الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Gerakan Spiritual Dalam Dunia Islam

A. Sejarah Munculnya Gerakan Spiritual Dunia Islam
Dalam Islam sesungguhnya elemen spiritual sudah terdapat di dalamnya, namun seperti halnya disiplin ilmu Islam lainnya, ia belum bernama, apalagi mempunyai gerakan. Tentu saja sejarah munculnya tidak terjadi begitu saja melainkan karena ada sebab-sebabnya. Spiritual Islam disebut tasawuf, di barat orang menyebutnya Islamic Mysticism atau Sufism.
Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan munculnya tasawuf. Abū Nashr as-Sarrāj ath-Thūsī berkata, “Sesungguhnya asal mula tumbuhnya tasawuf adalah pada zaman sebelum Islam.”1 Ibnu Khaldun berpendapat, bahwa munculnya adalah pada abad kedua Hijriyah, setelah manusia berlomba-lomba mengejar dunia dan menyibukkan diri di dalamnya, maka mereka yang tetap tekun beribadah seperti sediakala disebut ash-Shufiyyah.2 Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah cenderung berpendapat bahwa timbulnya tasawuf adalah sebelum tahun 200 H. Sementara Ibnu Taimiyyah beranggapan bahwa timbulnya tasawuf pada awal abad kedua Hijriyah, dan tidak dikenal secara meluas kecuali setelah abad ketiga Hijriyah.
Gerakan zuhud dan „uzlah dipelopori oleh Hasan al-Bashrī (110 H) dan Ibrāhīm bin Adham (159 H). Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoya-foya) yang dipraktekkan oleh para pejabat Bani Umayyah. Lahirnya apa yang disebut tasawuf filosofis, dimulai saat Abū Manshur al-Hallāj (309 H), dan kemudian juga Ibnu „Arabī (637 H). Sesungguhnya masih banyak tokoh-tokoh lain, apalagi di Persia. Setelah beberapa waktu berselang muncul gerakan tasawuf sunni yang mengembalikan pentingnya syari’at dan tidak hanya tenggelam dalam alam filosofis, aliran tasawuf sunni ini disponsori oleh al-Qusyairī, al-Ghazālī, dan lain-lain. 3
Mulai abad kedua belas masehi, tarekat berkembang di seluruh dunia Islam, hingga ke Indonesia, dan karena faktor tasawuf dan tarekatlah islamisasi Asia Tenggara berlangsung dengan damai. Ajaran kosmologi dan metafisis tasawuf Ibnu ‘Arabī dapat dengan mudah dipadukan dengan ide-ide sufistik India dan ide-ide sufistik pribumi yang dianut penduduk setempat.4 Konsep insan kamil sangat potensial sebagai legitimasi religius bagi para raja. Bahkan sampai sekarang Islam Indonesia masih diliputi sikap sufistik dan kegemaran kepada hal-hal yang mengandung keramat. Di antara naskah-naskah Islam paling tua dari Jawa dan Sumatera yang masih ada sampai sekarang (dibawa ke Eropa sekitar 1600) terdapat risalah- risalah tasawuf dan cerita-cerita keajaiban yang berasal dari Persia dan India. Di dalam tulisan-tulisan Jawa masa belakangan dapat ditemukan ajaran tasawuf yang lebih kental, sedangkan perihal tarekat mendapatkan banyak pengikut sekitar abad ke 18 dan 19 Masehi.5Terlepas dari perbedaan waktu dan tempat, untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang disebut maqamat (spiritual stations), dan setiap sufi dalam literatur mereka tidak selalu memberikan angka dan susunan yang sama tentang tingkatan spiritual tersebut.6
Gerakan spiritualitas dunia Islam terjadi karena beberapa faktor, ada faktor internal yakni dari dalam ajaran Islam itu sendiri, dan ada faktor eksternal.
1. Faktor internal dan eksternal
a. Faktor internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah landasan normatif dari nash berkaitan dengan tasawuf. Tasawuf, dengan atau tanpa pengaruh dari luar, ada referensinya dari ajaran Islam. Di dalam Al-Qur′an memang terdapat ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan, di antaranya: al-Baqarah/2: 186:
2_186Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (al-Baqarah/2: 186)
Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah dekat dengan manusia dan mengabulkan permintaan yang meminta, oleh kaum sufi doa diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat dengan-Nya.
Menurut Quraish Shihab, kata ‘ibādī (hamba-hamba-Ku) jamak dari kata ‘abd. Kata ini biasanya digunakan dalam Al-Qur′an untuk menunjukkan kepada hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka penuh dosa, tetapi sadar akan dosanya serta mengharap ampunan dan rahmat Allah. Sementara itu kata ‘abid yang juga jamak dari „abd merujuk kepada hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa. Pemilihan kata „ibād serta penisbatannya kepada Allah (hamba-hamba), mengandung isyarat bahwa yang bertanya dan bermohon adalah hamba-hamba-Nya yang taat dan menyadari kesalahannya.7
Ayat ini juga menerangkan agar sebaiknya manusia percaya bahwa Dia akan memilih yang terbaik untuk si pemohon. Allah tidak akan menyia-nyiakan permohonan hamba-Nya, sekali ada permohonannya dikabulkan, di lain kali ada yang tidak diberi tapi dipilihkan Allah yang lebih baik. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: 8
spiritual01Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan. (Riwayat at-Tirmidzī dari Abū Hurairah).
Kalaupun ada doa yang belum tercapai sepenuhnya, setidaknya ada rasa optimis, dan ini mempunyai dampak positif bagi kehidupan manusia.
Ayat ini menjelaskan bahwa selain Allah menyuruh manusia berdoa kepada-Nya dan berjanji akan memperkenankannya, di akhir ayat, Dia juga menekankan agar hamba-Nya memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar mereka selalu mendapat petunjuk. Namun demikian tidak mutlak Allah memberikan sesuai dengan yang dimohonkan oleh hamba-Nya, tetapi diganti atau disesuaikan dengan yang lebih baik bagi yang berdoa, baik di dunia maupun di akhirat.9Selanjutnya Allah juga menerangkan al-Baqarah/ 2: 115:
2_115Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (al-Baqarah/2: 115)
Ayat ini jelas menerangkan bahwa kemana saja manusia berpaling, ia akan menjumpai Tuhannya, ayat berikut ini juga menegaskan betapa dekatnya manusia kepada Tuhannya (Surah Qāf/50: 16).
Menurut Quraish Shihab, yang dimaksud dengan milik Allah timur dan barat, yakni seluruh penjuru. Semua mengetahui bahwa matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Di penjuru manapun manusia berada, akan disinari cahaya matahari mulai dari terbit hingga terbenamnya. Seluruh penjuru yakni timur, barat, utara dan selatan, namun Allah memilih timur dan barat untuk mewakili seluruh penjuru, karena di sanalah terbit dan terbenamnya matahari.
Seluruh penjuru milik Allah, tidak ada tempat khusus bagi Allah. Mereka yang mengarah ke timur atau ke barat adalah akibat posisi tempat mereka berada, jika di Indonesia, orang salat menghadap ke barat, mungkin di tempat lain orang menghadap ke timur laut, masing-masing sesuai posisinya dengan arah Ka’bah. Oleh karena itu manusia tak perlu bersedih dan khawatir, Allah akan membalas amal baiknya, dan Allah Mahaluas rahmat-Nya.10Ayat ini membantah kepercayaan bahwa Allah mempunyai tempat, karena pada dasarnya kemana saja manusia menghadapkan mukanya ketika berdoa atau beribadah, pasti doa dan ibadahnya didengar Allah dan sampai kepada-Nya.11
Informasi serupa yang masih terkait dengan elemen tasawuf dalam Al-Qur′an terdapat pula dalam Surah Qāf/50: 16:
50_16Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qāf /50: 16)
Kata al-warīd ada yang mengartikan sebagai urat leher, ada juga yang mengartikan sebagai urat-urat yang tersebar di tubuh manusia tempat darah mengalir. Ibnu ‘Āsyūr mengartikannya sebagai pembuluh darah di jantung manusia. Hal ini jelas bermaksud menggambarkan sesuatu yang menyatu dalam diri manusia sehingga sangat dekat pada diri masing-masing orang. Ibnu ‘Āsyūr lebih lanjut menjelaskan bahwa kendati pembuluh darah itu sangat dekat, tapi karena ketersembunyiannya, maka manusia tidak merasakan kehadirannya dalam dirinya. Demikian juga dengan kehadiran Allah melalui pengetahuan-Nya, manusia tidak merasakannya.
Nahnu aqrabu ilaihi min hablil-warīd merupakan suatu kiasan tentang betapa Allah Maha Mengetahui keadaan manusia yang paling tersembunyi sekalipun Allah Mahadekat, dekat ilmu-Nya. Ibnu Katsīr menjelaskan yang dekat adalah malaikat-Nya, kata “Kami” dalam ayat tersebut berarti malaikat-malaikat Kami. Quraisy Shihab tidak sependapat dengan kaum sufi yang menyatakan bahwa ayat ini mengandung arti bahwa (seolah-olah) Tuhan ada di dalam diri manusia bukan di luar. Ada juga yang memahami kedekatan itu dalam arti kuasa Allah, yakni kalau urat nadi dan pembuluh darah manusia yang menyalurkan darah dari jantungnya merupakan suatu yang sangat besar peranannya dalam hidup manusia, maka kuasa Allah jauh lebih besar dari itu.12
Faham yang semisal ini juga ditunjukkan oleh ayat di bawah ini yaitu Surah al-Anfāl/8: 17:
8_17Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (al-Anfāl/8: 17)
Ayat ini sesungguhnya berkaitan dengan perbuatan Rasulullah yang baru saja mengobarkan semangat kaum muslimin dalam Perang Badar, Malaikat Jibril datang dan meminta Nabi untuk mengambil segenggam batu-batu kecil, Nabi mengambil batu yang bercampur pasir tersebut dan melemparkannya ke arah pasukan musyrik sambil memerintahkan pasukan muslim untuk menyerang. Ketika itu pasir dan batu mengenai mata, hidung dan mulut musuh dan mereka pun kocar-kacir sehingga terkalahkan (Riwayat ath-Thabarī).
Hal ini bukan menafikan lemparan Nabi, melainkan maksudnya bukan engkau yang menghasilkan dampak dari pelemparan tersebut.13Ayat di atas, ada yang memahami, terutama kaum sufi, bahwa Tuhan dengan manusia sebenarnya satu, dan perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan.14
Bukan hanya ayat Al-Qur′an, dalam ungkapan orang bijak pun ada yang mempunyai nuansa pemahaman yang serupa: “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,” artinya orang yang mengetahui dirinya, itulah orang yang mengetahui Tuhannya. Ungkapan tersebut bagi kaum sufi juga mengandung arti bahwa Tuhan dengan manusia sebenarnya satu. Untuk mengetahui Tuhan, manusia tidak perlu mencari jauh-jauh, cukup ia masuk ke dalam dirinya dan mencoba mengetahui dirinya,15 dengan mengenali dirinya ia akan kenal Tuhannya.
Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa ketika ‘Alī ditanya, “Apakah engkau mengenal Allah melalui Muhammad, ataukah mengenal Muhammad melalui Allah?” ‘Alī menjawab, “Kalau aku mengenal Allah melalui Muhammad, maka Dia tidak akan kusembah, dan Muhammad akan lebih mantap di dalam hatiku dari pada Allah. Dan seandainya aku mengenal Muhammad melalui Allah, maka aku tidak memerlukan Rasulullah. Namun Allah mengenalkan diri-Nya kepadaku sebagaimana kehendak-Nya. Allah mengutus Muhammad untuk menyampaikan hukum-hukum Al-Qur′an, dan menerangkan bahwa amal harus dengan keikhlasan. Kemudian aku mempercayai apa yang dibawa oleh Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Aku mengetahui bahwa mustahil seseorang dapat mencapai serta berhasil menuju jalan ma’rifat kecuali dengan izin Allah. Maka tidak cukuplah untuk menggambarkan tentang Tuhan hanya melalui pemahaman dan bayangan semata, sedangkan Allah yang menciptakan, menyesuaikan serta memaklumkan makhluk-Nya seperti yang dikehendaki-Nya. ‘Alī berkata pula, “Namun Allah membuatku mengenal diriku sendiri, melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan bahwa aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran.16 Jadi maksudnya adalah ‘Alī mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran dan mengenal Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan.
Sementara itu diriwayatkan bahwa Allah telah menurunkan wahyu kepada Daud, “Kenalilah Aku dan kenalilah dirimu.” Daud menjawab: “Tuhanku aku mengenalMu dengan keesaan, kuasa dan kekekalan dan mengenal diriku dengan kelemahan, ketidak-mampuan, dan fana.” Maka Allah berfirman, “Wahai Daud sekarang engkau telah mengenalKu.”17Sebuah ungkapan bijak yang sering disinyalir sebagai hadis qudsi menerangkan:
spiritual02Aku pada mulanya adalah harta yang tidak dikenal, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk, lalu Aku mengenalkan Diriku pada mereka sehingga mereka pun kenal pada-Ku.
Ungkapan di atas menurut pandangan sufi, menjelaskan bahwa Tuhan ingin dikenal, dan untuk dikenal, Tuhan menciptakan makhluk. Ini diterjemahkan sebagai Tuhan dan makhluk adalah satu, karena melalui makhluk, Tuhan dikenal.
Pada permulaan gerakan, sufi diungkapkan dengan sikap zuhud terhadap dunia, sibuk dengan ibadah dan mujahadah terhadap nafsu dan membimbingnya dengan akhlak yang mulia dan mereka adalah golongan yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya perilaku kehidupan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh yakni beliau mengarahkan diri kepada Allah dengan melihat, merenungkan, bertahannus di Gua Hira′ sebelum turun wahyu, beliau bermujahadah dalam perkataan dan perbuatan sehingga ruhnya bersih, perasaannya halus, cermin kalbunya bersinar cemerlang menerima nur dari Allah, jadilah beliau orang yang jujur yang selalu memancarkan kebenaran dan keyakinan. Nabi Muhammad menghabiskan siang dan malamnya seorang diri, jauh dari kesibukan umum. Setelah menerima bi‘tsah kenabian, dan menerima wahyu secara berkesinambungan, beliau tidak pernah angkuh walau terpilih menjadi pengemban risalah.
Sahabat-sahabatnya pun meniru beliau, mereka tidak menghafalkan ayat Al-Qur′an kecuali telah mengamalkannya dan tidak menghafalkan yang lain kecuali sesudah mengamal-kannya secara nyata apa yang mereka telah hafalkan terlebih dahulu. Kezuhudan dan kesucian telah termasyhur banyak terdapat pada sahabat nabi sepanjang kehidupan nabi dan setelah wafatnya. Allah berfirman dalam Surah al-Kahf/18: 28:
18_28Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya;dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (al-Kahf/18: 28)
Ayat-ayat yang menunjukkan tentang amal rasulullah dan menunjukkan bahwa memang ada orang-orang yang secara sadar dan terencana untuk meningkatkan ibadah kepada Allah, antara lain Surah an-Nūr/24: 37, Āli ‘Imrān/3: 79, Yūnus/10: 62. Dari ayat-ayat tersebut kelihatan bahwa kaum muslimin berjenjang tingkatan akhlak, ibadah, dan akidahnya, demikian juga terkadang dengan variasi kegiatan amal solehnya, salah satu contoh dapat dilihat dalam Surah Fāthir/35: 32:
35_32Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Fāthir/35: 32)
Pujian Allah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam berarti konfirmasi Allah terhadap keutamaan akhlak nabi (al-Qalam/68: 4) dan sebagai contoh teladan yang baik (al-Ahzāb/33: 21).
Dari nukilan ayat dan hadis di atas dan terlepas dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh eksternal, ayat-ayat dan hadis-hadis tersebut dapat melahirkan pemahaman tasawuf, yakni ajaran yang membawa manusia sedekat mungkin dengan Tuhan, dan Sayyed Hussein Nashr menyimpulkan bahwa Al-Qur′an adalah landasan utama spiritual Islam.
b. Faktor External
Faktor external yang diduga memengaruhi lahirnya dunia spiritual Islam telah dikemukakan oleh sebagian ahli sejarah, antara lain:
Pengaruh Kristen dengan faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam literatur disebutkan bahwa di padang pasir Arabia memang ada para rahib yang mengasingkan diri, lampu mereka di tengah malam menjadi petunjuk bagi mereka yang berjalan di malam hari. Kemah mereka yang sederhana menjadi tempat berlindung yang kemalaman, dan kemurahan hati mereka menjadi tempat memperoleh makanan bagi yang kelaparan.
Filsafat mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh yang sebenarnya adalah di alam samawi. Untuk mendapatkan hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan rohnya dengan meninggalkan hidup materi dan berkontemplasi.
Filsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Tuhan yang Mahaesa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat asalnya roh harus dibersihkan terlebih dahulu. Penyucian roh dilakukan dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin.
Ajaran Budha dengan faham nirwananya, meyakini untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi.
Ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai pesatuan Atman dan Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang secara teoritis diduga mempengaruhi timbulnya sufisme di kalangan kaum muslim. Dengan atau tidak adanya pengaruh agama, faham sufisme dapat timbul di kalangan kaum muslimin.
B. Kelembagaan Spiritual (Tasawuf dan Tarekat)
Tasawuf merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat mungkin dengan Allah.
Tasawuf berasal dari kata shuf, dan menurut sejarah orang yang pertama kali memakai kata ini adalah Abū Hasyim al-Kūfi di Irak (w.150 H). Sesungguhnya ada beberapa asal kata sufi secara etimologi dapat dijelaskan sebagai berikut. Ahlush-Shuffah yakni orang-orang yang ikut hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, karena ketiadaan harta dan keluarga, mereka tinggal di masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan menggunakan pelana sebagai bantal.
Shaf berarti barisan, barisan pertama dalam salat, orang yang melakukannya mendapat kemuliaan dan pahala yang besar. Kata Shafī berarti suci, kaum sufi adalah orang yang telah menyucikan dirinya dengan latihan kejiwaan yang berat dan lama. Sophos dari Bahasa Yunani yang berarti hikmah dan kata shuf berarti kain yang dibuat dari bulu (wol), dan yang dipakai kaum sufi adalah wol kasar yang merupakan simbol kesederhanaan dan kemiskinan, walaupun berpakaian sederhana namun berhati suci dan mulia. Nampaknya term yang terakhir ini yang lebih banyak digunakan sebagai asal kata sufi18
Ada beberapa pendapat ulama terkait pengertian tasawuf, antara lain Imam al-Ghazālī berkata, “Tasawuf adalah fardu ‘ain.”19 asy-Syadzilī berkata, “Barang siapa yang tidak mau mempelajari ilmu ini, maka dikhawatirkan ia mati dalam keadaan melakukan dosa besar, sementara ia tidak mengetahui hal itu.”20 Faedah mempelajari tasawuf untuk mendidik hati, dan tujuannya adalah mengenal Allah dan berada sedekat mungkin dengan-Nya. al-Junaid berkata, “Seandainya aku mengetahui bahwa bagi Allah ada ilmu di bawah bayang-bayang langit yang lebih utama dari ilmu yang kita bahas ini (tasawuf), niscaya aku akan pergi mengambilnya.”21
Dalam pengamalan tasawuf, beberapa langkah yang digunakan seperti proses perkembangan Islam, Iman dan Ihsan seseorang, juga terkait dengan proses pengosongan diri dari semua sifat-sifat yang tidak baik (takhallī), kemudian mengi-sinya dengan semua sifat yang baik (tahallī), dan diharapkan akan mendapat manifestasi limpahan rahmat dan karunia Tuhan (tajallī).
Adapun tarekat sebagai gerakan kesufian populer (massal), sebagai bentuk terakhir gerakan tasawuf, tampaknya juga tidak begitu saja muncul. Kemunculannya tampak lebih sebagai tuntutan sejarah, setidaknya ada dua faktor penyebabnya yaitu: secara kultural dan struktural. Masyarakat Islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya yang dapat digunakan, yaitu doktrin tasawuf yang membidani lahirnya tarekat pada masa itu.
Sejarah perkembangan tarekat sesungguhnya secara struktural mempunyai tiga tahap yaitu: khanaqah, tharīqah dan thā′ifah.
Tahap Khanaqah (pusat pertemuan sufi), tempat para sufi bersama syekhnya melakukan riyādhah (latihan spiritual) Gerakan ini mempunyai bentuk aristokrat dan terjadi sekitar abad 10 M, dan merupakan zaman keemasan tasawuf.
Tahap tharīqah dimulai sekitar abad 12 M, ketika ajaran, peraturan dan metode tasawuf sudah tersusun. Pada masa ini muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilah22 masing-masing, berkembanglah metode kolektif baru untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, di sini tasawuf mulai banyak merekrut kelas menengah.
Thā′ifah terjadi mulai abad 15 M, di sini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada tahap Thā′ifah inilah tarekat mengandung arti lain yaitu pada masa ini muncul organisasi-organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu, seperti Tarekat Qadariyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah dst.
1.Tarekat
Secara etimologi kata tarekat berasal dari Bahasa Arab Tharīqah yang berarti jalan, haluan atau mazhab. Kata Tharīqah merupakan bentuk muannats (perempuan), mudzakkarnya (laki-laki) adalah Tharīq. Tharīqah sebagaimana Tharīq secara bahasa dapat dilihat dalam simbol-simbol konkret seperti garis pada sesuatu atau lubang-lubang pada bumi, serta segala sesuatu yang bagian-bagiannya saling menempel atau sebagiannya terletak di atas yang lain. Sedangkan secara abstrak Tharīqah berarti kondisi atau petualangan, baik atau buruk. Tarekat juga mempunyai arti yang merujuk pada segolongan orang-orang yang dipandang mulia, yaitu orang-orang yang dihormati dan diikuti oleh masyarakat karena keluhuran jiwanya.
Kata-kata Tharīqah dalam Al-Qur′an setidaknya diulang sembilan (9) kali dalam lima (5) surah, yaitu:
a. Surah an-Nisā′/4: 168, 169:
imageSesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus), kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan hal itu (sangat) mudah bagi Allah. (an-Nisā’/4: 168- 169)
b. Surah Thāhā/20: 63, 77, dan 104:
image
Mereka (para penyihir) berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak mengusirmu (Fir’aun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.” (Thāhā/20: 63)
imageDan sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yang kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam).” (Thāhā/20: 77)
imageKami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, “Kamu tinggal (di dunia), tidak lebih dari sehari saja.” (Thāhā/20: 104)
Selanjutnya perhatikan Surah al-Ahqāf/46: 30:
imageMereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengar-kan Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (al-Ahqāf/46: 30)
Selanjutnya lihat Surah al-Mu′minūn/23: 17:
imageDan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). (al-Mu’minūn/ 23: 17)
Perhatikan pula Surah al-Jinn/72: 11 dan 16:
imageDan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (al-Jinn/72: 11)
imageDan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup. (al-Jinn/72: 16)
Kesembilan kata Tharīqah dalam ayat-ayat tersebut mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya masing-masing. Di antaranya orang terkemuka, jalan, kelompok, dan agama Islam. Selain dalam Al-Qur′an, dalam hadis juga banyak disebutkan kata-kata Tharīqah diantaranya:

spiritual03
Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah menempatkannya pada jalan-jalan surga. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah) 23
Secara terminologi, tarekat didefinisikan sebagai mengerjakan segala ketentuan syariat dengan segala keutamaannya serta menjauhkan diri dari mempermudah persoalan-persoalan yang memang tidak boleh dipermudah. Selain itu, tarekat juga didefinisikan sebagai metode praktis untuk membimbing seorang pencari (salik) dengan menempuh sebuah jalan ber-pikir, merasa, dan bertindak, melalui sebuah suksesi tahap-tahap (maqāmat) dalam asosiasi terpadu dengan pengalaman-pengalaman psikologis yang disebut kondisi-kondisi (ahwal) untuk memahami realitas Ilahi (haqīqah).
K.H. Syamsuri Badawi mengartikan tarekat sebagai cara untuk mencapai kondisi menjadi seorang sufi. Tarekat dapat dibagi menjadi dua macam, tarekat ‘āmmah (umum) dan tarekat khāsh (khusus). Tarekat ‘āmmah adalah tindakan saleh apa saja yang dijalankan secara rutin (istiqamah) dengan niat baik, dan tarekat secara khusus adalah seperangkat zikir yang dilaksanakan terus-menerus secara ritual dan diterima dari sebuah tarekat sufi tertentu yang terkait dengan, untuk, dan atau mentransmisikan pengetahuan dari Nabi Muhammad.
Kemunculan tarekat, sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari tasawuf. Pada tahap-tahap awal, ajaran tasawuf hanya dilakukan oleh orang-perorang dalam menem-puh jalan menuju Allah, dan perkembangan seperti itu setidaknya berlangsung sampai sekitar abad kesepuluh masehi. Pada masa ini kegiatan yang dilakukan antara lain kontemplasi dan latihan-latihan spiritual baik dilakukan secara individual maupun secara kolektif. Kemudian pada abad ketiga belas masehi sudah terbentuk ajaran, peraturan dan metode tasawuf, dan pada masa ini muncul pusat-pusat pengajaran tasawuf dengan silsilahnya masing-masing yang berasal dari syekh-syekh besar. Pada abad kelima belas masehi ajaran-ajaran tarekat tersebut berkembang dan membuka cabang di tempat-tempat lain, dan pada masa ini ajaran-ajaran tasawuf menjadi gerakan yang populer. Setelah perkembangan ini, menurut Trimingham tidak ada lagi bentuk perubahan lain yang mendasar hingga saat sekarang ini.
a. Ciri-ciri utama dari sebuah tarekat adalah sebagai berikut: Penghormatan kepada syekh, atau mursyid dari murid secara menyeluruh, karena mursyid adalah pewaris barakah yang diterima dari mursyid sebelumnya;
b. Organisasi yang dikembangkan berprinsip hirarkis (mursyid–mursyid) namun tetap menekankan keseragaman pada wilayah umum;
c. Prinsip pentahbisan (pembaiatan) dengan pemberian sanad esoterik dan otoritas dalam pelaksanaan amaliah tertentu.
d. Prinsip disiplin yang berupa khalwah, tugas-tugas zikir, puasa, dsb. Ciri kegiatan dalam suatu tarekat dibandingkan dengan lainnya yaitu pada zikir kolektif dengan koordinasi irama musik, pengendalian nafas, dan latihan-latihan fisik untuk menumbuhkan ekstase sebagai poros majelis.
e. Penghormatan yang berkaitan dengan makam orang-orang suci seperti para wali yang mempunyai karamah dan barakah.
Tarekat sebagai sebuah organisasi yang menetapkan cara-cara pendekatan diri kepada Allah dengan prinsip-prinsip sebagaimana di atas, keberadaannya sudah menjadi rahasia umum. Bagi para penentangnya, tarekat dianggap sebagai sesuatu yang bid’ah yang dapat menghancurkan kemurnian Islam, tetapi bagi para pendukungnya, tarekat justru dianggap sebagai jalan yang dapat memudahkan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan diakui oleh para peneliti muslim sebagai ajaran yang bersumber dari agama Islam, bukan karena pengaruh-pengaruh luar Islam.
Jumlah tarekat yang muncul dalam Islam amat banyak sesuai dengan banyaknya guru-guru yang menemukan sistem mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan dikatakan bahwa tarekat (jalan kepada Allah) sebanyak jiwa hamba Allah. Namun demikian meskipun jalan-jalan tersebut memiliki banyak cabang tetapi sebenarnya kesemuanya adalah satu. Di antara banyak ragam tarekat tersebut, ada tarekat yang merupakan induk, dan ada juga tarekat yang merupakan cabang-cabang dari tarekat-tarekat induk sesuai dengan pengaruh syekh-syekh tarekat yang mengamalkan dibelakangnya, tempat dan waktu tarekat tersebut. Karenanya tidak sedikit tarekat yang diberi istilah sesuai dengan tempat berkembangnya.
Kegiatan dan ajaran tarekat beragam, ada yang melalui jalan zikir, murāqabah, jalan ketenangan hati, jalan pelaksanaan segala ibadat, seperti sembahyang, puasa, haji dan jihad, jalan melalui kekayaan seperti mengeluarkan zakat dan membiayai amal kebajikan, jalan membersihkan jiwa dari kebimbangan dunia dan ketamakan hawa nafsu seperti khalwat dan mengurangi tidur, serta mengurangi makan dan minum. Semua jalan tersebut tidak akan dicapai kecuali dengan mengikuti sunnah nabi. Imam Junaid al-Baghdadī mengatakan bahwa semua tarekat tidak akan bermanfaat jika tidak mengikuti sunnah Nabi.
Tidak semua tarekat yang disebutkan di atas sejumlah 45 tarekat berkembang di Indonesia, menurut Alwi Shihab, tarekat-tarekat yang berkembang di Indonesia merupakan kesinambungan dari tasawuf sunni al-Ghazālī. Hanya saja karena watak tarekat yang sangat akomodatif terhadap budaya-budaya lokal, maka boleh jadi dalam perkembangannya disinyalir ada tarekat yang sedikit tercampur dengan budaya-budaya setempat yang boleh jadi dalam hal tertentu dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, campuran budaya lokal seperti itu, dalam hal ini kejawen, harus benar-benar dibedakan dengan Islam, sehingga kesan negatif kejawen terhindarkan. Untuk dapat membedakan antara tasawuf, dalam hal ini tarekat, dengan kejawen dan budaya lokal lainnya, para penganut tarekat di Indonesia, terutama yang dimotori oleh para ulama tarekat, membentuk organisasi tarekat mu’tabarah yang dikenal dengan nama Jam‘iyyah Ahluth-Tharīqah al-Mu‘tabarah didirikan pada tanggal 20 Rabiul Awwal 1337 H, bertepatan tanggal 10 Oktober 1957 M di Pondok Pesantren Tegal Rejo Magelang Jawa Tengah, disahkan oleh Muktamar Nahdatul Ulama di Semarang bulan Rajab 1339 H, bertepatan dengan bulan Juni 1979 M sebagai badan otonom Jam’iyyah Nahdatul Ulama dengan Surat keputusan PBNU Nomor: 137/Syur.PB./V1980, dengan nama Jam‘iyyah Ahluth-Tharīqah al-Mu‘tabarah al-Nahdliyyah.
Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah adalah Jam’iyyah Diniyyah yang berazaskan Islam ahlus-sunnah wal-jamaah dengan menganut salah satu dari mazhab 4 (empat): Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam bidang fiqih, menganut ajaran al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah dalam bidang aqidah dan menganut faham Junaid al-Baghdadī dan al-Ghazālī dalam bidang tasawuf/tarekat.
Adapun nama-nama Tarekat Muktabarah menurut hasil Muktamar Organisasi Tarekat tersebut yaitu sebagai berikut:
Rūmiyyah,Rifā’iyyah,Sa’diyyah,Bakriyyah,Justiyyah, ‘Umariyyah, ‘Alawiyyah, ‘Abbasiyyah, Zainiyyah, Dasuqiyyah, Akbariyyah, Bayyumiyyah, Malamatiyyah, Ghaybiyyah, Tijāniyyah, Uwaysiyyah, Idrisiyyah, Sammaniyyah, Buhuriyyah, ‘Usysyaqiyyah, Kubrawiyyah, Maulawiyyah, Jalwatiyyah, Bairumiyyah, Ghazaliyyah, Hamzawiyyah, Haddadiyyah, Matbuliyyah, Sunbuliyyah, ‘Idrusiyyah, ‘Utsmaniyyah, Syadziliyyah, Sya’baniyyah, Kalsyaniyyah, Khadhiriyyah, shaththariyyah, Khalwatiyyah, Bakdasiyyah, Suhrawardiyyah, Tariqah Ahmadiyyah, Isawiyyah Gharbiyyah, Thurūq Akābir al-Awliyah, Qadariyyah wa Naqsyabandiyyah, Khalidiyyah wa Naqsyabandiyyah, Ahl Mulazamah Al-Qur′an was-Sunnah wa Dalā′il al-Khairāt wa Ta’līm Fath al-Qarīb wa Kifāyatul ‘Awām.
Sifat Ajaran Tarekat Muktabarah adalah:
  1. Universal artinya: tarekat memiliki sifat yang mengglobal melampaui batas-batas wilayah dan negara, karena tiap-tiap warga negara secara silsilah masing-masing masih berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
  2. Sifat menyeluruh: artinya pelaksanaan aqidah, syariah, muamalah dan akhlak yang bertujuan untuk wushūl ilallāh.
  3. Tertib dan terbimbing: setiap pengamal tarekat harus didasarkan kepada kitab-kitab yang mu’tabar dengan bimbingan para mursyid.
  4. Wushūl ilallāh: tarekat adalah tidak semata-mata bentuk amalan bacaan atau zikir untuk mencari pahala tetapi tarekat bertujuan membentuk manusia seutuhnya, lahiriyah batiniyah, yang bisa mengembangkan dan merasa didengar dan dilihat oleh Allah, atas dirinya sehingga dapat memiliki beberapa sifat al-khauf, ar-rajā′, ash-shiddīq, al-mahabbah, al-warā‘, al-zuhd, asy-syukr, ash-shabr, al-hayā′ dan al-khusyū‘.
  5. Sifat-sifat Rasul yakni shiddīq, tablīg, amānah, dan fathānah, merupakan cahaya yang memancar dari Baginda Nabi yang seharusnya mewarnai setiap anggota tarekat, sehingga dari sifat-sifat tersebut dapat melahirkan sifat berani dan menghargai segala pemberian hak individu dari lingkup yang kecil sampai yang besar, baik yang diberikan Allah maupun pemberian manusia.
Dalam Pedoman Dasar, tujuan utama dari organisasi tarekat tersebut adalah:
  1. Mengupayakan berlakunya syariat Islam berdasarkan ahlus -sunnah wal-jama’ah secara konsisten dalam bidang syariat, tarekat, hakikat dan ma„rifat di tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran ath-tharīqah al-mu‘tabarah melalui kegiatan-kegiatan khushushiyah tharīqiyah (tawajuhan).
    Selain itu, organisasi tarekat ini juga berupaya untuk mengembangkan, mempercepat, mempergiat dan memelihara ukhuwwah tharīqiyyah bagi sesama pengamal tarekat, meningkatkan tasāmuh antar aliran-aliran tarekat dan meningkatkan ilmu nāfi‘ dan amal salih zahir dan batin menurut ulama salihin dengan bai’at yang sholeh.
    Alasan lain pendirian organisasi ini adalah untuk membimbing organisasi-organisasi tarekat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan Islam yang sesuai dengan Al-Qur′an dan hadis, dan untuk mengawasi organisasi-organisasi tarekat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama.
    Organisasi tersebut akhirnya menetapkan kriteria kemuktabaran suatu tarekat yang berbeda dengan ketentuan seperti yang ditetapkan sebelumnya, artinya suatu tarekat bisa dianggap muktabarah jika memenuhi kriteria sebagai berikut:
    1. Memperhatikan syari’at Islam dalam pelaksanaannya;
    2. Mengikat tarekat dan mengharuskannya berpegang teguh kepada salah satu mazhab yang empat;
    3. Mengikuti kehidupan haluan dari ahlus-sunnah wal-jama’ah.
    4. Mengambil bai’at/talqin dari mursyid yang silsilahnya muttashil (bersambung hingga kepada Rasulullah).
    Dengan kriteria yang telah ditetapkan tersebut, maka organisasi ini memagari tarekat yang muktabarah dengan seksama dari kemungkinan masuknya unsur-unsur di luar Islam dan menetapkan tarekat-tarekat yang dianggap tidak memenuhi kriteria, serta melabelinya dengan tarekat yang tidak sah (ghairu mu‘tabarah), selain itu, organisasi ini juga dianggap mempunyai legitimasi untuk menaikkan status tarekat dari yang tidak muktabarah menjadi tarekat muktabarah.
Wallāhu a‘lam bish- shawāb.
Catatan:
  1. Abū Nashr as-Sarrāj ath-Thūsī, al-Luma‘, h. 42
  2. Ibnu Khaldūn, Muqaddimah Ibnu Khaldun, h. 417.
  3. Ibrāhim Madhkour, fīl-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Tathbīquhu, (Aliran dan Teologi Filsafat Islam), terj Yudian W Asmin (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 101, 103. Dari kalangan sufi yang filosof terkadang lahir syathahāt (shocking expressions), kalimat-kalimat simbolis dan metaforis yang tidak mudah difahami orang awam, sehingga terkadang karena faktor ini dan lainnya beberapa sufi terkena hukuman mati oleh penguasa pada masanya. Sebagai contoh: al-Hallāj, ‘Ainul-Qudhat Hamadani, dan Suhrāwardī al-Maqtūl. Sementara itu dalam tasawuf sunni, persesuaian syari’at dan tariqat akan membuahkan haqiqah dan ma’rifah
  4. Sri Mulyati, et. al. (ed.), Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2006), h. 12.
  5. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1995), h. 19.
  6. Misalnya Abū Bakr Muhammad al-Kalabadhī dalam kitabnya at-Ta‘ārruf li Madzhab Ahlit-Tashawwuf, mengemukakan urutan maqāmat sbb: taubat, zuhud, sabar, fakir, tawadu’, takwa, tawakal, rida, hubb dan ma‘rifat. Abū as-Sarrāj ath-Thūsī menulis dalam al-Lumā′, bahwa urutan maqāmat yakni: taubat, wara, zuhud, kefakiran, sabar, tawakal dan rida. Abū al-Qāsim ‘Abdul-Karīm al-Qusyairī dalam ar-Risālah al-Qusyairiyyah yaitu taubat, wara’, zuhud, tawakal, sabar dan rida. Sementara itu Abū Hāmid al-Ghazālī dalam Ihya′ ‘Ulūmiddīn: taubat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta ma’rifat dan rida. Selain maqāmat para sufi akan mendapatkan al-ahwāl, situasi kejiwaan/keadaan mental yang diberikan Allah kepada seseorang seperti khauf, tawadu’, taat, ikhlas dsb.
  7. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati 2007), vol. 1, h. 07-409.
  8. at-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, bab ayyuhal mushalli tajib.
  9. Departemen Agama R.I., Al-Qur′an dan Tafsirnya, Jilid 1, h. 255-256.
  10. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. 1, h. 302-303.
  11. Departemen Agama R.I., Al-Qur′an dan Tafsirnya, Jilid 1, h. 166.
  12. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. 13, h. 291-292.
  13. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. 5, h. 402.
  14. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), h. 55-58.
  15. Seyyed Hossain Nasr, “The Qur′an as the Foundation of Islamic Spirituality,” dalam Islamic Spirituality Foundations, ed. by himself, (New York: Crossroad, 1987), h. 3-10.
  16. Orang fakir, tidak memiliki apa-apa dan tidak merasa kehilangan, ia tidak menjadi kaya dengan memiliki segala sesuatu, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa-apa, kedua keadaan ini sama saja baginya. Lihat al-Hujwirī, Kasyful Mahjūb, (Bandung: Mizan, 1993), h. 31.
  17. Ali bin Mohamed, Mengenal Tasauf dan Tarekat, (Singapore: Darul Ehsan, 2004), h. 46.
  18. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 54-55.
  19. Dikutip dari berbagai sumber, termasuk al-Suyūthī, an-Nazhā′ir, h. 4-5.
  20. Ibnu ‘Atha′illāh as-Sakandarī, Lathā′iful-Minan, h. 216.
  21. ‘Abdul-Karīm al-Qusyairī, al-Risālah al-Qusyairiyyah.
  22. Silsilah tarekat berisi rangkaian nama-nama guru yang sangat panjang, yang satu bertali dengan yang lain. Idealnya setiap guru yang tercantum dalam silsilah seharusnya merupakan murid langsung dari guru sebelumnya.
  23. Muslim, Shahīh Muslim, Kitab Zikir, Doa dan Taubah, Bab Fadhlul- Ijtimā‘ ‘alā Tilāwatil-Qur′ān wadz-dzikr.

Tidak ada komentar: