الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

IKHLAS DAN RIDHA

Ikhlas dan ridha adalah dua istilah yang sudah sangat dikenal di kalangan umat Islam. Secara umum, ikhlas biasanya dimaknai sebagai “perbuatan yang tidak mengharapkan imbalan”. Misalnya, sehabis menolong seseorang, ketika hendak diberi imbalan, lalu ia berkata, “tidak usah, saya lakukan ini semua dengan ikhlas”. Sementara ridha, yang juga diistilahkan dengan “rela”, biasanya dimaknai dengan “menerima apa adanya”. Karena itu, istilah “ridha” juga diidentikkan dengan “pasrah”. Ungkapan “aku ridha” biasanya identik dengan “aku pasrah”. Bahkan, penggunaan term “ikhlas” dan “ridha” seringkali tumpang tindih. Misalnya sebuah ungkapan, “aku terima dengan ikhlas sikapnya kepadaku”, sebagai respons atas sikap seseorang yang menyakiti hati dan perasaannya. Melihat kenyataan ini, maka kedua term ini harus dijelaskan secara terpisah agar terlihat secara jelas karakteristik dari masing-masing keduanya.
A. Ikhlas
1. Penjelasan umum
Pertanyaan awal yang harus diajukan adalah kenapa kita harus ikhlas? apa konsekuensinya jika tidak ikhlas? Jika kita melihat syarat-syarat diterimanya amal, yaitu, didasari atas iman, sesuai dengan syara’, dan dilakukan atas dasar keikhlasan, maka pembicaraan ikhlas atau keikhlasan berarti membicarakan sesuatu yang sangat penting, karena menyangkut sesuatu yang esensi dari ajaran Islam. Sebab, suatu amal akan dianggap sia-sia tanpa keikhlasan. Persoalannya adalah apakah ikhlas adalah sesuatu yang bisa diupayakan, ataukah ia adalah mauhibah (anugerah) Allah, atau keduanya? Langkah-langkah apa yang seharusnya ditempuh untuk mencapai posisi ikhlas tersebut? Dan sikap apa saja yang ditengarai bisa menjadi penghambat bagi tercapainya keikhlasan?
Persoalan ikhlas banyak diperbincangkan di kalangan kaum sufi. Menurut mereka, ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah subhānahū wa ta’ālā sebagai satu-satunya sesembahan. Yakni dengan senantiasa bertaqarrub kepada Allah, mengenyampingkan yang lain dari makhluk, baik berupa memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia, ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah semata. Atau dengan istilah lain, “keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk.” Atau, “upaya melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia.”
Selanjutnya akan dipaparkan beberapa pendapat para tokoh sufi tentang ikhlas, antara lain:1Syekh Abū ‘Alī ad-Daqqāq berkata, “Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, sehingga orang yang ikhlas tidaklah bersifat ria.”
Dzun Nūn al-Mishrī berkata, “Keikhlasan tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menjalani dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus menerus.”
Lebih lanjut, Dzun Nūn menjelaskan. “Ada tiga tanda keikhlasan, yaitu manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya memperoleh pahala akhirat sebab amal baiknya.”
Abū Utsmān al-Maghribī mengatakan, “Keikhlasan adalah keadaan di mana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Inilah keikhlasan orang awam. Sementara keikhlasan orang pilihan (khawāsh) adalah keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan amal mereka sendiri. Amal kebaikan memang datang dari mereka, tetapi mereka menyadari bahwa perbuatan baiknya bukan datang dari dirinya sendiri, karena itu ia tidak peduli terhadap amalnya.”
Abū Bakar ad-Daqqāq menegaskan, “Cacat keikhlasan adalah penglihatannya akan keikhlasannya. Sebab, jika Allah hendak memurnikan keikhlasannya, Dia akan menggugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan (mukhlash), bukan yang berikhlas (mukhlish).”
Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan amal-amal baik karena manusia adalah ria, dan melaksanakannya karena manusia adalah syirik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkan dari dua penyakit tersebut.”
Al-Junaid mengatakan, “Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dituliskannya, setan juga tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya.”
Yūsuf bin al-Hunain berkomentar, “Milikku yang paling berharga adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah membebaskan hatiku dari ria, namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dengan warna yang lain.”
Inilah beberapa pendapat ulama tentang ikhlas. Selanjutnya akan dilihat bagaimana Al-Qur′an menjelaskan ikhlas ini.
2. Ikhlas menurut Al-Qur′an
a. Pengertian etimologis
Term “ikhlas” dalam bentuknya yang asli إِخْلَاصٌ , tidak ditemukan di dalam Al-Qur′an. Namun, dalam bentuknya yang lain ditemukan sebanyak 31 kali. Kata ikhlas berasal dari tiga akar kata, kha, lām, dan shād, yang berarti تَنْفِيَةُ الشَّيْئِ وَتَهْذِيْبُهُ (mengosongkan sesuatu dan membersihkannya)2 Atau dengan kata lain, ikhlas secara kebahasaan bisa dimaknai “sesuatu yang murni”(صَارَخَالِصاً ) .

Yaitu ketika sesuatu itu tidak tercampur dengan selainnya, atau terpisah dari sesuatu yang mengotorinya  (تَخْلِيْصُ الشَّيْئِ عَنْ شَائِبَةِ الشَّوْبِ الْمُكَدَّرِ )
Biasanya, setiap sesuatu terbentuk karena adanya campuran dengan selainnya. Apabila ia telah terpisah dari sesuatu yang mencampurinya, maka ia baru disebut خَالِصٌ (murni). Sebagaimana firman Allah:
16_66Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (an-Nahl/16: 66)
Ayat di atas menyatakan bahwa susu murni itu terletak di antara dua kotoran, yaitu tahi dan darah. al-Kalbī meriwayatkan dari Abū shāleh dan Ibnu ‘Abbās, bahwa ketika binatang ternak atau pemamah biak memasukkan makanannya ke perut, maka secara otomatis akan terpisah antara darah, kotoran dan susu. Darah berada di atas, kotoran di bawah, dan susu di antara keduanya, dan masing-masing tidak pernah bisa mencampuri.
Sebagaimana susu, agama juga dikatakan khālish (murni) jika ia tidak tercampur dengan sesuatu yang lain, yang dapat mengotorinya. Seperti dalam firman-Nya:
39_3Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). (az-Zumar/39: 3)
Yang dimaksud dengan ad-dīn di sini adalah beribadah. Artinya, hanya milik Allah-lah ibadah yang tulus dan murni itu. Maka, atas dasar inilah, seseorang dikatakan beragama yang murni, ketika ia mampu menunjukkan pengabdiannya hanya kepada Allah dan tidak tercampur dengan sesuatu apa pun selain Allah, yang lazim disebut “syirik”.
Berdasar hal ini, kalimat tauhid lā ilāha illallāh juga disebut kalimatul ikhlāsh, sebab kalimat tersebut berarti sebuah pernyataan sikap untuk memurnikan pengabdian hanya kepada Allah. Bahkan Surah qul huwallāhu ahad juga dikatakan Surah al-Ikhlas, karena ayat ini menjelaskan tentang siapa Allah itu? Dialah Tuhan Yang Esa, baik dari segi zat, sifat, dan perbuatan-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang menyamai-Nya. Inilah inti dari Surah al-Ikhlāsh.
Adapun term ikhlās dalam pengertiannya yang spesifik terdapat beberapa definisi, antara lain, ikhlas adalah تَرْكُ الرِّيَاءَفِى الطَّاعَةِ  (tidak pamer dalam menjalankan ketaatan). Ikhlas adalah تَخْلِيْصُ الْقَلْبِ عَنْ شَائِبَةِ الشَّوْبِ الْمُكَدَّرِ  (menyelamatkan hati dari campuran yang dapat mengotorinya).3 Ikhlas adalah اَلْإِمْحَاضُ وَعَدَمُ الشَّوْبِ بِمُغَايَرْ (proses pemurnian dan tidak ada pencampuran dengan sesuatu yang dapat merubahnya).4
b. Term-term yang menunjukkan arti ikhlas
1) Ikhlas ditunjukkan dengan redaksi akhlasha
Dari term akhlasha muncul tiga bentuk, akhlashū (kata kerja/fi’il) mukhlish/mukhlishin dan mukhlash/mukhlashīn (keduanya berbentuk kata benda/ism). Dari keseluruhan term tersebut, yang terbanyak berbentuk kata benda/ism, sesuai dengan kaidah penafsiran, menunjukkan arti tsubūt (tetap) dan istimrār (terus menerus). Berdasar hal ini, maka sikap keikhlasan sesungguhnya bukan suatu proses “menjadi”, tetapi sesuatu yang sudah “jadi”. Atau dengan kata lain, ikhlas harus senantiasa ada dan bersifat tetap di segala bentuk ketaatan dan penghambaan seorang hamba.
Sementara term mukhlish dan mukhlash, meskipun keduanya berbentuk kata benda/ism, namun masing-masing berbeda. Kalau mukhlish, jama’nya mukhlishīn, adalah berbentuk ism fā’il (subyek), sedangkan mukhlash, jama’nya mukhlashīn, adalah berbentuk ism maf’ūl (obyek). Mukhlish adalah orang yang memurnikan ketauhidannya dan ibadahnya karena Allah semata. Sementara mukhlash berarti orang yang terpilih. Seakan Allah menjadikan dirinya seorang yang terpilih dan spesial bagi-Nya.5Sementara dari perspektif tasawuf, bisa dipahami bahwa ikhlas adalah ahwal (keadaan ruhani) sekaligus maqām (tahapan etika seorang hamba ketika wushūl kepada-Nya dengan macam upaya). Atau dengan ungkapan lain, bahwa tingkatan ikhlas bukan sekedar dicapai melalui upaya yang sungguh-sungguh, yang ditunjukkan oleh term mukhlish; tetapi juga harus disadari bahwa pencapaian tingkat ikhlas yang hakiki pada akhirnya hanya peran Allah semata, ditunjukkan oleh term mukhlash.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa ayat yang terdapat term mukhlish/ mukhlishīn dan mukhlash/mukhlashīn.
a) Term mukhlish/mukhlishīn
Misalnya firman Allah:
98_5Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (al-Bayyinah/98: 5)
Ayat di atas, pada mulanya, terkait dengan umat-umat sebelum Islam. Bahwa perintah untuk beribadah kepada Allah semata, mendirikan salat, dan menunaikan zakat adalah juga disebutkan di dalam kitab Taurah dan Injil. Artinya, ketika kewajiban-kewajiban ini ditetapkan oleh Islam maka seharusnya hal itu tidak dianggap asing oleh para penganut agama samawi karena memang bukan sesuatu yang baru.
Namun begitu, ayat tersebut berlaku umum. Hal ini didasarkan pada penggunaan fi’il mabnī limajhūl yang nā′ibul-fā’il-nya dibuang atau berupa dhamīr (umirū). Artinya, melalui ayat ini, setiap muslim sampai kapan pun senantiasa diperintah untuk memurnikan ibadahnya semata-mata karena Allah. Sebagai konsekuensinya, ia sekali-kali tidak boleh memusyrikkan-Nya. Di sini, ikhlas dikaitkan dengan persoalan ibadah.
Pada firman Allah yang lain:
10_22a
10_22b
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Yūnus/10: 22)6
Ayat di atas merupakan gambaran sifat orang kafir, yakni cenderung berfoya-foya ketika memperoleh kenikmatan; sebaliknya, menyesali perbuatannya ketika ditimpa musibah. Di sini, terdapat pemindahan dhamīr (kata ganti) dari bentuk mukhāthab (orang kedua) kepada bentuk ghāib (orang ketiga)– dalam ilmu balaghah disebut badī’ iltifāf. Ini bisa dipahami, bahwa Al-Qur′an ingin menegaskan bahwa sifat semacam itu hanya layak dimiliki oleh “mereka”, yaitu orang-orang kafir atau musyrik, bukan “kalian”, yaitu orang-orang mukmin. Karena itu, jika ada seorang muslim memiliki karakter demikian, maka wujudnya saja muslim tetapi jiwanya kafir.
Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa term mukhlish/ mukhlishīn, pada mulanya, hanya dikaitkan dengan masalah “ibadah dan doa”. Namun, yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa term ibadah bukan hanya dipahami sebagai ibadah mahdhah (ritual) semata, tetapi juga menyangkut ibadah ghair mahdhah ((non-ritual)). Sebab,, term ibadah sendiri di dallam Al-Qur′an menunjukkan makna demikian, sebagaimana pernyataan Sayyid Quthub, اَلْحَيَاةُ هِيَ الْإبَادَةُ (hidup adalah ibadah). Bahkan, mayoritas ulama, seperti az-Zuhrī dan Imam Syāfi’ī, menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa amal itu termasuk iman.7 Di sisi lain, term ad-dīn di sini berarti ath-Thā’ah (ketaatan)8. Ada juga yang mengartikan al-mu’āmalah yaitu cara “mempergauli” seorang hamba kepada Tuhannya, yakni beribadah kepada-Nya.9Berangkat dari penjelasan di atas, perintah ikhlas dalam ibadah seharusnya dipahami dalam maknanya yang luas, yaitu menyangkut segala bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah subhānahū wa ta’ālā, baik secara vertikal maupun horizontal, baik ritual maupun non-ritual. Begitu juga, ketika berdoa, seseorang dituntut untuk ikhlas. Dalam artian, ia hanya memohon kepada Allah yang dilandasi atas satu keyakinan bahwa hanya Dia-lah yang mengabulkan doa. Seorang yang ikhlas (mukhlish, mukhlisīn), cirinya adalah ia berusaha menjaga ibadahnya agar tidak terkotori oleh hal-hal yang dapat merusaknya dan senantiasa memanjatkan doa kepada-Nya. Bukan untuk memaksa Allah tetapi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa “ia hanyalah… dan Allah adalah…”. Dari sinilah, term doa di beberapa ayat juga ditafsiri dengan ibadah.
b) Term mukhlash/mukhlashīn
Term mukhlash dan mukhlashīn, antara lain bisa dilihat pada firman Allah berikut ini:
19_51Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi. (Maryam/19: 51)
Ayat ini merupakan bentuk penghormatan Allah kepada Nabi Musa. Sementara term mukhlash di sini berarti اَلْإِصْطِفَاءُوَالْإِخْتِبَاءُ (terpilih dan tersembunyi). Seakan Allah berkata kepada Musa, “Engkau adalah hamba-Ku yang terpilih dan spesial.”
Seorang mukhlash juga akan dijaga oleh Allah dari perbuatan buruk, seperti khianat dan keji, seperti zina, sebagaimana kasus Yusuf (Yūsuf/ 12: 24).
Predikat mukhlash yang disandangkan kepada para nabi dan rasul ini jangan dilihat sosoknya; akan tetapi harus dilihat sifat dan karakteristiknya. Artinya, mereka bisa mencapai tingkatan itu tentu saja bukan tanpa usaha, namun semuanya dicapai melalui perjuangan fisik dan mental yang sangat berat. Atas dasar inilah, maka menjadi sangat wajar jika setan merasa putus asa dan angkat tangan terhadap orang-orang yang berkarakter mukhlash, sebagaimana para nabi dan rasul.10
Tentu saja, untuk bisa mencapai tingkatan mukhlash, seseorang tidak harus menjadi nabi dan rasul. Akan tetapi, melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam memurnikan penghambaan dan pengabdiannya kepada Allah semata. Melihat hal ini, dua term tersebut bisa dibedakan sebagai berikut: kalau mukhlish adalah menyangkut upaya seorang hamba yang dilakukan terus menerus untuk memurnikan pengabdian dan ketaatannya kepada Allah (sebagai subyek). Sementara mukhlash adalah hasil akhir dari perjalanan seorang mukhlish, yang boleh jadi, ia sendiri tidak menyadarinya. Sebab dalam kondisi ini, jiwanya sudah diambil alih oleh Allah (menjadi obyek).
2) Ikhlas ditunjukkan dengan redaksi Lain
a) Ibtighā′u Wajhillāh  (إِبْتِغَاءُوَجْهِ اللهِ)Seperti dalam firman Allah:
2_272Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 272)
Ayat di atas menganjurkan kepada umat muslim agar senantiasa berinfak kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Karena sekecil apa pun benda atau uang yang diinfakkan—ini didasarkan pada penggunaan term خَيْرٌ (berbentuk ism nakīrah), yang salah satu fungsinya adalah اَلتَّقْلِيْلُ (menunjukkan arti sedikit)—manfaatnya akan kembali kepada si pemiliknya. Yakni manfaat spiritual, bukan material. Asalkan, berinfaknya itu semata-mata mencari “wajah” Allah. Kata “wajah Allah” di sini dipahami oleh para mufassir sebagai “ridha Allah”.
Ayat ini juga sekaligus menjadi bukti bahwa persoalan keikhlasan itu menyangkut banyak hal, tidak hanya ibadah ritual dan doa, tetapi juga berkaitan dengan ibadah sunah lainnya. Misalnya, berinfak, seperti tertera pada ayat di atas.
Pada ayat yang lain disebutkan:
13_22Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (ar-Ra’d/13: 22)
Ayat di atas menyatakan bahwa sabar pun juga harus demi mengharap “wajah” Allah, yakni ridha-Nya/dilakukan atas dasar keikhlasan. Namun, sabar yang dimaksudkan di sini adalah sabar dari meninggalkan kemaksiatan. Ini merupakan salah satu dari tiga bentuk sabar, yaitu sabar dalam ketaatan  (أَلصَّبْرُعَلَى الطَّاعَةِ), sabar ketika tertimpa musibah (أَلصَّبْرُعَلَى الْمُصِيْبَةِ ),dan sabar dari meninggalkan hal-hal yang dilarang (أَلصَّبْرُعَلَى الْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَآثِمِ ) . Artinya, upaya meninggalkan kemaksiatan atau apa saja yang dilarang oleh Allah bukan karena takut orang lain, tetapi semata mengharap ridha Allah atau atas keikhlasan semata mengharap balasan dari Allah. Kongkritnya, seseorang tidak melakukan korupsi, manipulasi, mark up dana, penyalahgunaan jabatan, dan lain-lain, bukan karena takut kepada KPK. Atau, juga bukan karena malu sama orang lain, tetapi karena Allah, demi mendapatkan ridha-Nya.
b.) Ibtighā′u mardhātillāh  (إِبْتِغَاءُمَرْضَاةِاللهِ)
Seperti dalam firman Allah:
4_114Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. (an-Nisā′/4: 114)
Ayat di atas ingin menginformasikan bahwa ajakan untuk bersedekah, berbuat makruf, mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, adalah sebuah kebaikan. Hanya saja, semua itu akan benar-benar bernilai di sisi Allah jika dilakukan semata-mata mengharap ridha-Nya. Jika tidak, maka itu semua hanyalah kesia-siaan, sebagaimana perbuatan baik orang kafir.11
Pada ayat yang lain dijelaskan:
2_265
Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah/2: 265)
Yang dimaksud “mengharap ridha Allah” dalam hal ini adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah. Karena itu, ridha di sini bisa diidentikkan dengan ikhlas. Memang, hanya berinfak atas dasar keridhaan Allah sajalah yang dapat memantapkan jiwa si pelakunya. Demikian ini, karena harta merupakan sesuatu yang sangat dicintai oleh setiap orang, sehingga menginfakkannya untuk orang lain, tentu saja bukan sesuatu yang ringan. Ia dirasakan cukup berat bagi setiap orang, sebab harus melawan hawa nafsunya yang cenderung menolak. Namun, dengan semata-mata mengharap ridha Allah atas dasar keikhlasan, ia bisa menghilangkan keraguan yang ada di dalam dirinya. Bahkan, ia tidak merasa berat sama sekali seandainya perbuatan baiknya tidak diketahui orang lain, atau jasa baiknya tidak dihargai. Berbeda dengan mereka yang berinfak karena motif-motif duniawi, maka ia akan sangat kecewa ketika bantuannya tidak menghasilkan keuntungan duniawi yang mereka harapkan. Inilah perbedaan yang cukup mendasar antara orang mukmin dan munafik.
c). Menyebut antonimnya
Sebagaimana firman Allah:
18_110Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahf/18: 110)
Ayat ini menegaskan, bahwa indikasi seorang hamba yang senantiasa berharap ketemu Allah adalah dengan senantiasa beramal saleh. Namun, term “amal saleh” di sini bukan semata-mata perbuatan baik, akan tetapi, perbuatan baik yang dilakukan atas dasar ketulusan/keikhlasan. Ayat di atas tidak menggunakan perintah langsung, misalnya, “ikhlaslah dalam beramal”, namun dengan menyebutkan antonimnya, yaitu “janganlah sekali-kali kamu memusyrikkan-Nya”. Melalui redaksi semacam ini, Al-Quran bukan saja ingin menegaskan bahwa keikhlasanlah yang paling menentukan berkualitas atau tidaknya perbuatan baik seseorang, tetapi sekaligus juga ingin menginformasikan, bahwa yang dimaksudkan ikhlas, antara lain, tidak menyekutukan Allah dengan apa pun dan siapa pun. Syirik tidak selalu dipahami sebagai menyembah Tuhan selain Allah, tetapi menjadikan “kekuatan tandingan” di sisi Allah, sebagaimana dalam hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
ikhlas dan ridha01Kamu menjadikan kekuatan (tandingan) bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas’ūd)
d) Menyertakan ancaman
Seperti firman Allah:
2_262Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (al-Baqarah/2: 262)
Ayat ini ingin menyatakan bahwa berinfak di jalan Allah harus dilakukan dengan ikhlas atau semata-mata karena Allah. Namun, di sini Al-Qur′an menggunakan struktur yang lain, yaitu dengan menyertakan hal-hal yang dapat menghalangi diterimanya infak, yakni al-mann (menyebut-nyebut atau mengungkit-ungkit) dan al-adzā (menyakiti perasaan).
Kata al-mann, pada mulanya, berarti memberi kenikmatan dan anugerah. Namun, ketika kata ini dirangkai dengan perintah berinfak, maka yang dimaksudkan adalah menyebut-nyebut pemberiannya atau jasa baiknya kepada pihak yang menerima. Sementara al-adzaā adalah tindakan atau ucapan dari si pemberi infak yang menyakiti perasaan si penerima infak.12
Faktor munculnya sikap al-adzā, menurut al-Ghazālī, sebagaimana dikutip oleh Ibnu ‘Āsyūr, adalah ketidak-inginannya untuk berinfak, di satu sisi, dan merasa malu kepada orang lain kalau tidak berinfak, pada sisi yang lain, sehingga ia terpaksa melakukannya meski dirasa sangat berat. Sebagai efeknya, ia akan memandang dirinya lebih mulia. Ia juga mudah menyakiti perasaan si penerima hanya gara-gara, misalnya, ia tidak mengucapkan terima kasih. Anggapan ini tentu saja tidak masuk akal, karena kemuliaan seseorang itu sama sekali tidak didasarkan atas miskin dan kaya, tetapi kebersihan jiwanya.
Sebab, dalam realitanya tidak setiap manusia memiliki kesempatan dan nasib yang sama untuk meraih kekayaan duniawi itu.13Sementara penggunaan huruf ‘athaf “tsumma” dan bukan wawu, adalah untuk menunjukkan perbedaan yang sangat jauh antara infak yang ikhlas dan tidak ikhlas. Sekaligus untuk menegaskan bahwa menjauhkan diri dari perilaku dan ucapan yang mengarah kepada al-mann dan al-adzā adalah lebih baik dari pada infaknya itu sendiri.14 Atau ayat ini juga bisa dipahami, bahwa penggunaan huruf tsumma, di mana salah satu fungsinya adalah menunjukkan sesuatu yang berurutan tetapi memiliki jeda yang agak lama (أَلتَّرْتِيْبُ عَلَى التَّراخِى) , adalah untuk menunjukkan adanya kemungkinan munculnya al-mann dan al-adzā dalam rentang waktu yang cukup lama. Ketika seseorang berinfak, boleh jadi, ia tidak melakukan al-mann dan al-adzā pada saat itu; akan tetapi, bersamaan dengan berlalunya masa bisa saja hal itu muncul. Dengan demikian, kata tsumma di sini untuk mengantisipasi bahwa keikhlasan berinfak justru bukan pada saat memberi, tetapi setelah berlalu dalam waktu yang cukup lama. Sebab, sikap al-mann dan al-adzā yang muncul bersamaan dengan berinfak merupakan indikasi rusaknya jiwa atau mental seseorang. Sedangkan memberi atas dasar keikhlasan itu, jangankan balas budi, ucapan terima kasih pun tidak pernah ia harapkan. Seperti dalam firman-Nya:
76_9(Sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (al-Insān/76: 9)
Melihat hal ini, ikhlas dalam berinfak sama sekali tidak ada hubungannya dengan apakah infak itu diperlihatkan atau tidak, diumumkan atau tidak, dan sebagainya. Sebab, menurut Al-Quran, ketika seseorang tidak menyebut-nyebut dan tidak menyakiti perasaan penerima, maka ia bisa diindikasikan sebagai seorang yang ikhlas. Demikian itu, karena dua hal inilah yang paling dirasakan berat ketika kita harus menolong orang lain, khususnya dalam hal berinfak.

3. Hambatan-hambatan ikhlas
Sebenarnya, seseorang tidak perlu meniatkan atau mengucapkannya dengan kata-kata, seperti “saya harus ikhlas”, “saya ikhlas kok…”; akan tetapi, ia cukup berusaha melawan atau menyingkirkan hal-hal yang dirasa bisa menghambat keikhlasan. Para ulama memformulasikan, paling tidak, ada tiga hal yang dianggap sangat dominan menghilangkan keikhlasan, yaitu, riyā‟, sum’ah, dan ‘ujub.
a. Ria dan sum’ah
Secara etimologis, kata ria berasal dari Bahasa Arab, رَأَيَ - يَرَى –رَأْيَةً yang berarti إِدْرَكُ الْمَرْئِى (pencapaian yang sebenarnya atas obyek yang dilihat). al-Ashfahānī membagi ru′yah dalam empat kategori, pertama, al-hāssah (merasakan), yakni melihat sekaligus merasakan, sebagaimana kenikmatan surga dan siksa neraka; kedua, al-wahm wat-takhayyul (dugaan dan khayalan), melihat sesuatu sekaligus membayangkannya; ketiga, at-tafakkur (perenungan); dan keempat, al-‘aql (akal). Sementara ar-ra′y adalah keyakinan seseorang atas dua hal yang bertentangan yang didasarkan pada asumsi, sedangkan ar-ru′yā berarti mimpi. Sementara kata sum’ah berasal dari sami’a-yasma’u, yang berarti mendengar.
Adapun ria dalam bentuknya yang asli tidak ditemukan di dalam Al-Qur′an. Namun ada term yang bisa dipahami sebagai yang menunjukkan makna ria, yaitu ri′ā′a dan yurā′ūn dan hanya dua term ini yang memiliki arti ria.
Makna dasar ri′ā′a adalah mutaqābalah (perbandingan), Artinya, jika seseorang melakukan perbuatan baik karena ria berarti ia telah menjadikan perbandingan antara Allah dan manusia.15 Sementara menurut Ibnu ‘Āsyūr, kata ri′ā′a/ termasuk bentuk al-mubālaghah wa al-katsrah (memperkuat dan memperbanyak), artinya ia seringkali memperlihatkan perbuatan baiknya kepada orang lain.16 Kedua definisi tersebut, secara substansi tidak berbeda, bahkan saling melengkapi.
Sedangkan sum’ah, meski dalam bentuknya yang lain banyak ditemukan di dalam Al-Qur′an, namun dari keseluruhan kata tersebut tidak ada satu pun yang dimaksudkan sebagai antonim dari ikhlas. Yang jelas, ketika kita mendengar istilah sum’ah maka yang dikehendaki adalah keinginan seseorang agar perbuatan baiknya bisa didengar oleh orang lain.
Yang jelas ria dan sum’ah telah menjadi peristilahan khusus bagi mereka yang melakukan perbuatan baik bukan karena Allah, tetapi karena ingin dilihat atau didengar orang lain, atau dalam istilah yang lebih umum disebut “pamer”. Memahami ikhlas dalam konteks ria dan sum’ah, bahwa sikap ikhlas berarti ia sudah merasa puas jika perbuatan baiknya itu hanya Allah yang melihat, sedangkan ria dan sum’ah, berarti ia secara sengaja berusaha memasukkan oknum lain, selain Allah, untuk juga bersama-sama melihat, menyanjung, dan memujinya.
Di antara ayat-ayat yang membicarakan tentang ria yaitu:
4_38Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat. (an-Nisā′/4: 38)
Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan dua ayat sebelumnya, tentang ciri seorang hamba yang ikhlas, antara lain, dalam hal berinfak. Ayat ini juga sebuah gambaran lain dari dua kelompok yang sama-sama buruk, yaitu kelompok yang enggan berinfak (bakhil) dan kelompok yang berinfak dengan disertai ria. Keduanya sama-sama buruk di mata Allah. Redaksi menurut al-Biqā′i, menunjukkan ia sangat berkeinginan untuk berinfak, tetapi ia tidak mampu melawan hawa nafsunya sehingga tercampur ria.17Ria juga dijadikan Al-Qur′an sebagai salah satu indikasi kemunafikan, seperti firman-Nya:
4_142Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (an-Nisā′/4: 142)
Pada mulanya, redaksi yurā′ūn berarti seseorang memperlihatkan perbuatan baiknya kepada orang lain atau orang lain diminta untuk melihat perbuatan baiknya. Namun, bukan seperti ini yang dimaksudkan oleh ayat di atas. Sebab, sekadar orang lain diminta untuk melihat sekaligus menilai perbuatan baiknya, tidak lantas dikatakan ria. Akan tetapi, ayat ini hanya ingin menegaskan bahwa seorang munafik itu cirinya, setiap kali habis melakukan perbuatan baik, bahkan dalam ibadah ritual sekalipun, seperti shalat, hatinya selalu bermaksud ria. Artinya, seorang munafik tidak pernah puas dengan penilaian Allah, sebelum orang lain juga terlibat untuk ikut menilainya. Makanya, orang yang shalat pun akan dianggap membohongi Allah, jika tidak dilakukan atas dasar keikhlasan atau disertai ria.
Dengan demikian, pelaku ria memang secara sengaja atau diniatkan agar perbuatan shalatnya bisa dilihat oleh orang lain, sehingga ia disebut orang yang taat beribadah. Term „shalat‟ di sini sebagai ikon untuk mewakili perbuatan-perbuatan baik lainnya. Sementara sum’ah pada dasarnya merupakan kelanjutan dari sikap ria. Ini bisa dijelaskan sebagai berikut: Ketika seseorang melakukan perbuatan baik, dan ia bermaksud pamer/ria, maka keinginan selanjutnya adalah agar perbuatan baiknya itu bisa diceritakan kepada yang lainnya lagi, sehingga orang lain juga mendengar dan memujinya. Inilah yang ia harapkan, yakni merasa senang dengan senantiasa mendengar pujian dari banyak orang.
Dari sinilah, ria dikategorikan sebagai syirik, meskipun khafī (samar-samar), sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda: 18
ikhlas dan ridha02Sesungguhnya yang aku takutkan (menimpamu) adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, Ya Rasulullah apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasul menjawab, Ria. (Riwayat ath Thabrānī dari Rāfi’ bin Khadīj)
b. Ujub
Kata ujub berasal dari Bahasa Arab ajiba-ya’jabu yang berarti heran, takjub. Kata ini dengan berbagai derivatnya juga banyak ditemukan di dalam Al-Qur′an. Sebagaimana sum’ah, dari keseluruhan kata yang berakar dari ‘ajiba tidak ada satu pun yang dimaksudkan sebagai antonym dari ikhlas. Yang jelas, kata ini dalam diskusi ilmu akhlak dan tasawuf dipahami sebagai sifat sombong. Artinya, orang yang ujub adalah orang yang merasa takjub terhadap dirinya sendiri atas perbuatan atau jasa baiknya terhadap orang lain.
Orang yang ujub selalu ingin menonjolkan dirinya bahkan terhadap suatu perbuatan yang sebenarnya tidak ia lakukan, hanya karena ia terlibat dalam kegiatan tersebut, lalu mengklaim sebagai yang paling berperan dan berjasa. Sifat semacam ini tentu saja sangat buruk, sebab logika yang ter-bangun selalu menafikan peran orang lain, dan pada akhirnya menafikan peran Allah.
Melihat hal ini, sikap ujub sesungguhnya identik dengan sikap sombong, yang diistilahkan oleh Al-Qur′an dengan istikbār. Kata istikbār, menurut al-Ashfahānī, mengandung dua pengertian. Pertama, upaya seseorang agar menjadi besar. Jika dilakukan secara proporsional, maka hal itu dianggap sesuatu yang positif. Kedua, merasa puas atas kemampuannya sendiri sehingga dari dalam dirinya muncul sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk disandangnya.19 Sebagaimana bisa dipahami dalam firman-Nya:
3_188Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih. (Āli ‘Imrān/3: 188)
Ayat ini pada mulanya merupakan kecaman Al-Quran terhadap sikap orang Yahudi. Mereka melakukan perubahan isi kitab Taurat, pada satu sisi, dan merasa senang dipuji sebagai pengikut agama yang benar, pada sisi yang lain. Dalam versi yang lain, dijelaskan, bahwa mereka telah melakukan segala bentuk perbuatan baik dengan penuh tipu daya demi memperoleh kenikmatan duniawi, lalu mereka dipuji sebagai orang baik. Meski begitu, ayat ini juga bisa dipahami sebagai kecaman bagi siapa saja yang melakukan perbuatan baik demi menonjolkan prestise dirinya sendiri. Misalnya bisa diilustrasikan sebagai berikut:
“Dalam sebuah kegiatan pengumpulan dana santunan untuk kaum du„afa, ia adalah penyumbang yang paling besar. Padahal, dengan sumbangan itu ia bermaksud “membeli” masyarakat demi kepentingan-kepentingan pribadi yang bersifat duniawi, misalnya menjelang pemilihan kepala desa, caleg, walikota, dan lain-lain. Tentu saja, dengan sumbangannya itu ia dipuji banyak orang sebagai dermawan. Bahkan, dengan pre-dikat palsunya itu, ia berusaha meyakinkan masyarakat bahwa ia memang orang yang paling berjasa. Padahal, ia tidak berhak menyandang predikat tersebut, karena ia hanya ingin mempertegas status sosialnya, dan bukan karena Allah.”
Di sinilah, menjadi sangat wajar jika sikap ujub sangat dibenci oleh Allah, karena ia seakan mengambil hak Allah. Padahal, hanya Dialah yang layak menyandang predikat itu. Firman Allah:
45_36-37Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan (pemilik) langit dan bumi, Tuhan seluruh alam. Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Jātsiyah/45: 36-37)
Redaksi “bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi” menunjukkan bahwa klaim pujian bagi Allah sebagai pencipta langit dan bumi adalah semata-mata demi kemanfaatan dan kemaslahatan manusia. Sementara Allah sendiri tidak butuh semua itu. Karena itu, term kibriyā′ di sini adalah sesuatu yang hak demi menunjukkan kesempurnaan wujud dan sifat-Nya.20 Karena itu, predikat ini tidak boleh disandang oleh siapa pun selain Allah.
Dalam konteks ikhlas, sikap ujub berarti memasukkan oknum lain ke dalam dirinya, yakni hawa nafsunya, untuk mendapatkan pujian. Padahal, hanya Allah yang layak menyan-dangnya. Karena itu, siapa pun yang bersikap ujub berarti ia telah mengambil “pakaian kebesaran-Nya”, dan ia tidak layak masuk surga, sebagaimana dalam hadis qudsi Allah berfirman: 21
ikhlas dan ridha03Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku, maka barang siapa mengambil dariku salah satu dari keduanya, Aku pasti melemparnya ke neraka. (Riwayat Abū Dāwud dari Hannād)
Namun, yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa tidak setiap bentuk pengaguman terhadap diri sendiri atau barang miliknya kemudian dianggap bersikap ujub. Misalnya yang terjadi pada salah seorang sahabat, ia berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah, ya Rasulallah, setiap kali aku habis mencuci pakaianku yang berwarna putih, aku selalu mengaguminya. Apakah berarti aku telah menyombongkan diri? Beliau menjawab, “tidak”. Sikap sombong hanya menyangkut dua hal, yaitu menolak kebenaran (bathrul-haqq), dan meremehkan orang lain (gamthun-nās).22


4. langkah-langkah menuju ikhlasSetelah melihat dan mempelajari hambatan-hambatan ikhlas, selanjutnya akan dijelaskan beberapa upaya, meskipun sebagian, untuk mencapai posisi ikhlas tersebut. Antara lain yaitu:
a. Melupakan segala perbuatan baik
Setiap orang pasti akan senang dan puas jika habis melakukan perbuatan baik. Bahkan, akan bertambah senang jika perbuatan baiknya itu dipuji oleh orang lain. Tentu saja, tidak ada yang bisa mencegah orang lain untuk memuji kita. Seseorang tidak perlu melarang orang lain untuk memujinya, tetapi yang terpenting ia tidak menikmati pujian tersebut. Sebab, ketika ia terbiasa menikmati pujian, biasanya ia akan berusaha untuk selalu berada di tengah-tengah komunitas yang selalu menyanjungnya, agar jasa-jasa baiknya bisa selalu disebut-sebut.
Karena itu, dengan berusaha melupakan perbuatan baik yang pernah kita lakukan, yang dilandasi atas satu kesadaran bahwa kita tidak tahu pasti apakah kebaikan itu diterima atau tidak oleh Allah, maka kita akan terhindar dari hal-hal yang menyebabkan terhapusnya pahala amal kebajikan itu sendiri. Kalaulah ada orang lain yang berkata kepada kita, misalnya, dengan mengatakan, “Bahwa itu semuanya bisa terwujud karena jasa baik anda”, maka tidak perlu disikapi secara mendalam sehingga terjebak kepada menikmati pujian itu. Kita bisa menyikapinya secara wajar, misalnya, dengan mengucapkan alhamdulillāh. Dan untuk menjaga kebersihan batin kita, kita bisa mengalihkan pembicaraan kepada tema lainnya.
Memang bukan hal mudah. Bahkan, seseorang biasanya terdorong untuk menceritakan kepada orang lain. Sebenarnya, orang lain tidak tahu, namun gara-gara diceritakan akhirnya ia tahu, lalu ia memujinya, misalnya dengan mengatakan, “Anda memang hebat”. Di sinilah, masing-masing diri kitalah yang mengetahui betul, apa efeknya secara rohani ketika kita men-ceritakan perbuatan baik itu kepada orang lain. Apakah demi menularkan kebaikan kepada orang lain atau justru terjebak kepada keinginan untuk dipuji. Yang jelas, melupakan perbuatan baik di samping sebagai salah satu indikasi kebahagiaan seseorang, juga salah satu cara yang cukup efektif untuk menghindari sikap menyakiti dan menyebut-nyebut.
Pada dasarnya, “kehidupan yang baik” adalah ketika ia bisa melakukan kebajikan bukan karena orang lain, tetapi karena dorongan imannya.
16_97Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (an-Nahl/16: 97)
Term “iman” di sini bisa dipahami dengan “atas dasar keikhlasan”. Artinya, ketika motivasinya karena Allah, maka ia sama sekali tidak akan merasa keberatan jika harus melupakan-nya. Ia juga tidak kecewa jika tidak ada yang memujinya. Karena itu, senantiasa mengingat kebajikan hanya akan melahirkan kekecewaan pada akhirnya. Sebab, orang yang telah kita bantu, pada akhirnya tidak selalu melakukan seperti yang kita inginkan. Dari sinilah, sikap menyakiti, menyebut-nyebut, dan semisalnya, akan muncul. Ini bisa dilihat pada kasus Fir’aun. Bahwa, Fir’aun pada akhirnya merasa sangat kecewa kenapa harus menyelamatkan dan mengurus Musa sampai dewasa, ketika ia melihat sikap Musa tidak seperti yang ia inginkan, lalu Fir’aun berkata kepada Musa, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih” (asy-Syu’arā′: 18-19).
b. Menyadari segalanya adalah milik Allah
Islam memang tidak melarang umatnya untuk memiliki sesuatu, jika dilakukan dengan cara yang benar dan bermanfaat.
Namun, konsep kepemilikan dalam Islam bukanlah milkul-muthlaq yakni kepemilikan penuh, sehingga berhak melakukan dan memperlakukan seenak kita. Akan tetapi, kepemilikannya adalah milkul-amānah yakni kepemilikan yang bertanggung-jawab. Karena itu, sebuah ungkapan, “harta ini adalah milikku” adalah idhāfah majāziyyah, yaitu bukan sebuah penyandaran yang sebenarnya. Ungkapan ini hanya untuk memperjelas bahwa harta itu miliknya, bukan milik orang lain.
Namun, ia akan benar-benar akan terjebak kepada sikap „merasa yang memiliki sepenuhnya‟, jika tidak dilandasi sebuah kesadaran secara sungguh-sungguh dan terus menerus bahwa segalanya milik Allah semata. Kesadaran semacam ini cukup penting, demi meredam diri kita sendiri ketika harus membantu orang lain melalui harta kita, sehingga kita tidak merasa berjasa gara-gara bantuan tersebut. Allah berfirman:
16_96Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (an-Nahl/16: 96)
Ayat ini meskipun berbentuk berita, tetapi ini bisa dipahami sebagai perintah kepada kita agar memiliki kesadaran bahwa apa saja yang berada di sisi Allah adalah kekal, sementara apa yang ada di tangan kita akan musnah. Kehilangan kesadaran akan hal itu, hanya akan melahirkan jiwa-jiwa yang rapuh, suka menuntut, mengungkit-ungkit pemberian, bahkan bila perlu menyakiti hati si penerima. Tentu saja ini semua akan menghapus kebaikan-kebaikan dia sendiri karena ia tidak ikhlas.

c. Memperbanyak amal dengan istiqamah
Cara ini penulis masukkan sebagai salah satu cara untuk bisa mencapai keikhlasan, karena muncul sebuah pertanyaan, mana yang lebih baik, beramal tetapi tidak ikhlas, atau tidak mau beramal karena khawatir tidak ikhlas? Sebenarnya, keduanya sama-sama tidak baik dalam pandangan Allah. Amal tanpa keikhlasan tertolak. Tidak mau beramal karena takut tidak ikhlas, juga tidak benar. Sebab, realitanya ia tidak beramal. Namun, jika harus memilih dari keduanya, maka memperbanyak amal merupakan upaya yang logis untuk bisa mencapai tingkat keikhlasan. Sebab, tanpa amal tidak mungkin seseorang bisa disebut ikhlas. Sebaliknya, dengan memperbanyak amal, ada kemungkinan besar pada akhirnya ia akan bisa mencapai ikhlas.
Dengan demikian, persoalan ikhlas sebenarnya bukan hanya diniatkan di muka, atau dengan mengatakan “saya harus ikhlas”. Akan tetapi, yang dituntut adalah keseriusan seseorang dalam menjaga batinnya ketika sedang beramal semata-mata karena Allah, hanya mengharap rida-Nya, yakni berusaha melawan dan menghindari apa saja yang bisa merusak motivasinya. Di sinilah, konsistensi atau istiqamah sangat diperlukan. Boleh jadi, pada mulanya, ia ingin pamer; namun, ketika amal perbuatannya itu dilakukan secara terus menerus secara konsisten, insya Allah, lambat laun keikhlasan akan muncul dengan sendirinya. Sebab, ia sudah bisa menikmati apa yang ia lakukan bukan apa yang diucapkan orang tentang dia.
B. Ridha
1. Pengertian umum
Secara etimologis, term ridhā berasal dari Bahasa Arab, radhiya-yardhā-ridhā yang secara umum, memiliki makna yang bermacam-macam tergantung dengan huruf muta’addinya. Jika berbentuk رَضِيَ عَنْهُ/عَلَيْهِ berarti رَضٍ orang yang senang, puas dan rela. Dari sinilah, sikap ridha diartikan dengan menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan.
Namun, jika ridha itu datangnya dari Allah, misalnya, radhiyallāhu ‘anhu maka berarti Allah memberinya rahmat. Dan, jika berasal dari manusia maka berarti “puas”. Sementara, jika berbentuk رَضِيَ بِهِ/فِيْهِ berarti  قَبْلُهُ(menerima atau menyetujuinya), dan قَنَعَ بِهِ (puas terhadapnya), misalnya, رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا (aku menerima/menyetujui Allah sebagai Tuhanku).
Dalam tradisi tasawuf, istilah rida diperselisihkan apakah ia termasuk keadaan ruhani (ahwāl) ataukah maqām (tahapan etika seorang hamba ketika wushūl kepada-Nya dengan macam upaya)? Pemetaan ini menjadi cukup penting dalam kaitannya apakah sikap rida itu bisa diupayakan oleh seorang hamba ataukah pemberian Allah (mauhibah), yakni sesuatu yang memasuki hati. Upaya mengkompromikan kedua pandangan ini bisa diajukan dengan pernyataan, “Awal ridah adalah sesuatu yang dicapai oleh hamba, dan merupakan maqām, meskipun pada akhirnya ridha merupakan kondisi ruhani (hāl) dan bukan merupakan sesuatu yang diperoleh dengan upaya.”23
Berikut ini terdapat beberapa pendapat para sufi tentang rida, antara lain:24
Syeikh Abū „Alī ad-Daqqāq berkata, “Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, ridha hanyalah bahwa engkau tidak keberatan dengan hukum dan qada Allah.
’Abdul Wāhid bin Zaid menjelaskan, “Keridhaan adalah gerbang Allah yang terbesar dan surga dunia.” Maksudnya, barang siapa yang mendapat kehormatan dengan rida, berarti ia telah disambut dengan sambutan yang paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi.
Abū ‘Abdurrahmān ad-Daranī menyatakan, “Jika si hamba membebaskan dirinya dari ingatan terhadap hawa nafsu, maka ia akan mencapai ridha.”
Ibnu Khafif berkata, “Ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Allah subhānahū wa ta’ālā dan keserasian hati dengan apa yang menjadikan Allah rida dan dengan apa yang dipilih-Nya.”
Diriwayatkan, ‘Umar bin al-Khaththāb mengirim surat kepada Abū Mūsa al-Asy„arī, “’ammā ba’d…bahwa segala kebaikan terletak di dalam keridhaan. Maka jika engkau mampu, jadilah orang yang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.”
Ketika Isa berdoa, “Ilahi bimbinglah aku kepada amal yang dapat mendatangkan keridaan-Mu,” Allah subhānahū wa ta’ālā menjawab, “Kamu tidak akan dapat melakukannya.” Isa bersujud dan terus memohon. Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai putra Maryam, keridhaan-Ku ada pada keridhaanmu menerima ketetapan-Ku.”
Melihat definisi di atas, sepertinya ridha dalam tradisi tasawuf seakan identik dengan sikap fatalistik, padahal secara substansi keduanya berbeda. Jika fatalistik berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpanya tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya, maka ridha adalah meyakini bahwa apa yang telah menimpanya itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, dengan terus berusaha untuk mengatasinya. Di sinilah, kenapa setiap muslim dituntut untuk senatiasa ridha, ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpanya.
Dengan demikian, ridha berarti menerima dengan lapang dada suatu perkara. Namun, dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Misalnya, ridha terhadap aturan Allah, seperti perintah mengeluarkan zakat, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya. Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat.
Hanya saja, yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa definisi di atas adalah dalam perspektif kaum sufi. Apakah pandangan mereka ini sama dengan rida yang dikehendaki oleh Al-Qur′an?

2. Ridha menurut Al-Qur′an
a. Pengertian
Term ridhā dalam bentuknya yang asli tidak ditemukan di dalam Al-Qur′an. Namun, dari kata dasarnya, radhiya-yardhā, beserta seluruh kata jadiannya di dalam Al-Qur′an terulang sebanyak 73 kali, yang berarti mardhī atau mardhū, bentuk maf’ūl (objek) dari radhiya. yaitu orang yang diridai.25 Biasanya menyangkut loyalitas dan pengabdian.26 Term ini merupakan antonim dari sakhath yang berarti أَلْغَضَبُ الشَّدِيْدُالْمُقْتَضَى لِلْعُقُوْبَةِ (kemarahan besar yang melahirkan azab).27
Al-Ashfahānī juga membagi rida dalam dua bagian: Pertama, ridha hamba kepada Allah, yaitu أَنْ لَا يُكْرِهُ مَايَجْزِبِهِ قَضَاؤُهُ (tidak membenci (menerima) apa saja yang menjadi ketetapan-Nya). Kedua, ridha Allah kepada hamba, yaitu  أَنْ يَراَهُ مُؤْتَمِرًا لِأَمْرِهِ وَمُنْتَهِيًا لِنَهِيْهِ (Dia melihatnya sebagai hamba yang senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya).
Ada juga yang memahami bahwa ridha Allah kepada hamba-Nya adalah dengan menambah kenikmatan kepadanya, memberinya pahala, dan meninggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
Sehingga, apabila seseorang bersikap demikian maka ia dianggap mengikuti keridaan-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
5_16Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (al-Mā′idah/5: 16)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan menjanjikan tiga hal kepada siapa saja yang mau mengikuti apa saja yang dibawa oleh Islam melalui kitab sucinya, yaitu; 1) ditunjukkan jalan-jalan keselamatan atau menyelamatkan, lahir-batin dan dunia-akhirat; 2) dibimbingnya menuju nūr, antara lain, dengan dimudahkan untuk melakukan perbuatan baik dan manfaat, dan 3) dibimbingnya untuk selalu berada di jalan yang lurus.
Namun, perbuatan baik yang diridhai tersebut tentunya juga harus dilakukan semata-mata mengharap ridha-Nya, bukan imbalan yang bersifat duniawi. Oleh karena itu, mengharap rida Allah telah dijadikan oleh Al-Qur′an sebagai ukuran berkualitas atau tidaknya perbuatan baik seorang muslim. Dalam tataran ini, rida identik dengan ikhlas (kaitan ini akan dijelaskan pada sub-bab tentang “Ikhlas”).
b. Sifat dan perilaku yang diridai Allah
Di antara sifat dan perilaku yang diridai Allah adalah:
1) Ketaatan dan kepatuhan
Dalam hal ini bisa dilihat pada ayat berikut ini:
48_18Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat. (al-Fath/48: 18)
Ayat di atas menginformasikan tentang keridaan Allah terhadap kaum muslimin yang berbai’at kepada Rasulullah untuk selalu setia membantunya. Bai’at ini dikenal dengan Bai’atur-Ridhwān, yang dilakukan di bawah sebuah pohon Samurah, di daerah Hudaibiyah.28Mereka diridai Allah bukan semata-mata bai’atnya, akan tetapi sikap ini menunjukkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, meski resikonya cukup berat, yaitu terbunuh dalam pertempuran.
Dalam konteks ini, riwayat yang menyatakan “ridha Allah tergantung ridha orang tua” juga harus dipahami dalam konteks ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya. Artinya, selama orang tua tidak memerintah kepada hal-hal yang dilarang, maka upaya mendapatkan ridha orang tua, pada dasarnya, merupakan upaya untuk memperoleh ridha-Nya. Sehingga ketika ia tidak mengikuti perintah orang tuanya karena perintah itu bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya, maka dalam konteks ini, ia tidak akan dimurkai oleh Allah, meski orang tuanya tidak ridha.
2) Keteguhan iman
Sebagaimana dalam firman-Nya:
9_100Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah/9: 100)
Ayat ini menunjukkan tentang keridhaan Allah terhadap kaum Muhajirin dan Ansar. Ada beberapa pendapat tentang siapa mereka ini? Mereka adalah orang-orang yang turut serta dalam Bai’atur-Ridhwān. Mereka yang ikut hijrah pertama kali sebelum Bai’atur-Ridhwān. Mereka yang ikut salat berjama’ah dengan Rasulullah di Mesjid al-Qiblatain.29 Apa pun penafsiran-nya, yang jelas mereka semuanya diridai oleh Allah.
Sebagaimana peristiwa Bai’atur-Ridhwān, mereka juga diridai bukan semata-mata hijrah dari Mekah ke Medinah, atau ikut salat berjama„ah bersama Rasulullah di masjid al-Qiblatain, akan tetapi, sikap tersebut menunjukkan sebuah keimanan yang mantap. Mereka berani berkorban harta dan jiwa demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini diperkuat dengan redaksi وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ  (orang-orang mengikuti langkah mereka). Yang dimaksudkan di sini adalah sahabat-sahabat lainnya yang mengikuti jejak mereka, yakni orang-orang yang masuk Islam setelah fathul Makkah (penaklukan kota Mekah) dan orang-orang munafik yang kemudian menunjukkan keimanannya secara sungguh-sungguh.30 Dan bentuk keridhaan Allah kepada mereka adalah dengan memberinya pertolongan, kemuliaan, dan menjaganya dari siapa saja yang memusuhinya.31
Jejak langkah baik mereka, dalam hal ini, memang terkait dengan perilaku yang spesifik, yakni hijrah. Namun begitu, ayat ini bisa dimaknai dalam perspektif yang lebih luas, yaitu menyangkut segala bentuk perbuatan baik, asalkan dilakukan atas dasar keimanan dan ketaatan. Pendapat ini diperkuat dengan penggunaan term al-ladzīna, yang menurut para ulama, menunjukkan makna umum. Oleh karenanya, siapa pun semestinya juga berhak atas keridaan-Nya jika memiliki karakter seperti mereka, yakni berani mengorbankan harta benda, pekerjaan, atau apa pun yang bersifat duniawi yang dilandasi atas keimanan dan demi mengharap ridha-Nya.
3) Akidah yang benar
Sebagaimana bisa dipahami dari ayat di bawah ini:
5_119Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (al-Mā′idah/5: 119)
Ayat ini pada mulanya berkenaan dengan situasi di alam akhirat, yaitu bahwa kebenaran akidah hanya akan benar-benar bermanfaat kelak di alam akhirat, yakni dengan memperoleh balasan surga.32 Sebab, di dunia kebenaran akidah tidak selalu berbanding simetris dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang bersifat fisikal. Dalam beberapa kasus, terkadang kebenaran justru mendatangkan kemudaratan, ejekan, bahkan ancaman secara fisik. Hanya di akhirat saja seseorang dapat membuk-tikan kebenaran akidahnya itu.33 Inilah bentuk ridha Allah yang hakiki, yakni surga, yang akan diterima oleh mereka yang memiliki kebenaran akidah yang senantiasa dipertahankan sampai ajal menjemputnya.
Memang, sebuah kebenaran akidah dengan dilandasi atas suatu keyakinan yang kuat akan manfaatnya di akhirat kelak itulah yang mampu mendorong seseorang untuk senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah.
4) Saling mencintai karena Allah dan Rasul-Nya
Misalnya dalam firman Allah:
58_22Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. (al-Mujādalah/58: 22)
Melalui ayat di atas bisa dipahami bahwa hubungan apa pun tidak akan diridai oleh Allah jika tidak didasarkan atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan, seandainya pun menyangkut orang-orang yang kita cintai dari saudara-saudara kita sendiri. Mereka ini telah berhasil membersihkan jiwanya serta memantapkan kecintaannya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga kecintaan mereka kepada orang lain, bahkan kepada orang-orang yang paling dekat sekalipun, tetap dilandasi atas kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Siapa pun bisa berdalih bahwa usaha dan pekerjaannya demi cinta dan kasih sayangnya kepada anak dan istrinya, tetapi jika ini tidak dilandasi atas kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka bisa dipastikan ia akan terjerumus kepada perilaku-perilaku yang tidak diridai oleh Allah atau kontra-produktif dengan kecintaannya itu sendiri. Oleh karena itu, kecintaan seseorang terhadap apa pun seharusnya merupakan pancaran dari kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis: 34
ikhlas dan ridha04Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak beriman seseorang sehingga aku lebih dicintai mengalahkan orang tua dan anaknya. (Riwayat al-Bukhārī dari Abū Hurairah )
Sebab, segala bentuk kecintaan kepada hal-hal yang bersifat duniawi, pada akhirnya akan mengalahkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Atau dengan kata lain, jika kenikmatan duniawi telah menjadi motivasi dari setiap aktivitas hidupnya maka secara tidak disadari ia terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak diridai Allah. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Qur′an:
9_24Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (at-Taubah/9: 24)
Tentu saja, bukan hanya sifat dan perilaku di atas, masih banyak sifat-sifat lain yang dinyatakan secara eksplisit oleh Al-Qur′an, seperti syukur, sabar, dan lain-lain. Namun yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa term “ridha” dalam perspektif Al-Qur′an berbeda dengan apa yang dikehendaki dalam tradisi tasawuf. Di dalam tradisi tasawuf, istilah ridha seringkali dikaitkan dengan ketetapan-ketetapan Allah (baca: takdir) bagi kehidupan manusia. Sementara dalam Al-Qur′an, istilah ridha terkait dengan apa saja yang dianggap baik menurut Islam, baik sifat, perilaku, maupun akidah.
Adapun wujud keridaan Allah kepada hamba-Nya terkadang bisa dirasakan di dunia, seperti memberinya sakīnah, yaitu perasaan tenang, kuatnya keyakinan terhadap pertolongan Allah, sebagaimana yang terjadi pada Perang Khaibar, dan lain-lain.35 Namun, keridaan-Nya di akhirat tentu saja keridaan yang maha tinggi, dan inilah keberuntungan hakiki yang senantiasa diharapkan oleh setiap hamba, yakni surga. Seperti dalam firman-Nya:
89_27-28Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya (al-Fajr/89: 27-28)
Jiwa yang tenang akan puas atau ridha dengan apa yang didapatkan dari Tuhannya, yakni surga. Ia juga diridhai oleh Tuhan untuk menjadi salah satu penghuninya, sebagai balasan dari perilaku-perilaku baik yang diridhai-Nya selama di dunia.
Penjelasan di atas, pada hakekatnya, merupakan langkah-langkah konkret demi memperoleh rida Allah. Artinya, ketika seseorang bisa melawan hawa nafsunya dari motivasi-motivasi yang bersifat duniawi maka Allah akan meridainya. Di sinilah, kenapa term ridhā oleh para ulama dimaknai dengan “diridhai”, karena manusia dalam setiap langkahnya senantiasa dihadapkan pada pilihan yang saling tarik menarik, apakah ingin diridhai oleh Allah atau ingin diridhai oleh selain Allah.
c. Hambatan-hambatan ridha
Yang pasti, setiap muslim berusaha agar senantiasa diridhai oleh Allah. Tanpa ridha Allah, amal apa pun tidak bernilai sekaligus tidak memiliki konsekuensi pahala di akhirat kelak. Karena itu, perlu diungkap hambatan-hambatan ridha. Di antara beberapa faktor yang dianggap cukup dominan menghambat seseorang dari ridha Allah, antara lain:
1) Hal-hal yang bersifat duniawi
Yang dimaksudkan dengan “hal-hal yang bersifat duniawi” adalah apa saja yang dapat melahirkan kecintaan kepada dunia, seperti harta, anak, wanita, jabatan, dan lain-lain. Misalnya firman Allah:
10_7Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. (Yūnus/10: 7)
Ayat ini menggambarkan ciri orang kafir, yakni „„tidak percaya akan pertemuan dengan Allah.”36 Pertanyaannya adalah apakah keyakinan yang salah itu muncul begitu saja dalam diri seseorang? Atau sebenarnya ada faktor lain yang mempenga-ruhinya? Melalui ayat ini, Al-Qur′an ingin menegaskan bahwa kecintaan yang mendalam terhadap kehidupan duniawi atau sikap lebih mementingkan kenikmatan duniawi dari pada ukhrawi itulah yang menggerus atau, paling tidak, melemahkan keyakinan akan pertemuan dengan Allah. Pada titik inilah, seseorang akan kehilangan kecerdasan nuraninya, yang pada gilirannya, akan mendorong dirinya melakukan hal-hal yang tidak diridai oleh Allah, baik dengan cara melanggar larangan-Nya maupun meninggalkan kewajiban-Nya. Seperti pada firman Allah:
9_38Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (at-Taubah/9: 38)
Ayat di atas merupakan kecaman bagi mereka yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam,padahal mereka tidak ada uzur yang dibenarkan oleh Syara’. Peristiwa ini terjadi pada Perang Tabuk, di mana kondisi cuacanya memang sangat panas, sehingga mereka lebih senang duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan yang memang lagi musim buah. Sikap inilah yang dianggap oleh Al-Quran sebagai yang lebih menyenangi رَضِيَ بِ kehidupan duniawi dari pada ukhrawi.37Secara kontekstual bisa diilustrasikan, “Ketika seorang pengusaha harus memilih, apakah mengikuti cara A atau B, di mana cara A menurutnya adalah benar tetapi hasilnya sedikit, sementara cara B sebaliknya, yaitu tidak sesuai dengan aturan agama tetapi hasilnya besar? Jika ia lebih memilih cara B, maka ia berarti lebih mementingkan kehidupan duniawi dari pada ukhrawi. Di sinilah, ia akan terhalangi dari ridha Allah.
2) Mengikuti hawa nafsu
Faktor yang kedua adalah dorongan hawa nafsu. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh ayat di bawah ini:
47_27-28Maka bagaimana (nasib mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka, memukul wajah dan punggung mereka? Yang demikian itu, karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci (apa yang menimbulkan) keridaan-Nya; sebab itu Allah menghapus segala amal mereka. (Muhammad/47: 27-28)
Ayat di atas merupakan gambaran kematian yang sangat mengenaskan. Demikian ini, karena mereka selalu mengikuti hawa nafsunya sehingga terdorong melakukan suatu perbuatan yang justru melahirkan murka Allah. Begitu juga, dengan hawa nafsunya, mereka justru membenci atau tidak suka melakukan sesuatu yang diridhai Allah.
Dari ayat di atas, ada hal penting yang perlu dielaborasi lebih jauh. Bahwa ayat tersebut menggunaan redaksi مَاأَسْخَطَ اللهُ   bukan redaksi مَاأَرْضَى اللهُ . Hal ini, karena rahmat-Nya selalu mendahului murka-Nya. Artinya, rahmat itulah yang mendatangkan keridaan-Nya, dan murka-Nya datang belakangan karena ia merupakan konsekuensi logis dari perbuatan dosa. Berbeda dengan ridha, ia diungkapkan dengan bentuk  رِضْوَانٌ , sesuai dengan kaidah tafsir bahwa setiap kata yang mendapat tambahan alif dan nūn menunjukkan kesempurnaan atau yang sebenarnya. Demikian ini, karena keridaan adalah sifat yang melekat pada Zat Allah. Begitu juga, Al-Qur′an tidak mengungkapkan dengan bentuk سَخَطَ اللهُ  sebagai ganti    مَا أَسْخَطَ اللهُ, sebab kemurkaan bukanlah sifat yang melekat pada zat Allah, ia hanyalah sebagai akibat dari perbuatan dosa.38Dalam kaitan ini juga, bahwa antonim dari ittibā’u ridhwānahu (mengikuti keridaan-Nya) adalah ittibā’ul hawā (mengikuti hawa nafsu). Artinya, ketika sebuah perbuatan dituntut untuk senantiasa mengikuti rida-Nya maka sebagai konsekuensinya ia harus berani mengenyampingkan dorongan hawa nafsu. Misalnya, dalam kasus Bal’am bin Ba’urā, yang menurut Ibnu ‘Abbās, Ibnu Mas’ūd dan Mujāhid, ia adalah salah seorang ulama dari Bani Israil yang doanya sangat mustajabah, bahkan ada yang menyebutnya nabi. Namun, akhirnya seluruh ilmunya dicabut oleh Allah subhānahū wa ta’ālā dan mati dalam keadaan kafir. (al-A’rāf/7: 175-176).39
Dalam hal ini, ada dua sifat yang ditonjolkan Al-Quran, pertama,أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ   yaitu sikap yang condong kepada duniawi (لُزُوْمُ الْمَيْلِ إِلَىَ الْأَرْضِ) , dan kedua, إِتَّبَعَ هَوَاهُ yaitu sikap memalingkan diri dari ayat-ayat Allah kepada apa yang diinginkan oleh hawa nafsu.40 Secara umum, ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang berilmu yang orientasinya hanya kepada hal-hal yang bersifat duniawi dan atau demi menuruti hawa nafsunya yang memang cenderung menyesatkan.
C. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa ikhlas merupakan esensi dari ibadah, baik ritual maupun non-ritual. Tanpa keikhlasan, ibadah apa pun tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Allah. Namun begitu, keikhlasan yang hakiki tetap menjadi rahasia Allah. Manusia dalam hal ini hanya berusaha secara sungguh-sungguh untuk memurnikan peng-abdiannya kepada Allah dengan dibarengi doa kepada-Nya dengan penuh kepasrahan agar dijadikan sebagai seorang mukhlash, karena hanya yang mencapai tingkat inilah yang tidak bisa tergoda setan.
Sementara rida, meskipun dalam salah satu cakupan maknanya ada yang identik dengan ikhlas, namun secara umum rida menyangkut perilaku fisik, sementara ikhlas adalah perilaku hati. Dalam hal ini, seorang hamba tidak diberi hak pilih apakah ia rida atau tidak atas keputusan Allah atasnya. Di sinilah, menjadi cukup jelas kenapa term radhiya-yardhā-ridhan, dipahami oleh para ulama dengan mardhī atau mardhū, bentuk ism maf’ūl (obyek), yang berarti “yang diridhai”. Sebab, yang dituntut bagi mereka adalah kesungguhan mereka untuk melakukan hal-hal yang dapat mendatangkan rida Allah, bukan meridai atas apa yang dikehendaki Allah.
Sementara keterkaitan antara ikhlas dan ridha, secara graduatif bisa dijelaskan sebagai berkut: pada langkah pertama, seseorang dituntut untuk senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah, kemudian secara sungguh-sungguh ia berusaha menjaga hatinya agar senantiasa ikhlas, dengan jalan menghindari hal-hal yang dapat mengotorinya, seperti ria, sum’ah, dan ujub. 
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Imam al-Qusyairī al-Naisaburī, Risātul-Qusyairiyah: Induk Ilmu Tasawuf, terjemahan Lukmanul Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti, 1999) cet. ke-3, h. 244-245.
  2. Ibnu Fāris, Mu’jam al-Maqāyīs fīl-Lughah, (Beirut: Dārul-Jail, 1991), pada term khalasha, h. 208.
  3. al-Jurjānī, at-Ta’rīfāt, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 1, h. 3.
  4. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr wat-Tanwīr, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 12, h. 270.
  5. ar-Rāzī, Mafātīhul-Ghaīb, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 10, h. 320.
  6. Lihat juga al-‘Ankabūt/29: 65 dan Luqmān/31: 32.
  7. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur′ān al-‘Azhīm, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 8, h. 457.
  8. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 355.
  9. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 16, h. 355.
  10. Lihat Surah al-Hijr/15: 40 dan Shād/38: 83.
  11. Lihat Surah Ibrāhim/14: 18 dan an-Nūr/24: 39.
  12. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 2, h. 448.
  13. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 2, h. 449.
  14. az-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, jilid 1, h. 232.
  15. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, pada term ra′ā, h. 190.
  16. Ibnu ‘Āsyur, at-Tahrīr, jilid 2, h. 452.
  17. al-Biqā′ī, Nadzmud-Durar, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 2, h. 209.
  18. ath-Thabrānī, al-Mu’jam al-Kabīr, no. 4079
  19. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, h. 421.
  20. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 13, h. 339.
  21. Abū Dāwud, Sunan Abū Dāwud, bab Mā jā′ā fil kibriyā′, no. 3567.
  22. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 11, h. 499.
  23. al-Qusyairī, Risātul Qusyairiyah, h. 223.
  24. al-Qusyairī, Risātul Qusyairiyah, h. 223-224.
  25. al-Ashfahānī, al-Mufradāt, h. 203.
  26. al-Fairuzzabādī, al-Qāmūs al-Muhīth, (Beirut: Dārul-Fikr, tt.), jilid 4, pada term radhiya, h. 334.
  27. Lihat, antara lain, Surah Muhammad/47: 28 dan Āli Imrān/3: 162.
  28. Lebih jauh lihat Muhammad ‘Ālī ash-Şhābūnī, Mukhtashar Tafsīr Ibnu Katsīr, (Beirut: Dārur-Rasyad), jilid 3, h. 348.
  29. Ibnu Jarīr ath-Thabarī, Jāmi’ul-Bayān, (al-Maktabah asy-Syamilah), jilid 14, h. 368.
  30. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 6, h. 372.
  31. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 6, h. 373.
  32. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur′ān al-‘Azhīm, jilid 3, h. 235.
  33. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 4, h. 352.
  34. al-Bukhārī, Shahīhul-Bukhārī, kitab Īmān, bab Hubbur-Rasūl minal-īmān, no. 13.
  35. Ibnu 'Āsyur, at-Tahrīr, jilid 13, h. 474.
  36. ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 8, h. 229.
  37. Ibnu ‘Āsyūr, at-Tahrīr, jilid 4, h. 153. lihat juga Surah at-Taubah/9: 87 dan 93.
  38. ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 14, h. 112.
  39. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur'ān al-Azhīm, jilid 3, h. 508 dan ar-Rāzī, al-Mafātīh, jilid 7, h. 297.
  40. Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qur′ān al-Azhīm, jilid 3, h. 511.

Tidak ada komentar: