya selamanya dan akan meninggalkan dunia yang fana ini, serta mengingat begitu banyaknya nikmat Allah yang ia terima dibanding derita yang dia alami, sehingga semua itu akan terasa ringan dan pasrah menerima apa yang terjadi.15 Istirjā′ ini adalah kekhususan umat Nabi Muhammad yang tidak diajarkan kepada umat nabi-nabi yang lain. Disunatkan setelah mengucapkan istirjā′ untuk membaca doa:
sabar02Ya Allah, berilah aku imbalan dari musibah yang aku alami, dan berilah aku pengganti yang lebih baik dari itu.
2. Sabar terhadap gejolak dan dorongan nafsu
Manusia diciptakan dengan tabiat mencintai kesenangan dan kenikmatan duniawi, yang berupa harta, anak, perempuan dan berbagai kesenangan lainnya (Āli ‘Imrān/3: 14-15). Allah subhānahū wa ta‘ālā memang menguji manusia tidak hanya dengan penderitaan tetapi juga dengan kesenangan. Allah berfirman:
21_35Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (al-Anbiyā′/21: 35)
Seorang Mukmin dituntut untuk bisa bersabar menahan diri dari kesenangan dunia yang membuatnya lalai akan akhirat. Kata Imam al-Gazālī , menahan diri dari kesenangan jauh lebih berat dari pada bersabar ketika menderita. Seseorang yang lapar karena tidak memiliki makanan akan lebih mudah baginya bersabar dari pada mereka yang hidup dengan makanan berlimpah dan dapat menjangkau apa saja yang diinginkan16. Sabar menghadapi kesenangan berarti mengendalikan diri untuk tidak hanyut dalam kesenangan tersebut, dan menyadari bahwa itu semua adalah titipan Allah kepadanya dan dalam waktu dekat akan diambil kembali. Hendaknya ia tidak lupa bahwa di dalam harta yang ia miliki itu terdapat hak-hak Allah yang harus diinfakkan, agar tubuhnya digunakan untuk membantu orang lain, dan lisannya dijaga agar selalu berkata jujur.
Dalam keadaan emosi seorang mukmin juga dituntut untuk bisa menahan diri dengan hanya membalas yang setimpal dan tidak melampaui batas. Allah berfirman:
16_126Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. (al-Nahl/16: 126)
Menurut ayat di atas seseorang yang disakiti berhak untuk membalas dengan yang setimpal, tetapi bila ia bersabar, menahan diri untuk tidak membalasnya, maka itu lebih baik. Sabar dalam hal ini sangat dianjurkan karena akan menimbulkan simpati dari pihak lawan yang akan mengubah permusuhan menjadi persahabatan, kebencian menjadi kasih sayang. Sikap seperti itu memang tidak mudah untuk dilakukan, dan hanya mereka yang sabar yang dapat melakukannya. Karena salah satu ciri orang yang sabar adalah membalas kejahatan dengan kebaikan. Allah berfirman:
41_34-35Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilāt/41: 34-35)
3. Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah
Dalam kaitan ini Allah berfirman:
16_65(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya? (Maryam/19: 65)
Ayat ini dimulai dengan penegasan tentang Tuhan selaku penguasa langit dan bumi beserta segala isinya yang harus disembah melalui aneka ragam ibadah. Dalam beribadah itu seorang mukmin diminta untuk berteguh hati/lebih bersabar. Perintah bersabar pada ayat di atas diungkapkan dengan kata ishthabir yang merupakan bentuk kata kerja perintah untuk melakukan sesuatu secara lebih maksimal. Pemakaian partikel lām (li) dalam ungkapan tersebut mengandung pengertian keberlangsungan secara terus menerus dan permanen dalam menunaikan ibadah. Ibadah membutuhkan kesabaran karena ibadah memiliki banyak tingkatan menahan diri, sehingga terkadang ia bisa dilakukan dengan baik dan terkadang tidak. Di sinilah keteguhan hati dan tekad yang kuat diperlukan.
Al-Ghazālī memberikan penjelasan tentang kesulitan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā dengan mengatakan, Kesabaran dalam ketaatan itu berat karena pada dasarnya manusia menghindar dari pengabdian/penghambaan dan senang dipertuhan. Karena itu banyak orang bijak mengingatkan bahwa setiap jiwa manusia menyimpan perasaan yang pernah diungkap oleh Fir‘aun ana rabbukumul a‘lā (aku ini adalah Tuhanmu yang Mahatinggi) (an-Nāzi‘āt/79: 24). Hanya saja Fir‘aun mempunyai kesempatan untuk itu dan diperlakukan sebagai Tuhan oleh kaumnya. Setiap orang punya perasaan seperti itu ketika di hadapan pelayannya dan pengikut-nya serta orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya, walaupun tidak dinampakkan. ‘Ubūdiyyah juga berat bagi jiwa manusia secara mutlak. Ada di antaranya yang tidak disenangi karena manusia malas; ada yang tidak disenangi karena ia kikir seperti zakat; dan ada yang tidak disenangi karena keduanya, seperti haji dan jihad. Dalam melaksanakan ketaatan diperlukan kesabaran dalam tiga hal:
a. Sebelum melakukan ibadah dengan meluruskan niat, ikhlas dan menahan diri dari riya. Pentingnya kesabaran sebelum memulai ibadah ditegaskan misalnya, dengan mendahulukan sabar dari pada amal saleh pada firman Allah Surah Hūd/11: 11 yang artinya: Kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
b. Ketika melaksanakan ibadah agar tidak lalai hatinya dari Allah dan tidak malas dalam melaksanakan sesuai ketentuannya. Agaknya inilah yang dimaksud dalam firman Allah: ni‘ma ajrul ‘āmilīn, alladzīna shabarū (Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya) (al-‘Ankabūt/29: 58-59). Dengan kata lain, mereka yang beramal dengan penuh kesabaran sampai amal tersebut selesai itulah yang akan mendapat sebaik-baik pembalasan.
c. Setelah melaksanakan ibadah, dengan tidak menampakkan kesombongan, riya, ‘ujub (berbangga diri) dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala ibadah. Contohnya, tidak bersabar setelah bersedekah dengan riya dan menyakiti si penerima (al-Baqarah/2: 264).
4. Sabar terhadap gangguan orang yang tidak beriman
Allah berfirman:
3_186Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan. (Āli ‘Imrān/3: 186)
Ayat di atas mengingatkan kita bahwa cemoohan dan pelecehan dari musuh-musuh Islam selalu akan terjadi dan tidak akan terhenti. Kesan ini bisa ditangkap dari penggunaan kata latublawunna (kamu sungguh-sungguh akan diuji) yang menggunakan bentuk kata kerja mudhāri‘ (masa kini dan masa yang akan datang). Gangguan dan sikap melecehkan itu lahir akibat beberapa faktor. Al-Quran dan sunnah mengisyaratkan paling tidak dua hal pokok yang menjadi penyebabnya. Pertama, keangkuhan yang dilahirkan oleh keterpedayaan akan kemewahan duniawi (al-Jātsiyah/45: 35). Kedua, ketidaktahuan, baik karena informasi yang keliru, maupun karena tidak diterimanya informasi sama sekali. Berkali-kali Al-Qur′an menegaskan bahwa sikap buruk kaum musyrik adalah akibat mereka tidak tahu (baca antara lain Surah al-Mā′idah/5: 58 dan 104; al-An‘ām/6: 37; al-A‘rāf/7: 131; al-Anfāl/8: 34; at-Taubah/9: 9; dan masih banyak lagi lainnya.
Salah satu solusi yang diberikan ayat di atas adalah bersabar dengan menahan emosi agar tidak bertindak dengan tindakan yang dapat merugikan citra Islam atau jalannya dakwah. Perintah bersabar, menurut M. Quraish Shihab, bukan berarti menerima penghinaan dan berlagak memaafkan. Sabar adalah menahan gejolak emosi/nafsu demi mencapai yang baik atau yang lebih baik. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat mentalnya. Sabar bukan kelemahan, sebab jika tidak mengambil tindakan yang tepat karena khawatir dari siapa yang lebih kuat maka itu bukanlah kesabaran. Sifat sabar yang diajarkan ini tidak bertentangan dengan sikap tegas yang menjadi ciri Nabi dan umat Islam sebagaimana dilukiskan antara lain dalam Surah al-Fath/48: 29.17
Gangguan dari mereka yang tidak beriman sudah dialami oleh Nabi dan para pengikutnya sejak awal penyebaran Islam di Mekah. Dalam Surah al-Muzzammil yang diturunkan di Mekah sebelum Nabi berhijrah, Nabi diminta untuk bersabar meng-hadapi mereka. Allah berfirman:
73_10Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (al-Muzzammil/73: 10)
Ayat ini berisi perintah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam agar ia bersabar, yakni menahan diri, mengendalikan diri dan tidak bersikap reaktif emosional terhadap ucapan–ucapan dari mereka yang tidak beriman. Sikap dan ucapan mereka itu disebutkan pada ayat-ayat yang turun sebelum itu, antara lain menghalang-halangi ibadah seperti dilakukan oleh Abū Jahal (al-‘Alaq/96: 9-10), mengatakan gila dan apa yang disampaikan Nabi hanyalah dongeng belaka (al-Qalam/68: 2, 15).
Bukan hanya Nabi Muhammad yang mengalami gangguan dalam berdakwah, nabi-nabi sebelumnya juga demikian. Tentang apa yang diderita oleh nabi-nabi terdahulu dan bagaimana mereka menyikapinya Allah berfirman:
6_34Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. (al-An‘ām/6: 34)
Apa yang dialami oleh para nabi-nabi dalam berdakwah patut menjadi teladan bagi para dai. Tugas dakwah mengajak kepada kebenaran akan selalu berhadapan dengan tantangan. Kesabaran dalam hal ini sangat diperlukan. Itulah sebabnya mengapa perintah untuk selalu saling mengingatkan tentang kebenaran (watawāshaw bil-haqq) disebut bergandengan dengan perintah untuk saling mengingatkan dalam kesabaran (watawāshaw bish-shabr) (al-‘Ashr: 2-3). Demikian pula ketika manusia bijak, Luqmānul-Hākim, berwasiat agar anaknya melakukan amar makruf nahi munkar diikuti setelah itu dengan wasiat agar bersabar dalam menghadapi apa saja yang dialami (Luqmān/31: 17).
5. Sabar dalam beretika dan berhubungan sosial
Salah satu hal yang membedakan seseorang itu beradab atau tidak adalah sejauh mana ia bisa menahan diri, mengendalikan emosi, dan mampu menjaga perasan orang lain. Al-Quran menggambarkan sikap mereka yang tidak beradab melalui orang-orang Arab Badui (pedalaman) yang memanggil-manggil Rasul dari balik kamar istri-istri beliau dengan suara keras dan sikap tidak sopan. Walaupun sikap itu ditolerir karena ketidaktahuan, Al-Quran mengecam mereka dengan sebuah teguran seperti diceritakan dalam firman-Nya:
49_4-5Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamar-(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Hujurāt/49: 4-5)
Sabar dalam berhubungan sosial diperlukan misalnya oleh pasangan suami istri. Hubungan suami istri tidak akan berjalan langgeng tanpa dilandasi kesabaran dari kedua belah pihak, terutama dalam menyikapi perilaku yang tidak berkenan dari salah satu pasangan. Al-Quran memerintahkan kepada para suami agar bersabar bilamana ada sesuatu yang tidak berkenan dari para istri, dengan mengedepankan akal dari pada perasaan dan tidak memperturuti hawa nafsu. Allah berfirman:
4_19aDan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (an-Nisā′/4: 19)
Sikap sabar juga diperlukan dalam membangun hubung-an antara anak dengan orang tua dan sebaliknya, antar-kerabat,antar-tetangga, dan antara guru dengan murid. Sebab kehidupan ini tidak hanya berisikan bunga-bunga yang indah tetapi juga duri-duri yang menyakitkan. Kesenangan bersatu padu dengan penderitaan, dan pada setiap orang ada yang bisa dipuji dan ada yang bisa dicaci. Begitulah, sehingga sabar sangat diperlukan.
Tentang sabar dalam hubungan antara guru dan murid Al-Qur′an menjelaskannya melalui sosok Nabi Musa dan seorang hamba yang saleh yang dikenal sebagai Khidir. Nabi Musa meminta kepada Khidir untuk menemaninya dalam perjalanan agar ia bisa belajar banyak tentang ilmu Allah yang telah diberikan kepada Khidir. Sejak awal Khidir sudah mengingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan bisa bersabar, sebab menurutnya manusia mempunyai sifat rasa ingin tahu yang mendalam, terutama untuk hal-hal yang tidak diketahui. Karena itu ia katakan kepada Musa: Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? (al-Kahf/18: 68). Nabi Musa memberi jaminan bahwa dia akan bisa bersabar (al-Kahf/18: 69). Tetapi dalam perjalanan Musa mendapati sikap dan perilaku Khidir yang aneh dan tidak masuk akal, sehingga dia tidak sabar untuk memprotes sikap tersebut, padahal dia sudah berjanji untuk bersabar. Setiap kali Nabi Musa protes dan menentang, Khidir selalu mengatakan: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku (al-Kahf/18: 72, 75). Baca kisah lengkap Nabi Musa dan Khidir pada al-Kahf/18: 65 – 82.
6. Sabar menghadapi musuh di medan perang
Saat menghadapi musuh di medan perang sabar sangat dibutuhkan, bahkan menjadi syarat tercapainya kemenangan. Karena itu Al-Quran memuji mereka yang bersabar dengan tidak melarikan diri dari medan perang (al-Baqarah/2: 177). Dalam Surah al-Anfāl/8: 45-47, Al-Quran menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan dalam situasi perang. Allah berfirman:
8_45-46Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdo‟a) agar kamu beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (al-Anfāl/8: 45-46)
Ayat di atas menjelaskan lima syarat memperoleh kemenangan di medan perang; berteguh hati, senantiasa berzikir kepada Allah sehingga kedekatan hubungannya dengan Tuhan akan menjadikan setiap musuh tampak kecil, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak bertikai yang akan memperlemah kekuatan dan bersabar. Syarat pertama (berteguh hati) dan yang kelima (sabar) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebab tidak ada keteguhan hati tanpa kesabaran. Pakar tafsir Ibnu Katsīr mengomentari dua ayat dia atas dengan mengatakan, “Ini adalah pengajaran dari Allah subhānahū wa ta‘ālā kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang etika berperang dan cara menumbuhkan keberanian ketika menghadapi musuh”18.
Di surah yang sama, Al-Quran mengaitkan antara kesabaran dengan kemenangan atas musuh. Pada ayat 65-66 dijelaskan bahwa jika ada dua puluh orang yang sabar di antara pasukan muslim, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara mereka, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Kemudian Allah memberikan keringanan setelah mempertimbangkan kelemahan yang ada pada pasukan muslim. Yaitu jika ada di antara mereka seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antara mereka ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Begitulah bagaimana kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan bermodalkan kesabaran.
Hal serupa dulu dialami oleh pemimpin Bani Israel, Thālūt, dan sekelompok kecil pasukannya yang beriman. Jumlah mereka hanya sekitar 313 orang. Thālūt pertama kali menguji kesabaran pasukannya dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku, dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Ada beberapa orang yang lulus dalam ujian kesabaran tersebut, yaitu dengan tidak meminumnya kecuali seceduk tangan. Mereka itu kelompok kecil yang kemudian berhasil menyeberangi sungai. Kelompok kecil yang tahan uji itu berangkat menemani Thālūt menyeberangi sungai. Ketika melihat musuh dalam jumlah besar, mereka berkata, “Kita tidak akan bisa mengalahkan Jālūt saat ini, karena jumlah mereka banyak dan jumlah kita sedikit.” Sebagian mereka yang telah diteguhkan hatinya karena hanya berharap pahala dari Allah di hari kelak berkata, “Jangan takut! Betapa banyak kelompok kecil yang beriman mampu mengalahkan kelompok besar yang kafir. Bersabarlah, sesungguhnya pertolongan Allah akan diberikan kepada orang-orang yang sabar.” Ketika orang-orang mukmin bersiap-siap memerangi Jālūt dan tentaranya, mereka berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran, kekuatan batin, keteguhan hati di medan perang dan kemenangan atas musuh yang kafir. Berkat izin Allah, mereka berhasil mengalahkan musuh. Dan Dāwūd, salah seorang tentara Thālūt, berhasil membunuh Jālūt, pemimpin pasukan mereka.19
C. Profil Manusia Sabar
Untuk menanamkan nilai kesabaran dalam diri manusia Al-Qur′an menggunakan kisah-kisah manusia sabar sebagai media. Sebagian kisah itu bahkan diulang di beberapa tempat untuk menghibur dan mengukuhkan hati Nabi Muhammad dan umatnya yang menghadapi banyak cobaan. Berikut ini beberapa tokoh yang menonjol dan identik dengan kesabaran.
1. Nabi Ayub
Nama Ayub adalah yang paling identik dengan kesabaran, sampai-sampai dalam pepatah Arab kesabaran Nabi Ayub (shabra Ayyūb) digunakan untuk menggambarkan sabar yang seharusnya dilakukan. Kesabaran Ayub tampak ketika dia mengalami penyakit di badannya dan kehilangan anggota keluarganya, walaupun penyakitnya itu tidak sampai seperti banyak digambarkan dalam cerita-cerita klasik yang beredar di masyarakat. Memang sangat tidak pantas rasanya menyematkan beraneka ragam penyakit yang menjijikkan kepada seorang Nabi, sebab itu pasti akan menggangu jalannya misi dakwah yang ia emban. Mustahil rasanya para nabi mengalami hal-hal seperti yang digambarkan banyak kalangan. Al-Quran hanya menyebut derita yang dialami Ayub seperti yang diadukannya kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā yaitu diganggu setan berupa kepayahan (nushb) dan siksaan (adzāb) (shād/38: 41). Menurut M. Sayyid Thanthawī, Ayub mengalami dua bentuk penderitaan, yaitu kehilangan segala sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya (harta dan keluarga) yang terangkum dalam kata nushb, dan penyakit yang mendera tubuhnya seperti diisyaratkan melalui kata adzāb20. Kedua penderitaan itu diungkap pada ayat yang lain dengan kata ‘adh-Dhurr‟ (al-Anbiyā′/21: 83), yang berarti keadaan yang buruk atau bahaya. Allah berfirman:
21_83Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdo‘a kepada Tuhannya, "(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." (al-Anbiyā′/21: 83)
Kata adh-Dhurr menggambarkan akumulasi dari sejumlah keadaan yang tidak disenangi. Dari sudut pandang psikologis manusia mudah terjerumus pada hal-hal negatif manakala ia berada dalam kondisi fisik dan mental yang lemah maupun kesulitan dari segi ekonomi. Meski demikian, Nabi Ayub tetap tabah dan berserah diri kepada Tuhan. Karena itu Allah memujinya dengan ucapan: ni‘mal ‘abdu innahu awwāb (Ayub adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali kepada Allah di setiap keadaan) (Shād/38: 44). Pujian serupa juga diberikan kepada Nabi Sulaiman dalam Surah Shād/38: 30. Nabi Sulaiman adalah awwāb (orang yang selalu kembali kepada Allah di setiap keadaan) ketika menghadapi cobaan yang berupa harta dan kekayaan, sedangkan Nabi Ayub adalah awwāb dalam menghadapi cobaan yang berupa penderitaan dan kesulitan. Kedua bentuk cobaan itu, meski berbeda, telah membuat keduanya kembali kepada Allah. Nabi Sulaiman kembali kepada Allah dengan bersyukur, dan Nabi Ayub kembali kepada Allah dengan bersabar.21
2. Nabi Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim
Tokoh lain dalam Al-Quran yang dikenal dengan kesabarannya adalah Nabi Ya’qub yang mendapat julukan termasuk hamba-hamba Allah yang memiliki keteguhan dalam beragama dan penglihatan yang cukup tajam (ulīl-aidī wal abshār) (Shād/38: 45). Beliau diuji pertama kali dengan berpisah dari anak yang paling dicintainya, Yusuf, dan kemudian dengan saudara kandung Yusuf, yaitu yang sering disebut bernama Bunyamin. Perpisahan Ya’qub dengan putranya, Yusuf, bukan hal biasa, sebab saat itu dia masih kecil dan telah ditinggal mati oleh ibunya. Maka wajar jika Yusuf mendapat perhatian lebih dari sang ayah. Yusuf kecil juga sangat tampan, dan memiliki tanda-tanda kesuksesan di masa depan melalui mimpi yang pernah dia alami dan telah diceritakan kepada sang ayah. Karena itu berpisah dengan Yusuf sangat berat dirasakan oleh Nabi Ya’qub. Kepergian Yusuf juga bukan hal biasa, sebab itu terjadi melalui konspirasi yang melibatkan saudara-saudaranya. Bermula dari kebohongan yang direkayasa bahwa Yusuf telah mati terbunuh dimakan oleh serigala, sehingga seakan tidak ada harapan lagi untuk bisa berjumpa kembali. Tipu daya dan konspirasi dari musuh memang menyakitkan, tetapi akan lebih menyakitkan lagi bila itu dilakukan oleh orang-orang dekat, apalagi anak terhadap bapaknya. Ada ungkapan, tikaman lawan biasanya hanya melukai tubuh, sedangkan tikaman kawan menancap sampai ke lubuk hati yang terdalam. Itulah yang dialami Nabi Ya’qub.
Meski demikian, Nabi Ya’qub tetap bersabar. Ketika dilaporkan Yusuf telah dimangsa serigala dia hanya bisa berkata:
فَصَبْرٌجَمِيْلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَاتَصِفُوْنَ
Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yūsuf/12: 18)
Sedangkan ketika mendengar saudara Nabi Yusuf, Bunyamin, ditahan oleh penguasa Mesir, dia juga hanya bergumam:
فَصَبْرٌجَمِيْلٌ عَسَ اللهُ أَنْ يَأْتِيَنىِ بِهِمْ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَالْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Yūsuf/12:83)
Sabar yang ditunjukkan oleh Nabi Ya’qub bukanlah sabar orang yang putus asa dan pasrah, tetapi sabar dengan penuh harapan akan karunia Allah dan yakin bahwa akan datang kemudahan setelah kesulitan. Di tengah penderitaan yang dialami, Nabi Ya’qub merasa sedih setiap kali membayangkan anak yang dicintainya, Yusuf, sampai-sampai penglihatannya terganggu. Kesedihan itu tidak mengurangi nilai kesabarannya, sebab itu satu hal yang alamiah dan manusiawi. Nabi Muhammad pun sedih ketika anak yang dicintainya, Ibrahim, meninggal dunia. Meski air mata berlinang dan hati sedih beliau ridha atas segala putusan Tuhan. Nabi Ya’qub juga mengadukan penderitaan dan kesedihannya kepada Tuhan (Yūsuf/12: 86), dan itu juga tidak bertentangan dengan sikap sabarnya. Keluh kesah akan mempengaruhi kesabaran jika diiringi kepanikan dan penolakan terhadap ketetapan Tuhan.
3. Nabi Yusuf
Kehidupan Nabi Yusuf merupakan rangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan cobaan. Lepas dari dari satu cobaan, dia mengalami cobaan yang lain. Ketika terlepas dari jeratan konspirasi saudara-saudaranya dengan diasuh oleh salah seorang penguasa Mesir saat itu dia diuji kembali dengan godaan dan rayuan istri sang penguasa (Yūsuf/12: 8-25). Ketika bukti-bukti dan saksi menyatakan Nabi Yusuf bebas dari tuduhan sang istri (Yūsuf/12: 27-29) dia harus menghadapi ujian yang lain berupa tipudaya sang istri yang berakhir dengan dijebloskan ke penjara (Yūsuf/12: 30-35). Setelah mendekam beberapa tahun di penjara, berkat kepiawaiannya dalam mentakwil mimpi, Nabi Yusuf menghadapi ujian lain yang berbeda dengan ujian-ujian terdahulu. Kalau dulu berupa penderitaan kali ini berupa kesenangan, yaitu berupa jabatan mengelola perbendaharaan dan logistic negara di saat terjadi kemarau panjang (Yūsuf/12: 43-56). Begitulah rangkaian cobaan yang dialami oleh Nabi Yusuf yang dihadapinya dengan penuh kesabaran sampai akhirnya berbuah keberuntungan.
Kunci kesuksesan yang diperoleh Nabi Yusuf, meski didera berbagai cobaan, adalah kesabaran dan ketakwaan seperti dia akui sendiri ketika membuka identitas dirinya di hadapan saudara-sudaranya.
12_90
Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?”Dia (Yusuf) menjawab, ‘‘Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (Yūsuf/12: 90)
Ketakwaan dan kesabaran itulah yang membawa Yusuf kepada kesuksesan dalam hidup. Takwa menghimpun berbagai macam amal kebajikan, dan sabar merangkum banyak kebaikan. Gabungan keduanya akan menjadikan seseorang sebagai muhsinīn (orang-orang yang berbaik baik). Menurut banyak ulama, sabar Nabi Yusuf melebihi sabar Nabi Ayub yang menderita penyakit dan kehilangan sanak keluarga dan juga melebihi sabar Nabi Ya’qub yang harus berpisah dengan anak yang dicintainya. Sebab sabar keduanya “terpaksa‟ dilakukan karena penderitaan yang dialami (shabr idhthirārī), sedangkan sabar Nabi Yusuf bersifat pilihan (ikhtiyārī), terutama ketika menghadapi godaan dan rayuan isteri sang penguasa. Saat itu tidak ada faktor yang bisa menghalangi terjadinya hubungan seperti yang diinginkan istri sang penguasa. Dia seorang pemuda yang biasanya memiliki nafsu bergelora, apalagi masih membujang. Dia juga orang asing di negeri itu yang tidak perlu malu bila melakukan sesuatu yang tidak baik, sebab tak seorang pun mengenalnya. Yusuf muda juga seorang hamba di rumah itu yang dipelihara oleh tuan rumah setelah membelinya dengan harga murah. Wanita yang menggoda dan merayunya juga berwajah cantik, istri pejabat, dan majikannya. Rayuan itu juga terjadi di dalam rumah sendiri. Bahkan melalui kekuasaannya perempuan itu mengancamnya bila tidak mengikuti kemauannya Yusuf akan dipenjara. Tapi menghadapi itu semua Nabi Yusuf bisa bersabar menahan diri dan tidak hanyut dalam rayuan perempuan.224. Nabi Ismail
Surah al-Anbiyā′/21: 85-86 menyebut Nabi Ismail, bersama Nabi Idris dan Nabi Zulkifli termasuk orang-orang yang sabar. Mereka memperoleh rahmat dari Allah dan dikategorikan sebagai orang yang saleh. Menurut beberapa mufasir, Nabi Ismail telah menunjukkan kesabarannya dalam sejumlah hal. Ada mufasir yang mengemukakan kesulitan yang ia alami semenjak masih dalam kandungan. Ada yang mengutarakan kesulitan itu selagi ia masih bayi yang ditinggalkan ayahnya di lembah yang tandus. Kasus yang paling banyak ditonjolkan ialah ketika ia tunduk untuk disembelih oleh ayahnya,Ibrahim guna melaksanakan perintah Allah. 23Bermula dari mimpi untuk menyembelih anak yang disayanginya Nabi Ibrahim mengutarakan mimpinya kepada sang putra, Ismail. Karena tahu itu adalah perintah Allah, sebab mimpi nabi merupakan wahyu dari Allah, tanpa berpikir panjang Ismail mengatakan:
37_102Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (ash-Shaffāt/37: 102)
Ketegaran, kesabaran dan keteguhan hati Ismail secara psikologis memberikan kekuatan tersendiri bagi sang ayah untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Kesabaran Ismail memang bukan hal biasa. Hal itu bisa ditangkap dari pengakuan dirinya yang penyabar. Ungkapan yang ia gunakan, dirinya adalah termasuk dalam barisan orang-orang yang dikenal memiliki sifat penyabar (satajidunī insyā Allāhu minash-shābirīn). Ungkapan ini berbeda dengan pernyataan Nabi Musa yang menyatakan dirinya penyabar karena memenuhi perminta-an Khidir, yaitu satajidunī insyā Allāhu shābiran (insya Allah kamu akan mendapatiku orang yang sabar). Kesabaran Ismail melebihi kesabaran Musa, kendatinya keduanya sama-sama menggantungkan kesabarannya kepada Allah.24 Karena itu pada ayat sebelumnya Ismail dikatakan sebagai ghulām halīm (ash-Shāffāt/37: 101). Kata halīm yang berasal dari akar kata hilm memiliki arti amat sabar dan mampu mengendalikan diri dari emosi.25 ‘Abdullāh Yusuf Ali menerjemahkan kata halīm dengan ready to suffer and forbear (siap untuk menderita dan pasrah)26. Toshihiko Izutsu menjelaskan: “halīm adalah orang yang mengetahui bagaimana cara mengatasi emosi dan nafsunya yang bergejolak, yang mampu menahan dirinya untuk tetap tenang dan tidak gelisah karena godaan. Hilm merupakan kekuatan jiwa yang aktif dan positif yang cukup kuat untuk mengekang nafsu yang ada pada diri sendiri. Hilm merupakan tanda kekuatan dan keunggulan pikiran. Halīm adalah orang yang memiliki kekuatan, kekuatan untuk menanggulangi semua bentuk kekerasan dan hasutan, namun pada saat yang sama ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri dari berbuat kekerasan.” 27
Sabar Ismail merupakan kebalikan dari sabar Yusuf. Ismail sabar dalam menjalankan ketaatan, dalam hal ini perintah Alah kepada ayahnya, Ibrahim, sedangkan sabar Yusuf berbentuk menahan diri agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
5. Rasul-rasul yang termasuk Ulul ‘Azmi
Kesabaran yang ditunjukkan oleh Rasul-Rasul yang termasuk ulul ‘azmi patut diteladani, terutama dalam menjalankan misi dakwah. Bahkan Rasulullah sendiri diperintah meneladani kesabaran mereka seperti dalam firman-Nya:
46_35Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan, kecuali kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah). (al-Ahqāf/46: 35)
Ulul ‘Azmi adalah mereka yang memiliki sifat ‘azm, yaitu keteguhan hati dan kebulatan tekad untuk melakukan atau mengatakan sesuatu tanpa ragu-ragu. ‘Azm yang terpuji menurut pandangan agama adalah yang dilakukan dalam rangka mensucikan jiwa dan memperbaiki kondisi masyarakat. Penyangganya adalah sabar menghadapi cobaan dan taqwa yang diringi dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak dan langkah. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa rasul-rasul yang termasuk ulul ‘azmi. Menurut Ibnu ‘Abbās, semua rasul termasuk ulul ‘azmi. Kata min (yang sering diartikan dari) sebelum kata ar-rusul dipahami sebagai penjelasan (tabyīn) bahwa ulul ‘azmi yang dimaksud adalah para rasul. 28 Ada yang memahami min di situ menunjukkan sebagian (tab‘īdh), sehingga yang dimaksud adalah sebagian dari para rasul. Siapa mereka? Yang popular mereka itu adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan tentunya Muhammad shalawātullāh ‘alaihim ajma‘īn.
Walaupun ayat di atas semula ditujukan kepada Nabi Muhammad untuk meneladani kesabaran mereka, tetapi karena beliau telah menunjukkan kesabaran yang sama dengan mereka, bahkan melebihi mereka, maka tidak diragukan beliau termasuk ulul ‘azmi. Keempat rasul tersebut (selain Nabi Muhammad) diisyaratkan dalam al-Ahzab/33: 7 dan asy-Syūra/42: 13.
Mereka menghadapi cobaan melebihi yang dialami oleh nabi-nabi yang lain. Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, berdakwah di tengah-tengah mereka dengan berbagai cara, tanpa mengenal waktu; siang dan malam. Tetapi mereka inkar, menutup telinga rapat-rapat, dan sombong (Nūh/71: 5-7). Bahkan mereka memperlakukan Nabi Nuh dengan semena-mena. Mereka menganggap Nabi Nuh sebagai orang gila (al-Qamar/54: 9), mengancamnya untuk dirajam (asy-Syu‘arā′/26: 116), menuduhnya sebagai pembohong (Hūd/11: 27). Ketika Nabi Nuh mengikuti perintah Tuhan untuk membuat bahtera yang akan menyelamatkan mereka yang beriman dari banjir besar yang akan datang, mereka pun menjadikan itu sebagai bahan ejekan (Hūd/11: 37-38). Yang membuat Nabi Nuh semakin sedih, di antara orang-orang durhaka yang menentang seruannya itu terdapat anaknya sendiri (Hūd/11: 45-46) dan istrinya (at-Tahrīm/66: 10).
Nabi Ibrahim sabar dalam berdakwah menghadapi ayah dan kaumnya. Walaupun sang ayah menghadapinya dengan keras dan mengancamnya dengan merajam dan diusir (Maryam/19: 46), Nabi Ibrahim bersabar dengan tetap men-doakan keselamatan dan ampunan bagi ayahnya (Maryam/19: 47-48). Kepada kaumnya Nabi Ibrahim berdakwah tiada henti
tetapi mereka lebih memilih berada dalam kesesatan. Ketika Nabi Ibrahim mengambil keputusan untuk menghancurkan berhala-berhala sesembahan mereka, sebagai bentuk pelajaran bahwa patung yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk disembah, beliau harus menerima hukuman dengan dibakar. Kesabaran dan kepasrahannya kepada Allah menjadikan api yang membara itu terasa dingin bagi Nabi Ibrahim dan ia berhasil keluar dengan selamat (Baca kisahnya dalam Surah al-Anbiyā′/21: 59-68). Berkenaan dengan dirinya dan keluarganya ia juga mendapat cobaan. Ketika baru dikarunia putra, yaitu Ismail dan Ishaq, pada usianya yang sudah lanjut (Ibrāhīm/14: 39), ia diminta untuk menempatkan Ismail dan ibunya di lembah yang tidak ditumbuhi tanaman di dekat baitullah (Ibrāhīm/14: 37). Ketika Ismail beranjak dewasa dan tumbuh sebagai anak yang cerdas, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya (ash-Shāffāt/37: 102). Semua itu dilaksanakan dengan penuh kesabaran.
Nabi Musa dilahirkan dalam suasana mencekam karena kebijakan Fira‘un saat itu yang membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan. Atas perintah Allah, ia dihanyutkan ke sungai oleh ibunya sampai akhirnya ia dipungut dan dipelihara oleh keluarga Fir‘aun. Ketika Musa menjalankan misi dakwahnya yang menyeru kepada tauhid ia berhadapan dengan Fir‘aun yang mengaku dirinya sebagai tuhan (an-Nāzi‘āt/79: 24, al-Qashash/28: 38). Fir‘aun murka dan mengancam Musa dan pengikutnya dengan berbagai ancaman. Musa diancam untuk dipenjarakan bila tidak mempertuhankan Fir‘aun (asy-Syu‘arā/26: 29) dan dibunuh (al-Mu′mim/40: 26). Begitu juga kaumnya diancam untuk dibunuh, dan wanita-wanita pengikutnya dilecehkan (al-Mu′mim/40: 25). Nabi Musa pun harus menghadapi tindakan bodoh dan aneh dari kaumnya, Bani Israil. Antara lain, ketika Musa meminta mereka untuk menyembelih sapi sesuai perintah Allah mereka enggan dan mencari-cari alasan untuk menghindar, bahkan menganggap itu sebagai main-main (al-Baqarah/2: 67-71). Baru beberapa lama ditinggal Musa ke Tur Sina untuk bermunajat kepada Tuhan, mereka dengan dipimpin oleh Samiri membuat seekor lembu dari perhiasan-perhiasan yang dikumpulkan dan dijadikan sebagai tuhan yang disembah (al-Baqarah/2: 51). Demikian pula ketika diperintahkan masuk ke kota suci yang dijanjikan (baitul maqdis) mereka enggan dan mempersilakan Musa dan saudaranya, Harun, untuk masuk terlebih dahulu menghadapi pasukan kuat yang ada di situ, sementara mereka akan duduk-duduk dulu, baru kemudian masuk setelah Musa berhasil memasukinya (al-Mā′idah/5: 20-24). Masih banyak lagi keengganan, kesombongan dan pembangkangan yang dilakukan oleh kaumnya. Semua itu dihadapi Musa dengan penuh kesabaran.
Nabi Isa juga diutus kepada Bani Israil. Ia pun menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi Nabi Musa. Keras kepala, pembangkangan, pendustaan dan penistaan ia alami dari kaumnya, terutama pembesar-pembesar mereka. Mereka menolak dakwah Nabi Isa, dan mengatakan sesuatu yang sangat tidak pantas dialamatkan kepadanya dan ibunya. Bahkan tidak segan-segan mereka membuat konspirasi untuk membunuh dan menyalibnya. Kalau tidak karena “campur-tangan‟ Tuhan dengan mengirimkan orang yang serupa dengan Isa yang kemudian mereka bunuh dan salib, rencana jahat mereka itu pasti sudah terlaksana. Kisah tersebut dapat dibaca dalam an-Nisā′/4: 156 – 158.
Begitulah para nabi dan rasul menghadapi tantangan keras dalam menjalankan misi dakwah. Tetapi mereka pantang menyerah, tidak putus asa, tidak panik dan tidak jemu berdakwah sampai akhirnya datang pertolongan dari Allah. Kisah-kisah heroik dan kesabaran para nabi dan rasul tersebut disajikan oleh Al-Qur′an di hadapan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai bekal baginya dalam berdakwah. Demikian pula, kisah-kisah menjadi pelajaran berharga bagi para dai penerus perjuangan Rasulullah. Penderitaan dan tantangan pasti akan datang. Hanya kesabaran dan keyakinan akan pertolongan Allah yang akan membalik itu semua menjadi kesuksesan dan keberuntungan.
Wallāhu a‘lam bish-Shawāb.
Catatan:
  1. Lihat: Qūtul-Qulūb, Abū Thālib al-Makkī (Beirut: Dārul-Fikr, 1997), jilid 1, h. 197; bandingkan dengan Ihyā′ ‘Ulūmiddīn, al-Ghazālī, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th), jilid 4, h. 61; Ibnu al-Qayyim, Madārijus-Sālikīn, 2.
  2. Abū Thālib al-Makkī, Qūtul-Qulūb, jilid 1, h. 200.
  3. ar-Rāgib al-Ashfahānī, Mufradāt Gharībil-Qur′ān, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th), h. 460.
  4. al-Muntakhab,
  5. al-Khāzin, Lubābut-Ta′wīl, 6/265.
  6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 973.
  7. Ibnu Fāris, Mu‘jam Maqāyīsil-Lughah, 3/257.
  8. M. Sayyed Thanthawī, at-Tafsīr al-Wasīth, 1/288.
  9. ar-Rāgib al-Ashfahāni, Mufradāt Gharībil-Qur′ān, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th), h. 273.
  10. al-Baihaqī, Syu‘abul-Īmān, 7/426.
  11. al-Baihaqī, Syu‘abul-Īmān, 20/194.
  12. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, 2/112.
  13. Yūsuf al-Qaradawī, ash-Shabru fil-Qurān, h 33.
  14. Abū Hamīd al-Ghazālī, Mukāsyatul-Qulūb (Beirut: Dārul-Fikr, 1990), h. 12.
  15. al-Alūsī, Rūhul-Ma‘āni, 2/69.
  16. Abū Hamīd al-Ghazālī, Ihyā′ ‘Ulūmiddīn, (Beirut: Dārul Fikr, t.th), jilid 1, h. 70.
  17. M. Quraish Shihab, Ayat-Ayat Fitnah, Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), h. 69-71, 79.
  18. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur′ān al-‘Azhīm, 4/70.
  19. al-Muntakhab, h. 68.
  20. athanthawi, at-Tafsīr al-Wasīth, 1/3626.
  21. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, 12/240.
  22. Madārijus-Sālikīn, 2/56.
  23. Ahmad Mushthafā al-Marāghī, Tafsīrul-Marāghī, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th.), XVII, h. 62; Hamdar Arraiyyah, Sabar Kunci Surga, (Jakarta: Khazanah Ilmu, 2002), h. 99.
  24. Muhammad Thāhir Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, (Beirut: Dārul Fikr, t.th), jilid 12, h. 142.
  25. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, h. 253.
  26. Abdullah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Qur'an, (Brentwood: Amana Corporation, 1411 H/ 1991 M), h. 1419.
  27. Toshihiko Izutsu, God and Man in the Koran, (Tokyo: The Keio Institute of Culture and Linguistic Studies, 1964), h. 207, dikutip dari Hamdar Arraiyyah, Sabar Kunci Surga, h. 100.
  28. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, 13/387.

Tidak ada komentar: