الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Materi ke-1 :Latar Belakang Mata Kuliah Metafisika di UNPAB

Latar Belakang Mata Kuliah Metafisika di UNPAB :
  1. Eksistensi dan Substansi Manusia
  2. Eksistensi Metafisika Dalam Kehidupan
  3. Metafisika dan Agama
  4. Ciri Khas UNPAB

1.Eksistensi dan Substansi Manusia

Substansi  manusia menurut  science terdiri  atas  fisik dan phisikis atau tubuh dan kejiwaan .

Menurut agama atau kepercayaan;  manusia terdiri atas Jasad dan Ruh. Jasad tersusun atas 4 anasir (unsur) yaitu air, api tanah dan udara. Sedangkan ruh  tidak tersusun dari anasir (unsur).

Ruh   itu benar-benar berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan mutlak Dialah yang memilikinya. Ruh itu bersifat ghaib, meta. 

Sampai sekarang ilmu pengetahuan (science) tidak dapat mendeteksi keberadaan daripada ruh itu.

Karena  unsur ruhani atau ruh tersebut sangat berperan dalam kehidupan manusia maka pada hakikatnya dialah (ruh) yang hidup dan sangat menentukan eksistensi manusia. 

Maka sangatlah wajar jika manusia itu ditunjuk oleh Tuhan sebagai Khalifah (wakil/pemimpin) di muka bumi ini.

2. Eksistensi Metafisika dalam Kehidupan

Kehidupan manusia hampir 90% diliputi hal-hal metafisika, umpamanya rizki, usia (umur), pertemuan (jodoh), keselamatan dan amal perbuatan semuanya di rahasiakan Tuhan dan tidak ada satu orangpun yang mampu mengetahuinya  dengan pasti. Namun walaupun hal-hal tsb. dirahasiakan, manusia wajib berusaha dengan maksimal dan sungguh-sungguh,agar terwujud  hasil yang maksimal pula.

Sementara itu lingkungan hidup manusia penuh dengan kekuatan-kekuatan metafisik, baik yang datangnya dari manusia maupun  dari makhluk halus yang berada di sekitar manusia.  Karena itu manusia pada dasarnya membutuhkan kekuatan / kemampuan untuk menghadapi atau menolak kekuatan- kekuatan metafisik tersebut, agar mereka sukses dalam menggapai kehidupan.

3.Metafisika dan Agama

Agama samawi banyak membicarakan tentang Energi Metafisika yang tersimpan di dalam setiap kitab sucinya. Kekuatan atau energi metafisika tersebut sesungguhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan kekuatan itulah yang dipergunakan oleh para Nabi dan Rasul dalam mengembangkan Agama sepanjang sejarah. 

Saat ini rahasia kekuatan energi Metafisika yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa tersebut sudah mulai dilupakan atau pudar karena kebanyakan penganutnya terjebak di dalam pengamalan syari’at fisik saja, atau amalan badaniah semata, tanpa mengenal isinya dan hakikatnya.   Melalui matakuliah Metafisika ini hal itu dapat kita pelajari.

Sejarah membuktikan seluruh Nabi dan Rasul dilengkapi oleh Tuhan dengan kekuatan metafisika yang disebut dengan Mukjizat. Tujuannya tidak lain untuk mengatasi hal-hal metafisika yang buruk (negatif) di dalam tugasnya sebagai Nabi dan Rasul, sekaligus untuk mengajak ummat beriman kepada Tuhan Yang Esa, sehingga memperoleh keselamatan dalam kehidupan didunia dan akhirat. Lalu bagaimana  ummat diakhir zaman ini untuk mendapatkan perlindungan metafisika yg bermanfaat bagi dirinya ?

ALAM KUBUR/ALAM BARZAKH

Al-Qur'an menjelaskan bahwa setiap orang akan mengalami kematian dua kali dan kehidupan dua kali. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ghāfir/40: 11:
imageMereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghāfir/40: 11)
Urutan kematian dan kehidupan yang dua kali tersebut dijelaskan dalam Surah al-Baqarah/2: 28:
image
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati,lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)
Dari kutipan ayat di atas maka dapat dimengerti bahwa sebelum terlahir ke dunia yang merupakan kehidupan pertama,manusia pernah mengalami kematian, dan itulah kematian yang pertama. Setelah selesai menjalani hidup di dunia ini maka setiap manusia akan mengalami kematian dan itulah kematian yang kedua. Setelah kematian mendatangi seseorang maka
selanjutnya ia akan tinggal di sebuah alam yang disebut dengan alam kubur atau alam barzakh. Apa yang dimaksud dengan alam kubur/barzakh tersebut, inilah yang menjadi fokus tulisan ini.
A. Pengertian
1. Alam Kubur
Kata kubur adalah bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini diartikan dengan liang lahat dan tempat pemakaman jenazah.1
Sedangkan dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, kata qabr yang bentuk jamaknya adalah qubūr memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia yaitu tempat pemakaman.
Dalam Al-Qur'an kata ini dengan segala perubahannya terulang sebanyak delapan kali; sekali dalam bentuk kata kerja aqbarah, terdapat di Surah ‘Abasa/80: 21, sekali dalam bentuk isim mufrad qabr, terdapat di Surah at-Taubah/9: 84. Kemudian dalam bentuk jamak qubūr terulang sebanyak lima kali yaitu,Surah al-Hajj/22: 7, Fāthir/35: 22, al-Mumtahanah/60: 13 al-Infithār/82: 3 dan al-‘Ādiyāt/100: 9. Kemudian dalam bentuk kata maqābir terulang sekali yaitu dalam Surah at-Takātsur/102: 2.
Untuk lebih jelasnya masing-masing ayat tersebut akan ditampilkan agar didapat gambaran yang utuh tentang alam kubur yang dimaksud Al-Qur'an.
a. Surah ‘Abasa/80: 11
imageKemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya. (‘Abasa/80: 21)
Ungkapan (Dia Allah) menguburkannya dalam ayat di atas dipahami oleh sementara mufasir dengan pengertian bahwa Allah subhānahū wa ta‘ālā mensyariatkan agar jasad orang yang telah meninggal itu dikuburkan dengan baik sehingga tidak hancur lebur atau dibiarkan begitu saja.2Tentang perintah menguburkan jenazah orang yang telah meninggal, Al-Qur'an mengabarkan bahwa syariat tersebut untuk pertama kali diperlihatkan oleh seekor burung gagak yang menggali tanah untuk diperlihatkan kepada salah seorang putera Nabi Adam yang populer dengan nama Qabil yang telah membunuh saudaranya sendiri, Habil. Informasi ini disebutkan dalam Surah al-Mā'idah/5: 31:
imageKemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan
mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)
Menguburkan dalam kedua ayat di atas jelas dalam arti fisik.
b. Surah at-Taubah/9: 84
imageDan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya.Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (at-Taubah/9: 84)
Para mufasir merujuk kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī yang menjadi asbābun-nuzūl ayat tersebut; ‘Abdullāh bin Ubay bin Salūl yang merupakan tokoh munafik meninggal dunia. Putranya yang merupakan sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengharap kiranya Nabi memberikan pakaian beliau untuk digunakan sebagai kain kafan bagi ayahnya. Nabi mengabulkan permintaan itu, dan kemudian bangkit untuk melaksanakan hal tersebut. Ketika melihat hal ini ‘Umar bin al-Khaththāb memegang baju Nabi sambil berkata:“Apakah engkau akan menshalati ayahnya (shalat jenazah) padahal Allah telah melarangmu menshalati orang-orang munafik?” Nabi menjawab: “Allah telah memberiku pilihan dengan firmannya:
(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.3 Aku akan melebihkan dari tujuh puluh kali.” ‘Umar berkata: “Dia adalah munafik.” Kemudian Rasul tetap mensalatkannya, maka turunlah ayat ini.4Thāhir bin ‘Āsyūr mengartikan ungkapan janganlah berdiri dikuburannya sebagai larangan agar tidak berdiri atau memberi penghormatan dan jangan juga menziarahi kuburnya.5 Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud qubr dalam ayat tersebut adalah aspek fisik tempat jasad dikuburkan.
c. Surah al-Hajj/22: 7
imageDan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-Hajj/22: 7)
Kubur dalam ayat tersebut jelas bukan mengacu kepada tempat ditanamnya jasad, karena kalau itu yang dimaksud akan sulit dipahami bagi mereka yang meninggal dan tidak sempat dikubur. Dalam hal ini Wahbah az-Zuhailī memberi komentar bahwa sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya. Dan bahwasanya Allah akan membangkitkan semua orang dari dalam kuburnya.6d. Surah Fāthir/35: 22
image
Dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati.Sungguh, Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (Fāthir/35: 22)
Ayat di atas berisi perbandingan antara orang yang beriman dengan orang kafir. Hidup adalah pangkal pengetahuan dan usaha, lawannya adalah mati. Dengan hidup seseorang dapat meraih kebahagiaan yang hakiki dan dengan kematian maka putus sudah harapan. Jika demikian orang mukmin selalu dapat meningkatkan diri dalam pengetahuan dan usahanya meraih sukses dan bahagia. Berbeda dengan orang kafir, walaupun masih hidup dalam arti menarik dan menghembuskan nafas tetapi ia tidak dapat meraih kebahagiaan yang hakiki. Orang mukmin dengan keimanannya menjadi hidup walau telah menghembuskan nafas, sedangkan orang kafir karena kekufurannya disebut mati walau masih menarik dan menghembuskan nafas.7Sebagai sebuah perumpamaan maka penyebutan kata qubūr dalam ayat di atas dapat diartikan sebagai aspek fisik.
e. Surah al-Mumtahanah/60: 13
imageWahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa. (al-Mumtahanah/60: 13)
Ayat ini diberikan penjelasan oleh Tim Tafsir Departemen agama; Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir putus asa untuk memperoleh kebaikan dari Allah di akhirat, karena kedurhakaan mereka kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang telah diisyaratkan kedatangannya dalam kitab-kitab mereka. Padahal persoalan itu sudah dikuatkan pula dengan bukti-bukti yang jelas dan mukjizat yang nyata. Keputusasaan mereka untuk memperoleh rahmat Allah di hari akhirat sama
halnya dengan keputusasaan mereka di dalam kubur karena mereka tidak percaya adanya kebangkitan kembali di akhirat.8
Dari keterangan ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa kubur dalam ayat tersebut mengacu kepada dimensi alam kubur.

SISI DALAM DIRI MANUSIA

Manusia adalah makhluk yang unik bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain, seperti: hewan,tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Keunikannya terletak dari sisi unsur penciptaannya, yang terdiri dari dua
unsur pokok; unsur rohani dan jasmani. Unsur rohani terdiri dari: elemen roh, akal, kalbu dan nafsu. Sedangkan unsur jasmani terdiri dari: kepala, badan, dan seluruh anggota tubuhnya.
Eksistensinya yang unik ini sangat menarik dimata manusia itu sendiri. Manusia mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia makhluk baik atau jahat, berakhlak atau tidak, bermoral atau bejat, apakah ia terdidik atau makhluk bodoh. Ternyata sampai saat ini masih belum terjawab secara pasti. Karena realitasnya ada manusia yang berhasil mengendalikan “sisi dalam” dirinya yaitu menguasai hawa nafsunya, mengoptimalkan akalnya, menjernihkan hatinya dan memperhalus akhlaknya, sehingga ia menjadi manusia yang menemukan jati dirinya, berakhlak, bermoral dan dekat dengan Tuhannya”. Sebaliknya, ada manusia yang memperturutkan dan dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga tidak mampu mengoptimalkan fungsi akalnya, penglihatannya dan pendengarannya dan menjadi manusia yang terpuruk, terhina, bodoh, sesat, bahkan lebih rendah derajatnya dari
hewan dan makhluk lain. (Surah al-A‘rāf/7: 179). Hal ini terjadi karena tidak mampu mengenali, memahami, mengarahkan, mendidik dan memfungsikan “sisi dalam” atau “unsur rohani” yang ada dalam dirinya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, bab ini akan menjawab pertanyaan seputar “sisi dalam” diri manusia. Apa itu fitrah,roh ( jiwa ), akal, kalbu dan nafsu? Asal-usul ciptaannya, dari mana? fungsinya apa saja dan bagaimana cara mengoptimalkan peranannya dalam pendidikan ? Agar dapat melahirkan manusia terdidik, terpelajar, cerdas, berakhlak, bermoral dan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, bermanfaat bagi dirinya,kerabat, lingkungan, masyarakat, agama, negara dan bangsanya.
Oleh sebab itu, paragraf berikut ini berusaha mengungkap konsep fitrah, roh, akal, kalbu dan nafsu melalui sisi pandang tafsir maudhū‘ī
A. Fitrah
Fitrah dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 20 kali.Masing-masing ayat yang memuat term fitrah memiliki bentuk,kategori, subjek, objek, aspek dan makna tersendiri.
Kata fitrah (al-fithrah) merupakan bentuk mashdar dari kata fathara. Dengan segala perubahan bentuknya, ia terulang dalam Al-Qur'an sebanyak 20 kali yang tersebar di dalam 17 surah.
Surah yang memuatnya adalah: al-An‘ām/6: 14, 79, ar-Rūm/30:30 (dua kali), asy-Syūrā/42: 5, 11, Hūd/11: 51,Yūsuf/12: 101,Ibrāhīm/14: 10, al-Isrā’/17: 51, Maryam/19: 90, Thāhā/20: 72,al-Anbiyā’/21: 56, Fāthir/35: 1, Yāsīn/36: 22, az-Zumar/39: 46,az-Zukhruf/43: 27, al-Mulk/67: 3, dan al-Muzzammil/73: 18,al-Infithār/82: 1.
Subjek fitrah, tidak lain adalah Allah subhānahū wa ta‘ālā,karena hanya Dia Zat al-Fāthir (pencipta). Al-Fāthir adalah Zat Maha Pencipta pada penciptaan dari permulaan, yaitu sejak awal tanpa ada contohnya.
Sedangkan objek fitrah adalah:
  1. Khusus manusia (an-nās), seperti di dalam tujuh ayat (enam Surah), yaitu: Surah Hūd/11: 51, ar-Rūm/30: 30 (dua kali),Yāsīn: 22, az-Zukhruf/43: 27, Thāhā/20: 72, dan al-Isrā’/17:51.
  2. Langit-bumi (samāwāt wal-ard), seperti di dalam delapan ayat (tujuh Surah), yaitu; Surah al-An‘ām/6: 14, 79 al-Anbiyā/21, asy-Syurā/42: 11, Ibrāhīm/14: 10, Fāthir/35: 1, Yūsuf/12: 101, dan az-Zumar/40: 46.
  3. Langit saja (samāwāt), seperti di dalam lima ayat (lima Surah), yaitu: Surah Maryam/19: 90, asy-Syūrā/42: 5, al-Infithār/82: 1, al-Mulk/78: 3, dan al-Muzzammil/73: 18.
Dengan kategori ini, konsep fitrah dapat dikaitkan dengan semua penciptaan alam, baik alam makro (langit dan bumi) maupun alam mikro (manusia).
Dari sisi maknanya fitrah dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu: (1) asy-syaqq (pecah/belah) yang ditujukan pada objek langit belaka, seperti pada Surah Maryam/19: 90, asy-Syūrā/42: 5, al-Infithār/82: 1, al-Mulk/78: 3, dan al-Muzzammil /73: 18. (2) al-khilqah (penciptaan) yang ditujukan pada objek manusia, seperti dalam Surah Hūd/11: 51, ar-Rūm/30: 30 (dua
kali), Yāsīn/35: 22, az-Zukhruf/43: 27, Thāhā/20: 72, dan al-Isrā’/17: 51. Dan pada objek langit-bumi, seperti dalam Surah al-An‘ām/6: 14, 79, al-Anbiyā’/21: 56, asy-Syūrā/42: 11,Ibrāhīm/14: 10, Fāthir/35: 1, Yūsuf/12: 101, dan az-Zumar/39:46.
Objek kata fitrah tersebut menunjukan kepada tiga kategori, yaitu:
a. Manusia secara umum, seperti pada Surah ar-Rūm/30: 30:
imageMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam);(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (ar-Rūm/30: 30)
Objek manusia secara umum ini disebabkan oleh kondisi ayat yang bersifat diskriptif, yaitu sekedar menggambarkan konsep manusia secara umum tanpa dikaitkan dengan aktivitasnya.
Konsep manusia di sini dikolerasikan dengan konsep agama hanīf (Islam). Artinya, setiap penggambaran konsep manusia tidak boleh dilepaskan dari konsep agama hanīf, sebab di alam Arwah roh manusia telah meyakini dan menyatakan adanya agama hanīf itu.
b. Kata ganti (dhamīr) orang pertama, baik dalam bentuk tunggal seperti pada Surah Hūd/11: 15, Yāsīn/36: 22, az-Zukhruf/34: 27, maupun dalam bentuk jamak seperti Surah Thāhā/20: 72:
imageMereka (para pesihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. (Thāhā/20: 72)

KEMATIAN

A. Pengertian Kematian
Kematian menurut bahasa berasal dari kata “mati” yang berarti hilang nyawa, atau sudah tidak bernyawa. Sedangkan,‘kematian’ itu sendiri berarti perihal mati.1 Dalam Ensiklopedi Islam dikatakan, mati berasal dari Bahasa Arab, yaitu ‘maut’,yang berarti terpisahnya roh dari zat, psike dari fisik, jiwa dari badan, atau yang gaib dari yang nyata, keluarnya roh dari badan atau jasmani.2Dalam konsep Islam, maut adalah pasangan peristiwa hayat (hidup).3 Pasangan peristiwa ini pasti dialami oleh manusia dan makhluk lain serta merupakan peristiwa yang diciptakan Allah untuk manusia sebagai alat pengecekan, mana di antara mereka yang lebih baik amalannya, sebagaimana firman Allah:
imageYang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk/67: 2)
Kematian dalam pengertian kedokteran adalah berhentinya semua fungsi alat vital tubuh yang permanen seperti jantung dan otak.4 Secara populer kematian dipahami sebagai ketiadaan hidup yang berlangsung hanya satu kali. Sementara itu, dalam pandangan Al-Qur'an, kematian tidak hanya terjadi satu kali, tetapi dua kali. Sebagaimana firman Allah:
imageMereka menjawab, “Ya Tuhan Kami, Engkau telah mematikan Kami dua kali dan telah menghidupkan Kami dua kali (pula), lalu Kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah jalan (bagi Kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghāfir/40: 11)
Berdasarkan ayat ini, kematian oleh sebagian ulama didefinisikan sebagai ketiadaan hidup atau antonim dari hidup.
Kematian pertama dialami manusia sebelum kelahirannya atau saat sebelum Allah meniupkan roh kehidupan kepadanya.Sedangkan kematian kedua, saat manusia meninggalkan dunia yang fana ini. Kehidupan pertama ada pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedangkan kehidupan kedua terjadi saat manusia berada di barzakh atau kelak ketika manusia hidup di akhirat.5Kematian menurut ar-Rāghib al-Ashfahānī bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kehidupan. Pertama, kematian adalah ketiadaan daya yang menumbuhkan dan mengembangkan seperti yang terjadi pada tanaman. Kedua, kematian adalah ketiadaan daya fisik (al-quwwah al-Hāssah). Ketiga, kematian adalah ketiadaan daya berfikir (al-quwwah al-‘āqilah), yakni ketidakmampuan berpikir atau bodoh. Keempat, kematian dipahami
sebagai kesedihan yang menghancurkan kehidupan. Kelima,kematian adalah tidur yang terbagi menjadi dua bagian, tidur yang ringan dan tidur yang berat. Tidur yang berat adalah perpisahan roh dari tubuh.6
Kematian adalah keluarnya roh dari tubuh, dan bukan ketiadaan hidup semata-mata. Roh itu bermigrasi dari tubuh ke alam barzakh. Roh manusia tetap hidup di alam barzakh sebagaimana disebutkan di dalam ayat Al-Qur'an berikut ini:
imageDan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Āli ‘Imrān/3:169-171)
Dalam menafsirkan ayat ini, M. Quraish Shihab menyatakan,bahwa hidup ditandai antara lain oleh gerak dan pengetahuan.
Jangan menduga bahwa gerak mereka yang gugur di jalan Allah telah dicabut dan pengetahuan mereka telah tiada.Mereka yang gugur di jalan Allah itu tetap bergerak, bahkan lebih leluasa dari gerak manusia di muka bumi ini. Mereka mengetahui lebih banyak dari apa yang diketahui oleh manusia yang beredar darah dan berdenyut jantungnya, karena di alam sana mereka melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena seperti yang diketahui oleh penduduk dunia. Sungguh mereka hidup, kehidupan yang tidak dapat dijelaskan hakikatnya,karena kehidupan yang mereka alami tidak disadari atau dirasakan oleh selain manusia.7Kematian itu bukan berarti kemusnahan seperti diyakini orang-orang musyrik Mekah yang menantang Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sombong, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh ini?”8Ketika orang-orang musyrik Mekah yang tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati itu tewas pada Perang Badar dan telah dikuburkan dalam satu perigi, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Wahai penghuni perigi, wahai ‘Utbah bin Rabī‘ah, Syaibah bin Rabī‘ah, Ummayah bin Khalaf, wahai Abū Jahal bin Hisyām (seterusnya beliau menyebut nama-nama mereka yang dikuburkan dalam perigi itu satu persatu). Wahai penghuni perigi, adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku.” “Wahai Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengapa Anda berbicara dengan orang yang telah tewas?” Tanya para sahabat. Rasulullah menjawab,“Kamu sekalian tidak lebih mendengar daripada mereka tentang apa-apa yang kukatakan, tetapi mereka tidak dapat menjawabku.”9Pada hakikatnya maut adalah akhir dari kehidupan dan sekaligus awal kehidupan (yang baru). Jadi maut bukan kesudahan,kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari suatu dunia ke dunia lain, dari suatu keadaan ke keadaan lain, tempat kehidupan manusia akan berlanjut. Karena itu manusia yang ingkar akan kehidupan akhirat, merasa takut akan maut dan membenci maut akibat perbuatan yang buruk di dunia.
Namun bagi orang-orang yang beriman secara benar, maut merupakan harapan indah untuk memulai hidup yang hakiki,kehidupan yang abadi.
Para ulama menegaskan, bahwa walaupun maut berarti ketiadaan, bukan berarti tidak ada lagi eksistensi dan wujud manusia sesudah kematian. Setelah maut, masih ada hidup baru bagi manusia, sebagaimana halnya sebelum kehadiran makhluk di pentas bumi ini, ia pernah mengalami ketiadaan.10 Sehubungan dengan masalah ini Allah berfirman:
imageBukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (al-Insān/76: 1)
Maut disebut sebagai awal kehidupan, atau kehidupan baru, karena pada dasarnya maut hanya terjadi pada badan,tetapi roh, atau jiwa manusia, akan tetap hidup dan mempunyai suatu kedudukan hayati dalam suatu cakrawala yang lebih tinggi daripada unsur-unsur jasad dan material.11Sehubungan dengan ungkapan tentang jiwa manusia akan tetap hidup dan mempunyai kedudukan hayati tersebut setelah terjadinya kematian,Syekh Mahmūd Syaltūt mengatakan, bahwa roh tetap memiliki daya tangkap mendengar ucapan salam dari para peziarah yang mengucapkan salam untuk pemiliknya, melihat para peziarah dan merasakan kelezatan nikmat serta penderitaan siksa.12
Dari perkataan Mahmūd Syaltūt tersebut dapat disimpulkan,bahwa roh memiliki fungsi yang amat penting dalam hidup manusia. Jasmani tanpa roh tidak ada artinya. Roh adalah pangkal kehidupan. Tetapi roh sendiri adalah sesuatu yang misterius bagi manusia dan tidak dapat diketahui, sebagaimana Firman Allah:
imageDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah:
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isrā'/17: 85)
Maut adalah sesuatu yang suci. Karena itu manusia dilarang menemui maut dengan cara yang salah, seperti bunuh diri, atau membunuh orang lain. Bunuh diri dan membunuh orang lain adalah perbuatan terkutuk dan dosa besar. Begitu juga bercita-cita mati, adalah tidak terpuji.

TERM-TERM YANG MENUNJUK HARI AKHIR

Ide pokok tentang keimanan kepada hari akhir adalah bahwa akan tiba saat (sā‘ah) ketika manusia akan memperoleh kesadaran unik yang tidak pernah dialami sebelumnya mengenai amal perbuatan yang pernah dikerjakan. Pada saat itu manusia dihadapkan kepada segala hal yang telah dilakukan,kemudian menerima ganjaran akibat perbuatannya tersebut.Oleh karena itu, al-ākhirah adalah saat kebenaran, karena ketika bencana besar tiba manusia akan teringat kepada segala sesuatu yang telah diperbuatnya (an-Nāzi‘āt/79: 34-35). Ini merupakan pernyataan yang khas mengenai fenomena al-ākhirah.
Al-ākhirah adalah suatu masa dimana manusia harus bertanggung jawab secara individual (Maryam/19: 95), tidak ada sanak kerabat, klan, teman dan orang-orang yang selama ini dijadikan sandaran untuk dimintai pertolongan, karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (Surah al-Ma‘ārij/70: 10-14 dan ‘Abasa/80: 34-37). Dengan demikian,esensi hari akhir adalah “akhir” kehidupan atau akibat jangka panjang dari amal perbuatan manusia ketika di dunia.
Demi mendapatkan gambaran secara utuh tentang apa itu hari akhir, situasinya seperti apa, maka tulisan ini mencoba mendeskripsikan beberapa term yang digunakan Al-Qur'an yang bisa memberi pemahaman tentang hari akhir.
A. Al-yaum al-Ākhir
1. Pengertian
Term al-yaum al-ākhir secara semantik terdiri dari dua kata,yaum dan ākhir. Menurut al-Ashfahānī, kata yaum mengandung dua pemahaman, pertama, mengacu kepada waktu perjalanan matahari dari terbit sampai terbenam (bersifat kuantitatif);kedua, mengacu kepada sebuah masa atau waktu yang tidak tertentu (bersifat kualitatif).1
Oleh karena itu, dengan mengacu pada penjelasan al-Ashfahānī, term al-yaum al-ākhir seharusnya dipahami sebagai hari kualitatif, bukan kuantitatif. az-Zamakhsyarī, dalam konteks hari kualitatif tersebut, menjelaskan bahwa term alyaum al-ākhir dapat dipahami dalam dua pengertian:
Pertama, mengacu kepada masa atau waktu yang sangat lama, hampir-hampir tanpa batas atau nirwaktu (akhirat), karena ia terputus dari masa yang terbatas atau terikat dengan ruang dan waktu (dunia);
Kedua, mengacu kepada waktu yang terbatas tetapi dalam dimensi kehidupan akhirat, yaitu berawal dari hari kebangkitan sampai masing-masing masuk ke surga atau neraka. Demikian ini, karena term tersebut merupakan akhir perjalanan manusia dalam masa penantian yang kemudian menjalani kehidupannya pada masa yang tanpa batas setelahnya, baik di surga maupun di neraka.2
2. Manfaat iman kepada al-yaum al-ākhir
Term al-yaum al-ākhir di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 26 kali, yang seluruhnya dirangkai dengan term alīmān billāh (iman kepada Allah), seakan inti iman itu hanya dua ini. Hal ini bukan tanpa alasan, sebagaimana secara logis dijelaskan Ibnu ‘Āsyūr, bahwa iman kepada Allah menjadi dasar yang melandasi keimanan pada yang lain. Artinya, ketika secara akidah seseorang tidak beriman kepada Allah, tentunya ia juga tidak beriman kepada Rasulullah dan Al-Qur'an. Oleh karena itu, iman kepada Allah merupakan dasar yang dengannya seluruh keyakinan menjadi benar. Sedangkan penyebutan hari akhir secara spesifik adalah dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mendorong seseorang agar senantiasa berbuat kebaikan.3
Dalam Al-Qur'an juga ditemukan term lain yang bisa dipahami sama dengan al-yaum al-ākhir, yaitu al-ākhirah yang di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 115 kali. Dari keseluruhan,term al-ākhirah mengacu kepada sebuah kehidupan lain yang berbeda sama sekali dengan kehidupan dunia, baik sifat maupun karakteristiknya, kecuali satu ayat, yaitu:
imageDan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.(adh-Dhuhā/93: 4)
Kata al-ākhirah di sini berarti akhir perjuangan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Meski demikian, ada pula sebagian mufasir yang mengartikan al-ākhirah pada ayat di atas dengan “kehidupan akhirat” beserta segala kesenangannya dan al-ūlā dengan arti “kehidupan dunia”.4Dengan demikian, term al-ākhirah meskipun memiliki karakter dan sifat yang sama dengan al-yaum al-ākhir; namun Al-Qur'an menggunakannya sebagai antonym dari ad-dun-yā.Artinya, ketika disebutkan al-ākhirah maka ia mengacu kepada sebuah kehidupan yang hakiki dan kekal, sebagai lawan dari addun-yā yakni kehidupan yang artifisial dan bersifat sementara.
Oleh karena itu, term tersebut sesungguhnya bisa menampung term-term lain selain al-yaum al-ākhir.
Yang pasti, al-yaum al-ākhir (hari akhir) tidaklah seperti hari-hari di dunia yang 1 hari sebanding dengan 24 jam. Hari akhir merupakan hari yang terjadi pada kehidupan akhirat, yang 1 hari jika menggunakan ukuran hari-hari dunia bisa sangat relatif atau tidak terbatas, bisa sebanding dengan 1000 tahun (as-Sajdah/32: 5); bahkan bisa berbanding dengan 50.000 tahun (al-Ma‘ārij/70: 4). Ini wajar saja, sebab ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (nirwaktu).
Penyebutan al-yaum al-ākhir, yang dirangkai dengan iman kepada Allah, pada hakikatnya dimaksudkan sebagai hari perhitungan (al-hisāb) dan pembalasan (al-jazā'), sehingga oleh Al-Qur'an ia dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menumbuhkan kejujuran, ketakwaan, kedermawanan, berani berkorban demi kebenaran dan keadilan, dan sebagainya. Artinya, seandainya seseorang bersikap jujur, lalu tidak mendapatkan hasil duniawi yang diinginkan, maka keimanan kepada hari akhir itulah yang menjadikan dirinya tetap sabar dan konsisten,sebab ia yakin ganjaran yang sesuai akan diperoleh di hari akhir kelak. Begitu juga, ia bisa dijadikan tameng dari perilaku-perilaku buruk, misalnya kemunafikan, ria, dan sebagainya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa firman Allah berikut ini:
imageDan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (al-Baqarah/2: 8)
Ayat ini merupakan koreksi terhadap perilaku orang-orang munafik yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir, padahal kenyataannya tidak. Mereka mengukur keimanannya melalui ucapan, sedangkan Allah mengukur keimanannya melalui perbuatan. Penggunaan redaksi wa minan-nās, menurut Ibnu ‘Āsyūr menunjuk kepada perilaku buruk. Sedemikian buruknya, sehingga Al-Qur'an merasa “malu” untuk mengungkapkannya secara jelas.5 Oleh karena itu, ayat ini sekaligus menjadi koreksi bagi siapa saja yang menyatakan beriman kepada Allah dan hari akhir tetapi perbuatannya tidak mencerminkan nilai-nilai keimanan itu sendiri.
Dengan demikian, indikasi seseorang yang beriman kepada hari akhir tentunya bukan terbatas kepada ucapan,sebagaimana hal itu bisa saja dilakukan oleh orang-orang munafik, tetapi harus direalisasikan dalam perbuatannya.Bahkan, bukan sekadar perbuatan tetapi perbuatan baik, yang lazim disebut dengan “amal saleh”.
Pada ayat lain disebutkan:
imageDan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat. Dan apa (keberatan) bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya? Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka. Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah),niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. (an-Nisā'/4: 38-40)
Ayat di atas merupakan koreksi atas sikap orang-orang munafik dan musyrik yang selalu ria ketika berinfak, sehingga perilaku ria bisa dianggap tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Demikian ini, karena orang yang ria itu selalu mengharap balasan orang lain, padahal balasan yang sesuai itu akan diperolehnya di akhirat kelak. Antara ria dan ketiadaan iman memiliki kaitan satu sama lain. Sebab adanya ria, menjadikan ia tidak beriman; atau karena lemah imannya, menjadikan dirinya selalu ria. Oleh karena itu, bentuk istifhām (kata tanya) pada ayat itu bersifat inkārī taubīkhī (negasi yang bersifat mencela).
Artinya, mereka jelas-jelas tidak ikhlas atau ria karena sejatinya mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.6