الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Aurat dan Busana Muslimah

Menurut Fisiologi, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan itu berdarah panas, harus melindungi dirinya dari pengaruh hawa yang tidak stabil, kadangkala dia harus berjuang melawan hawa yang sangat dingin, karena
mekanisme tubuhnya tidak mampu untuk mengimbangi pengaruh hawa yang ekstrem ini. Manusia dan binatang sama-sama berdarah panas, bedanya di sini, Allah menciptakan untuk binatang bulu-bulu yang tumbuh sesuai dengan hawa yang dialaminya, sewaktu musim dingin akan tumbuh bulu yang tebal, sedangkan pada musim panas bulunya akan berkurang,ini terjadi di belahan bumi yang mempunyai empat musim.
Allah memberikan kepada manusia akal, dengan kepintarannya mereka membuat pakaian dari kain, kulit kayu, dan bulu-bulu binatang agar dapat menutupi dan menyelamatkan tubuhnya dari hawa yang ekstrem.
Sebelum Islam (zaman Jahiliah), jilbab/kerudung pada masa itu sudah dipakai oleh kaum wanita, walaupun cara memakainya tidak seperti pemakaian jilbab/kerudung yang dipakai sekarang yang menutup seluruh kepala, leher, dan dada,sedang pemakaiannya pada zaman Jahiliah hanya sekadar menutup kepala, rambut masih tetap terlihat, karena bahan jilbab/kerudungnya tipis, leher masih terbuka, dan kebiasaan dari wanita Arab pada masa itu senang menonjolkan perhiasan-perhiasan dan kecantikannya kepada kaum pria. Adapun dasar tujuan pemakaian jilbab/kerudung pada saat itu hanya merupakan taqlīd (adat kebiasaan) yang sudah lama dijalankan.Dari adat kebiasaan itu orang dapat menilai, bahwa wanita berjilbab/berkerudung adalah wanita-wanita yang dianggap baik dan terhormat, sedangkan wanita yang tidak memakai jilbab/kerudung dinilai sebagai wanita tidak terhormat atau wanita tuna susila.Adat kebiasaan berjilbab/berkerudung ini, oleh wanita pada zaman itu terus dipakai dan ditingkatkan sehingga kebiasaan ini diteruskan oleh para wanita di masa sesudahnya.1Walaupun kebiasaan berjilbab/berkerudung wanita Jahiliah diteruskan oleh wanita-wanita di masa sesudahnya (di zaman Islam), hal ini bukan berarti jilbab/kerudung dalam Islam mengambil atau meniru kebiasaan wanita Jahiliah tersebut,akan tetapi memakai jilbab/kerudung bagi wanita Islam adalah suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhānahu wa ta‘ala, melalui Nabi Muhammad shalllālahu ‘alaihi wa sallam untuk disampaikan kepada istri-istri beliau dan anak-anak perempuan beliau serta kepada seluruh wanita Islam, sebagaimana ditandaskan pada Surah al-Ahzāb/33: 59
33_59Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Ahzāb/33: 59).
Dari sekian banyak permasalahan aktual dan banyak diperbincangkan di masyarakat, yang juga menimbulkan pendapat pro dan kontra, adalah masalah aurat dan pakaian wanita, terutama tentang pengertian aurat dan hukum menutupnya, kriteria busana yang digunakan untuk menutupnya, batas-batasnya, dan hikmah menutupnya.
Sehubungan dengan masalah ini, maka penulis mencoba membahas masalah aurat dan busana muslimah dalam perspektif Al-Qur′an.
A. Makna Aurat dan Busana Muslimah
1. Makna aurat
Menurut bahasa “aurat” berarti malu, aib, dan buruk. Kata “aurat” berasal dari ‘awira artinya hilang perasaan, kalau dipakai untuk mata, maka mata itu hilang cahayanya dan lenyap pandangannya.2 Pada umumnya kata ini memberi arti yang tidak baik dipandang, memalukan, dan mengecewakan.
Selain daripada itu kata “aurat” berasal dari ‘āra artinya menutup dan menimbun, seperti menutup mata air dan menimbunnya.3 Ini berarti pula bahwa aurat itu adalah sesuatu yang ditutup hingga tidak dapat dilihat dan
dipandang.Selanjutnya kata “Aurat” berasal dari kata a‘wara yakni sesuatu yang jika dilihat akan mencemarkan.4Menurut istilah dalam hukum Islam, aurat adalah batas minimal dari bagian tubuh yang wajib ditutup karena perintah Allah subhānahu wa ta‘ālā.5Jadi, aurat ialah suatu anggota yang harus ditutup dan dijaga hingga tidak menimbulkan kekecewaan dan malu.

2. Makna busana muslimah
Pakaian adalah barang yang dipakai (baju, celana, dan sebagainya).6 Dalam Bahasa Indonesia pakaian juga disebut busana. Menurut W.J.S. Purwadarminta, busana ialah pakaian yang indah-indah, perhiasan.7 Jadi, pakaian perempuan adalah busana yang dipakai oleh perempuan. Pakaian perempuan yang beragama Islam, disebut dengan busana muslimah.
Makna muslimah, menurut Ibnu Manzhūr, ialah wanita yang beragama Islam, wanita yang patuh dan tunduk, wanita yang menyelamatkan dirinya atau orang lain dari bahaya.8
Berdasarkan makna-makna tersebut, maka busana muslimah dapat diartikan sebagai pakaian wanita Islam yang dapat menutup aurat yang diwajibkan agama untuk menutupnya,guna kemaslahatan dan kebaikan wanita itu sendiri serta masyarakat di mana ia berada.

B. Ayat-ayat tentang Hukum Menutup Aurat dan Memakai Busana Muslimah
Islam, dalam menentukan hukum, sering memakai metode bertahap (tadrīj), seperti diharamkannya riba, minuman keras,dan sebagainya. Demikian juga dalam hal tutup aurat, pertama sekali Allah memperingati istri-istri Nabi shallallhāu ‘alaihi wa sallam supaya tidak berbuat seperti kebanyakan wanita pada waktu itu. Firman Allah dalam Surah al-Ahzāb/33: 32
33_32Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.(al-Ahzāb/33: 32)
Kemudian Allah berfirman pula:
33_33Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah yang dahulu. (al-Ahzāb/33: 33)
Setelah Allah subhānahu wa ta‘ālā memerintahkan kepada istri-istri Nabi seperti hal tersebut di atas, Allah meneruskan dengan suatu larangan supaya tidak berhadapan langsung dengan laki-laki bukan mahramnya. Allah subhānahu wa ta‘ālā berfirman:
33_53Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (al-Ahzāb/33: 53)
Ayat ini diturunkan setelah ‘Umar bin al-Khaththāb berkata kepada Nabi shallallhāu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, orang yang masuk rumah engkau itu ada yang baik dan ada yang tidak baik, ada yang suka berbuat dosa dan ada yang tidak suka berbuat dosa,maka oleh sebab itu alangkah baiknya jika engkau memerintahkan para Ummul-Mu′minīn supaya bertirai (berhijab).” Maka, seketika itu turunlah ayat tersebut, yakni ayat 53 Surah al-Ahzāb.
Selanjutnya, karena istri-istri Nabi juga perlu keluar rumah untuk mencari kebutuhan rumah tangganya, maka Allah subhnāahu wa ta‘ālā memerintahkan mereka menutup auratā apabila hendak ke luar rumah. Firman Allah dalam Surah al-Ahzāb/33: 59
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Ahzāb/33: 59)
Di dalam ayat ini Allah subhānahu wa ta‘ālā memerintahkan untuk memakai jilbab, bukan hanya kepada istri-istri Nabi dan anak-anak perempuannya, tetapi juga kepada istri-istri orangorang yang beriman. Berarti menutup aurat (berbusana muslimah) adalah wajib hukumnya bagi seluruh wanita yang beriman.
Kewajiban menutup aurat (berbusana muslimah) secara umum disebutkan dalam Surah an-Nūr/24: 31
24_31Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Menurut al-Marāghī, ayat ini menerangkan bahwa Allah memerintahkan kepada wanita-wanita yang beriman untuk menundukkan pandangan sebagaimana diwajibkan atas para pria yang beriman, agar tidak melihat aurat orang lain dengan sengaja atau tanpa sengaja, atau melihat sesuatu yang haram untuk dilihat. Begitu pula dalam ayat ini Allah memerintahkan
kepada wanita-wanita yang beriman untuk menjaga kehormatan dirinya dari berbuat zina atau melakukan lesbi, dan mereka dilarang untuk menampakkan perhiasan-perhiasannya kecuali yang biasa nampak, seperti cincin, celak mata.
Di samping itu kepada mereka, wanita-wanita yang beriman diperintahkan untuk mengenakan kerudung yang dapat menutup kepala, leher, dan dada.9 Jadi, menurut al-Marāghī bahwa makna ayat:
aurat01adalah “Hendaklah wanita-wanita beriman mengenakan kerudungnya untuk menutup kepala, leher, dan dada.”
Menurut al-Qurthubī, bahwa " لام " (lām) pada ayat:
aurat01Yakni “Hendaklah wanita-wanita beriman mengenakan kerudungnya untuk menutup kepala, leher, dan dada) adalah menunjukkan amr (perintah).”10 Dalam Usul Fiqih adalah menunjukkan wajib.
Dengan ini menunjukkan bahwa menutup aurat dengan mengenakan kerudung yang dapat menutup kepala, leher, dan dada adalah wajib hukumnya bagi setiap wanita yang beriman kecuali kepada mahramnya yang telah disebutkan pengecualiannya pada pembahasan tentang batas aurat. Apalagi pada akhir ayat 31 Surah an-Nūr/24 tersebut ditutup dengan kalimat:
24_31dDan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Allah tidak menyuruh untuk bertobat, melainkan karena apa yang diperintahkannya adalah wajib hukumnya, yaitu menundukkan pandangan, menjaga kehormatan diri, dan menutup aurat dengan memakai kerudung yang dapat menutup kepala, leher, dan dada, yaitu memakai busana muslimah.
Bila diperhatikan ayat-ayat sebagai dasar hukum untuk menutup aurat, baik yang sudah atau belum tertera di sini, kita akan melihat bahwa kesemuanya berbentuk amr (perintah) yang menurut ilmu Usul Fiqih akan dapat memproduk wajib ‘ainī ta‘abbudī, yaitu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim tanpa tanya mengapa. Siapa yang
melaksanakan kewajiban itu akan mendapat pahala, karena ia telah melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah subhānahu wa ta‘ālā dan siapa yang tidak melaksanakannya akan berdosa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa menutup aurat menjadi wajib karena beberapa faktor:

1. Menutup aurat itu merupakan faktor penunjang dari kewajiban menahan pandangan yang diperintahkan Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam Surah an-Nūr/24: 30 dan 31
24_30awalKatakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar menjaga pandangannya. (an-Nūr/24: 30)
24_31awalDan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya. (an-Nūr/24: 31)
2. Menutup aurat sebagai faktor penunjang dari larangan berzina yang difirmankan Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam Surah al-Isrā′/17: 32
24_32Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (al-Isrā′/17: 32)
3. Menutup aurat menjadi wajib karena saddudz-Dzarā‘ah, yaitu menutup pintu dari dosa yang lebih besar.
Oleh karena itu, para ulama telah sepakat mengatakan bahwa menutup aurat adalah wajib bagi setiap pribadi wanita dan pria Islam,11 khususnya bagi kaum wanita,kewajiban ini akan terlaksana dengan memakai jilbab (busana muslimah). Jadi, memakai jilbab (busana muslimah) adalah wajib bagi setiap pribadi muslimah.
C. Batas Aurat
Batas aurat wanita berbeda-beda, perbedaannya tergantung dengan siapa wanita itu berhadapan, yang secara umum dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
  1. Aurat wanita berhadapan dengan Allah (shalat) seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.12
Aurat wanita berhadapan dengan mahramnya dalam hal ini ulama berbeda pendapat:
a. Asy-Syāfi‘iyyah berpendapat bahwa aurat wanita berhadapan dengan mahramnya adalah antara pusat dan lutut, sama dengan aurat kaum pria atau aurat wanita berhadapan dengan wanita.
b. Al-Mālikiyyah dan al-Hanāfiyah berpendapat bahwa aurat wanita berhadapan dengan mahramnya yang laki-laki adalah seluruh badannya kecuali muka, kepala,leher, kedua tangan, dan kedua kakinya.13
Adapun yang dimaksud dengan mahram ialah:
1) Suami
2) Ayah
3) Ayah suami
4) Putranya yang laki-laki
5) Putra suami
6) Saudara
7) Keponakan laki-laki dari saudara
8) Keponakan laki-laki dari saudari
9) Wanita
10) Budaknya
11) Laki-laki yang menyertainya, tapi laki-laki itu tidak mempunyai kebutuhan lagi kepada wanita.
12) Anak kecil yang belum mengetahui tentang aurat wanita
13) Paman dari ayah
14) Paman dari ibu
Masalah mahram ini terdapat dalam Surah an-Nūr/24:31
24_31
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya),kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka,atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Di dalam ayat tersebut tidak disebutkan paman, baik dari saudara ayah, atau dari saudara ibu, karena mereka dianggap sama kedudukannya dengan ayah. Para ulama hukum Islam Fuqahā′) sepakat mengatakan, bahwa mereka digolongkan dengan mahram yang disebutkan dalam ayat 31 Surah an-Nūr/24 tersebut.
3. Aurat wanita berhadapan dengan orang bukan mahramnya.Ulama telah sepakat mengatakan bahwa selain wajah,kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki dari seluruh badan wanita adalah aurat, tidak halal dibuka apabila berhadapan dengan laki-laki asing, berdasarkan firman Allah subhānahu wa ta‘lā dalam Surah al-Ahzāb/33: 59 dan Surah an-Nūr/24: 31 berikut.
33_59aWahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. (al-Ahzbā/33: 59)
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya(auratnya),kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahayayang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Demikian juga dengan hadis Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang dibenarkan oleh Ibnu hibbān dan Ibnu Khuzaimah bahwa Rasulullah bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَة . (رواه ال ترمذي عن عبد الله) 14
Wanita itu adalah aurat. (Riwayat at-Tirmidzī dari ‘Abdullāh)
Kemudian ulama berbeda pendapat dalam menentukan apakah wajah,kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki itu termasuk aurat atau tidak?

a. Wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat, ini adalah pendapat Mazhab Jumhur, antara lain Imam Malik, Ibnu Hazm dari golongan azh-Zhāhiriyyah,dan sebagian Syi‘ah Zaidiyah, Imam Syafi‘i, dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur dari keduanya, Hanafiyyah dan Syiah Imāmiyyah dalam salah satu riwayat,para sahabat Nabi dan tabi‘in, antara lain ‘Ali bin Abū Thālib, Ibnu ‘Abbās, ‘Ā’isyah, ‘Athā′, Mujāhid, al-Hasan dan lain-lain.
b. Wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki tidak termasuk aurat. Ini adalah pendapat ats-Tsaurī dan al-Muzannī, al-Hanafiyyah, dan Syi‘ah Imāmiyyah menurut riwayat yang sahih.
c. Seluruh badan wanita adalah aurat, ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dan pendapat Abū Bakar bin ‘Abdurrahmān dari kalangan tābi‘in.
d. Hanya wajah saja yang tidak termasuk aurat. Ini juga pendapat dari Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dan pendapat Dāwud azh-Zhāhirī serta sebagian Syi ‘ah Zaidiyyah.15
1) Sebab perbedaan pendapat
Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkan batas aurat perempuan bila berhadapan dengan laki-laki bukan mahramnya adalah disebabkan karena perbedaan pandangan mereka dalam memahami maksud firman Allah dalam Surah an-Nūr/24: 31
24_31eKecuali yang (biasa) terlihat. (an-Nūr/24: 31)
Apakah yang dimaksud adalah yang biasa terlihat menurut kebiasaan, sehingga yang dimaksudkan dengannya adalah anggota-anggota badan tertentu, seperti wajah dan kedua telapak tangan, atau yang dimaksud darinya adalah anggota badan yang nampak tidak sengaja ketika bergerak, sehingga yang dimaksud oleh ayat tersebut bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat.

2). Dalil-dalil yang digunakan ulama dalam menetapkan batas aurat
a). Dalil mayoritas ulama (pendapat I) yang menetapkan bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat, kecuali wajahnya dan kedua telapak tangan, berdasarkan dalil dari Al-Qur′an dan Sunnah berikut.
(1) Dalil Al-Qur′an Surah an-Nūr/24: 31
24-31FDan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,… Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (an-Nūr/24: 31)
Dalam ayat tersebut Allah subhānahu wa ta‘alā memerintahkan perempuan untuk menutup kepala,dada, dan leher dan melarang mereka untuk menampakkan sesuatu dari kaki mereka. Ini menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat, karena kalau keduanya termasuk aurat bagi perempuan, pasti diperintahkan dalam ayat tersebut untuk menutupnya.
Tidak disebutkannya dalam ayat itu menunjukkan pembatasan, yaitu aurat perempuan seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan tidak termasuk aurat di depan laki-laki yang bukan mahramnya.
(2). Dalil dari hadis Nabi shallallhāu ‘alaihi wa sallam:
(a) An-Nasā′ī meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, bahwa ada seorang perempuan dari kabilah Khasy‘am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallhāu ‘alaihi wa sallam pada haji wada‘, pada waktu itu Fadhl bin al-
‘Abbās mendampingi Rasulullah. Fadhl menoleh kepada perempuan itu, dia seorang perempuan yang cantik, lalu Rasulullah memalingkan wajah Fadhl dari arah yang lain (memutar wajah Fadhl ke arah berlawanan dengan perempuan cantik tersebut).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa wajah tidak termasuk aurat. Jika seandainya wajah itu termasuk aurat, pasti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan pada perempuan itu untuk membuka wajahnya dan pasti beliau memerintahkannya untuk menutupnya.
(b) Al-Bukhārī meriwayatkan dari Ibn u ‘Abbās,bahwasanya ia berkata, “Saya Salat ‘Id bersama Rasulullah, beliau berkhutbah, setelah Salat ‘Id, kemudian Rasulullah datang ke tempat yang disiapkan untuk para
perempuan dengan ditemani oleh Bilāl, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka serta memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka saya melihat para perempuan itu mengulurkan tangan-tangan mereka memberikan sumbangan/sedekah pada baju/surban Bilāl.”16Hadis tersebut menunjukkan, bahwa tangan-tangan para perempuan itu terbuka di depan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ia tidak melarang untuk membukanya. Jika telapak tangan itu termasuk aurat di depan laki-laki yang bukan mahram, pasti Rasulullah memerintahkan mereka untuk menutupnya.
(c) Imam Ahmad, at-Tirmidzī, Abū Dāwud, Ibnu Mājah,dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari ‘Ā’isyah,bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
aurat02Allah tidak menerima salat perempuan yang sudah baligh kecuali memakai khimar (menutup kepala, leher dan dada).(Riwayat Abū Dāwud dan at-Tirmidzī dari ‘Ā’isyah)
Hadis tersebut menunjukkan, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam menafikan salat dari perempuan yang sudah mencapai usia baligh tanpa mengenakan khimar (menutup kepala, leher, dan dada). Yang dimaksud dengan kata "لاَ يُقْبَلُ " أَوْ "نَفْيُ الْقُبُوْلِ"/tidak diterima adalah tidak sah, karena dengan makna itulah dasar dalam penetapan hukum syariah. Ini menunjukkan bahwa kepala perempuan adalah termasuk aurat, karena kalau bukan demikian maknanya, tentu sahnya salat tidak terkait dengan
penutupan kepala yang merupakan bagian dari aurat.
(d) An-Nasā′ī dan at-Tirmidzī dari Ibnu ‘Umar meriwayatkan,bahwasanya Rasulullah berkata:
aurat03Barangsiapa menyeret bajunya (ke tanah) dengan sombong, Allah tidak melihat kepadanya pada hari Kiamat. Lalu Ummu Salamah berkata, “Bagaimana perempuan berbuat terhadap ujung roknya (pakaiannya)?” Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka
menurunkannya sejengkal.” Ummu Salamah berkata,“Kalau begitu akan terbuka telapak kaki mereka?”
Rasulullah bersabda (pula), “Mereka menurunkannya sehasta dan tidak menambah dari itu.” (Riwayat an-Nasā′ī dan at-Tirmidzī dari Ibnu ‘Umar)
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para perempuan memanjangkan bajunya untuk menutupi
kedua telapak kakinya. Ini menunjukkan bahwa kedua telapak kaki perempuan termasuk aurat,karena kalau keduanya tidak termasuk aurat, tentu Nabi tidak memerintahkan untuk memanjangkannya untuk menutup kedua telapak kakinya itu. Asal dari perintah adalah wajib menurut qā‘idah ushūliyah.
b). Dalil Mazhab II. Ats-Tsaurī dan Muzannī serta riwayat paling sahih dari dua riwayat menurut ulama Hanafiyyah dan Syi‘ah Imāmiyyah yang mengatakan, bahwa kedua telapak kaki tidak termasuk aurat, sama halnya dengan wajah dan kedua telapak tangan, adalah meng-qiyāskannya kepada wajah dan kedua telapak tangan, karena nash-nash yang menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat adalah nash-nash yang illat-nya dikaitkan dengan keperluan mendesak ( أَلْحَاجَةُ ) untuk membuka anggota ini (wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki), juga diperlukan untuk membuka wajah dalam masalah kesaksian dan lain-lain,membuka kedua telapak tangan ketika jual-beli, mengambil dan memberi. ‘Illat-nya adalah al-Hājjah yakni
keperluan mendesak untuk membukanya, karena perempuan perlu membukanya, apakah dalam keadaan tidak pakai alas kaki, atau memakai sandal. Wajah itu adalah kumpulan kecantikan, maka lebih dibolehkan lagi
untuk membuka yang lebih rendah darinya, yaitu kedua telapak kaki, karena itu kedua telapak kaki tidak termasuk aurat.
c). Dalil mazhab yang III yang mengatakan bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat, adalah berdasarkan dalil dari Al-Qur′an dan hadis.
(1) Dalil Al-Qur′an adalah Surah al-Ahzāb/33: 59
33_59aWahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga tidak diganggu. (al-Ahzab/33: 59)
Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah subhānahu wa ta‘ālā memerintahkan para perempuan dengan perantaraan Nabi-Nya agar mengenakan jilbab. Jilbab dalam bahasa Arab adalah pakaian yang menutup seluruh badan. Ini menunjukkan, bahwa wajib hukumnya bagi
perempuan menutup seluruh badannya, karena seluruh badannya adalah aurat.
(2). Dalil dari hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Diriwayatkan oleh al-Bazzār, Ibnu Hibbān, Ibnu Khuzaimah, dan at Tirmidzī, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَة . (رواه الترمذي عن عبد الله) 19
Perempuan itu adalah aurat. (Riwayat at-Tirmidzī dari ‘Abdullāh) Aurat Hadis tersebut menunjukkan bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat, karena alif dan lām pada kata الْمَرْأَةُ menunjukkan umum, yaitu seluruh tubuh perempuan.
d). Dalil mazhab yang IV yang mengatakan bahwa kedua telapak tangan perempuan di depan bukan mahramnya adalah aurat kecuali wajah yang bukan aurat. Pendapat ini didasarkan pada dalil mazhab III yang mengatakan bahwa badan perempuan itu adalah aurat, kemudian mereka
mengatakan bahwa kedua telapak tangan termasuk bagian dari badan. Wajah tidak termasuk aurat berdasarkan pada keumuman hadis tentang perempuan cantik dari kabilah Khasy‘amiyah yang telah disebutkan di atas, karena hadis itu menjelaskan firman Allah: wal-yadhribna bikhumurihinna (hendaklah para perempuan mengenakan kerudung (menutup kepala, dada, dan leher).
Demikian itu karena keperluan untuk membuka wajah mendesak (dibutuhkan), berbeda dengan kedua telapak tangan yang relatif tidak perlu dibuka, maka tetap kedua telapak tangan itu dihukumkan seperti hukum seluruh badannya, yaitu aurat.
Setelah memaparkan pendapat para ulama beserta dalil dan argumentasi masing-masing tentang batasan aurat perempuan bila berhadapan dengan yang bukan mahramnya,tampak bahwa pendapat yang rājih (kuat) dan relevan adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan, bahwa batas aurat perempuan di depan laki-laki bukan mahramnya adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, karena dalil-dalil yang mereka kemukakan kuat dan relevan. Hal ini dapat dipahami pula bahwa
ketika shalat dan memakai pakaian ihram haji atau umrah perempuan diwajibkan menutup seluruh badannya,kecuali wajah dan kedua tangan yang boleh dibuka.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Selanjutnya berkenaan dengan pakaian perempuan ketika bekerja di sawah dan sebagai pembantu rumah tangga, dibolehkan kepada mereka ketika bekerja membuka anggota badan tertentu, sekadar yang diperlukan, karena لِلْحَاجَةِ seperti disebutkan dalam kaidah fiqhiyyah:
أَلْحَاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ
 
Hajat (keperluan mendesak) kadang-kadang menempati kedudukan darurat.
Kaidah lain mengatakan pula:
اَلضَّرُوْرَةُ تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا
Dalam keadaan darurat dibolehkan yang terlarang hanya sekadarnya yang dibutuhkan.
Hal demikian dapat pula berlaku pada siswi-siswi/mahasiswi-mahasiswi yang belajar pada sekolah-sekolah tertentu yang memerlukan untuk memakai lambang atau tanda pangkat kedinasan di bahunya seperti Polwan,yaitu mereka mengenakan kerudung tetapi tidak menutupi dadanya, karena ujung kerudungnya dimasukkan ke dalam bajunya. Hal ini sesuai pula dengan kaidah fiqhiyah yang mengatakan:
aurat04Apa yang tidak dapat diperoleh keseluruhannya, tidak boleh ditinggalkan keseluruhannya. Apa yang tidak dapat diperoleh keseluruhannya tidak boleh ditinggalkan sebagiannya.
Selanjutnya berkenaan dengan suara perempuan, suara perempuan tidak termasuk aurat, karena tidak ada ayat secara tegas mengatakan bahwa suara perempuan itu aurat.
Hal ini dapat dilihat pada Surah al-Ahzāb/33: 32
33_32Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (al-Ahzāb/33: 32)
Dalam ayat tersebut, perempuan tidak dilarang bersuara,yang dilarang hanyalah bersuara dengan suara yang lembut.
Ini menunjukkan bahwa suara perempuan bukan aurat. Juga berdasarkan hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan para sahabat Nabi untuk belajar pada ‘Ā’isyah, salah seorang istrinya. Jika suara perempuan itu termasuk aurat, tentu Nabi tidak menyuruh para sahabat
untuk belajar dari ‘Ā╨isyah, karena mengajar pasti bersuara.Dengan demikian, suara perempuan berarti tidak termasuk aurat.
D. Hikmah Menutup Aurat dan Memakai Busana Muslimah
Sebagai seorang muslim, wajib mengimani bahwa setiap perintah atau larangan Allah subhānahu wa ta‘ālā untuk melaksanakan sesuatu pasti ada hikmahnya, hanya saja manusia kadang-kadang tidak mengetahui hikmahnya karena keterbatasan pengetahuannya. Firman Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam Surah al-Isrā′/17: 85
17_85Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (al-Isrā′/17: 85)
Adapun hikmah menutup aurat/mengenakan busana muslimah antara lain sebagai berikut:
  1. Wanita Islam yang menutup aurat/mengenakan busana muslimah akan mendapat pahala, karena ia telah melaksanakan perintah yang diwajibkan Allah subhānahu wa ta‘ālā , bahkan ia mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda, karena dengan menutup aurat, ia telah menyelematkan orang lain dari berzina mata.
  2. Busana muslimah adalah identitas muslimah. Dengan memakainya, yang beriman telah menempatkan identitas lahirnya, yang sekaligus membedakan secara tegas antara wanita beriman dengan wanita lainnya. Di samping itu,wanita yang berjilbab (berbusana muslimah) sederhana dan penuh wibawa, hingga membuat orang langsung menaruh hormat, segan, dan mengambil jarak secara wajar antara wanita dan pria, sehingga godaan bisa tercegah semaksimal mungkin, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam Surah al-Ahzāb/33: 59 di atas.
  3. Busana muslimah merupakan psikologi pakaian, sebab menurut kaidah pokok ilmu jiwa, pakaian adalah cermin diri seseorang. Maksudnya, kepribadian seseorang dapat terbaca dari cara dan model pakaiannya, misalnya seseorang yang bersikap sederhana, yang bersikap ekstrem, dan lain-lain,akan dapat terbaca dari pakaiannya. Demikian juga halnya dengan wanita jalanan yang sudah jauh melanggar ketentuan etik dan moral akan mempunyai ciri khas dalam berpakaian, meskipun kelihatannya rapi, tetapi kerapiannya itu sesuai dengan pembawaannya sebagai wanita seksi yang sudah tidak sopan, sehingga ada maksud penjajaan diri.
    Wanita terhormat jelas mempunyai sifat tidak mau menyamakan dirinya dengan wanita seksi atau bertingkah eksentrik tersebut. Di samping itu, ia menginginkan agar tidak mudah diganggu oleh orang lain, karena biasanya model pakaian yang kurang sopan sangat rawan
    mengundang hal-hal yang tidak diinginkan. Karena taat kepada perintah Allah dan sadar dengan identitas dari kepribadian mukminah inilah sehingga sebagian dari siswi seluruh penjuru Nusantara tetap tidak mau melepaskan jilbabnya, meskipun mereka dipecat dari sekolah atau diusir dari rumah sendiri.20
  4. Busana muslimah ada kaitannya dengan ilmu kesehatan/kimia, karena seorang dokter ahli yang menganalisa rambut secara kimiawi berkesimpulan bahwa meskipun rambut memerlukan sedikit oksigen (O2), namun pada dasarnya rambut itu mengandung fosfor, kalsium,magnesium, pigmen, dan kolesteryl dengan palmitate yang
    membentuk kholesteryl palmitate (C27, H45, O, CO, C15,H31) yang sangat labil akibat penyinaran atau radiasi,sehingga memerlukan pelindung yang dapat memberikan masa aman terhadap rambut dan kulit kepala untuk membantu rambut itu sendiri. Dalam hal ini kerudung sebagai bagian dari busana muslimah kiranya cukup memenuhi syarat untuk melindunginya.21
  5. Memakai busana muslimah ekonomis, dapat menghemat anggaran belanja dan waktu. Kalau kita pelajari secara detail perbedaan biaya hidup antara wanita memakai jilbab (busana muslimah) dengan wanita yang suka berdandan dan tabarruj, akan jelas bagi kita bahwa wanita yang memakai jilbab (busana muslimah) akan lebih hemat dalam biaya hidup, karena tidak membutuhkan uang untuk membeli bermacam-macam alat kosmetik dan kurang membutuhkan model-model baju sesuai dengan perubahan zaman dan perubahan model. Bagi mereka yang senang tabarruj dan berdandan, berapa macam krim yang dibutuhkannya, lain lagi untuk perawatan kuku dan rambutnya.
    Dari studi yang sederhana ini, bahwa wanita yang suka berdandan memerlukan uang kurang lebih 20% dari pemasukan keluarga tiap tahun.
  6. Memakai busana muslimah adalah menghemat waktu,berapa banyak waktu yang diperlukan oleh wanita yang suka berdandan dan tabarruj di depan cermin, berapa lamanya untuk memoles wajahnya, untuk menyisir rambutnya, lain lagi kalau pergi ke salon kecantikan. Kalau yang demikian ini terjadi tiap hari, berapa ruginya waktu yang dipakai.
    Lain halnya dengan wanita yang memakai busana muslimah, mereka relatif sedikit butuh waktu untuk mempercantik dirinya karena mereka itu setiap hari tidak banyak untuk berdandan. Rambutnya cukup disisir seperlunya,karena rambut mereka tertutup.
Dr. Husain Syahātah, dosen pada Universitas Emirat Arab, pernah mengadakan penelitian tentang perbedaan biaya antara wanita yang memakai busana muslimah dengan wanita yang suka berdandan dan tabarruj sebagai berikut:
a. Wanita yang berbusana muslimah per tahun memerlukan empat potong pakaian, harga per potongnya sekitar 100 dirham, sedangkan wanita yang suka berdandan pertahun membutuhkan delapan potong pakaian dengan mode yang berlainan, harga pakaian per potongnya 150 dirham.
b. Wanita yang berbusana muslimah memerlukan dua macam sepatu dan dua tas jinjing setiap tahun,sedangkan wanita yang senang berdandan butuh empat macam sepatu dan empat macam tas jinjing yang sesuai dengan warna bajunya.
c. Wanita yang suka berdandan memerlukan parfum dan alat-alat kecantikan rata-rata per bulannya 100 dirham,maka jumlah per tahunnya 1.200 dirham, sedangkan wanita yang tidak suka berdandan perlu harum-haruman hanya untuk suami saja.
d. Wanita yang suka berdandan sering kali pergi ke salon kecantikan, sedangkan wanita muslimah yang berjilbab cukup merias dirinya di rumah.
e. Wanita yang berdandan memerlukan majalah-majalah yang berisi mode-mode pakaian mutakhir, sedangkan wanita muslimah yang berjilbab relatif tidak memerlukan.22
F. Kriteria Busana Muslimah
Islam tidak menentukan model pakaian untuk wanita,tetapi Islam sebagai suatu agama yang sesuai untuk segala masa dan dapat berkembang di setiap tempat, memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk merancang mode pakaian yang sesuai dengan selera masing-masing, asal saja tidak keluar dari kriteria sebagai berikut:
1. Busana dapat menutup seluruh aurat yang wajib ditutupi.
2. Busana tidak merupakan pakaian untuk dibanggakan atau busana yang mencolok mata, karena Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
aurat05Barangsiapa yang memakai busana yang mencolok (kemegahan) di dunia, Allah akan memakaikan padanya pakaian kehinaan di hari akhirat. (Riwayat Ahmad, Abū Dāwud, Ibnu Mājah dan selain mereka dari Ibnu ‘Umar).23
Imam asy-Syaukānī dalam bukunya Nailul-Authār mengatakan, “Imam Ibnu Atsīr berkata, ‘Yang dimaksud dengan busana yang menyolok mata (dibanggakan) ialah dalam bentuk penampilan pakaian yang aneh-aneh di tengah-tengah orang banyak,karena memiliki warna yang mencolok dan lain daripada yang lain,sehingga dapat merangsang perhatian orang untuk memperhatikannya yang dapat menimbulkan rasa congkak, kebanggaan, serta ketakjuban terhadap dirinya secara berlebih-lebihan’.”24
3. Busana tidak tipis, agar warna kulit pemakainya tidak tampak dari luar, karena Rasulullah bersabda dalam suatu hadis yang sahih sanadnya.
aurat06Di akhir masa nanti akan ada di antara umatku, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, di atas kepala mereka terdapat seperti punuk unta (maksudnya meninggikan rambut seperti punuk unta), kutuklah mereka karena mereka itu adalah manusia-manusia terkutuk. (Riwayat ath-Thabrānī dari ‘Abdullāh ibnu ‘Umar)
4. Busana agar longgar/jangan terlalu sempit (ketat), agar tidak menampakkan bentuk tubuh, karena Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan baju dari kain linen yang sangat lunak kepada Usāmah bin Zaid, setelah Nabi mengetahui bahwa Usāmah telah memberikan baju tersebutkepada istrinya, Nabi berkata:
مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلاَلَة إِنىِّ أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا -رواه أحمد والبيهقى عن أسامة بن زيد
Suruhlah istrimu memakai baju dalam yang tebal di bawah baju linen itu, aku khawatir kalau-kalau baju tersebut dapat menampakkan bentuk tubuhnya. (Riwayat Ahmad dan al-Baihaqī dari Usāmah bin Zaid)
5. Berbeda dengan pakaian khas pemeluk agama lain, karena Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan sekali-kali kamu memakai pakain pendeta (Yahudi, Nasrani dan lain-lain) atau yang mirip dengannya, siapa yang memakainya, berarti ia bukan umatku lagi.” 27
6. Busana wanita tidak sama dengan pakaian pria, sebagaimana hadis Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
إ نَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ
وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ . (رواه أحمد وأبو داود والنسائى عن أبي
هريرة
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, melaknati pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.
(Riwayat Ahmad, Abū Dāwud dan an-Nasā′ī dari Abū Hurairah)28
7. Busana tidak merupakan bentuk perhiasan kecantikan,firman Allah dalam Surah an-Nūr/24 ayat 31:
24_31fJanganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak. (an-Nūr/24: 31)
Hal ini ditegaskan pula oleh Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam Surah al-Ahzāb/33 ayat 33
33_33aDan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti kehidupan wanita Jahiliah dahulu. (al-Ahzāb/33: 33)
Wanita Jahiliah selalu memakai pakaian yang dapat menampakkan dada, leher, dan tangan sampai ke bahu,menampakkan tubuh serta rambut guna menggoda kaum pria, kalau mereka berselendang disangkut saja di atas kepala, sedangkan ujungnya berjuntai ke belakang.29Ayat 33 Surah an-Nūr tersebut di atas menunjukkan bahwa jilbab (berbusana muslimah) bukan adat kebiasaan Arab Jahiliah, tetapi merupakan kewajiban bagi setiap muslimah untuk mengenakannya dan ulama sepakat mengatakan bahwa menutup aurat wajib hukumnya. Ulama
berbeda pendapat hanya dalam menentukan batas-batasnya,sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan tentang batas aurat dalam pembahasan sebelumnya.
G. Penutup
Demikianlah, pembahasan tentang Aurat dan Busana muslimah yang dapat penulis kemukakan. Semoga bermanfaat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Abū al A‘lā al-Maudūdī, al Hijāb, (Kairo: Dārul-Amshār, t.th.), h.
    305.
  2. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, (Kairo: Dārul-Ma‘ārif, t.th.), jilid 5, h.
    3164-3167.
  3. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, h. 3165.
  4. Ibnu Manzhūr, Lisānul-‘Arab, h. 3166.
  5. Al-Husainī, Kifāyatul-Akhyār, (Kairo: Isā Halabī, t.th.), jilid I. h. 92.
  6. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 673.
  7. W.J.S Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), h. 172. Lihat pula Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 140
  8. Ibnu Manzhūr, Op. Cit., h. 2080.
  9. al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, (Mesir: Mushthafā al-Babī al-Halabī, 1394 H-1974 M), cet V, jilid XVIII, h. 99. Lihat juga : Depag RI, Al-Qur′an dan Tafsirnya, (Jakarta, BALITBANG, 2006), h. 596.
  10. Al-Qurthubī, Al-Jāmi’ Li Ahkāmil-Qur′ān, (t.t.: t.p., t.th.) cet II, jilid
    XII, h. 230.
  11. Ad-Dimasyqī, Rahmah al-Ummah, (Kairo: al-Halabī, t.th.), h.173.
  12. Asy-Syairāzī, al-Muhaííab, (Kairo: Mushthafā al -Halabī, t.th.), jilid I.
    h.63.
  13. Ar-Ramlī, Nihāyah al-Muhtāj, (Kairo: Mushthafā al -Halabī, t.th.), jilid 10 h.188-189. Asy-Syairāzī, Op.Cit., Jilid I, h. 94 dan Ibrāhīm al-Jamal, Fiqh al-Mar′ah al-Muslimah, (t.t.: Maktabah al-Qur′an, t.th.), h. 83.
  14. Muhammad bin ‘Īsa Abū ‘Īsa at-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, (Beirut:
    Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī, tth.), Juz. 3, h. 476, no. 1173.
  15. Ibnu Rusyd, Bidāyatul-Mujtahid, (Kairo: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyah, t.th.), jilid I, h. 138 dan Asy-Syaukānī, Nailul-Authār, (Mesir: al-Halabī, t.th.), jilid II, h. 68.
  16. Al-Bukhārī, shahīh al-Bukhārī, Bāb. Al-Khutbah ba‘da al-‘Īd, no.921. Bandingkan dengan: al-Bukhārī, shahīh al-Bukhārī, Bāb. Mau‘izhatu al-Imām an-Nisā’ yauma al-Īd, no. 935.
  17. At-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, (Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī,
    tth), Bāb. Lā Tuqbalu shalātu al –Mar’ati illa bikhimār, Juz. 2, h. 215, no. 377.
  18. At-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, (Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī,
    tth), Bāb. Jarra dzuyūli an-Nisā’, Juz. 4, h. 223, no. 1731.
  19. At-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, (Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī,
    tth), Juz. 3, h. 476, no. 1173.
  20. Tempo, No. 41, 44, th. XII, No. 2, th XIII, Kiblat, No. IXXX,Panji Masyarakat, No. 380, 387, 388, 389, 390, 395, dan lain-lain.
  21. Panji Masyarakat, No. 387, h.9
  22. Husein Sahatah, Majalah Iqthishād Islāmī, (t.t.: t.p., t.th.), Juli 1982.
  23. Asy-Syaukānī, Nailul-Authār, jilid II, h.94.
  24. Asy-Syaukānī, Nailul-Authār, h.94.
  25. Ath-Thabrānī, al-Mu‘jam Ash-shaghīr, (Delhi: al-Anshārī, Delhi, t.th.), h.232.
  26. Adh-Dhiyā′ al-Maqdisī, al-Ahādīts al -Mukhtārah, (Damaskus: al-Munīrah, t.th.), h. 461.
  27. Riwayat Ath-Thabrānī, Lihat shiddiq Hasan, Tafsīr Fathul-Bayān,(Mesir: Bulaq, t.th.), jilid 10, h. 223.
  28. Imam Ahmad, al-Musnad, al-Ma‘ārif, (Mesir: al-Munīrah, t.th.), jilid
    II, h. 199 dan al-Munzhir, at-Targhīb wat-Tarhīb, (Mesir: al-Munīrah, t.th.), jilid 3, h. 105.
  29. Ash-Shābūnī, Shafwatut-Tafāsīr, (Makkah: t.p., t.th.), h. 921 dan Abd Wāhid Wāfī, Gharāibun-Nuzhūm wat-Taqālid Wal-‘Ādat, (Mesir: Nahdhah, t.th.),jilid, h. 102 – 105.

Tidak ada komentar: