الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

ETIKA DIALOG

Keragaman dan perbedaan merupakan salah satu ketentuan Tuhan (sunnatullāh) yang menjadikan kehidupan di dunia ini penuh dengan warna-warni.
Perbedaan pandangan, keyakinan, sikap, dan perilaku manusia merupakan sebuah keniscayaan seperti disinyalir dalam firman Allah yang maknanya berbunyi: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (Hūd/11: 118). Menarik dicermati, perselisihan dan perbedaan manusia dalam ayat tersebut diungkapkan dengan kata kerja (al-fi‘l) al-mudhāri’ (present tense) yang menunjukkan keberlangsungannya pada masa kini dan masa mendatang,yaitu “walā yazālūna mukhtalifīna”. Artinya, Tuhan tidak berkehendak menciptakan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa dan terus selalu dalam perbedaan, dan memang untuk itu mereka diciptakan seperti dinyatakan pada ayat berikutnya (ayat 119) yang maknanya, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Pakar tafsir ar-Rāzī memahami perbedaan dimaksud pada ayat di atas bersifat umum, meliputi perbedaan agama, perilaku, perbuatan, warna kulit, bahasa, rezeki dan lainnya.1
Keragaman menjadi lazim jika dilihat dari kenyataan adanya siklus kehidupan yang menuntut adanya interaksi dan kompetisi. Al-Quran mengistilahkannya dengan tadāwul (Ali‘Imrān/3: 140) dan tadāfu‘ (al-Baqarah/2: 251). Tadāwul yang berarti pergiliran/saling bergiliran atau siklus kehidupan terjadi karena adanya perbedaan dalam hal kesiapan dan kemampuan.
Sedangkan tadāfu‘ menunjukkan adanya proses saling menolak atau mendorong dalam bentuk interaksi dan kompetisi.
Kesinambungan kehidupan di bumi, seperti diisyaratkan dalam ayat tersebut, sangat ditentukan oleh proses tadāfu‘, yang dapat dimaknai pula dengan persinggungan dan akulturasi pemikiran,budaya, dan peradaban yang beragam.
Berangkat dari realitas semacam ini perlu ada jembatan yang menghubungkan perbedaan dan keragaman tersebut untuk bersama-sama merumuskan dan membangun kehidupan di dunia yang harmonis. Keragaman akan menjadi indah bila dapat dikelola dengan baik dalam wadah kebersamaan. Fungsi manusia sebagai khalīfah Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi menuntut adanya kebersamaan walau terdapat perbedaan.
Kebersamaan itu dirumuskan dalam sebuah ungkapan Al-Quran seperti dalam al-Hujurāt/49: 13, yaitu lita‘ārafū (agar kamu saling mengenal). Dengan saling mengenal, manusia akan saling memahami dan menghormati perbedaan, dan selanjutnya bekerja sama mewujudkan kemaslahatan bersama.
Salah satu cara untuk saling mengenal adalah dialog.Selain merupakan konsekuensi logis dari keragaman dan perbedaan, dialog juga merupakan bagian dari perintah agama agar saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan (al-Hujurāt/49: 13 dan al-Mā’idah/5: 2). Karena itu Islam memberikan perhatian besar terhadap dialog dengan meletakkan kaidah dan etikanya. Tidak berlebihan jika dikatakan Islam adalah agama dialog. Tidak kurang dari 120 sikap dialogis ditunjukkan dalam Al-Qur’an dengan menggunakan sekitar 1000 ayat Al-Quran, atau sekitar 1/6 kandungannya2. Kata qāla dengan segala bentuk derivasinya; qālū, yaqūlu, qul, qūlū,yaqūlūna, dan lainnya yang menunjukkan bentuk-bentuk dialog disebut dalam Al-Quran tidak kurang dari 1700 kali3. Objek dan pelaku dialognya pun beragam. Antara lain: dialog antara para rasul dengan kaumnya, antara kekuatan baik dan jahat,atau intern kekuatan jahat dan baik; dialog dengan Ahli Kitab,kaum munafik, pengikut fanatis tradisi buruk nenek moyang;dialog tentang wujud Allah dan keesaan-Nya, hari kebangkitan,dan sebagainya. Satu hal yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang dinamis dan realistis, serta mampu menyesuaikan diri di setiap ruang dan waktu.
Keberadaan dialog dalam kehidupan semakin penting jika melihat perkembangan dunia modern yang diwarnai dengan berbagai pertikaian, permusuhan, dan peperangan antar berbagai kelompok karena kepentingan-kepentingan tertentu.
Karena itu perlu dibangun sikap saling memahami eksistensi masing-masing, meningkatkan kerja sama dan mendekatkan perbedaan yang ada, melalui dialog konstruktif.4
Berikut ini akan dibahas beberapa prinsip dan etika yang ditekankan Al-Quran dalam berdialog. Namun sebelum itu akan diurai beberapa term dalam Al-Quran yang terkait dengan dialog.
A. Term Dialog dalam Al-Quran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dialog diartikan percakapan. Berdialog artinya bersoal jawab secara langsung; bercakap-cakap. Sedangkan dialogis artinya bersifat terbuka dan komunikatif.5 Padanan kata ini yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, yaitu al-hiwār. Selain itu, terkait dengan dialog juga dikenal istilah al-jadal, al-mirā, al-mahājjah, dan al-munāzharah yang pengertiannya lebih dekat kepada perdebatan. Dalam Kamus Besar, debat diartikan: pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.6 Kata al-hiwār, aljadal, al-mirā’, dan al-mahājjah dengan segala derivasinya dapat ditemukan dalam Al-Quran, sedangkan al-munāzharah tidak disebut dalam Al-Quran dengan pengertian seperti di atas,tetapi sangat populer dalam tradisi keilmuan Islam sebagai bentuk adu argumentasi.
Pengertian makna kata-kata tersebut dalam bahasa Arab dan bagaimana Al-Quran menggunakannya dapat dilihat dalam uraian berikut.
1. Al-Hiwār
Al-Hiwār berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf ha wa ra yang memiliki tiga makna dasar, yaitu warna, kembali,dan berputar. Bagian mata yang sangat putih dengan paduan bola mata yang sangat hitam disebut al-hawar. Wanita-wanita berkulit putih disebut al-hawāriyyāt. Kata al-hawāriyyūn disandangkan kepada para pengikut Nabi Isa karena, menurut salah satu pendapat, mereka selalu menggunakan pakaian berwarna putih. Makna kembali digunakan dalam Surah al-Insyiqāq/84: 14; innahū zhanna an lan yahūr (Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali kepada Tuhannya). Demikian pula doa Rasulullah yang berbunyi,na‘ūdzu billāhi minal hawri ba‘dal kawri, diartikan ‘kami berlindung kepada Allah dari keadaan kembali (karunia) berkurang setelah sebelumnya bertambah.7 Dialog diungkapkan dengan kata hiwār karena di dalamnya terdapat pembicaraan dan proses soal jawab secara bergantian dengan argumentasi masing-masing, dan tidak jarang kemudian salah seorang peserta dialog menarik pandangannya yang ternyata keliru untuk kembali kepada kebenaran yang terpampang secara benderang (putih) di hadapannya.
Seseorang yang berdialog hendaknya bersikap kooperatif dan memiliki kesiapan untuk kembali kepada kebenaran bila ternyata pandangan yang dianutnya terbukti keliru.

Hiwār dengan pengertian seperti ini hanya disebut tiga kali, sedangkan kata yang terbentuk dari akar kata ha wa ra disebut sebanyak 13 kali. Yang bermakna dialog ditemukan dua kali dalam bentuk kata yuhāwiruhu, yaitu dalam Surah al-Kahf/18: 34 dan 37, dan satu kali dalam bentuk kata tahāwurakumā seperti dalam Surah al-Mujādalah/58: 1.
Redaksi yuhāwir dan tahāwur dalam bahasa Arab mengesankan adanya keikutsertaan pihak lain (al-musyārakah), tetapi redaksi yuhāwir lebih mengesankan keunggulan pihak yang melakukannya, sedangkan redaksi tahāwur menunjukkan kesejajaran pihak-pihak yang terlibat.
2. Al-Jidāl
Berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf ja da la. Maknanya, menurut pakar bahasa Ibnu Fāris, berkisar pada menguasai sesuatu dengan segala yang terurai darinya, memperpanjang permusuhan, dan berdialog atau mendebat pembicaraan8. Al-Jurjāni, seorang pakar yang menulis definisi berbagai istilah dalam tradisi keilmuan Islam,menjelaskan, “al-jadal/al-jidāl adalah penggunaan nalar dan analogi yang berasal dari beberapa ketetapan, yang bertujuan mengalahkan lawan bicara atau orang yang belum mengerti premis pembicaraan. Dengan kata lain, al-jadal adalah upaya seseorang untuk mematahkan dan mementahkan argumentasi lawan bicaranya, atau dengan tujuan meluruskan ungkapannya.
Ada unsur permusuhan di dalamnya.”9 Dalam sejarah keilmuan Islam, al-jadal menjadi disiplin ilmu tersendiri yang didefinisikan oleh al-Qanūji dengan “ilmu yang membahas berbagai cara untuk menetapkan atau membatalkan sebuah sikap atau pandangan. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan untuk meruntuhkan dan mematahkan argumentasi lawan bicara.”10 Definisi tersebut menunjukkan, al-jadal berangkat dari prinsip-prinsip yang telah diyakini kebenarannya dan dipegang teguh, tanpa ada keinginan untuk mundur darinya. Berbeda dengan kata hiwār yang mengesankan adanya keinginan untuk meninjau ulang kembali pandangan-pandangan yang sebelumnya dipegang.11 Al-Jadal biasanya dilakukan dalam hal perbedaan pemikiran dan keyakinan, sedangkan kata al-hiwār cakupannya lebih luas dari itu yang meliputi berbagai aspek kehidupan12.
Dalam Al-Quran, kata al-jadal dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 29 kali. Mencermati ayat-ayat yang memuat kata al-jadal dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk banyak hal di dunia dan akhirat (an-Nisā’/4: 109); kadangkala dengan menggunakan kebenaran untuk mengalahkan kebatilan (al-‘Ankabūt/29: 46), dan dilain kali menggunakan sarana kebatilan untuk menolak kebenaran (Ghāfir/40: 5); kadangkala menggunakan cara-cara yang terpuji (an-Nahl/16: 129), dan kadangkala menggunakan cara-cara kotor (al-Hajj/22: 3). Dalam Surah al-Kahf/18: 54 disebutkan, bahwa salah satu watak atau tabiat dasar manusia adalah menyukai jadal (suka membantah).
Menurut pakar tafsir Ibnu ‘Asyūr, setiap manusia berkecenderungan untuk meyakinkan orang yang berbeda dengannya bahwa keyakinan dan perbuatannya adalah yang paling benar.13
3. Al-Mirā’
Berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf mim ra ya.Makna dasarnya menurut Ibnu Fāris, yaitu mengusap sesuatu dan memerasnya. Mārā yumārī mirā΄an berarti membantah atau mendebat, sebab dengan cara itu ia memeras dan mengerahkan segala argumentasi yang dimilikinya.14 Atau, karena mereka yang berdebat atau berbantahan saling berusaha mematahkan argumentasinya sehingga seakan saling memeras.15 Kata ini juga bisa bermakna ragu, karena masing-masing pihak berusaha membuat lawannya ragu terhadap keyakinan yang dianutnya.16 Kata yang terbentuk dari akar kata ini disebut dalam Al-Quran sebanyak 20 kali, antara lain dalam Surah al-Kahf/18: 22 yang berisi perintah untuk tidak berbantah-bantahan dalam hal bilangan pemuda yang menghuni gua,sebab itu persoalan gaib, dan tidak mendatangkan manfaat.
Dalam bahasa Indonesia, padanan untuk kata mirā’ yang lebih tepat agaknya debat kusir, yang artinya debat yang tidak disertai dengan alasan yang masuk akal.17 Atau dapat juga dapat dikatakan sebagai sikap ngeyel, yaitu tidak mau mengalah dalam berbicara; ingin menang sendiri.18
Menurut pakar bahasa Arab, al-Fayūmī, kata mirā’ lebih bersifat sanggahan atau bantahan, berbeda dengan jidāl yang dapat berupa sanggahan atas argumentasi lawan dan juga mendatangkan pandangan dengan argumentasi baru.19
4. Al-Mahājjah/al-Muhājajah
Kata ini berasal dari kata hujjah yang berarti argumentasi/alasan. Bentuk kata al-mahājjah menunjukkan adanya keikutsertaan pihak lain, sehingga bermakna saling berargumentasi dalam rangka melemahkan lawan bicara. Tidak kurang dari 13 kali kata ini digunakan untuk makna membantah atau mendebat argumentasi, misalnya dalam Surah al-Baqarah/2: 258 yang mengisahkan orang yang mendebat Nabi Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan).
imageKetika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Baqarah/2: 258)
Selain empat istilah di atas yang digunakan Al-Quran untuk menunjukkan makna dialog dan yang sejenis dengannya,dalam tradisi keilmuan Islam juga dikenal ilmu almunāzharah yang fungsinya sama dengan dialog atau debat.
Sejarah mencatat berbagai bentuk munāzharah antara ulama Islam, atau antara muslim dan non muslim, tentang sejumlah persoalan, dengan tujuan menunjukkan kebenaran. Ulama besar, Muhammad Amīn asy-Syanqithī mendefinisikan almunāzharah dengan dialog atau perdebatan antara dua orang/kelompok yang berbeda pandangan, di mana masing-masing pihak berusaha menguatkan pandangannya dan melemahkan pandangan lawannya, dengan satu keinginan agar kebenaran dapat diperoleh20. Disiplin ilmu ini menjadi salah satu materi perkuliahan di Program Pascasarjana Universitas al-Azhar.
Karena setiap pihak yang berdialog dan berdebat berusaha untuk memenangkan argumentasinya dengan berbagai cara, maka perlu ada ketentuan yang mengaturnya sehingga tujuan yang ingin dicapai agar kebenaran tampak dapat terwujud. Ketentuan ini juga diperlukan agar dialog atau perdebatan yang diharapkan dapat mempertemukan perbedaan, tidak berubah menjadi benturan dan permusuhan.
Berikut ini akan diurai beberapa etika dialog yang disarikan dari Al-Quran dan pandangan para ulama.
B. Etika Dialog
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).21 Dengan demikian yang dimaksud dengan etika dialog adalah sejumlah ketentuan moral tentang apa yang baik dan buruk untuk dilakukan dalam dialog. Pakar sosiologi muslim kenamaan, Ibnu Khaldūn, dalam karyanya, al-Muqaddimah, mengingatkan pentingnya meletakkan dasar-dasar dan kode etik dialog dan debat. Ia menulis:Mengingat kemungkinan suatu pandangan diterima atau ditolak dalam debat sangat besar sekali, dan masing-masing pihak yang berdebat mengerahkan segala argumentasi dan kekuatan yang dimilikinya untuk memenangkan perdebatan dan dialog, padahal ada di antaranya argumentasi yang keliru meski ada juga yang benar, maka para ulama merasa perlu meletakkan aturan dan etika yang harus dipatuhi oleh mereka yang berdialog dan berdebat. Aturan itu antara lain tentang bagaimana seharusnya sikap seseorang yang berdalil/ber-argumentasi dan yang menjawab; kapan saatnya diam dan mempersilakan lawan berbicara; kapan dia harus menyanggah, dan sebagainya. Pendek kata, diperlukan kode etik dalam berargumentasi yang dapat mempertahankan pendapat dan mematahkan pandangan lawan.22
Aturan dan etika itu juga diperlukan karena manusia pada dasarnya memiliki sifat dan kecenderungan untuk merasa bahwa yang diyakininya adalah yang paling benar. Allah berfirman:
image
Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Quran ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (al-Kahf/18: 54)
Suatu malam, saat orang tertidur lelap, Rasulullah mendatangi kediaman putrinya, Fāthimah dan suaminya, ‘Alī bin Abū Thālib. Rasulullah bertanya, “Tidakkah kalian berdua melaksanakan shalat?” Seketika ‘Alī menjawab, “Jiwa kami sedang berada di tangan Allah (ketika tidur). Kalau Dia mengirimkannya kembali kami akan bangun.” Dalam sebuah riwayat, ‘Alī mengucapkan itu sambil duduk mengusap-ngusap mata.Rasulullah tidak menanggapinya dan sambil meninggalkan tempat, dan seraya menepuk pahanya beliau bergumam dengan mengutip penggalan ayat di atas yang maknanya, “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”23 Apa yang dikatakan Sayyidina ‘Alī itu benar, apalagi itu amalan sunnah,tetapi dengan cara itu sebenarnya Rasulullah ingin mengajak mereka untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat malam. Memang, selalu saja ada alasan untuk berdalih.
Kecenderungan ini bila tidak diatur dengan sebuah kode etik akan menjadi liar, sama persis dengan para pengguna jalan raya yang selalu ingin cepat sampai tujuan. Bila tidak diatur dengan rambu-rambu lalu lintas maka akan terjadi kekacauan.
Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk-bentuk dialog dalam Al-Quran dapat disimpulkan beberapa etika yang harus dipegang oleh mereka yang berdialog atau berdebat, antara lain:
1. Bersih niat dan bertujuan mencari kebenaran. Ketulusan seseorang dalam berdialog atau berdebat sangat menentukan hasil yang akan dicapai. Maka sepatutnya ia menjauhi sifat pamer, merasa besar kepala (‘ujub), dan mengejar popularitas sehingga menghalalkan segala cara. Menurut al-Ghazālī, hendaknya ia seperti orang yang mencari ternak yang hilang. Dia tidak peduli siapa yang menemukannya kembali;apakah dia atau orang lain. Dia akan memandang orang lain sebagai partner/teman dalam mencari ternak yang hilang, bukan sebagai pesaing atau musuh/ lawan. Manakala orang lain telah menemukannya, ia pun mengucapkan terima kasih.24 Salah satu tanda ketulusan seseorang dalam mencari kebenaran, dia merasa senang bila orang lain berhasil menunjukkan kebenaran dengan argumentasi yang kuat. Imam Syāfi‘ī berkata, “Setiap kali saya berdebat atau berdialog dengan orang lain, saya selalu berharap Allah menampakkan kebenaran melalui orang itu”.
Sikap tulus hanya karena Allah ditunjukkan oleh Nabi Syu‘aib, misalnya, setelah ia berdebat dan berdialog dengan kaumnya seputar seruan untuk menyembah Allah dan agar mereka meninggalkan perilaku yang menyimpang, Ia menutup seruan-Nya itu dengan mengatakan:
imageDia (Syu‘aib) berkata, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (Hūd/11: 88)
Ibnu ‘Āsyūr menjelaskan, kaum Nabi Syu‘aib curiga kalau-kalau dengan ajakannya itu ia hanya ingin tampil beda, bahkan sekadar untuk menyalahkan mereka, tanpa ada maksud baik lain. Penggalan akhir ayat di atas menghilangkan kecurigaan tersebut, sebab semua itu dilakukan Nabi Syu‘aib semata-mata untuk perbaikan dan kebaikan mereka sendiri sesuai dengan yang digariskan Tuhan. Dari ayat ini dapat disimpulkan mereka yang mengkritik atau mendebat suatu masalah dapat dikelompokkan dalam dua kategori: pertama, mengkritik sesuatu hanya sekadar mengkritik, tanpa menjelaskan apa yang seharusnya; kedua, mengkritik untuk menjelaskan kekeliruan suatu masalah, dengan disertai penjelasan yang meluruskannya.25
Ungkapan “wamā urīdu an ukhālifakum ilā mā anhākum ‘anhu”,selain dapat diartikan seperti di atas dapat juga juga dimaknai dengan, “Dan aku tidak berkehendak melalui larangan yang aku sampaikan itu untuk menyalahi kamu, atau karena aku senang berbeda dengan kamu.”
Dalam berdialog atau berdebat seseorang hendaknya bisa melepaskan diri dari berbagai kepentingan sesaat, sebab bila ada maksud-maksud tertentu akan sulit menjaga objektivitas.
Keinginannya dapat mengalahkan kejernihan dalam berpikir,bahkan tidak jarang ada prakonsepsi terlebih dahulu menyangkut hasil dialog yang akan terus dipertahankannya, sehingga bila berhasil mengalahkan lawan bicaranya ia akan senang, dan bila kalah dia akan berpaling. Demikian Ibnu al-Qayyim mengingatkan.26
2. Memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara dengan baik
Dialog merupakan arena tukar pikiran, bukan sekadar mengirim pesan oleh satu pihak dan menerima pesan tersebut di pihak lain. Karena itu masing-masing pihak harus mau memperhatikan dan mendengarkan pandangan pihak lain.
Tidak berlebihan jika dikatakan, dialog merupakan seni mendengarkan orang lain, bukan memonopoli pembicaraan. Jangan sampai terjadi seperti yang digambarkan dalam sebuah syair Arab:

أَقُوْلُ لَهُ عَمْرًا فَيَسْمَعُهُ سَعْدًا * وَيَكْتُبُهُ حَمْدًا وَينْطِقُهُ زَيْدًا
Aku mengatakan kepadanya Amr, tapi yang didengar Sa‘d. Dia menulis Hamd tapi yang diucapkan Zaid.
Para nabi telah memberi contoh bagaimana bersikap di hadapan lawan bicara. Mereka memberikan kesempatan lebih kepada lawan bicara untuk mengemukakan dalil dan dakwaan yang dimilikinya dan memperhatikannya. Ketika para ahli sihir berkata kepada Nabi Musa:
imageMereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?” (Thāhā/20: 65)
Nabi Musa mempersilakan mereka terlebih dahulu menyampaikan bukti-bukti yang dimilikinya dengan mengatakan: قَالَ بَلْ أَلْقُوا (Berkata Musa, “Silakan kamu sekalian melemparkan”).
Dialog Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan Abū al-Walīd (‘Utbah bin Rabī‘ah) dalam sejarah Islam begitu populer. Yaitu ketika Utbah, yang mewakili tokoh-tokoh kafir Mekah, menghadap Rasulullah dan menawarkan kepada beliau harta yang melimpah, kehormatan / ketokohan dan kekuasan,dengan harapan Nabi meninggalkan misi dakwah yang dilakukannya. Atau kalau ternyata dengan dakwahnya itu Nabi dalam keadaan kerasukan jin, mereka siap untuk mengobatinya.
Saat pertama kali Utbah datang dan berkata ingin memberikan beberapa tawaran, Rasulullah mempersilakannya berbicara terlebih dahulu. Qul yā Abal-Walīd asma’ (katakan hai Abul-Walīd, saya akan mendengarkannya), demikian kata Rasulullah.
Meskipun sesuatu yang ditawarkannya hanya seperti lelucon jika dibanding besarnya tanggung jawab dakwah yang diemban Rasulullah, beliau tetap mendengar-kannya sampai selesai dan tidak memotongnya. Baru ketika telah selesai, Rasulullah berkata, “afaraghta yā Abal-Walīd?” (Sudah selesai hai Abul-Walīd?). Setelah diperkenankan, Rasulullah memulainya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran dalam Surah Fushshilat. Mendengar itu, Abul-Walīd yang sebelumnya begitu percaya diri, berubah wajahnya dan terpengaruh dengan bacaan Nabi sampai rekan-rekannya menduga ia telah disihir.27
Benar apa yang yang disampaikan seorang pakar, “Mendengarkan orang lain dan memberikannya kesempatan sampai ia menyelesaikan pembicaraan, serta menanyakan hal-hal yang kurang jelas hendaknya mewarnai dialog-dialog kita. Jika ada yang keliru dalam ucapan lawan bicara, maka dengan tetap mendengarkannya, tanpa menyanggah atau memotong pembicaraannya sudah merupakan langkah awal untuk membuat orang itu kembali kepada kebenaran yang ingin kita sampaikan.
Sekeras-keras orang dalam berbicara akan melunak dan terpengaruh dengan menghadapi lawan bicara yang sabar,lemah lembut, dan memilih diam ketika dipancing emosinya.”28
Penyair klasik Arab muslim, Abul-‘Atāhiyyah menulis:
إِذاَ كُنْتَ عَنْ أَنْ تُحْسِنَ الصَّمْتَ عاجِزًا   فَأَنْتَ عَنِ اْلإِبْلاَغِ فِى الْقَوْلِ أَعْجَزُ
يَخُوْضُ أُنَاسٌ فِى الْمَقَالِ لِيُوجِزُوا   وَلِلصَّمْتِ عَنْ بَعْضِ الْمَقَالاَتِ أَوْجَزُ

Kalau Anda tidak mampu mendengar dengan baik, maka Anda lebih tidak mampu lagi untuk berkata dengan baik. Banyak orang berusaha menyingkat pembicaraan, tetapi mendiamkan sebagian pembicaraan itu lebih singkat lagi.
3. Bersikap adil, objektif, dan proporsional
Salah satu konsekuensi dari sikap ini tidak menggeneralisasi masalah dan memisahkan antara pemikiran dan pribadi orang yang mengemukakannya. Tujuan dari dialog adalah bertukar pikiran, bukan membunuh karakter orang.
Perbedaan harus dipandang hanya sebatas pemikiran atau pandangan, tidak sampai pada kepribadian. Pemikiran yang baik harus dipuji, siapa pun yang menyampaikannya, sebaliknya yang keliru harus diluruskan terlepas dari siapa penyampainya.
Perhatikan ketika Al-Quran menjelaskan keadaan Ahlul Kitab yang dinyatakan tidak semuanya ingkar dan memusuhi dakwah Rasul. Allah berfirman:
imageMereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh. (Āli ‘Imrān/3: 113—114)
Kebencian kita kepada orang lain hendaknya tidak membuat kita tidak berlaku adil kepada mereka yang berbeda. Allah berfirman:
imageDan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. (al-Mā’idah/5: 8)
Prinsip objektivitas dalam dialog ditunjukkan dalam Surah Sabā’/34: 24. Allah berfirman:
imageKatakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Sabā’/34: 24)
Dialog di atas sebelumnya dimulai dengan pertanyaan tentang siapa yang memberi rezeki di langit dan di bumi.
Jawabannya pasti, yaitu Allah. Namun demikian, Al-Quran tidak memaksa mereka untuk langsung percaya, tetapi menggugah hati mereka dengan memosisikan diri sejajar dengan mereka, yaitu dengan mengatakan, “kami atau kamu (orang-orang musyrik), yang berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata”. Kata atau tidak menunjukkan keraguan tentang siapa yang benar dan siapa yang sesat, tetapi semata-mata untuk memosisikan diri sejajar dengan lawan bicara, sehingga tidak terkesan memaksakan. Ungkapan ini sama dengan ucapan seseorang kepada lawan bicaranya, “salah seorang dari kita bohong”, padahal dia tahu yang benar dirinya,dan lawan bicaranya bohong. Ini merupakan salah satu bentuk sikap objektif dan proporsional.29
Dialog harus didasari oleh pengakuan terhadap eksistensi orang lain, sebab bila lawan bicara telah diper-salahkan terlebih dahulu, akan sulit untuk dapat merebut hatinya yang telah terluka.
4. Berbekal ilmu dan argumentasi yang kuat
Dialog yang konstruktif hanya dapat dilakukan oleh mereka yang menguasai materi dialog atau debat. Di banyak tempat Al-Quran mengingatkan agar tidak berdialog atau berdebat tanpa berbekal ilmu, sebab akan mudah tergelincir kepada jalan setan. Allah berfirman:
imageDan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu dan hanya mengikuti para setan yang sangat jahat. (al-Hajj/22: 3)
Dalam setiap dialog, setiap pihak yang terlibat hendaknya mengajukan argumentasi dan bukti yang dimilikinya. Sikap emosional akan berdampak kontra-produktif dalam dialog.
Perhatikan sikap Al-Quran dalam menghadapi dakwaan Ahlul kitab bahwa merekalah yang paling layak masuk surga. Allah berfirman:
imageDan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu (hanya) angan-angan mereka.Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang
benar.” (al-Baqarah/2: 111)
Sikap senada juga dapat ditemukan dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 93 dan an-Naml/27: 64. Karena itu tidak diperkenankan melakukan dialog atau debat bagi mereka yang tidak menguasai masalah. Al-Quran mengingatkan:
imageDan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (al-Isrā’/17: 36)
Pentingnya ilmu untuk meyakinkan orang dalam dialog dinyatakan oleh Nabi Ibrahim ketika berdialog dengan sang ayah dalam rangka berdakwah. Allah berfirman:
imageWahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Maryam/19: 43)
Dalam kaitan ini, ulama besar, Ibnu Taimiyyah mengatakan,“Kadangkala orang tidak boleh berdebat atau berdialog kalau tidak memiliki argumentasi yang kuat dan tidak menguasai masalah dengan baik. Dikhawatirkan mereka yang keliru atau sesat akan mengalahkannya.”30 Jika salah satu pihak yang terlibat tidak menguasai masalah, maka itu pertanda dialog tidak akan produktif dan justru akan melemahkan pihak yang menguasai masalah. Imam Syāfi‘ī pernah mengeluh dan berkata, “Setiap kali aku berhadapan dengan lawan bicara yang pandai aku berhasil mengalahkannya, tapi kalau yang menghadapiku orang bodoh aku malah kalah.”31
5. Menggunakan retorika yang jelas dan singkat
Dialog yang baik berlangsung dengan pembicaraan yang jelas, lugas, dan tegas. Memperpanjang kalam yang tidak menentu arahnya akan membuat dialog kehilangan arah.
Demikian pula bila terlalu singkat. Pentingnya retorika yang baik dalam menghadapi lawan bicara menjadi perhatian Nabi Musa ketika akan mendakwahi Fir‘aun. Menyadari akan kekurangannya, Nabi Musa meminta kepada Allah agar dakwahnya diperkuat dengan sepupunya, Harun, dengan alasan Harun memiliki kefasihan dan kemampuan retorika yang lebih darinya (al-Qashash/28: 34). Nabi Musa juga berdoa agar dilapangkan
dadanya, dimudahkan urusannya, dan dilepaskan kekakuan dari lidahnya (Thāhā/20: 27), sehingga ia dapat berkata dengan jelas.
Menggunakan bahasa atau istilah yang tidak jelas dan tidak tepat akan mengecoh lawan bicara sehingga sasaran dialog tidak tercapai. Al-Quran mengecam keras sikap sebagian kalangan Yahudi yang bermain kata-kata untuk membenarkan sikap keliru mereka yang menyelewengkan beberapa petunjuk kitab suci dan tidak mau mengikuti seruan Nabi. Allah berfirman:
image(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.Dan mereka berkata, “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah,”sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun.”Dan (mereka mengatakan), “Rā inā” dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka,karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.(an-Nisā’/4: 46)
Para ulama al-Azhar penyusun Tafsir al-Muntakhab menjelaskan ayat di atas dengan berkata, “Di antara orangorang Yahudi ada sekelompok orang yang cenderung mengubah-ubah perkataan dari makna sebenarnya. Mereka berkata kepada Nabi mengenai diri mereka, “Kami mendengar ucapan dan kami melanggar perintah.” Mereka juga berkata,“Dengarlah ucapan kami,” dengan mengarahkan pembicaraan kepadamu. Mereka mengatakan pula, “isma‘ ghaira musma‘”(dengarlah, semoga kamu tidak mendengar apa-apa). Ungkapan ini dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah mereka mengharapkan kebaikan kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Padahal, sebenarnya, keburukanlah yang mereka harapkan menimpa Nabi. Mereka pun mengucapkan “rā‘inā” (sudilah kiranya kamu memperhatikan kami) dengan cara memutar-mutar lidah. Mereka, dengan cara seperti itu,menginginkan orang lain menganggap maksudnya “unzhurnā”(“sudilah kiranya kamu memperhatikan kami”) karena dengan memutar-mutar lidah ketika menyebut “rā‘inā”, seolah-olah mereka memang meminta agar diperhatikan. Padahal,sebenarnya, mereka tengah mencela agama dengan mencela Nabi, pembawa risalah, sebagai orang yang bodoh. (ru‘ūnah:bentuk nomina abstrak (mashdar) dari verba (fi‘l) ra‘ana yang berarti ‘kebodohan’). Jika saja mereka mau bersikap jujur dengan mengatakan “Sami‘nā wa atha‘nā” (kami dengar dan kami taati) sebagai pengganti tambahan “sami‘nā wa ‘ashaynā” (kami dengar dan kami langgar), dan mengatakan “isma‘” tanpa tambahan “ghayr musma‘”, serta mengganti ucapan “rā‘inā” dengan “unzhurnā ”, tentulah itu lebih baik dan lebih bijaksana bagi mereka. Akan tetapi begitulah kenyataannya, Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kemunkaran
yang mereka lakukan. Dan kamu tidak mendapatkan mereka itu sebagai orang-orang yang memenuhi ajakanmu untuk beriman, kecuali sedikit saja.326. Memilih kata-kata yang baik, lemah lembut dan tidak keras kepala
Kata yang baik dan diucapkan dengan penuh lemah lembut akan membuat suasana dialog berlangsung tenang dan khidmat, jauh dari luapan emosi seperti halnya jika digunakan kata-kata keras dan kotor yang menyinggung perasaan. Dalam Surah Ibrāhīm/14: 24—26, Allah membuat permisalan kalimat yang baik dan kalimat yang buruk. Dia memisalkan kalimat yang baik bagaikan pohon yang banyak manfaatnya. Pangkalnya tertanam kokoh dengan akar-akarnya di dalam tanah,sedang pucuk-pucuknya menjulang tinggi ke angkasa. Dengan kehendak penciptanya, pohon itu selalu berbuah pada waktu-waktu tertentu. Demikian juga kalimat tauhid: tertanam kokoh dalam hati orang mukmin, dan amalannya naik menuju Allah.
Dia selalu mendapatkan berkah dan balasannya pada setiap waktu. Demikianlah, Allah telah menerangkan permisalan kepada manusia dengan mendekatkan makna-makna abstrak melalui benda-benda indrawi, agar mereka dapat mengambil pelajaran lalu beriman. Sedangkan kalimat yang buruk, adalah bagaikan pohon yang buruk pula. Pohon itu tercabut dari akarnya dan roboh di atas tanah karena tidak tertancap dengan kokoh. Dan begitulah kalimat yang jelek, mudah disanggah,karena tidak kuat dan tidak didukung oleh alasan yang kuat.33
Sikap lemah lembut dalam menyampaikan kata-kata juga merupakan pesan Allah kepada Nabi Musa ketika akan menghadap Fir‘aun. Allah berfirman:
imagePergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (Thāhā/20: 43—44)
Yang dimaksud dengan kata-kata yang lemah lembut adalah ucapan yang menunjukkan dan menumbuhkan rasa keinginan untuk mengikuti, misalnya dengan mengatakan kepada lawan bicara bahwa dia memiliki kecerdasan untuk dapat menerima kebenaran dan membedakannya dari kebatilan, serta menghindari kata-kata yang merendahkan atau menghinakan.34
Perintah Allah di atas diikuti oleh Nabi Musa, misalnya ketika ia berkata:
imageMaka katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan engkau akan kupimpin kejalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?” (an-Nāzi‘āt/79:18—19)
Demikian pula Nabi Muhammad diperintah oleh Allah untuk berlemahlembut dalam menghadapi kawan dan lawan.Allah berfirman:
imageMaka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Āli ‘Imrān/3: 159)
Secara umum, perkataan yang baik dan lemah lembut mempunyai pengaruh dalam jiwa, bukan hanya bagi lawan bicara tetapi juga bagi yang berbicara. Ketika menafsirkan penggalan ayat dalam Surah al-Baqarah/2: 83, yang berbunyi:
“waqūlū linnāsi husnan”, pakar tafsir al-Qurthubi menulis,“Manusia hendaknya berlemah-lembut dalam bicara, wajahnya ceria, baik kepada kawan maupun lawan, bukan sekadar basabasi.
Tentu tidak ada yang lebih utama dari Musa dan Harun,dan tidak ada yang lebih buruk dari Fir‘aun, namun demikian Allah tetap menyuruh Musa dan Harun untuk menghadapi Fir‘aun dengan lemah lembut.”35
Bahkan Al-Quran tidak hanya menyuruh pengikutnya menggunakan cara-cara yang baik, tetapi yang paling baik.
Dialog atau debat yang dilakukan terhadap Ahli Kitab, demikian pula dalam menyampaikan dakwah secara umum, hendaknya menggunakan cara-cara yang terbaik (billatī hiya ahsan).
Perhatikan firman Allah dalam Surah an-Nahl/16: 125, al-Isrā’/17: 53, dan al-‘Ankabūt/29: 46. Ungkapan billatī hiya ahsan seperti dijelaskan pakar tafsir al-Baidhāwī, adalah yang paling lembut, yaitu menghadapi kekerasan hati dengan sikap lemah lembut, menghadapi marah dengan cara menahannya, dan menghadapi kegusaran dengan ketenangan. Hendaknya anda juga mengajak orang ke jalan Allah dengan lemah lembut, dan menjelaskan argumentasi kebenaran ajaran agama tanpa paksaan atau niat mengunggulinya.36
Dalam menolak suatu pandangan, Al-Quran mengajarkan untuk menggunakan kata-kata yang bernada empati,sebagai ungkapan kelemahlembutan. Perhatikan Surah az-Zukhruf/43: 81:
image
Katakanlah (Muhammad), “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (az-Zukhruf/43: 81)
Tuhan mempunyai anak tentu suatu hal yang mustahil. Ungkapan ini sama halnya ketika kita berkata kepada lawan bicara, “kalau apa yang anda katakan itu benar, maka aku yang akan pertama kali meyakininya.” Ungkapan seperti ini biasanya digunakan untuk menyatakan hal itu tentu sulit diterima.37
7. Berangkat dari common platform (titik persamaan)
Meski berbeda pandangan dan keyakinan, manusia memiliki beberapa persamaan yang harus dijunjung tinggi.Selama itu menjadi kesepakatan bersama, maka kesiapan hati untuk menerimanya sangatlah besar. Surah Āli ‘Imrān/3: 64 mengajak Ahli Kitab untuk berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak diperselisihkan (kalimatin sawā’in), yaitu
tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak menjadikan sesuatu apa pun sebagai tuhan selain Allah.
Dalam proses dialog patut dicermati apa yang dikemukakan tokoh reformis di awal abad modern, M. Rasyīd Ridhā,yaitu: dalam berdialog pihak-pihak yang berbeda hendaknya mampu bekerja sama untuk mewujud-kan hal-hal yang disepakati dan dapat menolerir perbedaan yang ada. Dalam dialog antaragama, banyak hal yang disepakati oleh agama-agama,antara lain yang terkait dengan nilai-nilai spiritual dan moral. Misalnya, dalam Perjanjian Lama terdapat 10 wasiat Tuhan kepada manusia, yaitu: 1) Akulah Tuhan, Allahmu,jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku; 2) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya;3) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan; 4) Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat,seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN. (Dalam agama Kristen hari suci itu adalah Minggu, dan di kalangan
umat Islam hari itu adalah Jumat. Hari-hari itu ditetapkan oleh Tuhan sebagai saat istimewa untuk beribadah); 5) Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan; 6) Jangan membunuh; 7)Jangan berzina; 8) Jangan mencuri; 9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu, dan; 10) Jangan mengingini istri sesamamu dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya atau apa pun yang dipunyai sesamamu.38
Melihat kandungannya, pesan-pesan tersebut berisikan hak-hak Tuhan dan manusia yang harus dipenuhi agar terwujud kedamaian dan kebahagiaan abadi. Pesan-pesan serupa dengan di atas ditemukan juga dalam Perjanjian Baru yang menjadi pegangan umat Kristen dengan tambahan penjelasan seperti pada Injil Matius: 5. Demikian juga dalam Al-Quran dan hadis pesan-pesan itu ditetapkan sebagai nilai-nilai moral dan spiritual yang harus dijunjung tinggi dan dikembangkan dalam kehidupan. Perhatikan pesan-pesan Allah dalam Surah al-An‘ām/6: 151-152 dan lainnya. Selain itu, semua agama sepakat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih sayang,dan kedamaian.
Dalam kerangka dialog intern umat beragama, meski berbeda pemahaman paling tidak ada tiga hal yang menyatukan umat Islam, yaitu: 1) kesepakatan untuk meng-imani pokok-pokok akidah, seperti iman kepada Allah, Rasul, malaikat dan seterusnya; 2) kesepakatan untuk memercayai Al-Quran, dan;3) kesepakatan untuk ber-komitmen melaksanakan rukun-rukun Islam. Dialog apa pun di kalangan umat Islam harus dibangun dalam kerangka tiga kesepakatan di atas.
8. Menghormati lawan bicara dan tidak merendahkannya
Memulai dialog dengan penghinaan dan sikap merendahkan akan berdampak menimbulkan serangan balik dari pihak lain, sehingga dialog tidak akan kondusif dan produktif. Maka,perlu ada ketenangan dan keseimbangan dalam dialog dalam situasi apa pun. Walaupun lawan bicara menggunakan cara-cara itu, pendialog yang baik tetap tidak boleh terpancing. Terkait larangan merendahkan pandangan orang lain, sampai pun itu nyata-nyata keliru, Allah berfirman:
imageDan Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempatkembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa
yang telah mereka kerjakan. (al-An‘ām/6: 108)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
imageWahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujurāt/49: 11)
Berdasarkan ayat-ayat di atas, para ulama penyusun kode etik dialog dan debat menekankan agar tidak memandang rendah lawan. Imam Juwaini menulis, “Seseorang hendaknya tidak memandang rendah lawan bicara karena kesalahan dalam pandangan atau argumentasi, sebab boleh jadi dia benar dalam hal lain. Menghinakan atau memandang remeh lawan bicara sama halnya dengan memandang remeh api kecil, yang jika dibiarkan akan merembet dan menimbulkan kobaran besar yang dapat membumi-hanguskan semua yang ada.”39 Ulama lain, Fakhruddīn ar-Rāzī mengatakan, “Seseorang hendaknya tidak memandang rendah pihak lain, supaya orang itu tidak mengucapkan kata-kata hina pula, sehingga pada akhirnya ia dapat mengalahkannya.”40
9. Menghindari fanatisme berlebihan
Sikap fanatik telah ada sejak dahulu di setiap masyarakat.Dalam dialog, sikap ini timbul karena melihat kebenaran hanya ada pada dirinya. Salah satu bentuk fanatisme yang dikecam oleh Al-Quran adalah sikap taklid (mengikuti secara buta) tradisi nenek moyang, dan tidak mau menalarnya. Dalam Surah al-Baqarah/2: 170 Allah berfirman:
imageDan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah/2: 170)
Ulama besar, al-Ghazālī, menilai sikap fanatik sebagai salah satu penyakit yang banyak diderita para ulama yang disebutnya sebagai ‘ulamā as-sū΄. Tidak jarang mereka memandang orang lain yang berbeda dengan pandangan yang merendahkan, sehingga menimbulkan serangan balik untuk memenangkan kebatilan. Sikap ini sekilas seperti ingin memperjuangkan Islam dan membela umat Islam, tetapi jika diteliti sebenarnya justru merusak, demikian al-Ghazālī.41 Salah satu cara menghilangkan fanatisme berlebihan adalah dengan melatih diri untuk bersiap menerima keragaman yang merupakan sunnatullah. Sikap merasa paling benar dan yang lain salah mengganggu keberlangsungan dialog, dan dalam banyak hal tidak realistis. Kebenaran bukan monopoli sekelompok orang. Surah Sabā’/34: 24 menunjukkan adanya asas netralitas yang dijunjung tinggi oleh Al-Quran dalamdialog. Di situ tidak ada keraguan dalam hal siapa yang benar dan yang sesat, tetapi asas netralitas dalam dialog menuntut agar keduanya didudukkan dalam posisi yang sama, agar
mereka yang terlibat dalam dialog dapat berpikir dan memilih apa yang benar dengan penuh kesadaran, bukan paksaan.
10. Menghindari sikap ngeyel (tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri)
Dialog sejatinya dapat menghilangkan sifat merasa lebih dari orang lain, dan ini bisa dicapai dengan sikap rendah hati untuk menerima kebenaran. Karena itu sikap mengeyel hanya akan berujung pada debat kusir yang tidak bermanfaat dan hanya membuang waktu. Itulah yang disebut dengan al-mirā seperti disebut dalam Surah al-Kahf/18: 22. Dalam sebuah hadis, mereka yang meninggalkan sikap mirā meskipun ia benar dijanjikan oleh Rasulullah tempat di surga. Demikian pula yang meninggalkan dusta walau sekadar bercanda dan orang yang selalu berhias diri.42
Sikap ngeyel menutup pintu dialog, sebab mendorong kedua pihak yang terlibat dalam dialog untuk berpikiran salah,yaitu dialog yang mereka lakukan adalah sebuah pertandingan yang hasilnya kalah atau menang. Masing-masing tidak mencari kebenaran atau argumentasi, tetapi segala upaya dilakukan untuk menggiring lawannya ke dalam perdebatan panjang yang tidak berujung dan hanya menghabiskan waktu tanpa hasil yang kongkret. Sikap ini juga bertolak belakang dengan perintah untuk senantiasa melakukan dialog atau debat dengan cara-cara yang terbaik (an-Nahl/16: 125). Keyakinan akan kebenaran pandangan yang dimilikinya tidak sepatutnya ditunjukkan melalui cara-cara yang tidak terpuji.
C. Penutup
Demikian beberapa kode etik yang dapat disimpulkan dari gambaran sikap dialogis Al-Quran. Bukan hanya untuk kalangan internal umat Islam, tetapi juga dalam dialog dengan pihak lain yang berseberangan pandangan atau keyakinan.
Dialog merupakan sarana yang sangat efektif dan konstruktif dalam membina masyarakat bila dilakukan sesuai etika yang digariskan Al-Quran. Tetapi sebaliknya ia hanya akan membuang-buang waktu dan memeruncing masalah bila dilakukan tanpa aturan yang jelas.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Fakhruddīn ar-Rāzī, at-Tafsīr al-Kabīr (Beirut: Dāru Ihyā at-Turāts al-
    ‘Arabī, cet: 3), 18/76.
  2. Sa‘d ‘Alī asy-Syahranī, al-Hiwār fil-Qur΄ān was-Sunnah wa Ahdāfuhu.
  3. Muhammad Fu΄ād Abdul Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qurān al-Karīm.
  4. ‘Abbās al-Jarari, al-Hiwār min Manzhūr Islāmiy (Rabat: ISESCO, tahun
    1420 H./2000), h. 57.
  5. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Jakarta: Balai Pustaka, cet. III, 2005), h. 261.
  6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 242.
  7. Ibnu Fāris, Mu‘jam Maqāyīs fil-Lughah, h. 2/94.
  8. Maqāyis fil-Lughah, h. 1/387.
  9. ‘Alī M. Syarīf al-Jurjanī, at-Ta‘rīfāt (Beirut: Dārun-Nafā΄is, cet. 1,
    1424 H./2003 M.), h. 137.
  10. Shiddiq bin Hasan Khan, Abjad al-‘Ulūm (Beirut: Dārul-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1, 1320 H./ 1999 M.), h. 176-177.
  11. As‘ad as-Sahmirani, al-Islām wal-Ākhar, (Beirut: Dārun-Nafā΄is, cet.
    1, 2005 M.), h. 17-18.
  12. as-Sayyid Muhammad Husein Fadhlullāh, al-Hiwār fil-Qurān,(Beirut: Dārut-Ta‘āruf, cet. 5, 1407 H./1987 M.), h. 15.
  13. at-Tahrīr wat-Tanwīr, h. 8/392.
  14. al-Azharī, Tahdzībul-Lughah, 8/155.
  15. Muhammad ‘Alī an-Najjār, Mu‘jam Alfāzh al-Qurān al-Karīm, (Kairo:
    Majma‘ul-Lughah al-‘Arabiyyah, 1996), 6/27.
  16. at-Tahrīr wat-Tanwīr, 8/356.
  17. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 242.
  18. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 311.
  19. al-Fayyūmī, al-Mishbāh al-Munīr fī Gharībisy-Syarh al-Kabīr, h. 8/449.
  20. Muhammad Amīn asy-Syanqithī, Ādābul-Bahts wal-Munāzharah (Kairo:
    Maktabah Ibnu Taymiyah, t.th), h. 3.
  21. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 309.
  22. ‘Abdurrahmān Ibnu Khaldūn, al-Muqaddimah (Beirut: Dārul-Qalam, t.th.), h. 362.
  23. Shahīh al-Bukhārī, tahrīdh an-nabiyy ‘alā shalātillayli, no. 1059, Ibnu
    Hajar, Fathul Bāri , h. 4/106.
  24. Abū Hamid al-Ghazālī, Ihyā ‘Ulūmud-Dīn, (Beirut: Dārul-Ma‘rifah,t.th.), 1/57.
  25. at-Tahrīr wa at-Tanwīr, h. 7/185.
  26. I‘lāmul-Muwaqqi‘īn, 1/87.
  27. Ibnu Hisyam, as-Sīrah an-Nabawiyyah, 1/292.
  28. Deil Karneigi, Kaifa Taksībul-Ashdiqā wa Tu΄atstsiru fī an-Nās (Beirut:
    Al-Maktabah al-Hadītsah, cet 1, 1988), h. 92.
  29. al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkāmil-Qur΄ān, 14/298.
  30. Ibnu Taimiyah, Dar΄u Ta‘ārudhul-‘Aql wan-Naql, Tahqīq: Muhammad
    Rasyad Salim (Riyadh: Universitas Imam Ibnu Su‘ud, t.th.), 7/173.
  31. Ahmad Muhammad Hulail, Manhaj al-Hiwār wa Dhawābithuh (Mekah:
    Rabithah al-Alam al-Islāmiy, 2008), h. 183. Kumpulan makalah Konferensi Islam tentang Dialog di Mekah, 4-6 Juni 2008.
  32. al-Muntakhab fī Tafsīr al-Qur΄ān al-Karīm (Kairo: Kementerian Wakaf Mesir, cet. 12, 1986), h. 186. Tafsir ini telah diterjemahkan ke dalam
    bahasa Indonesia oleh sejumlah sarjana studi Islam di bawah supervisi Prof.Dr. M. Quraish Shihab.
  33. al-Muntakhab, h. 367-368.
  34. at-Tahrīr wat-Tanwīr, h. 9/47.
  35. al-Jāmi’ li Ahkāmil-Qur΄ān, 2/16.
  36. Abū Said ‘Abdullāh al-Baidhāwī, Anwārut-Tanzīl wa Asrārut-Ta΄wīl
    (Beirut: Dārul-Fikr, 1416 H.), 4/473.
  37. al-Jmāi’ li Ahkāmil-Qur΄ān, 16/119.
  38. al-Kitab, Kitab Ulangan: 5.
  39. Al-Imām Abū al-Ma‘āli al-Juwainī, al-Kāfiyah fil-Jadal, Tahqīq:Fawqiyah Husein Mahmūd (Kairo: Maktabatul-Kulliyyah al-Azhariyyah,1399 H./1979 M.), 538.
  40. ‘Abdurrasyīd al-Jonggori al-Hindī, ar-Rislāah ar-Rasyīdiyyah, yang merupakan komentar atas ar-Risālah as-Syarīfah karya as-Sayyid ‘Alī al-Jurjāni,Tahqīq: ‘Alī Mushthafa al-Ghurābi (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shubeih,1369 H./1949 M.), 541. Dikutip dari: As‘ad as-Sahmirani, al-Hiwār fil-Qur΄ān was-Sunnah; al-Usus wal-Munthalaqāt, Makalah dalam Konferensi Islam Internasional tentang Dialog, di Mekah, 4—6 Juni 2008.
  41. Ihyā ‘Ul ūmud-Dīn, 1/26.
  42. Riwayat Abū Dāwud, bāb ijtinābul-bida΄ wal-jadal, no. 50, Riwayat
    at-Tirmidzī, bāb mā jā΄a fil-mirā, no. 1916. Menurut at-Tirmidzī, hadis ini hukum-nya Hasan.

Tidak ada komentar: