الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

TOBAT

A. Pengertian Tobat
Kata tobat berasal dari Bahasa Arab yakni taubah: tāba-yatūbu-taubatan yang berarti: rujuk, kembali, atau kembali dari kemaksiatan pada ketaatan, atau kembali dari jalan yang jauh ke jalan yang lebih dekat kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā. Kata tobat juga berarti pengakuan, penyesalan dan pencabutan.1 Kata tobat ini mengandung makna, bahwa yang kembali pernah berada pada satu posisi, baik tempat maupun kedudukan, kemudian meninggalkan posisi itu, selanjutnya dengan kembali ia menuju kepada posisi semula.2Dalam Al-Quran, kata “tāba” pelakunya sekali Allah dan dikali lain manusia. Misalnya firman Allah dalam Surah al-Baqarah/2: 37
2_37Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2: 37)
Dalam ayat ini pelaku adalah Allah. Sedang dalam Surah Thāhā/20: 82, pelakunya adalah manusia:
20_82Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. (Thāhā/20 : 82)
Sedang dalam Surah at-Taubah/9: 118, menunjukkan kepada kedua pelaku tersebut.
9_118Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (at-Taubah/9: 118)
Menurut ath-Thabāthabā′ī, tobat dari Allah berarti kembali-Nya Allah kepada hamba dengan mencurahkan rahmat. Adapun tobat manusia, bermakna permohonan ampun, disertai dengan meninggalkan dosa. Tobat manusia berada antara dua jenis tobat Tuhan, karena manusia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan dalam keadaan apa pun, maka tobatnya atas maksiat yang dia lakukan, memerlukan taufik, bantuan, dan rahmat-Nya, agar tobat tersebut dapat terlaksana. Setelah itu, manusia yang bertobat, masih memerlukan lagi pertolongan Allah dan rahmat-Nya, agar upayanya bertobat benar-benar dapat diterima oleh-Nya.
Dengan demikian terlihat bahwa tobat manusia berada antara dua tobat Allah. Pertama, berupa kembalinya Allah memberi anugerah pada manusia dalam bentuk menggerakkan hatinya untuk bertobat dan menyesali dosanya. Kedua, setelah manusia tadi memenuhi panggilan hatinya yang digerakkan Allah, Allah sekali lagi, kembali atau tobat kepada hamba-Nya, tetapi kali ini dalam bentuk mengampuni dosanya, bahkan mengganti kesalahan atau kejahatan yang mereka lakukan dengan kebajikan (Surah al-Furqān/25: 70).3
Perlu dicatat dan dicamkan bahwa dalam Al-Qur′an tidak ditemukan bentuk jamak yang menunjukkan kepada Allah sebagai penerima/pemberi tobat. Bahkan secara tegas, kata kerja yang menunjukkan kepada penerima-Nya, dikemukakan dalam bentuk tunggal dan menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Firman-Nya setelah mengutuk mereka yang menyembunyikan kebenaran:
2_160Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-Baqarah/ 2: 160)
Penggunaan bentuk tunggal dalam hal tobat adalah karena tidak ada satu makhluk pun yang mempunyai wewenang, atau terlibat dalam menerima atau menolak tobat, hanya Allah sendiri saja yang menerima tobat dan memberi pengampunan.
Arti tobat menurut istilah para ulama, ialah membersihkan hati dari segala dosa. Imam Haramain (‘Abdul-Ma‘ālī al-Yudainī) mengatakan bahwa tobat adalah meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kejahatan seperti yang telah pernah dilakukannya karena membesarkan Allah subhānahū wa ta‘ālā dan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.4Kata at-taubah dengan segala bentuk derivasinya terulang sebanyak delapan puluh satu kali dalam Al-Qur'an. Dilihat dari segi bentuknya, kata-kata at-taubah dalam Al-Qur'an muncul dalam tujuh kata jadian, yaitu fi‘il mādhī (kata kerja yang menunjukkan waktu yang telah lalu), fi‘il mudhāri‘ (kata kerja yang menunjukkan waktu kini atau akan datang), fi‘il amr (kata kerja yang menunjukkan arti perintah), mashdar (kata dasar), ismul-fā‘il (kata benda yang mengandung arti pelaku), dan al-mubālaghah (bentuk kata benda yang menunjukkan penggandaan sifat dari obyek yang disifati).
Kata at-taubah yang muncul dalam bentuk fi‘il mādhī, dari satu segi, mengandung arti bahwa obyek yang ditunjuk adalah pengampunan yang telah terjadi, baik pengampunan Allah atas dosa orang terdahulu (sebelum turunnya Al-Qur'an); maupun yang hidup di zaman turunnya Al-Qur'an.
Sedangkan menurut Imam al-Ghazālī, tobat adalah salah satu tindakan hati, seperti dikatakan oleh para ulama: tobat adalah membersihkan hati dari perbuatan dosa.5Orang-orang yang disebutkan telah mendapat pengampunan Allah, misalnya, Nabi Adam yang mendapat pengampunan atas dosanya memakan buah terlarang dalam surga (Surah al-Baqarah/2: 37, dan Surah Thāhā/20: 122), Nabi Muhammad, kaum Muhajirin dan Ansar yang mengikuti Nabi Muhammad dalam masa kesulitan, setelah segolongan dari mereka hampir berpaling dari agama Islam (Surah at-Taubah/ 9: 117).
Dari segi lain, kata at-taubah dalam Al-Qur'an yang muncul dalam bentuk fi‘il mādhī, mengandung arti bahwa pengampunan yang ditunjuk tidak selalu berkonotasi kepada masa lalu. Bahkan sebaliknya, menunjuk waktu yang akan datang, sebab fi‘il mādhī, tersebut muncul dalam kalimat bersyarat, atau tegasnya fi‘il mādhī, didahului oleh huruf syarat, maka pengampunan yang ditunjuk dapat dikatakan belum pasti terjadi. Dengan ungkapan lain, bahwa Allah berjanji memberi pengampunan, jika orang berdosa mau bertobat. Terjadinya pengampunan tersebut, jadinya tergantung pada terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat yang telah ditentukan.
Pengampunan Allah yang diungkapkan dengan kata at-taubah yang didahului oleh huruf syarth, antara lain dosa berzina, sebagaimana terdapat dalam Surah an-Nisā′/4: 16 sebagai berikut:
4_16Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Jika keduanya tobat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (an-Nisā′/4: 16)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah akan memberi pengampunan kepada orang yang berzina jika keduanya bertobat.
Pengampunan Allah dengan menggunakan kata at-taubah ada juga yang didahului oleh huruf syarth lain selain "إن" seperti disebutkan dalam Surah al-Mā′idah/5: 38, sebagai berikut:
5_38Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Maha-bijaksana. (al-Mā′idah/5: 38)
Pengampunan Allah dengan menggunakan, kata at-taubah, dalam bentuk fi‘il mādhī, yang didahului oleh huruf syarth,pada umumnya mengacu kepada pengampunan yang belum pasti terjadi, maka pengampunan-Nya dengan menggunakan at-taubah, dalam bentuk fi‘il mādhī, tanpa didahului huruf syarth, pada umumnya mengacu kepada pengampunan yang telah terjadi. Oleh karena itu, bila ditinjau dari kaidah Bahasa Arab6 bahwa fi‘il mādhī, adalah kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang telah terjadi, maka at-taubah dalam bentuk fi‘il mādhī tidak banyak yang benar-benar merujuk kepada peristiwa yang telah terjadi. Justru yang terbanyak di antaranya merujuk kepada yang belum pasti terjadi, jika pihak manusia yang berdosa tidak dapat memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Dosa terhadap Allah, tetapi mempunyai kaitan dengan sesama manusia, adalah bentuk pengampunan lain yang dapat diberikan Allah, dengan menggunakan kata at-taubah, dalam bentuk fi‘il mādhī. Dalam Surah al-Mā'idah/5: 39, misalnya, ditegaskan bahwa Allah mengampuni seseorang, jika ia bertobat dari pencurian. Sedangkan dalam Surah an-Nūr/24: 5 ditegaskan bahwa Allah mengampuni seseorang, jika bertobat dari menuduh zina wanita baik-baik. Dua dosa tersebut jelas mempunyai efek pada sesama manusia, karena mencuri adalah mengambil harta orang lain, dan menuduh zina wanita suci adalah menyakiti hati wanita yang dituduh. Namun demikian, peraturan yang dilanggar oleh manusia, adalah peraturan Allah.
Kata at-taubah muncul dalam bentuk fi‘il mudhārī‘ sebanyak dua puluh kali. Hal ini menunjukkan bahwa kata at-taubah, lebih banyak muncul dalam bentuk fi‘il mādhī. yakni sebanyak tiga puluh empat kali. Kata at-taubah yang muncul dalam bentuk fi‘il mudhārī’ ini, ada yang mengisyaratkan bahwa Allah memberi pengampunan kepada orang-orang yang menyembunyikan ayat-ayat-Nya, sebagaimana disebut dalam Surah al-Baqarah/2: 159 dan 160:
2_159-160Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat,kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelas-kan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2: 159-160)
Dalam kaitannya dengan ayat-ayat yang mengandung kata at-taubah dan mengacu kepada pengampunan Allah atas dosa manusia, dalam fi‘il mudhārī‘ dan atau fi‘il mādhī dapat diketahui bahwa Allah berkali-kali menegaskan sifat Maha Pengampunan-Nya dan Maha Penerima tobat.
Sehubungan dengan pemakaian kata at-taubah dalam bentuk kata kerja mudhāri‘, perlu dicatat bahwa dalam penerapannya, kata kerja ini tidak selalu menunjuk peristiwa yang sedang atau akan terjadi. Terkadang suatu peristiwa yang telah terjadi diungkap kembali dengan kata kerja mudhāri‘. Dalam hal ini terdapat suatu kaidah yang mengatakan bahwa ungkapan seperti itu untuk menggambarkan salah satu dari dua hal: keindahan atau kejelekan peristiwa itu,7 misalnya ungkapan kata yatūba dalam Surah at-Taubah/9: 102 sebagai berikut:
9_102Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (at-Taubah/9: 102)
Jadi kata yatūba dalam ayat ini, agaknya menggambarkan keindahan tindakan Allah, yaitu dapat memberi pengampunan kepada manusia yang telah mengakui dosa-dosa mereka.
Selain mengungkap pengampunan Allah atas dosa-dosa manusia, istilah at-taubah dalam bentuk fi‘il mudhāri‘, juga menerangkan bahwa tobat hendaknya dilakukan segera, setelah manusia berbuat dosa (Surah an-Nisā'/4: 17). Kelihatannya anjuran ini bertujuan agar manusia tidak berlarut-larut dalam berbuat dosa, dan agar setelah bertobat dapat berbuat baik lagi. Dalam kaitan ini, Al-Qur'an menegaskan bahwa tobat, sebaiknya tidak dilakukan mendekati saat meninggal dunia, dan bahkan, tobat seperti ini tidak diterima (Surah an-Nisā'/4: 18).
Kata at-taubah, dalam bentuk fi‘il amr hanya muncul sebanyak tujuh kali dalam Al-Qur'an, dan semuanya menunjukkan perintah Allah kepada manusia, agar mereka bertobat kepada-Nya.
Kata at-taubah dalam bentuk mashdar muncul dalam Al-Qur'an sebanyak delapan kali. Satu kali dengan kata at-taubun dan tujuh kali dengan kata at-taubah (keduanya merupakan mashdar dari kata kerja tāba). Dari sekian banyak pengulangan ini, sebagian besar berisi penegasan tentang kemurahan Allah memberikan pengampunan kepada manusia. Namun di balik itu, muncul pula pernyataan lain bahwa Allah pun sangat pedih siksaan-Nya terhadap orang-orang yang berdosa (Surah Ghāfir/ 40: 3). Pengampunan Allah yang muncul dengan menggunakan bentuk mashdar, ada yang menginformasikan bahwa Allah hanya memberi pengampunan kepada orang-orang yang berbuat dosa, karena jahālah. Akan tetapi kata jahālah itu sendiri tidak hanya memiliki satu arti. Dalam Al-Qur'an, jahālah diartikan dengan tiga pengertian, yaitu orang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat, kecuali jika dipikirkan lebih dahulu, orang yang durhaka kepada Allah, baik dengan sengaja atau tidak, dan orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.8 Sedangkan ar-Rāghib al-Ashfahānī, mengatakan bahwa kata al-jahl, antara lain berarti, “Tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu”9 dan inilah arti asal dari kata al-jahl.
Kata at-taubah, dalam bentuk ash-Shīgah al-mubālaghah, sesuai dengan artinya,10 muncul dalam rangka menginformasikan sifat Allah. Sifat Allah dimaksud adalah Maha Penerima tobat atau Maha Pengampun. Disebut dengan at-tawwāb. Sedangkan kata at-taubah dalam bentuk ismul-fā‘il, tidak satu pun yang menginformasikan tentang pengampunan Allah kepada manusia. Kata at-taubah dalam bentuk ismul-fā‘il hanya menginformasikan bahwa orang-orang yang bertobat akan mendapat sesuatu yang menggembirakan.
Istilah-istilah at-taubah dengan segala bentuk kata jadian-nya yang telah dikemukakan di atas dapat dijadikan dasar dalam mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan pengampunan Allah yang disebutkan dalam Al-Qur′an.
B. Dasar-dasar Perintah Bertobat
Adapun ayat-ayat Al-Qur′an yang menjadi dasar perintah bertobat antara lain:
1. Surah at-Tahrīm/66: 8:
66_8Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (at-Tahrīm/66: 8)
Menurut al-Qurthubī, ayat tersebut merupakan perintah bertobat. Wajib atas setiap orang mukmin bertobat dalam segala hal dan segala zaman.11Sedangkan menurut M. Quraish Shihab, ayat di atas merupakan lanjutan dari ayat yang lalu yang mengandung nasihat dan tuntunan kepada kaum beriman, apalagi memang setiap orang berpotensi melakukan kesalahan dan kekeliruan. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, sehingga mencakup masa lalu dengan menyesali dosa, masa kini dengan menghentikannva dan masa datang dengan tekad tidak melaku-kannya dan tidak pula ingin melakukannya. Jika tobat kamu seperti itu pasti—berdasar kemurahan Allah dan janji-Nya—Tuhan kamu menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan memasuk-kan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Ganjaran itu akan kamu terima pada hari ketika Allah tidak menghina Nabi dan tidak juga menghina orang-orang yang beriman yang hidup atau melaksanakan tuntunan agama bersamanya baik pada masa kini saat Nabi hidup maupun yang akan hidup pada masa datang; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan demikian juga di arah kanan-kanan mereka. Dalam keadaan demikian, sambil mendekatkan diri kepada Allah mereka senantiasa berkata: Tuhan kami yang selama ini membimbing dan berbuat baik kepada kami, sempurnakanlah yakni lanjutkan bagi kami cahaya yang telah Engkau anugerahkan kepada kami sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan menuju ke surga dan ampunilah dosa-dosa kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”12Kata ( نَصُوْحًا ) nashūhan berarti yang bercirikan  ( نُصْحُ ) nush. Dari kata ini lahir kata nasihat yaitu upaya untuk melakukan sesuatu—baik perbuatan maupun ucapan—yang membawa manfaat untuk yang dinasihati. Kata ini juga bermakna tulus/ikhlas. Tobat disifati dengan kata tersebut mengilustrasikan tobat itu sebagai sesuatu yang secara ikhlas menasihati seseorang agar ia tidak mengulangi kesalahannya. Karena tobat yang nashūh adalah yang pelakunya tidak terbetik lagi dalam benaknya keinginan untuk mengulangi perbuatan-nya, karena setiap saat ia diingatkan dan dinasihati oleh tobatnya itu.13Menurut al-Qurthubī, tobat yang nashūh adalah yang memenuhi empat syarat, Istighfar dengan lisan, meninggalkan dosa dengan anggota badan, memantapkan niat untuk tidak mengulanginya, dan meninggalkan semua teman buruk.14 Ada lagi yang berkata, tobat yang nashūh adalah yang menjadikan anda menghadap Allah dengan wajah tanpa membelakangi-Nya sebagaimana ketika berbuat dosa, membelakangi-Nya tanpa sedikit pun menghadapkan wajah kepada-Nya.15Ibnu Katsīr mengatakan, bahwa, Taubatan Nashūhan adalah tobat yang benar dan konsisten, yang akan menghapus semua kesalahan yang telah lalu dan menahan diri seseorang dari perbuatan-perbuatan yang rendah dan hina.16Berkenaan dengan taubah nashūh yaitu tobat yang benar dan konsisten itu, Ibnu Abī Hātim meriwayatkan, bahwa Zir bin Hubaisy mengatakan, saya berkata kepada Ubay bin Ka‘ab17
taubat01Apakah tobat nashuhah itu? Dia menjawab, saya pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau mengatakan, Menyesal atas perbuatan dosa yang telah kamu lakukan, kemudian kamu memohon ampunan kepada Allah saat itu juga, kemudian kamu tidak mengulangi lagi perbuatan itu selama-lamanya. (Riwayat al-Baihaqī dari Ubay bin Ka‘ab)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa Allah memerintahkan agar orang-orang beriman bertobat kepada Allah dengan tobat an-nashūh. Jika mereka benar-benar bertobat dan konsisten dalam tobatnya itu, Allah akan menghapus dosa-dosa mereka dan memasukkannya ke dalam surga.
2. Surah an-Nūr/24: 31
24_31a
24_31bDan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Pada ayat ini Allah menyuruh Rasul-Nya agar mengingatkan perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka tidak memandang hal-hal yang tidak halal bagi mereka, seperti aurat laki-laki atau pun perempuan, terutama antara pusat dan lutut bagi laki-laki dan seluruh tubuh bagi perempuan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Begitu pula mereka diperintahkan untuk memelihara kemaluannya (farji) agar tidak jatuh ke lembah perzinaan, atau terlihat oleh orang lain.18Sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
taubat02Dari Ummu Salamah, bahwa ketika dia dan Maimūnah berada di samping Rasulullah datanglah Ibnu Ummi Maktūm dan masuk ke dalam rumah Rasulullah (pada waktu itu telah ada perintah hijab). Rasulullah memerintahkan kepada Ummu Salamah dan Maimunah untuk berlindung (berhijab) dari Ibnu Ummi Maktūm, Ummu Salamah berkata, wahai Rasulullah bukankah dia itu buta tidak melihat dan mengenal kami?, Rasulullah menjawab, apakah kalian berdua buta bukankah kamu berdua melihat dia? (Riwayat Abū Dāwud dari Ummu Salamah)19
Begitu pula mereka para perempuan diharuskan untuk menutup kepala dan dadanya dengan kerudung, agar tidak terlihat rambut dan leher serta dadanya. Sebab kebiasaan perempuan, mereka menutup kepalanya namun kerudungnya diuntaikan ke belakang sehingga nampak leher dan sebagian dadanya, sebagaimana yang dilakukan oleh perempuan-perempuan jahiliah. Di samping itu, perempuan dilarang untuk menampakkan perhiasannya kepada orang lain, kecuali yang tidak dapat disembunyikan seperti cincin, celak, pacar/inai, dan sebagainya. Lain halnya dengan gelang tangan, gelang kaki, kalung, mahkota, selempang, anting-anting, kesemuanya itu dilarang untuk ditampakkan, karena terdapat pada anggota tubuh yang termasuk aurat perempuan, sebab benda-benda tersebut terdapat pada lengan, betis, leher, kepala, dan telinga yang tidak boleh dilihat oleh orang lain.20Perhiasan tersebut hanya boleh dilihat oleh suaminya, bahkan suami boleh saja melihat seluruh anggota tubuh istrinya, ayahnya, ayah suami (mertua), putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara-saudaranya, putra-putra saudara laki-lakinya, putra-putra saudara perempuannya, karena dekatnya pergaulan di antara mereka, karena jarang terjadi hal-hal yang tidak senonoh dengan mereka. Begitu pula perhiasan boleh dilihat oleh sesama perempuan muslimah, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau pelayan/pembantu laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, baik karena ia sudah lanjut usia, impoten, atau pun karena terpotong alat kelaminnya. Perhiasan juga boleh ditampakkan dan dilihat oleh anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan, sehingga tidak akan timbul nafsu birahi karena mereka belum memiliki syahwat kepada perempuan.
Di samping para perempuan dilarang untuk menampakkan perhiasan, mereka juga dilarang untuk menghentakkan kakinya, dengan maksud memperlihatkan dan memperdengarkan perhiasan yang dipakainya yang semestinya harus disembunyikan. Perempuan-perempuan itu sering dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam gelang kaki mereka, supaya berbunyi ketika ia berjalan, meskipun dengan perlahan-lahan, guna menarik perhatian orang. Sebab sebagian manusia kadang-kadang lebih tertarik dengan bunyi yang khas daripada bendanya sendiri, sedangkan benda tersebut berada pada betis perempuan.
Pada akhir ayat ini, Allah menganjurkan agar manusia bertobat, sadar, dan kembali taat serta patuh mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, seperti membatasi pandangan, memelihara kemaluan/kelamin, tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin dan memberi salam, bila semua itu mereka lakukan, pasti akan bahagia baik di dunia maupun di akhirat.21
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa ayat 31 Surah an-Nūr tersebut memerintahkan kepada wanita yang beriman untuk menutup auratnya dengan khimār/jilbab, agar tidak terlihat auratnya oleh laki-laki, kecuali orang-orang yang ditentukan oleh Allah dalam ayat tersebut di atas.
Surah an-Nūr ayat 31 di atas, diakhiri dengan firman Allah:
24_31cDan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (an-Nūr/24: 31)
Yakni perintah bertobat. Ini menunjukkan bahwa perintah menutup aurat dengan memakai khimār/jilbab hukumnya wajib. Hal ini menunjukkan pula, bahwa perbuatan laki-laki melihat aurat wanita hukumnya haram. Ini berarti, melihat aurat wanita itu termasuk dosa besar. Demikian pula wanita yang tidak menutup auratnya, juga termasuk melakukan dosa besar.22Semua itu dapat diketahui dari akhir ayat yang memerintahkan untuk bertobat. Tidak ada perintah bertobat disebabkan melakukan dosa kecil, karena dosa kecil akan terhapus dengan sendirinya jika diiringi dengan perbuatan yang baik. Dengan demikian, perintah bertobat pada ayat tersebut adalah untuk menghapuskan dosa besar, yaitu tidak menutup aurat yang wajib ditutup sesuai dengan perintah Allah.
Allah subhānahū wa ta‘ālā memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertobat dari perbuatan dosa, agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat.
11_90Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih. (Hūd/11: 90)
Menurut Tafsir Departemen Agama, ayat tersebut menerangkan bahwa Nabi Syu‘aib menyuruh kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah yang Maha Esa dengan beriman kepada-Nya dan tidak mempersekutukanya dengan menyembah berhala-berhala dan patung-patung, tidak mengurangi takaran dan timbangan serta mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal. Kemudian menyuruh mereka agar bertobat, yakni kembali ke jalan yang benar dengan menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Pengasih terhadap hambanya yang sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar dengan memberikan ampunan dan membebaskannya dari azab dunia dan akhirat.23
Ayat-ayat yang memerintahkan untuk bertobat (dalam bentuk fi‘il amr) selain yang disebutkan di atas, adalah seperti pada Surah Hūd/11 ayat 3, 52 dan 61.
Semua ayat yang memerintahkan untuk bertobat dengan tobat yang benar dan konsisten menyebutkan bahwa kalau orang-orang bertobat, Allah akan menghapuskan dosanya. Di samping itu Allah menjanjikan akan memasukkannya ke dalam surga, membebaskannya dari azab dunia dan akhirat, memberikannya kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan lain-lain.
Orang-orang yang bertobat, akan menerima akibat-akibatnya. Akibat-akibat dari tobat itu, menurut penjelasan Al-Qur'an, ada yang diterima di dunia, dan ada pula yang akan diterima di akhirat. Namun yang lebih dominan, Al-Qur'an menggunakan kata-kata yang menggambarkan arti pengampunan Allah, seperti: تَابَ ، عَفَا ، غَفَرَ dan كَفَرَ untuk menunjuk akibat-akibat positif atau konsekuensi yang bakal diperuntukkan bagi orang-orang yang bertobat khususnya, dan orang-orang bertakwa pada umumnya.
Kata-kata yang digunakan oleh Al-Qur'an ini umumnya muncul dalam satu ayat menyertai pernyataan tobat manusia.
Atau tegasnya, kata-kata ini menjadi jawaban Allah atas tobat manusia. Dalam Al-Qur'an, misalnya Surah al-Baqarah/2: 27, muncul pernyataan pada awal ayat bahwa Nabi Adam bertobat dari dosanya, karena memakan buah yang dilarang untuk dimakan dalam surga. Tobat Nabi Adam tersebut dijawab oleh Allah dengan memberikan pengampunan-Nya, dengan meng-gunakan kata فَتَابَ عَلَيْهِ (maka Allah mengampuni dosa Nabi Adam). Lebih dari itu, Allah menekankan lagi pada penutup ayat bahwa Dia memiliki sifat Maha Penerima tobat dan Maha Pengampun ( هُوَالتَّوَّبُ الرَّحِيْمُ ).
Pada beberapa ayat lain, kata غَفُوْرٌ muncul bersamaan dengan kata yang bervariasi, walaupun tidak seluruhnya muncul dalam kaitannya dengan jawaban Allah atas tobat manusia. Terkadang kata غَفَرَ muncul bersamaan dengan kata رَحِيْمٌ (Maha Penyayang). Ungkapan ini dalam Al-Qur′an disebut sebanyak 83 kali. Selain itu, kata غَفُوْرٌ ini muncul bersamaan pula dengan kata حَلِيْمٌ dan disebut sebanyak 5 kali, muncul bersamaan dengan kata شَكُوْرٌ (Maha Mensyukuri) sebanyak 3 kali, muncul bersamaan dengan kata عَفُوٌّ, (Maha Pemaaf) sebanyak 4 kali, muncul bersamaan dengan kata   عَزِيْزٌ (Maha Perkasa) sebanyak 4 kali, dan muncul bersamaan dengan kata  وَدُوْدٌ (Maha Pengasih) sebanyak 1 kali.
Kata-kata yang digunakan oleh Al-Qur'an untuk menyatakan sifat Allah di atas, walaupun bervariasi, merujuk kepada satu arah, yaitu pernyataan bahwa Allah mempunyai rasa kasih dan sayang kepada manusia, di samping memiliki sifat Maha Pengampun. Kata yang menyertai kata غَفُوْرٌ menunjukkan arti bahwa Allah selalu menerima tobat manusia atau mengampuni dosa manusia.24Sebenarnya, tobat bukan hanya sebagai penghapus dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, sekalipun tidak berdosa, manusia tetap diperintahkan untuk bertobat. Ini menunjukkan bahwa bertobat adalah wajib bagi setiap mukmin. Karena itu Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam meskipun sudah terpelihara dari segala dosa, beliau tetap bertobat dan meminta ampun (istighfar) kepada Allah dan bertobat tidak kurang dari 70 kali sehari semalam.
C. Syarat-syarat Bertobat
Menurut Imam al-Ghazālī ada empat syarat bertobat yakni:
1. Berusaha untuk tidak melakukan dosa lagi. Ia mengikat hatinya kuat-kuat dan menanggalkan keinginannya, bahwa ia tidak akan kembali kepada dosa tersebut sama sekali. Adapun jika ia meninggalkan dosa itu, tapi di dalam hatinya masih ada sedikit keinginan, untuk mengerjakannya lagi suatu hari, atau ia tidak berkeinginan keras untuk meninggalkannya, maka berarti ia tidak bertobat dari dosa tersebut.
2. Ia bertobat dari dosa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Sebab, jika ia belum pernah melakukan dosa tersebut, maka berarti ia menjaga diri darinya, bukan bertobat. Sebagai contoh, adalah benar kalau dikatakan bahwa Nabi senantiasa menjaga diri dari tindak kekufuran. Sebaliknya, tidak benar jika dikatakan bahwa beliau bertobat dari kekufuran, sebab beliau belum pernah melakukan kekufuran dalam keadaan apa pun. Sedangkan ‘Umar bin al-Khaththāb dapat disebut orang yang bertobat dari kekufuran, karena ia pernah mengalami hidup dalam kekufuran.
3. Dosa yang disesali oleh seorang hamba sekarang adalah memiliki kedudukan dan derajat yang sama dengan dosa yang pernah ia kerjakan di masa lalu dan ingin ia tinggalkan. misalnya, ada seorang tua bangka yang dulunya pernah berbuat zina dan mencuri, ia pasti bisa bertobat di saat kuat dulu, jika ia memang menginginkannya. Namun sekarang, di saat sudah tua renta, ia sudah tidak punya pilihan lagi untuk melakukan perbuatan maksiat tersebut atau bertobat darinya, karena memang ia sudah tidak sanggup melakukan kedua perbuatan itu. Pintu tobat memang belum tertutup baginya selagi hidup, hanya saja tobat baginya bukan lagi dengan meninggalkan zina dan mencuri yang memang sudah tidak bisa dilakukannya lagi, tapi dengan meninggalkan dosa yang sama kedudukan dan derajatnya dengan zina dan mencuri, seperti berdusta, menuduh orang lain berzina, melakukan ghibah dan menebar fitnah. Semua itu adalah tindak kemaksiatan, sekalipun bobotnya berbeda-beda. Orang tua itu masih bisa untuk memilih tidak melakukan perbuatan maksiat itu, sebagai tobat kepada-Nya dari perbuatan zina dan mencuri di masa mudanya dulu.
4. Bahwa tobat itu dilakukan semata-mata untuk mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dan menghindari kemurkaan serta siksaan-Nya yang pedih. Murni demikian, bukan karena keinginan duniawi dan rasa takut kepada manusia. Juga bukan karena mencari pujian orang lain, mencari nama, kedudukan, atau karena kelelahan nafsunya. Bila keempat syarat itu telah diamalkan, maka tobatnya benar.25Dari empat syarat tobat yang telah dikemukakan oleh Imam al-Ghazālī di atas, maka menurutnya tobat itu ada tiga macam:
  1. Taubah, yaitu kembali dari kemaksiatan pada ketaatan.
  2. Firār, yaitu lari dari kemaksiatan pada ketaatan dari yang baik kepada yang lebih baik lagi.
  3. Inābah, yaitu bertobat berulang kali sekalipun tidak berdosa.26
Tobat baru dianggap sah dan dapat menghapus dosa apabila telah mencukupi syarat-syarat yang ditentukan. Oleh karena itu, Imam al-Qusyairī menerangkan bahwa para ahli tauhid dari golongan “Ahlus-Sunah wal Jama‘ah mengatakan bahwa syarat tobat yang sah itu ada tiga:
1. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah dilakukannya;
2. Meninggalkan perbuatan maksiat itu;
3. Bercita-cita tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu.
Syarat-syarat ini apabila menyangkut dosa terhadap Allah subhānahū wa ta‘ālā. Sedangkan dosa terhadap sesama manusia ditambah lagi dengan syarat yang keempat. Kalau dosa itu menyangkut harta, hendaklah harta itu dikembalikan kepada pemiliknya dan jika tidak ada pemiliknya, dikembalikan kepada ahli warisnya. Kalau dosa itu menyangkut kehormatan, hendaklah meminta maaf. Demikian juga jika menyangkut ajaran yang salah yang pernah diberikan kepada orang lain.
Ulama yang lain menjelaskan bahwa tobat itu terbagi atas tiga macam:
  1. Taubah, yaitu kembali dari kejahatan pada ketaatan karena takut akan murka dan siksa Allah (Surah an-Nūr/ 24: 31);
  2. Inābah, yaitu kembali dari yang baik kepada yang lebih baik karena mengharap pahala (Surah Qāf/50: 32-33); dan
  3. Aubah, yaitu orang-orang yang bertobat bukan karena takut siksaan dan tidak pula karena mengharap tambahan pahala, tetapi karena mengikuti perintah Allah subhānahū wa ta‘ālā (Surah Shād/38: 30).
Dzunnūn al-Mishrī, seorang tokoh sufi, membagi tobat menjadi dua macam, yaitu tobat orang awam (yakni bertobat dari dosa) dan tobat orang khawas (mukmin yang beramal semata-mata karena Allah subhānahū wa ta‘ālā) dari kelalaian.27Tobat dalam pandangan para sufi tersebut pada umumnya adalah tobat yang sebenar-benarnya tobat, yang tidak akan membawa pada dosa lagi. Terkadang tobat itu tidak dapat dicapai dengan sekali saja. Ada dikisahkan bahwa sampai tujuh puluh kali tobat seorang sufi baru mencapai tingkat tobat yang sebenar-benarnya. Tobat yang sebenarnya dalam paham sufi ialah lupa pada segala hal, kecuali Allah. Orang yang bertobat, menurut ‘Alī bin ‘Utsmān al-Jullabī al-Hujwirī (tokoh sufi), adalah orang yang cinta kepada Allah. Orang yang cinta kepada Allah senantiasa mengadakan kontemplasi tentang Allah.28Hal yang erat hubungannya dengan tobat adalah istighfar, yaitu menundukan jiwa, hati dan pikiran kepada Allah subhānahū wa ta‘ālā seraya memohon ampun dari segala dosa. Istighfar bukan hanya mengucapkan astaghfirullāh, tetapi harus disertai dengan penundukan jiwa dengan sungguh-sungguh dan berharap akan memperoleh ampunan. Ayat-ayat Al-Qur′an menyatakan bahwa Allah akan memberikan kenikmatan bagi orang-orang yang beristigfar atau memohon ampunan Allah (misalnya, Surah al-Baqarah/2: 286, Surah Āli ‘Imrān/3: 16 dan 193, Surah at-Tahrīm/66: 8, Surah al-Hasyr/59: 10, dan Surah Nūh/71: 28.
Orang yang akan bertobat ada prasyarat tobat yang hendak dilaksanakannya. Menurut Imam al-Gazālī, ada tiga prasyarat tobat, yang harus dipenuhi oleh orang yang akan bertobat, yaitu:
  1. Menyadari betapa buruknya dampak dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap hatinya.
  2. Ingat atas kerasnya siksa Allah, kepedihan yang bakal ia alami akibat murka dan kemarahan-Nya yang ia tidak akan sanggup untuk menghadapinya.
  3. Seorang hamba mesti menyadari besarnya kelemahan dan kurangnya tenaga untuk bisa menahan diri dari godaan dosa. Sebab mana mungkin orang yang tidak tahan panasnya matahari dan tamparan tangan polisi akan sanggup menahan panasnya api neraka, pukulan pentungan berduri dari Malaikat Zabaniah, gigitan ular yang besarnya seperti leher onta dan kalajengking sebesar keledai yang diciptakan dari api di Neraka Jahanam? Semoga Allah melindungi kita dari kesemuanya itu. Semoga Allah melindungi kita dari murka serta azab-Nya.
Apabila engkau sering mengingat hal-hal tersebut dan membiasakan diri dengan mengingatnya di tengah malam dan di siang hari, maka ia akan membawamu kepada tobat an-nashūha dari dosa-dosa yang pernah engkau lakukan. Allah lah yang memberikan taufik dengan anugerah-Nya.29
Adapun dosa yang wajib dimohonkan keampunannya kepada Allah dan bertobat darinya menurut Imam al-Gazālī terdiri dari tiga macam, yaitu:
  1. Meninggalkan segala apa yang diwajibkan oleh Allah terhadap dirimu, seperti shalat, puasa, zakat atau membayar kafarat (tebusan, denda) dan lainnya. Maka hendaknya engkau membayar (meng-qadhā') apa yang engkau tinggalkan itu sebisa mungkin, sesuai kemampuanmu.
  2. Dosa antara engkau dengan Allah, seperti dosa meminum minuman keras, meniup seruling-seruling (terlena dalam belaian syahwat), memakan riba dan yang semacamnya. untuk dosa seperti ini, hendaknya engkau menyesali perbuatanmu itu dan menetapkan hatimu untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sama selama-lamanya.
  3. Dosa antara engkau dengan sesama hamba Allah. Ini lebih rumit dan lebih sulit. Ada beberapa tingkatan dosa ini. Terkadang terjadi pada harta, pada jiwa, harga diri, kehormatan, dan agama.30
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa Allah subhānahū wa ta‘ālā tidak mengampuni dosa seseorang, sebelum ia melaksanakan prasyarat dan syarat-syarat tobat dari dosa-dosa yang telah dilakukannya, baik dosa kepada Allah, maupun dosa sesama manusia.

D. Tanda-tanda Diterimanya Tobat dan Penghalangnya
Jika seseorang telah melakukan tobat yang benar dan konsisten sesuai dengan syarat-syarat tobat yang telah disebut-kan pada uraian sebelumnya maka pasti tobatnya itu diterima oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā. Jika tidak mengikuti syarat-syarat tobat tersebut, tobat terhalang untuk diterima.
Di antara tanda-tanda diterimanya tobat seseorang orang yang bertobat itu senantiasa melaksanakan segala apa yang diwajibkan Allah subhānahū wa ta‘ālā dengan mengerjakannya dan tidak pernah meninggalkannya lagi, seperti salat, zakat, puasa dan lain-lain, karena ia telah menyadari bahwa meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah akan mendatangkan dosa, ia telah bertekad tidak akan meninggalkannya dan mengulangi kesalahannya lagi dan telah menyesali perbuatan-perbuatannya yang meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan Allah itu. Demikian pula halnya dalam perbuatan dosa karena melaksanakan larangan-larangan Allah, seperti meminum minuman keras, berzina, memakan riba, mencuri, membunuh dan lain-lain, karena ia telah bertobat dengan tobat yang benar dan konsisten sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan ( تَوْبَةً نَصُوْحًا ). Sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya.
Sebagai perbuatan baik, bahkan sebagai cara untuk dapat melepaskan diri dari dosa, maka tobat akan menimbulkan akibat yang menguntungkan dan mempunyai pengaruh positif. Akibat yang menguntungkan itu tidak saja akan dirasakan oleh pelaku tobat, melainkan juga berdampak positif bagi orang lain dan bahkan bagi masyarakat. Allah memberi pengampunan kepada seseorang yang sadar meninggalkan kemaksiatan dan kembali taat kepada Allah. Kesadaran untuk meninggalkan maksiat dapat terwujud dalam bentuk permohonan ampun dan dapat pula tanpa disertai permohonan ampun, tetapi secara langsung seseorang mengerjakan amal salih, disamping itu dapat dipahami pula, bahwa ketakwaan, dalam arti menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah, selain sebagai satu kewajiban, juga memiliki nilai lebih, yaitu dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan. Hikmah dari tobat tidak saja akan dirasakan berdampak positif bagi orang lain, bahkan bagi masyarakat dan lingkungannya akibat positif yang ditimbulkan oleh tindakan tobat, bagi masyarakat adalah terbebasnya mereka dari efek-efek tobat pelaku tadi, sebagaimana yang terjadi semasa mereka bergelimang dalam dosa. Ketika pelaku tobat bergelimang dalam dosa, banyak akibat buruk yang ditimbulkannya, terutama dosa yang berkaitan dengan sesama manusia. Akibat dosa yang berkaitan dengan sesama manusia, misalnya, pembunuhan, pencurian, menuduh zina wanita suci, dan sebagainya, akan hilang jika pelaku-pelaku dosa telah bertobat dengan tobat yang benar dan konsisten. Akibat selanjutnya, jika mereka telah bertobat, adalah aman dan tenteramnya hidup bermasyarakat, aman terhadap nyawa, terhadap kehormatan, harga diri, dan terhadap harta benda. Orang bertobat dan masyarakat akan merasa bahagia.
Dari uraian di atas dan pembahasan sebelumnya, -jelaslah bahwa menurut Al-Qur'an, ada hubungan antara tindakan bertobat dengan kebaikan, ketenteraman, keamanan, dan kebahagiaan yang diperoleh dan dirasakan oleh manusia. Sebagaimana ada hubungan antara perilaku buruk dengan bencana yang menimpa manusia. Tetapi karena masalah ini termasuk hal-hal yang bersifat normatif, bahkan imani, maka hubungan dimaksud tentu saja amat sulit, jika tidak mungkin sama sekali, untuk dibuktikan secara ilmiah. Hubungan tersebut hanya dapat diketahui, atau tepatnya dirasakan melalui kesadaran dan keimanan batin yang dalam.
Jadi di antara tanda-tanda diterimanya tobat seseorang, adalah, bahwa orang yang bertobat itu menjadi orang yang saleh dan bertakwa jika dahulu sebelum bertobat ia adalah orang Thālih, yang banyak berbuat maksiat, atau ia bertambah saleh dan takwa jika sebelum bertobat, ia adalah memang orang yang saleh dan takwa. Sebaliknya yang dahulu terganggu atas kejahatan yang dilakukannya, sudah merasa aman dan tenteram dari kejahatan-kejahatan yang ia lakukan.
Hal demikian itu terjadi jika orang yang bertobat itu, bertobat dengan tobat yang benar dan konsisten.31Sedangkan orang yang bertobat tidak dengan tobat yang benar dan konsisten, maka tobatnya terhalang untuk diterima oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā, yaitu tobatnya tidak diterima. Misalnya, orang yang bertobat itu tidak menyesali perbuatan maksiat yang telah dikerjakannya, tetapi ia mengulangi lagi perbuatan maksiatnya itu. Ini jika perbuatan maksiat yang dikerjakannya itu terkait dengan dosa kepada Allah. Jika perbuatan maksiat yang dikerjakan itu terkait dengan hak manusia, misalnya setelah bertobat, ia tetap menyakiti orang lain, atau mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan oleh agama dan tidak meminta agar dihalalkan oleh pemiliknya, atau tidak mengembalikannya kepadanya, maka tobatnya terhalang untuk diterima oleh Allah subhānahū wa ta‘ālā, yakni tobatnya tidak diterima. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Catatan:
  1. Lihat Majma‘ul-Lugah al-‘Arabiyah, al-Mu‘jam al-Wasī•, (Mesir: Dārul M‘ārif, 1392 H/1972 M), cet III, jilid I, h. 90.
  2. M. Quraish Shihab (ed.), Ensiklopedia Al-Qur′an, Kajian Kosa Kata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), jilid III, h. 922.
  3. M. Quraish Shihab, (ed.), dalam Ensiklopedia Al-Qur‟an, h. 992, 993.
  4. Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoek, 1994), jilid V, cet III, h. 111.
  5. Imam al-Gazālī, Minhajul ‘Ābidīn, (Jakarta: Khatulistiwa Press, 1429 H/2008 M), cet. I, h. 37.
  6. Mushthafā al-Ghalāyīnī, Jāmi‘ud-Durūs al-‘Arabiyyah, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1973), cet. XII, jilid I, h. 30.
  7. al-Hammām Khālī bin ‘Abdullāh al-Azharī, Syarh Tashrīh wat-Taudhīh ‘alā Alfiyyah ibn Mālik al-Qāhirah, (Isā al-Bābī al-Halabi, tt.), jilid II, h. 63.
  8. Lihat Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur′an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Bumi Restu, 1977), h. 119.
  9. Arti lain dari kata al-jahl adalah meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya dan mengerjakan sesuatu yang tidak semestinya boleh dilakukan. Lihat ar-Rāgib al-Ashfahānī, Mu‘jam Mufradāt Alfāzhil-Qur′ān, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th), h. 100.
  10. shīghah mubālaghah atau dalam buku-buku Bahasa Arab disebut mubālaghah ismul-fā‘il, pada dasarnya adalah bentuk yang menunjuk ismul-fā‘il (kata benda yang mengacu kepada arti pelaku). Hanya saja shīghah mubalāghah menunjukkan penggandaan sifat dari pelaku yang dimaksud. Lihat ‘Alī al-Jārim, an-Nahwu al-Wādhih, (Beirut: Dārul-Fikr, tt), jilid II, h. 25.
  11. al-Qurthubī, al-Jāmi‘ li Ahkāmil-Qur′ān, (al-Qāhirah: Maktabah al-Mujallad al-‘Arabī, t.th), jilid XVIII, h. 197.
  12. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Jilid XIV, h. 328.
  13. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, h. 328, 329.
  14. al-Qurthubī, al-Jami‘ li Ahkāmil-Qur′ān, h. 198.
  15. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, h. 329.
  16. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur′ān al-‘Azhīm, (al-Qāhirah: Maktabah Taufīqiyah, t.th), Jilid IV, h. 391.
  17. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur′ān al-‘Azhīm, h. 392.
  18. Depag RI, Al-Qur′an dan Terjemahnya, (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat, 2006), jilid VI, h. 596.
  19. Abū Dāwud, Sunan Abū Dāwud, bab fi Qaulihi azza wa jalla (Qul lilmu′mināt).
  20. Depag RI, Al-Qur′an dan Terjemahnya, h. 596.
  21. Depag RI, Al-Qur′an dan Terjemahnya, h. 596, 597.
  22. Ibrahim Hosen, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Yayasan Institut Ilmu Al-Qur′an, 1997), h. 82.
  23. Depag RI, Al-Qur′an dan Terjemahnya, Jilid IV, h. 462.
  24. Ibnu Manshūr, Lisānul-‘Arab, (al-Qāirāh: al-Mishriyyah, lit-Ta‘dīf wat-Tarjamah, t.th), h. 320.
  25. Imam al-Gazālī, Minhajul ‘Ābidīn, h. 38, 39.
  26. Ensiklopedia Islam, h. 111.
  27. Ensiklopedi Islam, h. 111.
  28. Ensiklopedi Islam, h. 111.
  29. Imam al-Gazālī, Minhajul ‘Ābidīn, h. 39, 40.
  30. Imam al-Gazālī, Minhajul ‘Ābidīn, h. 42, 43.
  31. Lihat Surah at-Tahrīm/66: 8.

Tidak ada komentar: