الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Maksiat dan Dosa

Allah menciptakan manusia dari unsur jasmani dan rohani. Unsur jasmani selalu menarik manusia ke bawah, kepada hawa nafsu, kehinaan dan maksiat,karena diciptakan dari unsur tanah. Sedang unsur rohani, selalu
menarik ke atas, ke arah kebaikan dan taat kepada Allah subhānahū wa ta’ālā, karena unsur rohani itu berasal dari roh Allah. Kalau unsur tanah yang kuat pada diri manusia, jatuhlah ia ke bawah bergelimangan dengan dosa, maksiat dan kehinaan.
Dan apabila unsur roh yang berkuasa, manusia akan berperilaku baik, taat dan naiklah ia kehadirat-Nya dan menjadi makhluk termulia. Maksiat dan dosa merupakan perilaku manusia dalam keseharian mereka. Manusia biasa tidak terlepas dari perilaku dosa setiap harinya, baik dosa kecil, maupun dosa besar, hanya frekuensinya yang berbeda, kecuali para Nabi,
karena mereka terpelihara dari dosa. Dalam paragraf berikut ini akan diuraikan: pengertian dosa, sumber-sumber dosa, dosa besar dan macam-macamnya, dosa besar yang harus dijauhi,dosa dan tobat, dosa dan sanksinya, dosa sepengetahuan Allah subhānahū wa ta„ālā, dosa ditanggung sendiri, dosa dan hubungannya dengan pengampunan Allah, bagian terakhir akan dibahas dosa kecil dan jenis-jenisnya.
A. Pengertian
Dalam Bahasa Arab, dosa disebut dengan ungkapan: ma’shiah, dzanb, itsm, fāhisyah, al-wizr, junāh, al-munkar, al-khāti′ah, assayyi′ah dan jurm yang secara bahasa dimaksudkan: (أَنْ يَعْمَلَ مَالَا يَحِلُّ لَهُ ) mengerjakan sesuatu yang tidak boleh.1 Kesepuluh kosa kata ini semuanya disebutkan dalam Al-Qur′an.
1. Ma’shiyah
Istilah maksiat dalam Bahasa Arab sama dengan istilah maksiat dalam Bahasa Indonesia. Dari segi bahasa, maksiat diartikan dengan perbuatan yang melanggar perintah Allah:perbuatan dosa (tercela, buruk dsb).2 Kata maksiat berasal dari ‘ashā, yu’shī, ‘āshin au al-ma’shiyah dipakaikan apabila seseorang melanggar perintah taat kepada Allah 3
 إِذَاخَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ
‘Ashā artinya membangkang, membelot, melawan, durhaka dan berdosa yaitu sikap menyatakan jika seseorang keluar dari koridor taat, tidak melaksanakan perintah atau melanggar larangan. Sedang pengertian maksiat dari segi istilah, yaitu perilaku seseorang yang melanggar larangan ajaran agama, yang melawan aturan-aturan Allah, yang membelot dan membangkang dari perintah Allah. Dalam hadis didefinisikan:
dosa01
Perbuatan baik adalah akhlakul karimah, sedangkan dosa adalah perbuatan yang menyebabkan jiwa tidak tenang dan rasa gelisah didalam dada seseorang, kemudian tidak senang untuk dilihat oleh orang lain. 4(Riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam’an al-Anshari )
Dalam Al-Qur′an, kata ‘ashā terulang sebanyak 14 kali,sedang al-ma’shiyah terulang sebanyak 32 kali. Maksiat terbagi kepada tiga tingkat kemaksiatan:
Pertama, مَعْصِيَةُاللهِ (maksiat kepada Allah), terdapat dalam Surah al-Baqarah/2: 61, 93, Āli ‘Imrān/3: 112, an-Nisā′/4: 14 dan 64, al-An’ām/6: 15, at-Taubah/10: 15, 91, Hūd/11: 63, Maryam/19: 44, Thāhā/20: 121, al-Ahzāb/33: 36, az-Zumar/39:13 dan al-Jin/72: 23.
Kedua, مَعْصِيَةُالرَّسُوْلِ (maksiat kepada Rasul) terekam dalam 12 ayat, antara lain: Āli „Imrān/3: 152, an-Nisā′/4: 14, 42,Hūd/11: 59, Ibrahīm/14: 36, al-Ahzāb/33: 36, al-Mujādilah/58: 8, 9, al-Hāqqah/69: 10, Nūh/71: 21, al-Jin/72: 23, al-Muzzamil/73: 16 dan an-Nāzi’āt/79: 21.
Ketiga, مَعْصِيَةُالْاَمِيْرِ (maksiat kepada pemimpin), terdapat dalam dua ayat yaitu Surah al-Kahf/18: 69 dan Thāhā/20: 93.5
2. adz-dzanb
Kata adz-dzanb terulang sebanyak 37 kali dalam Al-Qur′an.
Kata ini berarti:
dosa02Setiap perbuatan yang mendatangkan penyakit disebabkan hasil perbuatan para pelakunya. Oleh karena itu disebut dosa, karena dimintai pertanggungjawaban akibat dari hasil perbuatannya.6Dengan ungkapan lain adz-dzanb (dosa), adalah perbuatan yang melanggar hukum, melampaui batas yang ditetapkan agama, keluar dari rel dan koridor ketaatan kepada Allah subhānahū wa ta’ālā. Kata ini disebutkan dalam Al-Qur′an antara lain dalam Surah an-Nisā′/4: 112, al-Isrā′/17: 31, al-Qashash/28:78, al-‘Ankabūt/29: 12, al-Ahzāb/33: 5, ar-Rahmān/55: 39,dan at-Takwīr /81: 8-9. Juga pengertian dosa terdapat dalam Surah Yūsuf/12: 29, 32, 91, 97, al-Qashash/28: 8, al-Hāqqah/69:9, 37, al-‘Alaq/96: 16.
3. Itsm ( إثم )
Dalam Al-Qur′an, istilah itsm terulang sebanyak 38 kali dengan berbagai kosa katanya. Digunakan untuk menyebut semua jenis dosa besar yang tampak maupun yang disembunyikan, yang berkaitan dengan manusia maupun dosa yang berkaitan dengan Tuhan. Seperti minum khamar adalah
dosa besar itsmun kabīr (Surah al-Baqarah/2: 219). Perbuatan
syirik merupakan dosa besar itsman ‘azhīman (Surah an-Nisā′/4:48). Mengambil harta istri yang telah diberikan, mengadakan kebohongan kepada Allah dan berbuat kesalahan kemudian dituduhkan kepada orang lain, dikenal itsmun mubīnun (Surah an-Nisā′/4: 20, 50, 112). Menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan, itsman mubīnan (al-Ahzāb/33: 58).
Dosa besar harus dijauhi dan dihindari, kabā′iral itsmi (Surah asy-Syūrā/42: 37). Makna yang sama, yaitu menjauhi dosa besar, (an-Najm/53: 32). Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat maupun dosa yang tersembunyi, ظَاهِرَالْاِثْمِ وَبَاطِنَهُ (Surah al-An’ām/6:120).
4. Fāhiisyah فَاحِشَةٌ
Kata فَاحِشَةٌ, terulang sebanyak 24 kali, dapat diartikan sebagai perbuatan keji dan banyak berkaitan dengan perbuatan seks, seperti zina dan homo seksual. Seperti: melarang menikahi perempuan yang telah dinikahi oleh ayah, karena hal tersebut merupakan perbuatan keji (an-Nisā′/4: 22). Wanita yang berumah tangga kemudian melakukan perbuatan keji (zina) (an-Nisā′/4: 25). Jangan dekati zina, karena zina merupakan perbuatan keji (Surah al-Isrā′/17: 32). Kaum Lut yang berbuat homoseksual (Surah an-Naml/27: 54, dan al-‘Ankabūt/29: 28).
5. Munkar أَلْمُنْكَرُ
Kata أَلْمُنْكَرُ terulang sebanyak 16 kali. Menurut al-Ashfahanī, munkar yaitu setiap perbuatan atau perilaku yang buruk menurut akal yang sehat, atau netral dari sisi buruk dan baiknya,kemudian syariat menentukan buruknya,7
dosa03Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dosa diartikan;
(1) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama; (2) perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat dan negara).
Berbuat dosa artinya, melakukan perbuatan yang nista tanpa perasaan. Berbuat kesalahan artinya, ia merasa bersalah kepada orang tuanya karena tidak mematuhi perintah dan nasihatnya.8Dari uraian pengertian bahasa dan istilah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa maksiat atau dosa, adalah perbuatan melanggar, melawan, membangkang dan membelot dari perintah-perintah Allah subhānahū wa ta’ālā atau aturan agama, sedang yang melakukan perbuatan tersebut merasa tidak tenang dan aman bahkan gelisah disertai perasaan tidak senang apabila perbuatan tersebut dilihat orang lain.
B. Sumber-sumber Maksiat
Sumber maksiat dapat dibagi dalam dua faktor penyebab yaitu: sumber internal dan eksternal. 1) Pengaruh internal, yaitu maksiat dari dalam diri manusia itu sendiri, jika seseorang mengikuti hawa nafsunya. 2) Pengaruh ekstenal, dari luar diri manusia, yaitu dari pengaruh dan godaan setan. Pertama, pengaruh internal; maksiat yang dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Seperti digambarkan dalam Surah al-Jātsiyah/45: 23:
45_23Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-
Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan
tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al-Jātsiyah/45: 23)
Menurut riwayat dari Sa’īd bin Jubair, berkata ayat ini turun pada Kaum Quraisy Mekah. Awalnya mereka menyembah batu, namun ketika menemukan yang lebih baik dari batu, mereka pindah menyembah yang lain. Menurut riwayat tersebut, yang dimaksud orang yang dikunci hati dan
pendengarannya, adalah Abū Jahal.9 Pada zaman Jahiliah, orang Arab menyembah batu, emas dan perak. Jika mereka menemukan lagi ada yang lebih baik dari itu, maka mereka sembah lagi, kemudian yang pertama tadi mereka lemparkan dan hancurkan. Dari itu dikatakan “ hawā ” karena menggiring dan menjatuhkan pelakunya ke api neraka  10
( قِيْلَ سُمِّيَ هَوَى لِأَنَّهُ يَهْوِي صَاحِبَهُ فِى النَّار )
Sedang Ibnu ‘Asyūr menafsirkan ayat tersebut, Bahwa mereka menyembah Tuhan selain Allah, yaitu berhala-berhala yang dijadikan Tuhan, mereka tidak mampu mencabut dirinya untuk menyembahnya, karena terlanjur mencintainya dan hatinya terpaut kepada berhala-berhalanya, seperti yang digambarkan dalam Surah al-Baqarah/2: 93.11
Al-Qusyairī, memberikan rincian dari bentuk berhala-berhala,antara lain: berupa harta benda, anak, kedudukan,ketaatan dan ibadah.12Menurut Ibnu ‘Abbās, ittaba’a hawāhu  ( إِتِّبَعَ هَوَاهُ ) tidak disebutkan di dalam Al-Qur′an, kecuali berkonotasi celaan dan hinaan. Hal ini terlihat dalam ayat-ayat lain yang ada kaitannya dengan makna celaan dan hinaan, antara lain: mengikuti hawa nafsunya diibaratkan seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkan iapun menjulurkan lidahnya (al-A’rāf/7:176). Mengikuti keinginan hawa nafsunya, keadaannya melewati batas (al-Kahf/18: 28).
Mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapatkan petunjuk dari Allah subhānahū wa ta’ālā. (al-Qashash/28: 50). Orang-orang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan (ar-Rūm/30:29). Nabi Dawud diberi peringatan oleh Allah subhānahū wa ta’ālā, agar dalam mengambil keputusan jangan mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkannya dari jalan Allah (Shād/38:26).
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
dosa04Ada tiga perkara yang menyelamatkan manusia; takut kepada Allah dikala sembunyi maupun terang-terangan, Berlaku adil dikala senang maupun marah, bersifat hemat dikala miskin dan kaya. Tiga Perkara yang membinasakan; mengikuti hawa nafsu, serakah yang diperturutkan dan seseorang ta’jub dengan dirinya sendiri.13 (Riwayat  Thabrani dari Anas)
Dalam hadis lain dikatakan, bahwa yang dikategorikan sebagai orang cerdas dan pintar adalah orang yang dapat menguasai dan menundukkan hawa nafsunya. Sabda Nabi:
dosa05Orang cerdas ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati. Tetapi orang yang lemah dan zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil terjadi dari Allah.14(Riwayat Ahmad, at-Tirmiżi, Ibnu Mājah, al-Baihaqi, dan al-Hakim dari Syaddad bin Aus)
Abū Dardā′ berkata: Sesungguhnya seseorang pada pagi hari telah berkumpul pada dirinya tiga unsur: yaitu hawa nafsunya, amalnya dan ilmunya. Jika amalnya (aktifitasnya) mengikuti hawa nafsunya, maka hari itu termasuk hari yang buruk baginya. Sebaliknya, jika pada hari itu perbuatannya mengikuti ilmunya, maka ia termasuk hari yang baik baginya.15Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pesan moral yang terdapat dalam ayat maupun hadis tersebut di atas,adalah orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai Tuhan, mereka akan dikunci mati pendengarannya, hatinya dan matanya seakan-akan tertutup
untuk melihat yang hak. Inilah sumber maksiat pertama dari dalam diri manusia. Yaitu hawa nafsunya yang jahat itu senantiasa mengajak untuk berbuat maksiat. Dalam Al-Qur′an disebutkan an-nafsu laammārah bissū′ (nafsu senantiasa mengajak manusia berbuat buruk). Seperti dalam Surah Yūsuf/12: 53:
12_53
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali(nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang (Yūsuf/12: 53)
Sedang al-Imam al-Gazālī dalam Ihyā′ ‘Ulūmiddīn membagi sumber maksiat secara lebih terinci kepada empat kategori sifat;
1) Sifat rubūbiyyah (sifat ketuhanan); 2) Sifat syaithāniyyah (sifat kesetanan); 3) Sifat bahmiyyah (sifat kebinatangan);  dan 4) Sifat sabu’iyyah (sifat kebuasan). Dari keempat sumber sifat ini melahirkan sifat-sifat maksiat.16Pertama, sifat rubūbiyyah (ketuhanan)
Sifat ini melahirkan perilaku sombong, bangga, melampaui batas, suka dipuji, kaya, merasa mulia, ingin kekal, dan mencari ketinggian atas manusia seluruhnya. Semua sifat-sifat tersebut dijelaskan dalam Al-Qur′an sebagai berikut:
1. Sombong (Surah al-Isrā′/17: 38, Luqmān/30: 19).
2. Bangga (Surah Luqmān /31: 18).
3. Sifat melampaui batas (Surah al-„Alaq/69: 6 ).
4. Suka kekayaan (Surah al-„Alaq/96: 7).
5. Ingin hartanya kekal (Surah al-Humazah/104: 3).
6. Suka dimuliakan (Surah al-Fajr/89: 15).
Kedua, sifat syaithāniyyah (sifat kesetanan)
Sifat ini melahirkan: dengki, hasad, zalim, tipu daya, menyuruh kerusakan dan perbuatan mungkar. Termasuk juga sifat nifaq, saksi palsu, mengajak pada bid’ah dan sesat. Berikut ini ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat tersebut:
  1. Suka zalim dan kufur nikmat (Surah Ibrāhim/14: 34).
  2. Dengki dan hasad (Surah an-Nisā′/4: 54, al-Falaq/113: 5)
  3. Tipudaya (Surah Fāthir/35:43).
  4. Berbuat kerusakan (Surah al-Qashash/28: 77, al-Baqarah/2:11, 12).
  5. Berbuat munkar (Surah an-Nūr/24: 21).
  6. Nifaq (Surah at-Taubah/9: 67).
  7. Saksi palsu (Surah al-Furqān/25: 72).
Ketiga, sifat al-bahimiyyah (sifat kebinatangan)
Sifat ini melahirkan: rakus, bakhil, memenuhi keinginan perut, keinginan nafsu seks. Daripadanya bercabang: homoseksual,lesbian, mencuri, memakan harta anak yatim,mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, memenuhi keinginan hawa nafsu. Ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat ini antara lain:
  1. Rakus, tamak (Surah at-Taubah/9: 34).
  2. Bakhil dan menyuruh orang berbuat bakhil (Surah Āli ‘Imrān/3: 180, an-Nisā′/4:37).
  3. Memenuhi keinginan perut (Surah al-Kahf/18:28).
  4. Memenuhi keinginan nafsu seks, zina, homoseksual (Surah al-Isrā′/17: 32).
  5. Mencuri (Surah al-Mā′idah/5: 38).
  6. Memakan harta anak yatim (Surah an-Nisā′/4: 2, al-Isrā′/17:34).
  7. Memakan harta dengan cara ilegal (batil) (Surah al-Baqarah/2: 188, an-Nisā′/4: 160, at-Taubah/10: 35).
  8. Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya (Surah at-Takātsur/102: 1-2).
  9. Memenuhi keinginan hawa nafsu (Surah an-Nisā′/4: 135,Shād/38: 26).
Keempat, sifat as-sabu’iyyah (sifat kebuasan)
Sifat ini melahirkan: marah, busuk hati, menyerang manusia, makian, membunuh, membinasakan harta.
  1. Marah dan emosional (Surah asy-Syūrā/42: 37, Āli-‘Imrān/3: 134).
  2. Busuk hati dan su’u zhaan (Surah al-Hujurāt/49: 12).
  3. Menyerang orang lain dengan perkataan (Surah al-Hujarāt/49: 11).
  4. Membunuh (Surah al-Isrā′/17:33).
  5. Membinasakan harta (Surah al-Baqarah/2: 205).
Kedua; pengaruh eksternal, yaitu pengaruh dari luar diri manusia, yaitu, setan dan teman-temannya. Ada beberapa redaksi Al-Qur′an yang menggambarkan pengaruh syetan ini:
a. Setan adalah musuh nyata bagi manusia. Seperti dalam Surah Yāsīn /36: 60.
36_60
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. (Yāsīn/36: 60)
b. Menjadikan setan musuh bagi manusia. Seperti dalam Surah Fāthir/35: 6. Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fāthir/35: 6)
35_6c. Setan senantiasa ingin menyesatkan manusia. Seperti dalam Surah an-Nisā′/4: 60.
4_60
Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Thagūt, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thagūt itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. (an-Nisā′/4: 60)
d. Setan senantiasa menimbulkan kebencian dan permusuhan antara manusia satu dengan yang lain. Seperti dalam Surah al-Mā′idah/5: 91.
5_91
Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (al-Mā'idah/5: 91)
e. Cara kerja setan menggoda
Banyak cara setan dalam menggoda manusia, agar mereka berbuat dosa, antara lain:
  1. Aku akan menghalang-halangi mereka (manusia) dari jalan yang lurus (Surah al-A’rāf /7: 16).
  2. Aku akan mendatangi mereka dari segala penjuru, dari muka dan belakang, dari kiri dan kanan mereka (Surah al-A’rāf/7: 17).
  3. Aku menjadikan mereka memandang perbuatan baik adalah perbuatan maksiat (Surah al-Hijr/15: 39).
  4. Aku bersumpah demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan hamba-hamba-Mu semuanya, kecuali yang ikhlas yaitu orang yang diberi petunjuk untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah subhānahū wa ta’ālā (Surah Shād/38: 82).
C. Bentuk dan Ciri Dosa
Bentuk dosa dapat dibagi ke dalam dua yaitu dosa lahir dan dosa batin. Dosa batin termasuk dosa hati atau batin terdiri dari empat bentuk: syirik, terus menerus dalam dosa, putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari yang tidak diinginkan,hasad, ria dan takjub terhadap dirinya sendiri, takabur,membanggakan diri, dan seluruh akhlak yang tercela. Sedang dosa lahir yaitu dosa yang diperbuat oleh seluruh anggota badan: lidah, mata, telinga, mulut, tangan, faraj (kemaluan) dan kaki. Dosa lidah ada empat; saksi palsu, menuduh perempuan berbuat zina, janji palsu. Dosa perut ada tiga; minum khamar,minum yang memabukkan dan makan harta anak yatim. Dosa di kelamin ada dua; zina dan liwat. Dosa ditangan ada dua;membunuh dan mencuri. Dan dosa di kaki; lari dari medan perang. Dan dosa di seluruh anggota badan; durhaka kepada kedua orang tua.17Menurut fukaha, bentuk-bentuk perbuatan dosa antara lain: 1) sengaja melakukan perbuatan salah; 2) melanggar hukum yang telah digariskan Allah; 3) melanggar hak-hak Allah subhānahū wa ta’ālā dan hak-hak manusia; 4) menyiksa diri sendiri, jiwa dan raga; 5) melakukan kesalahan berulangulang; dan 6) melarikan diri dari kenyatan yang ada.18
Maksiat dan Dosa
Perbuatan dosa diisyaratkan dalam Al-Quran dengan sebelas ciri antara lain:
a. Tidak mau mendengarkan nasehat (Surah al-Māidah/5: 27).
b. Patuh kepada bisikan hawa nafsu (Surah al-Māidah/5: 30).
c. Tidak memerdulikan larangan Tuhan (Surah al-Jātsiyah/45:7).
d. Suka berdusta (Surah an-Nisā′/4: 20,112).
e. Suka bermusuhan (Surah al-Mujādilah/58: 8).
f. Suka melakukan perbuatan dosa (Surah al-Furqān/25: 68).
g. Suka melampaui batas (Surah al-Qalam/68: 12).
h. Enggan berbuat baik (Surah al-Qalam/68: 12).
i. Suka berkhianat (Surah al-Nisā′/4: 107).
j. Suka menyembunyikan kesaksian (Surah al-Baqarah/2: 283).
k. Buruk sangka (Surah al-Hujurāt/49: 12).19
D. Jenis Maksiat dan Dosa
Secara garis besar, dosa dapat dibagi ke dalam dua kategori: dosa besar dan dosa kecil. Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan dosa besar. Sebagian berpendapat, segala pelanggaran agama yang diberi ancaman dengan neraka, dikategorikan dosa besar. Sebagian yang lain berpendapat tidak demikian, yang sesuai saja apa yang ditetapkan dalam hadis ataupun ayat.
Sedang ulama fikih berpendapat, perbedaan dosa besar dengan dosa kecil dapat dilihat dari akibat yang ditimbulkan dari dosa tersebut. Apabila kenyataannya, kerusakan yang ditimbulkan hanya sedikit, maka yang demikian itu dosa kecil.
Namun jika kerusakan yang ditimbulkan besar, maka dosa itu besar.
Jumhur ulama berpendapat, dosa kecil adalah perbuatan yang tidak ada aturan hukuman Had-nya (hukuman yang ditentukan macam dan jenisnya oleh syara„ dan merupakan hak Allah subhānahū wa ta’ālā di dunia dan tidak akan disiksa di hari Kiamat kelak, cukup dengan salat lima waktu, salat Jum’at dan puasa Ramadan. Seperti dalam hadis Nabi disebutkan:
dosa06Antara salat fardu sampai salat fardu lainya, antara salat jumat sampai salat jumat lainnya, serta antara puasa Ramadan sampai puasa Ramadan berikutnya, merupakan pelebur dosa selagi dosa besar dijauhi.20(Riwayat Muslim dari Harun bin Sa’id)
Sedangkan dosa besar, adalah perbuatan yang melanggar ketentuan Allah subhānahū wa ta’ālā yang diancam dengan siksa neraka, kemurkaan, laknat dan azab. Dalam berbagai hadis disebutkan ada tujuh macam dosa besar, dilain waktu ada empat dan pada kesempatan lain hanya disebutkan tiga saja.
Perbedaan ini menurut Sayyid Quthub (w. 1966 M)—ahli tafsir dari Mesir—disebabkan perbedaan kontekstual, karena Nabi mengeluarkan pendapat yang sesuai dengan masalah yang dihadapi individu yang bertanya kepada Nabi. Atau tidak ada pertanyaan, namun nasihat Nabi muncul diperuntukkan kepada khalayak dan orang banyak. Misalnya, ada hadis Nabi yang mengatakan: “Jauhilah tujuh dosa besar.” Mendengar sabda Nabi,sahabat bertanya: „„apa saja yang termasuk dosa besar?”, kemudian
Nabi menyebutnya: syirik (menyekutukan Allah), membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari peperangan, menuduh berbuat zina wanita yang yang sudah kawin, sedang mereka beriman dan terhormat (Riwayat al-Bukhārī). Di kesempatan lain, Nabi bersabda: ―Ingatlah, aku akan memberi tahu kepada kalian tentang dosa-dosa yang
terbesar: yaitu syirik dan durhaka kepada kedua orang tua.”
Kemudian Nabi duduk dan meneruskan lagi sabdanya: “Juga berkata dusta dan kesaksian palsu.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim). Hadis-hadis ini dipahami oleh para sahabat dan ulama salaf bahwa dosa besar itu tidak hanya dibatasi tujuh, tetapi mungkin lebih banyak. Seperti Ibnu ‘Abbās berpendapat, bahwa dosa besar itu mendekati 70 perbuatan dosa, bahkan
dalam riwayat lain mendekati 700 dosa. Lebih jauh Ibnu ‘Abbās mengatakan, bahwa tidak ada dosa besar apabila diikuti dengan istigfar (diikuti permohonan ampun kepada Allah), namun dosa kecil yang berkelanjutan dan terus menerus dilakukan bisa menjadi dosa besar.21E. Dosa Besar dan Macam-macamnya
Paling tidak ada dua buku populer yang menjelaskan tentang dosa-dosa besar ini. Pertama, ―” al-Kabā′ir wal Muharramat wal Manhiyyat” Dosa besar yang dilarang dan diharamkan) oleh Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Utsman adz-Dzahabi,yang membagi kepada 70 macam dosa besar. Buku kedua: az-Zawjir an Iqtirafil Kabā′ir (Menghindari Melakukan Dosa-dosa Besar) oleh Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Haitami (w. 974H) membagi dan membahas dosa besar sebanyak 465 macam. Kedua buku ini metodologinya sama, yaitu membagi dosa-dosa besar berdasarkan hadis dan ayat. Untuk kepentingan keringkasan berikut ini adalah 70 macam dosa versi Syamsuddin Abu Abdullah adz-Dzahabi (w. 748 H) dalam
bukunya “al-Kabair” diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan nama ―70 Dosa Besar. Dosa-dosa besar itu adalah: (1)syirik (2) membunuh tanpa alasan yang benar (3) sihir (4)meninggalkan salat (5) menolak membayar zakat (6) tidak berpuasa dalam bulan Ramadan tanpa uzur (7) tidak menunaikan ibadah haji bagi yang mampu (8) durhaka terhadap kedua orang tua (9) menyakiti kerabat (10) zina (11) liwat (bersetubuh lewat dubur) homoseksual (12) memakan riba (13)memakan harta dan zalim terhadap anak yatim (14)mendustakan Allah subhānahū wa ta’ālā dan Nabi (15) lari dari perang musuh (16) pemimpin menindas rakyat (17) sombong Maksiat dan Dosa (18) kesaksian palsu (19) minum arak (20) berjudi (21)menuduh zina wanita yang kawin (22) berkhianat dalam harta rampasan (23) mencuri (24) merampok (25) sumpah palsu (26) berbuat zalim (27) menipu 28) memakan makanan yang haram tanpa alasan (29) bunuh diri ( 30) sering berbohong ( 31) hakim yang buruk (32) korupsi (33) perempuan yang menyerupai laki-laki dan sebaliknya (34) mucikari yang berpura-pura baik (35) muhallil dan muhallal, yaitu orang yang kawin hanya untuk menghalalkan perkawinan setelah tejadinya talak ba in kubra
(36) tidak bersih mencuci kemaluan setelah buang air kecil (37) ria (38) menuntut ilmu untuk tujuan dunia dan menyembunyikan pengetahuan bagi yang membutuhkan (39)khianat (40) orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya (41) mendustakan takdir (42) membicarakan rahasia orang (43) tukang fitnah dan adu domba (44) mengutuk (45) tidak menetapi janji (46) membenarkan dukun peramal (47) istri yang durhaka kepada suami (48) menggambar di pakaian, dinding,batu dan sebagainya (49) meratapi mayit (50) durhaka dan dusta (51) mabuk (52) menyakiti tetangga (53) menyakiti sesama umat Islam (54) menyakiti hamba Allah (55) memanjang-manjangkan kain sarung, celana, pakaian dan sebagainya (56) lelaki yang memakai sutra dan emas (57) menganiaya budak (58) menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah subhānahū wa ta’ālā (59) mengaku keturunan dari orang yang bukan ayahnya, padahal ia tahu (60) berkelahi (61) mencegah orang mengambil air di tengah jalan (62)mengurangi timbangan dan takaran (63) merasa aman (selamat) dari azab Allah subhānahū wa ta’ālā (64) menyakiti wali Allah (65) meninggalkan salat jamaah tanpa uzur (66) secara berturut-turut meninggalkan salat Jumat berjamaah (67) tidak menjalankan wasiat (amanah) (68) melakukan tipu daya (69)orang yang mengurung umat Islam dan membuka aibnya (70) mencaci salah seorang sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.22
Sedang dalam Al-Qur′an dosa besar diklasifikasi dalam 12 bentuk, yaitu : syirik, membunuh, durhaka kepada kedua orangtua, berbuat zina, mencuri, meminum khamar, makan riba,menuduh orang baik berbuat zina, sihir, saksi palsu, merusak lingkungan, dan berhukum dengan hukum buatan manusia.
1. Syirik kepada Allah subhānahū wa ta’ālā
Syirik yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya,dalam bentuk sikap dan keyakinan mempersamakan Allah subhānahū wa ta’ālā, baik dari segi sifat, dan af’al dan zat-Nya.
Merasa dan yakin ada Mahakuasa selain Allah. Dosa ini termasuk dosa besar. Selain dari itu, syirik sesat jauh dari kebenaran, termasuk perbuatan zalim yang besar, dugaan dan sangkaan yang tidak berdasar, menyalahi fitrah kemanusiaan dan syirik merupakan perbuatan najis. Banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat syirik, terdapat dalam Surah an-Nisā /4:48, 116, al-Furqān/25: 68-69, dan al-Mumtahanah/60: 12,antara lain:
a. Syirik tabiatnya merupakan dosa besar, dan tidak diampuni oleh Allah subhānahū wa ta’ālā. Seperti dalam Surah an-Nisā /4:48:
4_48Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain(syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.(an-Nisā'/4: 48)
b. Syirik jauh dari kebenaran, dan tidak diampuni oleh Allah subhānahū wa ta’ālā. Seperti dalam Surah an-Nisā /4: 116:
4_116Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali. (an-Nisā /4: 116)
c. Syirik termasuk perbuatan zalim yang besar. Seperti dalam Surah Ali ‘Imrān/3: 151, al-Māidah/5: 72, al-An’ām/6: 21, 82,at-Taubah/9: 106 dan Luqmān/31: 13
31_13
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqmān/31: 13)
d. Syirik termasuk sangkaan dan dugaan yang tidak berdasar.
Seperti dalam Surah at-Taubah/9: 66, Yūsuf/12: 40, ar- Ra’d/13: 33:
13_33
Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu.Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yūsuf/12: 40)
e. Perbuatan syirik menyalahi fitrah kemanusiaan. Seperti dalam Surah ar-Rūm/30: 30:
30_30Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( ar-Rūm/30: 30)
f. Perbuatan syirik berupa najis dalam Surah at-Taubah/9: 28:
9_28
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.(at-Taubah/9: 28)
g. Perbuatan syirik, membunuh dan berzina, siksaannya sama nanti dihari kiamat, yaitu dilipat gandakan siksaannya kepada mereka pelaku ketiga dari dosa tersebut. Seperti dalam Surah al-Furqān/25: 68-69:
25_68-69
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan(alas an) yang benar dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu,niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu,dalam keadaan terhina. (al-Furqān/25: 68-69)
h. Lepas dari perbuatan syirik adalah salah satu persyaratan bisa diterima janji setianya. Seperti dalam ayat 12 Surah al- Mumtahanah yang menjelaskan kepada Nabi, bahwa persyaratan diterimanya janji setia perempuan-perempuan yang akan mengadakan janji setia. Ada lima persyaratan, termasuk salah satunya, yaitu tidak menyekutukan Allah. Tiga lainnya: yaitu tidak berzina, tidak membunuh anak-anaknya, tidak mencuri dan tidak mendurhakai Nabi dalam urusan yang baik.
60_12Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan yang mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik,maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Mumtahanah/60: 12)
Bila diteliti dan dikaji secara mendalam, ternyata Al-Quran telah menjelaskan 8 bentuk-bentuk syirik antara lain:
a. Menyembah matahari. Surah al-An„ām/6: 78, an-Naml/ 27:24, dan Fussilat/41: 37:
27_24
Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari,bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.(an-Naml/27: 24)
b. Menyembah bulan. Surah al-An’ām/6: 77, Fushshilāt /41: 37:
41_37Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang,matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya,jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (Fussilat/41:37)
c. Menyembah bintang-bintang
6_76Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”(al-An’ām/6: 76)
d. Menyembah Nabi Isa. Surah an-Nisā /4: 171, dan 172, al-Māidah/5: 17, 72 dan 75, al-An’ām/6: 115, at-Taubah/: 30-31:
5_72Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata,“Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orangzalim itu. (al-Māidah/5: 72)
e. Menyembah Maryam binti ‘Imran. Surah al-Mā′idah/5: 17,75 dan 116:
5_116Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam!Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (al-Māidah/5: 116)
f. Menyembah Malaikat. Surah al-Kahf/16: 57-59, 62, al-Isrā /17: 40, al-Anbiyā/21: 26,27 dan 28, ash-Shaffāt/37: 149-157, az-Zukhruf/43: 15-19, ath Thūr/52: 39, an-Najm/53: 21, 22, 23,dan 27, 28.
17_40Maka apakah pantas Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya). (al-Isrā'/17: 40)
g. Menisbahkan bahwa Allah subhānahū wa ta’ālā mempunyai istri. Surah al-Jinn/72: 3 dan al-Ikhlāsh/112: 3-4:
72_3Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. (Surah al-Jin/72: 3)
h. Menisbahkan bahwa Allah subhānahū wa ta„ālā mempunyai anak. Banyak sekali ayat-ayat menerangkan tentang sangkaan orang kafir bahwa Allah subhaānahū wa ta’ālā mempunyai anak,antara lain: an-Nisā /4: 171, al-An’ām/6: 100, 101, Yūnus/10:68, an-Nahl/16: 57, al-Isrā /17: 40, 111, al-Kahf/18: 4, Maryam/19: 35, 88 dan 92, al-Anbiyā /21: 26, al-Mu′minūn/23: 91, al-Furqān/25: 2, ash-Shaffāt/37: 151-152, al-Hujurāt/49: 4, az-Zukhruf/43: 81, al-Jinn/72: 3, al-Ikhlāsh/112: 3.
112_3(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. (al-Ikhlāsh/12: 3)
2. Membunuh
Dosa besar kedua yaitu membunuh, seseorang tidak boleh sembarangan menghilangkan nyawa seseorang, membunuh orang yang bukan hak (qishash) termasuk dosa besar.
Barang siapa dengan sengaja membunuh seorang mukmin, balasannya adalah Neraka Jahanam (an-Nisa /4: 93). Membunuh satu jiwa yang diharamkan (bukan dengan hak) bagaikan membunuh orang seluruhnya. Sebaliknya siapa yang memelihara kehidupan seseorang, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya (al-Mā idah/5: 32). Oleh karena itu masalah pembunuhan tidak boleh dipermainkan, karena dosanya sangat besar dan ancamannya tidak lain adalah Neraka Jahanam, Allah murka kepadanya serta mengutuknya. Seperti tertera dalam Surah
an-Nisā /4: 93:
4_93
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja,maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya. (an-Nisā /4: 93)
Bahkan lebih rinci lagi pembalasannya: jiwa dengan jiwa, mata dengan mata, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, luka pun ada qishash- nya. Seperti dalam Surah al-Mā idah/5: 45:
5_45Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa
(dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qishash)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim. (al-Mā idah/5: 45)
Selain ayat tersebut di atas dalam ayat lain menerangkan:Kaum musyrikin memandang baik membunuh anak-anak mereka dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah (al-An’ām/6: 137). Membunuh anak-anak mereka karena kebodohannya, bahkan membunuhnya karena takut miskin (An’am/6: 140, 151). Menguburkan hidup-hidup anak perempuan mereka, karena takut menanggung malu dan merasa terhina, karena anak perempuan tidak mampu membela suku,kaum dan kabilahnya dari serangan orang dari luar (an-Nahl/16:58, 59, at-Takwīr/81: 8-9). Larangan membunuh anak-anak karena takut kelaparan dan kemiskinan, padahal Allah subhānahū wa ta’ālā yang memberikan rezeki kepada kalian dan anak-anak mereka (al-Isrā /17: 31). Barang siapa yang dibunuh secara zalim,maka ahli warisnya berhak menuntut qishash atau menerima diyat(al-Isrā′/17: 33).
3. Durhaka kedua orang tua
Dosa besar ketiga yaitu durhaka kepada kedua orang tua. Terdapat dalam Surah al-Ahqāf/46: 17-18
46_17-18Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah.” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu.”Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari (golongan) jin dan manusia. Mereka adalah orang-orang yang rugi. (al-Ahqāf/46:17-18)
Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, akan dipercepat siksaannya didunia ini. Seperti sabda Nabi dalam hadis:
dosa07
Ada dua dosa yang disegerakan siksaannya didunia ini; kezaliman dan durhaka terhadap orang tua. (Riwayat ath-Thabrāni dari ‘Ubaidillāh bin Abi Bakrah dari Bapaknya)
Sedang siksaan di akhirat dijelaskan dalam hadis, Allah subhānahū wa ta’ālā tidak akan melihatnya (memberi rahmat kepadanya):
dosa08
Ada empat golongan kelak dihari kiamat, tidak dipandang oleh Allah subhānahū wa ta’ālā (diberi rahmat); orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, pendusta, orang yang terus menerus minum khamar, orang-orang yang mendustakan takdir. (Riwayat ath-Thabrāni dari Abu Umamah)
Betapa besar jasa kedua orang tua yang melahirkan kita,mulai dari melahirkan, menyusui, memberikan makanan dan minuman yang bergizi, menyehatkan jasmani, merawat,mengasuh, memelihara, mengajarkan berbicara, mengajarkan Al-Qur′an, menanamkan keimanan dan akidah, membiasakan beribadah, mengajarkan adab sopan santun, menyekolahkan,mencarikan pekerjaan, mencarikan jodoh, membuatkan rumah sehingga anaknya mampu dan dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Tak ternilai dan luar biasa jasa kedua orang tua. Oleh karena itu dalam hadis Nabi dinyatakan, bahwa keridaan Allah subhānahū wa ta’ālā, tergantung keridaan kedua orang tua kita. Sebaliknya kebencian Allah subhānahū wa ta’ālā, tergantung kebencian kedua orang tua terhadap kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
dosa09Keridaan Allah terletak pada keridaan kedua orang tua, dan kebencian Allah terletak pada kebencian kedua orang tua. (Riwayat al-Bukhari,at-Tirmizi, al-Baihaqi, al-Hakim dari Ibnu ‗ Amrū)
Sedangkan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua, berkata lemah lembut, tidak membentak dan mendoakan mereka serta memohonkan ampun terhadap dosanya, tertera dalam Surah al-Isrā′/17: 23-24:
17_23-34Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (al-Isrā′/17: 23-24)
Kedua orang tua kedudukannya sama dalam berbakti kepadanya. Namun diutamakan ibu, karena dialah yang sangat menderita, melahirkan, menyusukan, mengasuh, membesarkan dan mendidik kita. Oleh karena itu dalam hadis Nabi disebutkan seseorang bertanya kepada Nabi, siapakah yang diutamakan kalau ingin berbakti kepada kedua orang tua. Nabi menjawab: Ibumu. Sampai jawaban ini diulang tiga kali, baru jawaban yang keempat bapakmu. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
dosa10Seseorang datang dan bertanya kepada Nabi, siapakah yang lebih utama untuk berbakti kepada kedua orang tua. Nabi menjawab; Ibumu.Kemudian siapa lagi? Jawab nabi ; Ibumu. Kemudian siapa lagi?. Jawab Nabi; Ibumu. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab; Baru Bapakmu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abū Hurairah)
4. Berbuat zina
Dosa besar keempat yaitu berbuat zina. Terdapat dalam Surah an-Nisā′/4: 15-16, al-An„ām/6: 151, al-Isrā′/17: 32.
17_32Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (al-Isrā′/17: 32)
Menurut Quraish Shihab, ayat ini menegaskan bahwa janganlah kamu mendekati zina, walau dalam bentuk khayalan sehingga dapat mengantar kamu terjerumus dalam keburukan.
Sesungguhnya perbuatan zina itu salah satu perbuatan keji dan jalan yang buruk dalam menyalurkan kebutuhan biologis.27Sedangkan Sayyid Quthub dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, ―Dalam perzinaan terdapat unsur pembunuhan dalam berbagai segi. Pertama, penempatan sebab kehidupan (sperma) bukan pada tempatnya yang sah. Ini biasa disusul dengan keinginan untuk menggugurkan yakni membunuh janin yang ada dalam kandungan. Kalaupun ia lahir dan hidup, biasanya dibiarkan begitu saja tanpa ada yang memelihara dan mendidiknya, ini merupakan salah satu bentuk pembunuhan. Kedua, pembunuhan terhadap masyarakat, karena disini menjadi tidak jelas atau bercampur keturunan seseorang serta menjadi hilang kepercayaan menyangkut kehormatan dan anak, sehingga hubungan antar masyarakat
melemah yang akhirnya akan mengantar kematian umat.
Ketiga, perzinaan juga membunuh masyarakat dari sisi kemudahan melampiaskan nafsu sehingga kehidupan rumah tangga menjadi sangat rapuh, bahkan tidak dibutuhkan lagi.
Keempat, apabila perzinaan merajalela, maka kehidupan keluarga tidak utuh dan kuat lagi, padahal ia merupakan wadah yang paling efektif dan terbaik untuk mencetak dan mendidik dan mempersiapkan generasi muda memikul tanggung jawabnya.28
Dari uraian di atas dapat dipahami, sangat wajar perzinaan termasuk kategori dosa besar, karena dampaknya sangat luas dalam kehidupan masyarakat.
Ayat-ayat lain yang berkaitan dengan zina dapat dilihat dalam Surah an-Nisā′/4: 15-16, al-An„ām/6: 151, an-Nūr/24:2-3, al-Furqān/25: 68-69.
5. Mencuri
Pencurian termasuk dosa besar yang kelima, ayat yang berkaitan dengan pencurian terdapat dalam Surah al-Mā idah/5: 38
5_38
Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa,Mahabijaksana. (al-Māidah/5: 38)
Makna kosa kata: assāriqu, yaitu orang yang mengambil harta secara sembunyi, (faqtha’ū aidiyahumā) potonglah kedua tangannya, yaitu dari pergelangan tangan sebagai siksaan dari Allah subhānahū wa ta’ālā (nakālan minallāh). Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.
Menurut al-Wahidi, ayat ini turun ketika terjadi kasus pencurian, yaitu Tu’mah bin Ubairaq mencuri baju besi Qatadah bin Nu’man, tetangganya, lalu ia sembunyikan baju besi tersebut di rumah Zaid bin Samin seorang Yahudi, ketika baju itu dicari tidak diketemukan di rumah Tu’mah, dan bersumpah bahwa bukan dia yang mencurinya, lalu dicari di rumah Zaid, ternyata ditemukan baju besi tersebut, kemudian diambilnya dan diserahkan ke Tu’mah. Kasus ini disaksikan oleh orang banyak, kemudian Nabi bermaksud untuk membela Tu’mah, karena baju besi ditemukan bukan di tempatnya Tu’mah, maka turunlah ayat: walā tujādil ‘anilladzina yakhtanuna anfusahum ayat sebelumnya, kemudian turunlah ayat ini menjelaskan siksaan bagi pencuri.
Diriwayatkan dari Ahmad dan yang lain, dari ‘Abdullah bin Amr, menceritakan bahwa seorang perempuan mencuri pada masa Nabi, kemudian di potong tangannya yang kanan.Lalu ia mengadu ke Nabi: Masih adakah waktu untuk saya bertobat, maka turunlah sambungan ayat ini: faman tāba min ba’di zhulmihī wa ashlaha fainnallaha yatūbu ‘alaih, innallāha ‘azīzun hakīmun.29
Munāsabah ayat sebelumnya, menjelaskan tentang hukuman bagi orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya (menurut ulama Hanafi, yang dimaksud di sini, yaitu pencuri harta yang banyak. Yang lainnya menafsirkan: mencuri yang sedikit dan mengambil harta secara paksa), kemudian ayat ini menjelaskan tentang hukuman bagi pencuri. Hukuman bagi perampok, yaitu dipotong kedua tangan dan kakinya secara bersilang, sedang hukuman bagi pencuri hanya dipotong tangannya.30Menurut Quraish Shihab, pencuri ialah seseorang mengambil harta secara sembunyi-sembunyi barang berharga milik orang lain yang disimpan oleh pemiliknya pada tempat yang wajar dan pencuri tidak diizinkan untuk memasuki tempat tersebut.31
Sebagian ulama berselisih pendapat tentang berapa kadar atau nilai harga barang curiannya. Menurut Hasan Basri dan Dawud azh Zhāhiri mencuri banyak atau sedikit, harus dipotong tangannya. Alasannya, teks ayat berbunyi ―Potonglah kedua tangannya. Dan hadis Nabi menyatakan: ―Allah melaknat para pencuri, apakah ia mencuri sebutir telur, atau mencuri seekor unta (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Namun jumhur ulama berpendapat, pencuri dikenai potong tangan, apabila ia mencuri kadarnya seperempat dinar lebih atau tiga dirham. Mereka memberikan alasan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Āisyah,bahwa pada masa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam tangan pencuri dipotong pada kadar seperempat dinar lebih‖ (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain dikatakan, bahwa pada masa Nabi pencuri dipotong tangannya apabila kadarnya: mijannun-tarsun : konversi dari istilah itu senilai 3 dirham.
Menurut Quraish Shihab, 3 dirham, bila dikonversi dengan nilai sekarang kurang lebih $ 60 Dollar Amerika.32 Berbeda dengan ulama Hanafiah, bahwa kadar/nilai barang curiannya, bukan seperempat dinar, atau tiga dirham, tetapi satu dinar atau sepuluh dirham. Alasannya, hadis Nabi menyatakan, ―Bahwa tidak ada potong tangan di bawah sepuluh dirham.
Bagaimana realitas di masyarakat muslim dan penerapan ayat ini, khususnya hukum potong tangan bagi pencuri. Pada zaman sekarang ini, untuk negara-negara yang ada di Timur Tengah, hanya negara Saudi Arabia yang menerapkan hukum tersebut, selebihnya seperti Mesir, Irak, Syria, Yordan,Lebanon, Tunis, al-Jazair, Sudan, Yaman, dan negara-negara Teluk, tak satupun yang menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Masing-masing negara menerapkan hukum positif yang berasal dari Barat. Pertanyaannya, kenapa negara-negara selain dari Saudi Arabia, tidak menerapkan hukum potong tangan. Jawabannya, karena negara-negara tersebut pernah dijajah oleh Barat, seperti Mesir, Syria, Lebanon, al-Jazair,Tunis, Maroko, dijajah oleh Perancis. Mesir, Sudan, Yaman dan negara-negara Teluk pernah dijajah oleh Inggris. Lybia pernah
dijajah oleh Italia. Dari negeri penjajah ini mewariskan hukum positif dari Barat yang diberlakukan pada negara-negara jajahannya. Kecuali Saudi Arabia, sepanjang sejarah tidak pernah dijajah oleh Barat, hanya pernah dijajah oleh Turki, ketika Turki Usmani menguasai separuh dari wilayah Timur Tengah pada masa kejayaannya. Karena itu, Saudi Arabia sejak
berdirinya negara tersebut dan berdaulat menjadi negara merdeka, lepas dari penjajahan Turki Usmani pada tahun 1926 M, menerapkan hukum Islam secara penuh, baik potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi wanita atau laki-laki yang berzina, dan hukum qishāsh bagi yang membunuh seseorang bukan dengan hak sampai hukum cambuk bagi para peminum dan penjudi. Dampak positif dari pelaksanaan hukum Islam, menurut penelitian, bahwa negara yang paling sedikit kasus kejahatan dan kriminalnya adalah Saudi Arabia.
Bagaimana dengan Indonesia dalam penerapan hukum potong tangan ini, tidak mungkin dilaksanakan, karena Indonesia bukan negara Islam, dan bukan negara sekuler, tetapi negara yang berdasarkan falsafah Pancasila. Dan hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum positif warisan dari penjajah Belanda, yang sampai sekarang ini, segala aspek kejahatan, mencuri, korupsi, menganiaya, memperkosa,membunuh, semuanya diberlakukan hukum positif. Dari itu,angka kejahatan di Indonesia termasuk banyak dan tinggi.
Karena hukumnya terlalu longgar, ringan dan dapat diperjual belikan. Termasuk dalam kaitan pembahasan ini, yaitu mencuri sebagai usaha terlarang dan tidak boleh dilakukan dalam mencari rezeki. Pelaku pencurian di Indonesia masih tinggi, termasuk pejabat negaranya, baik level paling bawah sampai level paling tinggi.33 Seorang pengamat politik dan ekonomi,pernah mengemukakan temuannya, bahwa sekitar 30%anggaran bantuan dari negara donor telah dikorupsi oleh parapejabat Indonesia.34 Maka krisis ekonomi ini masih berlangsungsampai sekarang ini, karena praktek-praktek usaha yang dilarang oleh agama masih berlangsung, khususnya kasus-kasus korupsi belum berhenti dan belum ada tanda-tanda untuk diakhiri.
6. Minum khamar
Dosa besar keenam, yaitu minum khamar, ayat yang berkaitan dengan khamar terdapat dalam Surah al-Baqarah/2:219, al-Mā idah/5: 90-91:
2_219Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.”Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (al-Baqarah/2: 219)
Ayat ini turun ketika ‘Utbah bin Malik mengundang orang banyak untuk minum khamar, yang di antaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka merasa bangga ketika mabuk,Sa’ad mengucapkan syair yang mencaci kaum Ansar, sehingga terjadilah kegaduhan dan pertengkaran di antara mereka, dan mereka saling memukul dengan ekor unta. Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab, segera melaporkan peristiwa ini kepada Rasulullah: ―Mohon dijelaskan kepada kami hukum tentang meminum khamar ini secara jelas dan tegas. Maka turunlah ayat ini, ―Bahwa sesungguhnya khamar dan judi itu dan mengadu nasib adalah sebagian dari perbuatan kotor dan perbuatan setan, maka jauhilah hal tersebut. Maka ketika itu
secara spontanitas ‘Umar langsung memberikan jawaban: ―Ya Allah, kami sekarang segera berhenti.35Menurut az-Zuhaili: berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ab‼ Hurairah, bahwa ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam baru pertama kali datang ke Medinah. Kebiasaan orang-orang Medinah masih meminum khamar dan memakan harta dengan cara berjudi.
Lalu mereka bertanya kepada Nabi tentang kedua hal tersebut.
Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah/2: 219). Sebagian mereka berkata: ―Ini berarti belum haram bagi kita, hanya saja sifatnya dosa besar. Mereka masih tetap minum khamar. Ketika mereka minum khamar, seorang dari kaum Ansar mengimami orang salat, lalu dalam salatnya dia salah baca, maka Allah menurunkan ayat berikutnya yang lebih keras dari yang pertama yaitu (an-Nisā /4: 43), kemudian berselang beberapa waktu
turun lagi ayat yang lebih tegas lagi menjelaskan tentang keharaman dari khamar dan judi ini, yaitu al-Mā idah/5: 90-91.
Lalu mereka secara sadar menyatakan: ―Ya Tuhan, kami berhenti dari kedua hal tersebut, yaitu minum khamar dan berbuat judi. 36
Dari uraian asbābun nuzūl di atas, memberikan penjelasan, bahwa pengharaman khamar melalui empat tahap, yang mempunyai hikmah tersendiri, dan strategi ini ternyata berhasil dalam mendidik masyarakat ketika itu. Andaikata langsung diberikan jawaban: ―Jangan kalian minum khamar.Tentunya akan mereka jawab: ―Untuk sementara kami masih berat untuk meninggalkan minum khamar. Oleh karena itu, ayat ini turun
secara bertahap dan mengharamkan dalam empat bentuk pencegahan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan jalan keluar bagi mereka untuk menghentikan kebiasaan minum khamar, dan memberhentikan orang banyak dari penyakit yangakut ini.
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan lebih lanjut, bahwa paling tidak ada tujuh mudharat yang ditimbulkan bagi para peminum khamar ini, yaitu: merusak kesehatan, akal, harta benda, masyarakat, akhlak, kepentingan umum dan merusak agama.
a. Merusak kesehatan: orang yang terbiasa minum khamar, akan merusak jaringan saraf seluruh anggota badan,mengurangi nafsu makan, mata menjadi merah, perut jadi buncit, karena usus menjadi melar, ginjal rusak, muncul penyakit TBC, cepat menjadi tua dan melemahkan nafsu seks.
b. Merusak akal: akan melemahkan sel-sel saraf otak,sehingga menjadi lemah, tidak bisa berfikir secara wajar dan rasional. Akal, pikiran, dan intelektualnya tidak dapat berfungsi dengan baik, yang pada ujungnya akan mendatangkan penyakit gila.
c. Merusak harta benda: orang yang terbiasa dengan meminum khamar akan menghabiskan harta benda mereka, bahkan apapun yang dimiliki akan habis dijual untuk pemuasan hawa nafsunya demi untuk meminum khamar.
d. Merusak masyarakat: akan terjadi pertengkaran dan perselisihan di antara para pemabuk dengan masyarakat yang lain, dan mengganggu ketenteraman dan keimanan masyarakat. Bahkan dengan pertengkaran dan kegaduhan ini akan menimbulkan tindakan kriminal antara mereka para pemabuk dan orang lain seperti, saling memukul,berkelahi, bahkan pada ujungnya akan saling membunuh.
e. Merusak akhlak seseorang: para pemabuk akan berubah perilaku dan akhlaknya. Secara tidak sadar akan melawan kepada kedua orang tua, memusuhi orang lain, sering mencari kesalahan orang lain, sering mencaci, memfitnah.Bahkan pada ujungnya akan mudah melakukan peselingkuhan dan perzinaan serta pembunuhan.
f. Merusak negara: para intel sering berhasil mendapatkan informasi rahasia-rahasia negara karena mempergunakan jalur para peminum khamar ini sebagai umpan dan pancingan. Ketika mereka mabuk, maka segala informasi akan keluar dengan sendirinya.
g. Merusak agama: jelas bagi para pencandu minum khamar tidak akan dapat melaksanakan ibadahnya secara baik, meninggalkan salat lima waktu, akan menjauhkan diri untuk zikir kepada Allah dan kewajiban agama yang lain.
Karena para pemabuk dibenak mereka tidak ada yang lain,kecuali ingin minum, mengikuti hawa nafsunya. Dengan keadaan tersebut akan menjadi lemah fisiknya, menurun semangat hidupnya, malas, dan tidak ada inisiatif apalagi kreatif dalam menghadapi persoalan hidupnya.377) Judi dan mengadu nasib dengan undian
Dosa besar ketujuh yaitu judi dan mengadu nasib dengan undian. Ayat yang berkaitan dengan judi, selain ayat yang tersebut di atas, adalah Surah al-Maidah/5: 90-91, dalam ayat ini ditegaskan bahwa khamar, judi dan mengadu nasib dengan undian, termasuk perilaku kotor dan sebagian perbuatan setan, dari itu jauhilah. Seperti terdapat dalam Surah al-Mā idah/5: 90-91
5_90-91Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi,
(berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah,adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah
(perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat
Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (al-Mā idah /5: 90-91)
Keadaan judi pada masa jahiliyah, seperti tercantum dalam Tafsīr al-Qurthubi dan Wahbah az-Zuhaili sebagai berikut:
Pada masa Jahiliyah dikenal dua bentuk al-maisir, yaitu almukhtarah dan at-tajzi’ah. Dalam bentuk al-mukhtarah, dua orang laki-laki atau lebih menempatkan harta dan istri mereka masing-masing sebagai taruhan dalam permainan. Orang yang berhasil memenangkan permainan itu berhak mengambil harta dan istri dari pihak yang kalah. Harta dan istri yang menjadi milik pemenang itu dapat diperlakukan sekehendak hatinya.
Jika dia senang dengan wanita itu dia akan mengawininya,namun jika tidak, ia jadikan budak atau gundik. Cara-cara seperti ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas.
Sedang bentuk at-tajzi’ah, seperti dikemukakan al-Imām al-Qurthubi. Sebanyak 10 orang laki-laki bermain kartu yang terbuat dari potongan-potongan kayu. Kartu yang diberi nama dengan al-azlām atau al-aqlām berjumlah 10 buah: al-faz berisi satu bagian, at-tau’am dua bagian, ar-raqīb tiga bagian, al-halīs empat bagian, an-nāfis lima bagian, al-musbil enam bagian dan almualli berisi tujuh bagian yang merupakan bagian terbanyak.
Adapun kartu as-safih dan al-manih dan al-waqad merupakan kartu kosong. Jadi jumlah keseluruhan dari 10 nama kartu tersebut adalah 28 buah. Kemudian seekor unta dipotong 28 bagian sesuai dengan jumlah isi kartu tersebut. Selanjutnya kartu dengan nama-nama sebanyak 10 buah itu dimasukan dalam sebuah kantong dan diserahkan kepada seorang yang dapat dipercaya. Kemudian kartu itu dikocok dan dikeluarkan satu persatu hingga habis. Setiap peserta mengambil bagian dari daging unta itu sesuai dengan isi atau bagian yang tercantum dalam kartu. Mereka yang mendapatkan kartu kosong, yaitutiga orang sesuai dengan jumlah kartu kosong, dinyatakan pihak yang kalah dan merekalah yang harus membayar unta tersebut. Mereka yang menang, sedikitpun tidak mengambil daging unta dari hasil kemenangan itu, melainkan seluruhnya dibagi-bagikan kepada orang miskin. Mereka yang menang saling membanggakan diri dan membawa-bawa serta melibatkan suku dan kabilah mereka masing-masing. Di samping itu, mereka mengejek dan menghina pihak yang kalah dengan menyebut -nyebut kabilah mereka. Tindakan mereka ini, selalu berakhir
dengan perselisihan, percekcokan, bahkan saling membunuh dan peperangan.38
Itulah sejarah singkat dari praktik judi atau al-maisir di zaman Jahiliyah. Memang, jika dianalisis bahwa judi ini ada manfaatnya, yaitu mereka dapat membagi-bagikan hartanya kepada kaum tidak mampu. Namun mudharat-nya lebih banyak,karena ejekan dan hinaan terhadap kabilah atau kaum menimbulkan perselisihan, percekcokan, yang pada gilirannya
menimbulkan pertumpahan darah, saling membunuh dan peperangan.
Praktek judi pada zaman modern ini, banyak sekali bentuknya antara lain: dilokalisir dalam tempat, dimana para pemain bebas main judi dalam berbagai macam bentuk permainannya. Seperti main kartu, domino, atau meramal skor pertandingan sepak bola, baik yang bersifat lokal, nasionalmaupun internasional.
Dalam ayat tersebut di atas yang menjadi pokok bahasan,terlihat tidak hanya tentang judi, tapi paling tidak ada tiga hal secara redaksional dan teks disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu khamar, judi dan mengadu nasib. Judi dan mengadu nasib telah dijelaskan di atas. Pada bagian berikut ini akan diuraikan tentang mudhārat dan dampak dari meminum khamar.39
Dampak dari judi ini, tidak jauh berbeda dengan dampak yang ditimbulkan oleh para peminum khamar antara lain:
a. Akan mewariskan permusuhan dan kebencian antara mereka
b. Akan menjauhkan dari taat kepada Allah dan melalaikan kewajiban agama
c. Mendidik orang jadi pemalas, banyak menghayal, tidak ada inisiatif, hanya menunggu rezeki dengan jalan mudah dan pintas.

Tidak ada komentar: